
"Sok tau!" cibir Wira.
"Memangnya Dewi tinggal dimana?" tanya Zaky pada Dewi.
Dewi melirik ke arah Wira yang wajahnya sudah ditekuk. "Di hatinya Pak Wira." goda Dewi.
Wira langsung terbatuk-batuk mendengarnya. "Uhuk... uhuk... uhuk...."
"Kenapa lo, Wir? Enggak pernah digombalin sama cewek ya?" sindir Zaky.
"Kata siapa? Sering kok!" jawab Wira tak mau kalah.
"Setau gue, malah lo yang sering gombalin Cerry!" ujar Zaky.
Senyum di wajah Dewi menghilang. Lagi-lagi Cerry. Siapa sih? Kenapa selalu membuat suasana hati Dewi kesal dibuatnya!
"Enggak tuh!" jawab Wira dengan santai.
"Masa?" goda Zaky lagi.
"Cerry tuh siapa ya, Mas? Kok kayaknya namanya enggak asing gitu?!" tanya Dewi memberanikan diri.
"Cerry tuh mantan gebetannya Wira. Eh bukan gebetan ya kalo sama-sama suka? Ya... gitu deh! Mereka sempat dekat, atau lo lagi break sama Cerry? Kok gue enggak pernah ngeliat dia main ke rumah lo lagi sih?" tanya Zaky.
Wajah Dewi pun berubah. Rasa cemburu dan sebal menyatu jadi satu.
"Sok tau lo! Udah ah, gue mau antar Dewi balik dulu! Ky, lo bayar ya semua pesanan gue sama Dewi. Enggak bawa uang gede gue!" ujar Wira seenaknya.
"Ah bisa banget lo! Dimana-mana enggak bawa uang kecil. Bilang aja lo minta traktir!" cibir Zaky.
"Awalnya enggak, tapi lo apes aja ketemu gue di sini. Ngeselin pula lagi, lo. Yaudah untuk meredam rasa sebal dalam diri gue, lo yang bayar. Kalo lo enggak mau, tagih aja sama Abi gue!" ujar Wira.
"Ayo, Wi! Jangan kelamaan sama Zaky! Dia perjaka lapuk!" kata Wira seenaknya.
"Enak aja lo! Enggak gue bayarin nih!" ancam Zaky.
"Jangan dengerin ya, Wi!"
Dewi hanya tersenyum malas. Hatinya masih kesal karena mendengar nama Cery disebut lagi.
"Wi, sama aku aja ya yang anterin pulang?" tanya Zaky yang ternyata cepat-cepat membayar lalu menyusul Wira dan Dewi.
"Aku sih terserah aja!" jawab Dewi. Ia tak peduli. Rasa cemburu terasa menyesakkan dadanya.
"Eh apaan lo bilang terserah? Enggak bisa! Lo pergi sama gue, ya pulangnya sama gue juga!" sahut Wira dengan kesal.
"Kalo sama Bapak, nanti pacar Bapak si Cerry marah!" jawab Dewi.
__ADS_1
"Betul tuh! Nanti Cerry marah!" ujar Zaky menambahi.
"Heh diem deh lo, Ky! Nambahin aja!" omel Wira. "Udah ayo naik motor! Udah malam nih!"
Dewi memanyunkan bibirnya. Mau membantah namun takut juga karena Wira adalah suaminya.
"Lo jangan maksa Dewi gitu, Ra! Kasihan tuh mukanya mau nangis gitu!" kata Zaky.
"Diem lo! Jangan ikut campur urusan rumah tangga orang!" bentak Wira.
"Rumah tangga? Jangan ngarang lo, Wir! Lo ngelarang gue anter Dewi enggak perlu bokis kayak gitu!" ujar Zaky yang mulai tersulut emosinya.
"Siapa yang bokis? Dewi tuh bini gue! Suka-suka gue dong mau ngelarang dia atau enggak!" jawab Wira.
Zaky tersenyum mengejek. "Mulai halu lo! Udah malem? Atau habis mabok?" sindir Zaky.
"Bac*t lo! Jangan bikin gue tambah emosi ya!" Wira benar-benar tersulut emosinya. Dewi yang membuatnya kesal karena seakan memberi kesempatan Zaky mengantarnya pulang dan Zaky yang terus menerus mendekati istrinya.
