
Wira keluar dari kamar mandi dengan memakai handuk putih yang melilit di pinggangnya. Dewi sedang melipat mukena sehabis sholat, agak heran karena Wira sudah pulang sore hari.
"Kamu udah pulang?" tanya Dewi. Ia tahu suaminya sudah ambil wudhu jadi tidak salim.
Dewi hendak mengambilkan baju namun Wira tolak. "Aku aja yang ambil." Wira mengambil sebuah kaos berkerah dan celana jeans biru doungker. "Laporan udah selesai, ya aku pulang saja."
"Mau minum teh atau makan sesuatu?" tawar Dewi.
"Air putih saja. Aku sholat dulu." Wira mengurungkan niatnya makan masakan Dewi. Ia punya rencana lain yang lebih baik.
Wira lalu melaksanakan sholat ashar. Setelah melipat sajadah, ia menerima gelas air putih yang Dewi berikan. "Kita jalan-jalan yuk!"
"Kemana?" Dewi menaruh lagi gelas bekas minum Wira di atas nakas. "Sore begini pasti macet."
Wira sudah menyadari inilah permasalahan keluarganya yang selama ini ia biarkan berlarut-larut. Rumah tangganya tak lagi harmonis seperti dulu.
Awalnya Wira masih cuek dan berpikir Dewi masih butuh waktu. Namun sudah dua tahun sejak mereka kehilangan anak pertama mereka dan kesedihan masih terus menjadi jarak lebar di hubungan mereka.
Dewi duduk di pinggir tempat tidur. "Kalau naik motor mau?" tanya Wira lagi. "Enggak terlalu macet kalau naik motor." bujuk Wira.
"Pakai motor siapa? Motor Mommy sudah kamu kembalikan dan motor kamu di rumah Abi." jawab Dewi.
"Ya motor aku dong! Kita ambil dulu di rumah Abi." ajak Wira.
Dewi memanyunkan bibirnya. "Ya sama aja harus macet-macetan dulu buat ambil motornya."
"Yaudah naik mobil aja berarti?! Biar macet-macetannya di dalam mobil, enggak dua kali kena macet deh?!" bujuk Wira lagi tak putus asa.
Dewi menghela nafas malas. "Memangnya mau kemana sih?" terlihat sekali dirinya lelah karena sibuk bekerja.
"Pacaran."
Dewi mengernyitkan keningnya. "Mau meong-meong? Di sini aja 'kan bisa!"
Wira menghirup udara banyak-banyak. Menambah stok sabar dalam dirinya. Inilah permasalahan rumah tangganya yang sebenarnya. Yang menumpuk dan seakan menjadi bom atom
"Aku enggak mau itu. Maksudnya bukan itu. Aku mau kita punya waktu untuk berdua, seperti dulu. Saat kita masih enggak punya uang banyak dan harus serba irit. Saat kita masih naik motor kemana-mana dan harus kehujanan serta kepanasan. Sekarang saat bisnis kita sudah semakin maju, kamu sadar enggak sih kalau rumah tangga kita semakin jauh?!"
Rupanya Dewi salah persepsi. "Maksud kamu apa? Kamu mau menikah lagi gitu dan kamu butuh waktu kita berdua untuk minta ijin sama aku?!"
"Enggak. Bukan itu! Aku enggak ada niat buat nikah lagi! Hanya kamu istri aku satu-satunya. Hanya kamu!" Wira lalu menggenggam tangan Dewi. "Kita perlu waktu berdua. Kita butuh saling mengenal lagi. Kita memang satu perahu, satu tujuan tapi sadarkah kamu kalau perahu yang kita tumpangi begitu kosong! Tak ada lagi kehangatan seperti dulu!"
__ADS_1
Dewi menunduk. Air mata mulai mengalir dari kedua pelupuk matanya. "Maaf. Ini pasti semua karena aku!"
Wira menghapus air mata Dewi. Ia pun berlutut dan melihat langsung ke dalam mata istrinya. "Aku enggak menyalahkan kamu. Aku juga ada andil di dalamnya. Karena itu, kita bahas dan selesaikan sambil jalan-jalan. Kamu mau 'kan?"
Dewi pun mengangguk. "Aku ganti baju dulu."
"Oh iya, bawa baju ganti!"
Dewi kembali mengernyitkan keningnya. "Kita mau nginep? Lalu laporan dan-"
Wira menaruh telunjuknya di bibir Dewi. Membuat Dewi tak melanjutkan perkataannya. "Lupakan pekerjaan dulu. Kita lebih penting!"
