Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Surprise Party


__ADS_3

Wira menyetir sambil sesekali memandangi istrinya yang nampak berbeda hari ini. Cantik dengan hijab berwarna hijau muda senada dengan dress yang dikenakannya.


"Kamu kenapa liatin aku terus sih? Aku kan jadi malu?!" protes Dewi.


"Kenapa? Aku suka sekali loh melihat kamu pakai hijab. Terlihat anggun dan makin cantik!" Wira menggenggan tangan Dewi dan mencium punggung tangannya. "My queen!"


"Ah asli ya?! Kamu tuh semenjak pulang dari Bali jadi makin gombal! Manis banget kata-katanya! Makin mirip Abi tau enggak?!"


"Weits! Jangan jangan samakan dia dengan diriku. Dirinya yang norak dan diriku yang keren!" Wira berkata sambil bersenandung layaknya lagu dangdut.


Dewi tak kuat menahan tawanya. "Lucu banget sih kamu! Udah makin gombal eh makin lucu pula!"


Wira tersenyum senang melihat Dewi yang senang dengan sikapnya. "Yang penting kamu senang dan bahagia! Bahagia itu bagus untuk ibu hamil!"


"Ah sweet banget...."


"Iya dong! Nanti kalau bisnisnya udah jalan, ingetin aku untuk beliin kamu dress yang banyak! Jilbabnya juga yang banyak. Biar kamu bisa gonta ganti sesuka kamu!"


"Segitu senangnya ya kamu lihat aku pakai hijab?"


"Iya dong! Berarti aku sudah mendidik kamu jadi makmum yang baik?!" jawab Wira penuh percaya diri.


Dewi hanya tersenyum mendengar jawaban Wira. "Iya."


Mereka pun sampai di rumah Abi. Nampak rumah Abi agak sepi. Dewi sudah menerima instruksi yang Abi berikan dan mengikuti apa yang sudah Abi rencanakan.


"Kok sepi ya? Kamu udah bilang belum sama Abi kalau kita mau ke sini?" tanya Wira.


"Udah. Mommy bilang katanya enggak akan kemana-mana sih. Kita masuk aja ke dalam. Mungkin Abi dan Mommy pergi cuma sebentar saja."


"Iya juga sih. Toh aku punya kunci rumah sih." Wira lalu turun dari mobil dan membuka gerbang rumah Abi. Ia pun memasukkan mobilnya di garasi mobil Abi lalu membukakan pintu untuk Dewi.


"Kamu bawa kue ini aja?" tanya Wira.


"Iya. Aku enggak jadi masak, tadi mual. Kalau bikin kue aku masih bisa."


"Yaudah ayo kita masuk!" Wira berjalan duluan menuju pintu dan membuka dengan kunci rumah miliknya.


Rumah Abi gelap. Tak ada orang sama sekali. "Tumben enggak ada orang. Kamu yakin sudah bilang sama Mommy?"


"Iya. Aku udah bilang sama Mommy kok. Aku telepon lagi ya?!" Dewi lalu menghubungi Tari sesuai rencana.


"Mommy lagi di jalan. Katanya tunggu sebentar lagi." bohong Dewi. "Kita masuk ke dalam saja."

__ADS_1


"Tapi gelap." jawab Wira.


"Ya nyalahin lampunya!"


"Enggak nunggu di depan saja?" tanya Wira dengan wajah yang terlihat agak takut.


"Banyak nyamuk! Di dalam saja!" tolak Dewi yang paham sekali betapa penakut suaminya.


"Tapi gelap, Wi!"


"Ya dinyalahin, Sayang! Kalau lampunya dinyalahin 'kan terang jadinya!"


Wira sempat ragu namun akhirnya ia memberanikan diri masuk ke dalam rumah. Dinyalahkannya senter dari Hp dan mencari tombol lampu.


Lampu ruang tamu berhasil dinyalakan. Lalu Wira ke ruang tengah sambil menuntun tangan Dewi agar lebih berani dan mencari tombol lampu. Ruang tengah juga sudah terang.


"Udah terang bukan?"


Wira mengangguk.


"Bisa lepasin tangan aku?" tanya Dewi. "Aku mau ke toilet nih!"


"Mau aku temenin aja? Nanti kamu sendirian di toilet. Kalau kamu ketakutan gimana?" tanya Wira.


