Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Hampir Tamat


__ADS_3

"Hari ini aku pulang cepat. Aku janji!" Wira mengecup kening Dewi sebelum berangkat kerja.


"Aku akan kirim pesan. Jangan lupa setel alarm ya! Kita mau honeymoon ke sekian kalinya! Kali ini, bagaimana kalau piknik di atap ruko?!" usul Dewi.


"Oke! Siapa takut?! Tapi bobonya di kamar ya! Banyak nyamuk dan... pasti serem deh malam-malam di atap ruko!" nego Wira.


"Iya. Terserah kamu saja! Ayo kerja yang rajin! Kita 'kan mau honeymoon ke tempat yang lebih seru lagi!"


"Siap, Sayang! Aku pergi dulu. Aku cinta sama kamu." Wira kembali mengecup kening Dewi.


"Aku yang cinta sama kamu!" jawab Dewi.


"Oh enggak dong, aku yang lebih cinta sama kamu!" Wira mencium pipi Dewi.


"Kata siapa? Aku yang sangat cinta sama kamu!" Dewi mencium bibir Wira.


"Tidak boleh itu. Aku yang paling... paling cinta sama kamu!" Wira mencium bibir Dewi dua kali. Saat Dewi mau bicara, kembali ia mencium bibir Dewi sampai Dewi batal bicara.


"Aku pergi dulu, tapi aku masih mau deket kamu!" Wira memeluk Dewi.


"Yaudah kamu kerjanya sambil kelonin aku, mau?" goda Dewi.


"Mauuuu!"


Sebuah teriakan membubarkan kegiatan sepasang suami istri yang jika di dengar orang lain akan iri sampai mau muntah rasanya.


"Bang! Masih lama pamitannya?! Aku tinggal nih!" ancam Bahri.


Wira memanyunkan bibirnya. "Padahal big banana masih mau meet up sama big papaya. Apa daya, adik kamu posesif sama aku! Nanti malam saja ya big banana meet up sama big papaya!"


Dewi mengangguk setuju. "Aku akan ke salon Carmen ah. Mau menyiapkan big papaya agar big banana puas luar dalam!"


"Aaahhh... Makin enggak mau kerja!"


Lalu teriakan kedua membuat Wira cepat-cepat menyambar tas dan kunci mobilnya lalu turun ke lantai bawah sambil berlari.


"Bang Wira! Beneran gue tinggal ya!" ancam Bahri.


Beberapa detik kemudian Wira sudah turun ke bawah. Bahri menggerutu karena Wira lama sekali. "Lama banget sih Bang! Abang cuma mau nyari ruko baru. Bukan mau nyari janda baru!"


"Hush! Enak aja kamu, Dek!" omel Dewi yang melangkah turun sambil membawa susu UHT untuk Wira yang tertinggal di atas. "Awas ya kamu nyuruh suamiku godain janda-janda gatel itu! Inget, tugas kamu jagain Abang Ipar kamu itu dari jangkauan janda gatel, perawan lenjeh dan emak-emak kesepian kurang banana! Lapor semuanya sama Kakak kalau Abang kamu macem-macem! Jangan sampai Kakak buat grill banana punya Abang kamu!"


Wira membisikkan sesuatu di telinga Bahri. "Kakak lo serem kalo marah! Main panggang aja segala yang ada! Udah tau punya gue limitted edition. Masih aja mau dibakar!"

__ADS_1


Bahri tertawa mendengar bisikan Wira. Membuat Dewi memelototinya dan akhirnya Wira menahan tawanya.


"Sudah sana berangkat! Aku mau kerja!" usir Dewi.


"Yaudah kita pergi dulu. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


****


Dewi sudah merapihkan atap ruko. Ia bahkan sudah memasang tenda dan sebuah kompor portabel beserta panggangan sudah siap. Daging, ayam dan sosis sudah siap untuk dipanggang.


Dewi melihat jam di tangannya. Suaminya belum juga datang. Dewi beberapa kali menelepon Wira namun Wira tak juga mengangkat teleponnya Dewi mulai merasa cemas.


Dewi berjalan mondar-mandir di atap. Sesekali ia menghubungi handphone Wira yang tersambung namun masih tidak diangkat juga. Perasaan cemas dan khawatir mulai melingkupinya. Namun, rasa cemasnya teralihkan manakala ia melihat balon terbang dengan jumlah yang sangat banyak, terbang dari bawah ke atas atap.


Balon beraneka warna itu ternyata membawa spanduk besar yang merupakan sebuah pesan bertuliskan:


I Love You Dewi


Dewi tersenyum lebar karena tahu ulah siapa ini. Ya, siapa lagi kalau bukan suaminya yang sejak tadi sulit dihubungi.