Dewi pun mengangguk dan menuruti perkataan Wira. Ia menyiapkan baju ganti untuk dirinya dan juga Wira. Dewi memakai celana hitam dan atasan tunik berwarna biru muda yang senada dengan jilbab yang dikenakannya.
"Biar aku bawa baju gantinya!" ujar Wira.
Mereka berdua lalu berpamitan pada Ibu Sari dan meminta Ibu Sari langsung mengunci ruko saja karena mereka akan menginap. Ibu Sari mengiyakan karena sadar rumah tangga anaknya tak lagi seperti dulu. Mungkin ini rencana Wira untuk mengembalikan lagi rumah tangganya seperti dulu.
Wira membukakan Dewi pintu mobil, "Silahkan My Queen!" ujarnya dengan senyum lebar.
Dewi tersenyum malu. "Tumben banget aku dibukain! Biasanya nyuruh buru-buru biar enggak telat!" sindir Dewi.
"Yup. Aku akan catat kesalahanku dan perbaiki, My Queen." jawab Wira.
"Oke!"
Wira memajukan dirinya. Memakaikan Dewi seat belt lalu mencium pipi Dewi. "Ini yang dulu aku suka lakukan bukan?"
"Iya. Tapi udah jarang-"
"Aku catat lagi! Ingatkan kalau aku lupa!" potong Wira. "Oke. Kita baca doa dulu sebelum berangkat!"
Wira pun mengemudikan mobilnya menembus kemacetan ibukota. "Macet 'kan?" protes Dewi.
"Oh tenang! Aku sudah menyiapkan sesuatu buat kamu!" Wira membuka dashboard miliknya dan mengeluarkan teka teki silang beserta pulpen lalu memberikannya pada Dewi.
"Kamu serius nyuruh aku ngerjain TTS di jalan?" tanya Dewi.
"Tentu! Aku bantu. Kita berpikir bersama."
"Tapi dulu enggak kayak gini!" protes Dewi.
__ADS_1
"Berarti ini terobosan baru yang aku buat!" jawab Wira.
Dewi akhirnya berhasil tersenyum. "Terobosan apa? Di Hp juga ada aplikasi buat main kayak begini! Kenapa harus pakai TTS dari kertas sih?"
"Ya... Itu aku beli dari bapak-bapak yang jualan koran. Lapaknya sepi karena persaingan di dunia digital. Kasihan. Aku borong aja buat ngasah pengetahuan selama macet di jalan."
Dewi kembali tersenyum. Kali ini sambil geleng-geleng kepala. Sikap dermawan Wira memang tak pernah berubah sejak dulu. "Oke. Kita pakai TTS. Aku mulai dari pertanyaan nomor satu. 11 kotak, pertanyaannya apa nama latin dari anggrek?"
Wira terlihat berpikir. "Aku lupa. Udah lama banget enggak belajar biologi."
"Sama. Aku juga. Aku lebih banyak belajar akuntansi malah." aku Dewi.
"Yaudah kamu google saja!" perintah Wira.
"Kalau google bukan ngasah otak dong?" protes Dewi.
"Ya daripada enggak kita jawab?!"
"Iya juga sih." Dewi lalu browsing dan mendapatkan jawabannya. "Orchidaceae."
"Susah ya? Pantas aku enggak hafal!"
"Sama aku juga." Mereka lalu saling tatap dan tertawa bersama.
"Oke. Pertanyaan kedua. Lima huruf, depannya D. Badan air alami berukuran besar yang dikelilingi oleh daratan dan tidak berhubungan dengan laut, kecuali melalui sungai."
Wira dan Dewi kompak menjawab. "Danau!"
"Yey... Bener!" Dewi mengisi jawaban yang pas di kotaknya.
"Seru 'kan?"
Dewi mengangguk setuju.
Perjalanan jadi tak terasa karena sejak tadi Dewi sibuk mengajukan pertanyaan, browsing jawaban dan menulisnya di dalam kotak.
Tanpa terasa 3 lembar TTS berhasil mereka jawab. Bantuan Mbah Google memang mempermudah semuanya. Dewi baru menyadari kalau mereka udara di sekitar mereka sudah dingin. "Kita ke Puncak? Serius?"
Wira mengangguk. "Makan Indomie soto pakai telor lalu cemilannya jagung rebus panas dan minumannya jahe hangat. Kamu pasti tergoda, iya 'kan?"
Dewi mengangguk. "Jadi laper nih! Ayo ah cari warkop terdekat!"
__ADS_1
****