Dewi cepat-cepat menengahi keduanya. "Udah-udah! Jangan kayak anak kecil!" omel Dewi.
"Mas, saya pulang sama Pak Wira aja ya!" kata Dewi pada Zaky.
"Lo jangan nurut kayak gitu, Wi! Kalo lo enggak nyaman ya jangan mau dianter sama dia!" Zaky menunjuk ke arah Wira dengan kesal.
"Eh ******! Nyari ribut aja lo sama gue!" Wira maju dan menarik kerah baju Zaky.
****
"Beli nasi goreng aja yuk! Laper nih gue! Main caturnya enggak konsen kalo perut lapar!" ujar Agas pada Bastian, salah satu teman tongkrongannya.
"Enggak, ah! Masih kenyang gue! Tadi bini gue masak ikan gulai. Makan banyak banget sampai begah. Sama Sony dan Riko aja tuh!" tolak Bastian.
"Ayo!" sahut Riko sebelum ditanya. "Lo yang bayar ya, Gas!"
"Iya. Kalo Agas yang bayar, gue juga mau. Enggak nolak, sumpah!" sahut Sony ikut menimpali.
"Ah lo berdua, enggak boleh dengar gratisan aja cepet! Yaudah ayo kita ke nasi goreng depan! Kita tinggalin Bastian sendirian di pos!" ajak Agas.
"Enak aja ninggalin, gue ikut juga dong! Sekalian kita ajak Damar nongkrong! Tuh anak kerjaannya cuma kelonin Tara melulu, jadi juga enggak!" celetuk Bastian.
"Iya ajak aja Damar. Kita ajak dia taruhan, lumayan ngebodohin dia dapet duit taruhan buat beli kacang." usul Riko.
"Sama pizza dong! Kita bikin dia kalah beberapa ronde, ya enggak?" tambah Sony.
"Yaudah ayo pergi sekarang! Kemaleman nanti habis nasi gorengnya!" ajak Agas.
Keempat sahabat itu pun pergi menuju tempat nasi goreng. Sebelumnya mereka mengajak Damar ikut serta. Damar meminta ijin Tara dulu untuk keluar, baru bergabung setelah Tara mengijinkan.
__ADS_1
"Bawa duit enggak lo?" tanya Riko pada Damar.
"Bawa! Kalo kurang, gue transfer!" jawab Damar.
"Nah gitu dong! Baru cakep! Kita beli nasi goreng dulu ya! Lo yang bayar ya?!" kata Sony yang mulai memalak Damar.
"Iya! Gue bayarin lo semua!" seloroh Damar.
"Nah gitu, baru mantap!" sahut Sony.
Mereka berlima lalu berjalan menuju tukang nasi goreng yang berada di depan komplek. Mereka melihat ada pertikaian anak muda di depan tukang nasi goreng.
"Heh, kayaknya ada yang berantem tuh!" tunjuk Bastian.
"Iya. Anak muda." jawab Sony.
"Pasti orang tuanya enggak bisa mendidik anaknya deh! Jam segini anak masih kelayapan di luar rumah!" sahut Agas.
"Iya! Norak banget anaknya, sampai berantem segala. Pasti anak orang kampung atas yang enggak peduli anaknya kayak gimana." komentar Damar.
"Eh Gas, itu kayak motornya Tari!" tunjuk Riko.
"Enggak mungkin ah, motor Tari kan dibawa Wir-" Agas menajamkan matanya. "Lah itu kayak anak gue tuh!"
Agas mempercepat langkahnya mendekat. Keempat temannya juga melakukan hal yang sama.
"Kok kayak baju yang dipakai Zaky ya?" ujar Damar.
"Yaiyalah, itu anak lo berdua Malih yang berantem!" ujar Sony.
"Halah... Gimana sih lo berdua jadi orang tua?!" sindir Riko.
"Berisik lo!" ujar Agas dan Damar kompak.
Keduanya semakin dekat dengan Wira dan Zaky yang mulai adu jotos. Nasi goreng yang Zaky beli sudah berhamburan di lantai.
"Maju lo!" tantang Wira. "Beraninya godain bini orang!"
"Lo pikir gue takut!" balas Zaky. "Jangan ngarang lo!"
"WIRA!"
"ZAKY!"
Teriak Agas dan Damar berbarengan.
****
__ADS_1