Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Berbicara dari Hati ke Hati


__ADS_3

Dewi terbangun saat alarm yang disetelnya berbunyi. Dewi memang sengaja memasang alarm agar tak terlewat waktu subuh.


Dewi duduk di tempat tidur dan melihat Wira yang tertidur pulas. Dewi biarkan Wira tidur, setelah ia sholat akan ia bangunkan. Siapa tahu Wira mau bangun untuk sholat?


Rupanya Wira terbangun sendiri karena tak mendapati Dewi di sampingnya. Suara air di kamar mandi menunjukkan dimana istrinya berada.


Wira melihat jam di dinding, jam 5 pagi. Seakan panggilan sholat sudah membangunkannya sendiri. Wira menunggu Dewi keluar kamar mandi dan gantian ia yang masuk untuk mengambil wudhu.


Dewi tak berkomentar apa-apa saat melihat Wira sholat. Dewi hanya tersenyum dalam hati. Perubahan baik yang akan membawa kebaikan juga dalam hidup mereka.


Dewi lalu pergi ke dapur. Menyiapkan sarapan untuk Wira dan membereskan apartemen yang agak berantakan. Ada gelas bekas teh manis yang belum dicuci. Dewi menebak kalau kedatangan kedua orang tua Wira pasti sekaligus memberinya hukuman, karena itu wajahnya terlihat keruh.


Dewi tak lagi gelisah seperti sebelumnya. Ia sudah bertekad akan memasrahkan semuanya pada Allah. Rasa yakin yang mendalam jauh lebih besar dari rasa gelisah dan khawatir yang dirasakannya. Ia tenang saja dan siap menghadapi segalanya.


Selesai mencuci piring, Dewi lalu masuk ke tempat mencuci dan mulai mencuci semua baju kotor yang ada. Dewi meninggalkan mesin cuci dan mulai fokus memasak sambil menunggu proses mencuci selesai.


Wira yang sudah terbangun dan shalat subuh lalu menghampiri Dewi. Tanpa banyak kata ia duduk di meja makan dan terus menatap punggung Dewi yang sibuk memasak untuknya.

__ADS_1


"Wi kita sarapan bareng ya! Ada yang mau gue omongin sama lo!" kata Wira datang tegas.


"Iya, Pak!" Dewi menyelesaikan memasaknya lalu menghidangkan makanan yang ia masak di atas meja makan. Ia akan menyelesaikan cuciannya nanti setelah mereka sarapan bersama.


Dewi lalu menghidangkan susu hangat kesukaan Wira. Ia pun ikut bergabung duduk di meja makan. Wira sudah menunggunya dan Dewi tahu apa yang akan Wira katakan adalah sesuatu yang penting.


"Apa yang mau dibicarakan Pak?" tanya Dewi.


"Kemarin gue dan orang tua gue ngomong serius. Mereka menginginkan kita meresmikan pernikahan secara hukum negara." Wira menatap wajah Dewi. Ada perubahan dalam mimik wajah Dewi saat mendengar kalau pernikahan mereka akan dilegalkan. Tentu saja ekspresi pertama yang tertangkap dari wajahnya adalah kebahagiaan.


Wira sudah menduga kalau Dewi akan bahagia mendengar berita yang ia sampaikan. Meskipun pada awalnya Wira agak berat untuk meresmikan pernikahan mereka karena berpikir usianya yang masih terlalu muda, namun ketika melihat ekspresi Dewi yang terlihat bahagia membuat hatinya menghangat. Dia bisa merasakan kebahagiaan yang Dewi rasakan. Mungkin memang sudah saatnya sekarang mereka meresmikan pernikahan mereka.


"Lo jangan senang dulu, bukan itu masalahnya. Meskipun awalnya gue agak keberatan karena menurut gue kita masih terlalu muda, namun gue akhirnya setuju untuk mendaftarkan pernikahan kita di Kantor Urusan Agama. Gue juga nggak mau lo sebagai pihak perempuan merugi dengan status pernikahan siri yang kita jalani. "


Ucapan Wira membuat senyum di wajah Dewi menghilang. Dewi tahu, masalah yang sebenarnya akan segera diungkap oleh Wira. Masalah yang membuat Wira sampai asyik di depan laptop tanpa menyadari kalau Ia sudah pulang kerja.