Wira berlari menuju atap dan sampai tepat waktu. Ia berhasil merekam Dewi yang terkejut saat melihat banyak balon terbang membawa spanduk bertuliskan namanya.


"Happy anniversary, Sayang!" ucap Wira membuat Dewi terkejut dan menutup mulut dengan tangannya. Tak menyangka suaminya akan menyiapkan kejutan seperti ini.


Dewi memeluk Wira seraya tersenyum bahagia. "I love you too pujaan hatiku tertampan sejagat raya! Semoga kita selalu makin mencintai sampai maut memisahkan kita. Selalu romantis dan aku juga punya kado untuk kamu!"


"Oh ya?" tanya Wira. "Apa? Lingerie motif polkadot, g-string motif leopard, atau set bra dan cd cosplay jadi perawat cantik dan seksi?"


Dewi tersenyum sambil mencubit hidung Wira. "Begitu terus deh! Tapi hadiah kali ini berbeda. Kamu siap?"


Wira mengangguk. "Siap! Mana?!"


Dewi melepaskan pelukan Wira dan mengambil hadiah yang ia siapkan di dalam tenda. Sebuah kotak kecil dengan pita berwarna biru, senada dengan warna kotak.


"Apa ini?" tanya Wira penasaran.


"Buka aja!"


Wira penasaran dengan isi kotak. Ia lalu membuka kotak tersebut dan tangannya bergetar saat mengeluarkan isi kotak.


Air mata Wira menetes tanpa bisa ia bendung. Ia langsung sujud syukur dan memeluk Dewi dengan erat.

__ADS_1


"Alhamdulillah! Alhamdulillah! Alhamdulillah!"


Wira memeluk Dewi sambil menangis sesegukan. "Makasih Sayang! Makasih!"


Dewi juga ikut menangis penuh haru. Hadiah yang diberikannya adalah kado terindah untuk perayaan anniversary mereka.


"Aku akan membantu kamu menjaga anak kita! Aku janji! Aku akan mengawasi kamu 24 jam! Aku sayang kamu! Aku sayang kalian berdua!" Wira menggenggam erat test pack berwarna biru dengan dua garis di tangannya. Hadiah yang amat diimpikan oleh dirinya dan Dewi. Tak akan ia biarkan dirinya kehilangan lagi buah cintanya karena keegoisannya lagi. Anugerah ini akan ia jaga, begitu tekad Wira.


****


Sembilan bulan kemudian...


"Pokoknya jalannya pelan-pelan saja! Aku tunggu kok! Mau sepuluh jam juga akan aku tunggu!" Wira begitu sabar menuntun Dewi yang sedang hamil tua. Perut Dewi begitu besar. Dewi juga mulai sulit berjalan cepat karena rasanya ada yang menyundul perut bawahnya.


"Aku boleh udahan enggak jalannya? Capek nih!" protes Dewi.


"Boleh, tapi sebentar saja nanti lanjut jalan lagi. Dokter bilang harus banyak jalan agar mudah proses persalinannya." nasehat Wira.


"Capek. Mau pipis terus nih!"


"Aku antar! Mau pipis aku antar! Yang penting kamu rajin jalan. Mau es krim?"


"Mau!" jawab Dewi cepat.


"Oke! Kalau kamu jalan sampai ujung nanti aku belikan es krim!" ujar Wira menyemangati.


"Oke! Dua ya?"


Wira mengangguk. "Tiga. Aku kasih tiga!"


Dewi pun bersemangat jalan sampai ujung koridor rumah sakit. "Wah hebat! Aku beli es krim dulu ya!" puji Wira.


Belum sempat Wira pergi membeli es krim, Dewi mencekal tangannya. "Kayaknya aku mau ngelahirin sekarang deh!"


"Serius?"


Dewi mengangguk lemah. "Kayak ada yang mau keluar dari bawah!"


"SUSTER! DOKTER! TOLONG ISTRI SAYA MAU MELAHIRKAN!" teriak Wira sekuat tenaga.


Suasana rumah sakit pun mulai gaduh. Wira yang panik dan suster serta dokter yang berdatangan. Dewi langsung dibawa ke ruang bersalin.


Tak sampai satu jam seorang bayi laki-laki lahir dengan tangisan kencang diiringi isak tangis seorang Wira.

__ADS_1


"Alhamdulillah ya Allah... Alhamdulillah! Masya Allah... Anakku lahir... Alhamdulillah!" ujar Wira seraya menangis sesegukan.


****


__ADS_2