"Aku berani kok! Aku biasa pulang malam sendiri." tolak Dewi.


"Pulang malam tuh beda sama berada di rumah sendiri. Apalagi kalau rumah besar kayak rumah Abi ini!" Wira malah menakuti Dewi padahal dirinya sendiri yang tak mau ditinggal.


"Aku enggak takut. Udah ah aku udah kebelet nih! Tunggu sebentar!" Dewi lalu masuk ke toilet yang berada dekat dapur. Meninggalkan Wira seorang diri.


Wira celingukan di rumah Abi yang besar ini. Rumah ini selalu terang sejak dulu. Baru kali ini kosong. Mommy dan Abi tak pernah meninggalkannya pergi dengan rumah gelap seperti ini. Mereka tahu kalau Wira penakut dan tak suka gelap.


"Sayang! Masih lama?" tanya Wira.


Tak ada jawaban. Wira mulai ketakutan. Diketuknya kembali pintu kamar mandi.


"Sayang! Kok enggak jawab sih?!" protes Wira.


"Yah... Kamu sih! Basah deh baju aku!" teriak Dewi. "Tolong ambilkan baju ganti dong di kamar kamu!"


"Hah? Ambilin apa?"


"Baju ganti. Basah semua nih kena air. Kamu sih bawel!" omel balik Dewi. "Masih ada baju ganti aku di kamar kamu!"

__ADS_1


"Kamu keluar dulu! Temani aku ke atas!" ajak Wira.


Dewi menyembulkan kepalanya dari balik pintu. "Aku basah semua nih gara-gara kamu bawel. Masa aku keluar pakai baju basah? Tolong ambilin ya! Di kamar kamu masih ada baju ganti punya aku kok! Please!"


"Tapi gelap, Sayang!" protes Wira.


"Jadi kamu enggak mau nih ambilin buat aku? Kalau aku masuk angin gimana? Aku 'kan lagi hamil, harus jaga kondisi tubuh." Dewi berpura-pura sangat sedih, membuat Wira tak kuasa menolak permintaannya.


"Gimana ya? Aku ke atas nih?!" tanya Wira seraya garuk-garuk kepalanya.


"Iya. Yaudah kalau kamu enggak mau, aku aja!" ancam Dewi.


"Jangan! Aku aja! Aku pemberani kok! Kamu tunggu saja di sini!"


Dengan takut-takut Wira berjalan menaiki anak tangga. Cepat-cepat Dewi memberi kode kalau Wira sudah ke atas. Dewi keluar dari kamar mandi dan mengetuk pintu kamar Tari.


Mommy, Abi dan Carmen yang sejak tadi bersembunyi di kamar pun keluar. Salah Wira sendiri yang tak memeriksa kamar Mommynya terlebih dahulu.


"Ayo! Wira sudah ke atas!" bisik Dewi.


Tari dan Carmen lalu menyiapkan kue ulang tahun untuk Wira. Tari juga mengeluarkan makanan yang ia siapkan lalu menatanya di atas meja makan, tanpa mengeluarkan suara. Sisanya yang lain biar anak buahnya yang mengurus.


Wira berjalan menuju kamarnya. Lantai atas sangat gelap. Dinyalakannya lampu dari Hp miliknya. Ia menekan tombol lampu dan lantai atas lalu terang benderang.


Jika bukan demi istri tercinta, tak akan mau Wira gelap-gelapan seperti ini!


Wira lalu masuk ke dalam kamarnya yang gelap gulita. "Ngapain sih Mommy pergi semua lampu dimatiin! Pasti ulah bapack-bapack perhitungan itu deh!" gerutu Wira.


Wira mencari tombol lampu namun tak menyala lampu kamarnya. Sudah Abi copot demi terselenggaranya acara malam ini. Ia masuk ke dalam kamarnya dan hendak menyalakan lampu dari atas nakas.


Tiba-tiba...


Brakkk...


Pintu kamar tertutup sendiri.


Wira cepat-cepat menuju pintu dan hendak keluar kamar. Sayangnya, pintu seperti ada yang menahan. Ia tak bisa keluar.


"Siapa? Heh enggak lucu ya!" omel Wira.


Lalu pintu kamar mandi terbuka dan keluarlah sesosok berbaju putih dengan rambut panjang.


"Sayang! Sayang! Tolong aku! Huaaaaa!"

__ADS_1


****


__ADS_2