"Lalu? Pasti ada masalah kan, Pak? Saya tahu sejak kemarin Bapak seperti banyak pikiran. Audit sudah selesai, tapi Bapak masih berkutat di depan laptop. Saya nggak tahu apa yang Bapak kerjakan, tapi saya tahu Bapak sedang memikirkan sesuatu sampai Bapak nggak menyadari kedatangan saya." kata Dewi.

__ADS_1


"Rupanya lo udah semakin mengenal siapa gue!" Wira tersenyum senang, lalu senyumnya kembali menghilang berganti dengan wajah serius. "Lo bener. Sejak kemarin gue asyik di depan laptop. Gue sedang mematangkan bisnis gue sama lo. Lo tahu, apa keputusan Abi dan Mommy?" Dewi menggelengkan kepalanya. Jujur saja ia tidak tahu apa yang kedua orang tuanya Wira akan lakukan terhadap dirinya.


"Seperti yang lo lihat bersama Bahri saat di kantor polisi, Mommy sudah mulai membatasi dan memotong uang audit. Gue pikir, Abi nggak akan melakukan hal yang sama, tapi rupanya gue udah bikin Abi jadi lebih kesel dan akhirnya Abi setuju dengan cara Mommy menghukum gue. Bahkan Abi lebih parah lagi,"


"Mulai sekarang penghasilan gue cuma dari uang gaji bulanan yang gue terima. Uang tambahan hanya dari audit, itu pun baru ada beberapa bulan lagi yang artinya nggak ada pemasukan tambahan untuk gue. Mommy juga bertindak tegas sesuai perintah Abi untuk tidak mengirimkan lagi bahan makanan dan uang jajan buat gue. Artinya apa? Gue akan mengandalkan biaya hidup sehari-hari hanya dari gaji yang gue terima. Tabungan gue juga semakin menipis, rencana membuat laundry terpaksa batal karena pasti nggak akan disetujui oleh kedua orang tua gue. "


Raut wajah kecewa dan sedih terpancar dari wajah Dewi. Kecewa karena harapannya untuk berbisnis dengan Wira terancam gagal. Sedih karena melihat Wira tertekan dan menjadi sulit karena menolong dirinya dan keluarga yang selalu banyak masalah.


"Kenapa? Lo takut? Lo nggak siap menghadapi keadaan kayak gini?" tanya Wira yang menyadari perubahan ekspresi di wajah Dewi.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Jujur aja Pak, mendengar hal ini saya merasakan sedih dan kecewa dalam waktu bersamaan. Saya punya mimpi akan membuat sebuah bisnis sehingga keluarga saya bisa hidup lebih baik tanpa harus mengandalkan gaji saya. Mimpi yang sebentar lagi jadi kenyataan, berkat rencana Bapak. Saya merasa sedih, bukan karena mimpi tersebut gagal, tapi karena Bapak yang sudah banyak menolong keluarga saya malah ikut-ikutan terkena sial. Entah kutukan apa yang diterima keluarga saya sampai membuat Bapak juga ikut terkena sialnya."


"Jadi, lo bukannya takut karena gue tak lagi punya banyak uang?!" tanya Wira yang rupanya sudah salah paham tentang apa yang dipikirkan oleh Dewi.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Saya terbiasa hidup susah, Pak. Gaji Bapak Wira pasti besar, meski bagi Bapak kecil. Nggak akan terlalu sulit hidup Bapak kalau mengandalkan gaji yang dimiliki. Gaji saya yang kecil saja bisa untuk sekeluarga, apalagi gaji Bapak? Saya nggak takut. Saya yakin Bapak pasti bisa melewatinya. Saya cuma nggak mau melihat Bapak sedih. Apapun yang terjadi, saya mau Bapak tetap jadi Pak Wira yang galak, yang suka marah-marah, yang ngomongnya pedas tapi jangan menjadi Bapak Wira yang sedih dan terus memikirkan masa depan yang bisa saja berubah menjadi masa depan yang lebih indah."


****

__ADS_1


__ADS_2