Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Kado


__ADS_3

"Aku pergi sama Bahri dulu ya, Sayang!" Wira mencium kening Dewi sebelum pergi.


Harum parfum Wira langsung menusuk ke dalam hidung Dewi. Harum dan wanginya amat Dewi suka.


"Aku ikut boleh?" nego Dewi.


"Enggak! Kamu harus banyak istirahat. Takut mual dan kecapekan! Aku mau muter-muter mencari ruko yang strategis untuk bisnis baru kita!" Wira menyelipkan anak rambut Dewi yang tak rapi ke belakang telinga. "Kamu harus makan banyak. Makan yang kamu suka dan tidak membuat kamu mual, oke?"


Dewi tersenyum mendengarnya. Perhatian ini yang ia rindukan selama sebulan terpisah dari suaminya. "Iya. Kamu tenang saja!"


"Nanti aku akan belikan makanan buat kamu ya! Aku pergi dulu! Doakan selalu suamimu ini mencari nafkah ya!" Wira mengusap perut Dewi lalu menciumnya. "Baby juga doakan Daddy ya!"


"Kenapa Daddy? Kenapa bukan Abi? Papa, Bapak atau Ayah?" tanya Dewi.


"Papa dan Ayah sudah banyak yang gunakan. Bapak terlalu formal. Kalau Abi... Kayaknya enggak ya! Bapack-bapack itu aja kelakuannya ajaib. Jangan sampai aku ketularan deh kalo panggilannya sama!" Wira bergidik ngeri.


Dewi tak kuasa menahan tawanya. "Enggak boleh gitu ah! Abi itu baik loh!"


"Sama kamu baik. Sama aku beda cerita! Udah ah aku kasihan Bahri nungguin di bawah!" Wira mencium kening Dewi kembali lalu pergi.


Dewi memutuskan untuk membereskan oleh-oleh yang Wira bawa dari dalam koper. Kemarin mereka pulang malam dan belum sempat membereskannya.


Dewi menemukan fotocopy KTP milik Wira dan mengetahui informasi baru tentang suaminya. "Ya Allah! Istri macam apa aku ini? Wira besok ulang tahun ternyata! Apa yang harus aku lakukan nih?"


Dewi pun menghubungi mertuanya untuk meminta bantuan. "Assalamualaikum, My!"


"Waalaikumsalam, Sayang! Ada apa? Masih bertengkar sama Wira?" tanya Tari dengan suaranya yang lembut dan keibuan.


"Bukan, My! Aku udah baikkan sama Wira."


"Lalu? Mau curhat?"


"Bukan curhat juga sih, My."


"Lalu?"


"My, besok anak Mommy ulang tahun. Aku mau kasih surprise, My!"


"Anak Mommy? Oh ya Allah! Mommy juga lupa! Abang ulang tahun ya?!" rupanya di samping Mommy ada Abi yang sedang tradding saham sambil ngemil keripik singkong buatan Mommy.


"Kerjain aja, My!" teriak Abi yang didengar oleh Dewi.

__ADS_1


"Kerjain? Kasih surprise gitu?" tanya Dewi.


Terpaksa Tari mengubah teleponnya menjadi mode loud speaker agar mereka bisa mengobrol bertiga.


"Di sini aja, Wi! Abi yang siapkan semua!" Abi tersenyum jahil.


"Abi punya rencana apa? Jangan keterlaluan ah, nanti anak kamu marah!" omel Tari.


"Enak My ngerjain si Bangor! Makin kesal, Abi makin bahagia!" ujar Abi.


"Enggak! Kita makan-makan aja ya di rumah Mommy! Tapi kamu jangan bilang ya Wi kalau mau ngerayain ulang tahun Wira!" pesan Tari.


"Iya, My. Jam berapa?"


"Hmm... Pas makan malam aja kali ya?! Biar tuh anak enggak curiga!"


"Oke. Kalau begitu Dewi mau beli kado dulu deh! Makasih ya My kerjasamanya!" ujar Dewi.


"Tentu, Sayang!" jawab Tari.


"Sama Abi enggak makasih? Abi mau buat pesta kejutan loh buat Abang!" tagih Abi.


"Iya. Ingat ya, jangan sampai si Bangor tau!" pesan Abi.


"Oke, By!"


****


Dewi mulai mencari kado yang sesuai untuk Wira. Ia membuka beberapa market place dan mencari kado yang sesuai untuk suaminya. Beberapa referensi juga ia lihat dari sosial media. Pilihan Dewi jatuh pada sebuah jas. Ya, jas.


Wira sudah terjun ke dunia bisnis sekarang. Perlu berpenampilan formal jika harus bertemu klien. Selama ini Dewi melihat Wira hanya memakai kemeja atau kaos dengan jaket jika ke cafe. Penampilannya harus diubah. Namun harga jas berapa?


Dewi pun memesan ojek online. Ia pergi ke salah satu toko di Mall dan bertanya harga jas. Lumayan mahal rupanya.


"Bagaimana, Mbak? Jadi pesan tidak?" tanya penjaga toko.


Dewi galau. Uang memang ada, tapi untuk biaya keluarganya. "Enggak bisa kurang lagi, Mbak?"


"Enggak bisa. Sudah harga pas, Mbak." tolak penjaga toko.


Dewi bisa apa?

__ADS_1


Dewi keluar toko dengan kecewa. Mau membelikan suaminya kado saja ia tak punya uang. Padahal sudah memakai uang tabungannya yang sedikit itu tapi masih kurang.


Lalu bagai sebuah jawaban atas kegelisahannya, Abi menelepon.


"Assalamualaikum, Bi."


"Waalaikumsalam, Wi. Kamu dimana? Abi mau antar BPKB mobil si Bangor nih! Kemarin karena kesal ditinggal saja BPKB-nya." ujar Abi.


"Di Mall dekat rumah, Bi. Lagi nyari kado buat Wira." jawab Dewi.


"Wah bagus deh. Abi kesana saja. Enggak perlu ke ruko kamu! Tunggu Abi ya, Ini udah mau sampai kok. Yang dekat lampu merah itu bukan?!" tanya Abi.


"Betul, Bi. Dewi tunggu di dalam Mall-nya aja ya, Bi?!"


"Oke!"


Tak perlu menunggu waktu lama, Abi datang seorang diri tanpa ditemani oleh Mommy. Abi masih terlihat gagah di usianya yang sudah melewati setengah abad. Mungkin karena Abi menikmati hidupnya dan bahagia bersama Mommy, itu yang membuat Abi terlihat lebih awet muda.


Dewi langsung salim begitu bertemu dengan Abi. "Kamu beli apa? Sendirian aja?!"


"Belum beli apa-apa, Bi. Iya, aku sendirian aja. Tadinya mau minta antar sama Bahri, tapi adik aku itu lagi disuruh menemani Wira melihat-lihat ruko. Ya udah aku naik ojek aja ke sini." jawab Dewi dengan jujur.


"Kamu ini lagi hamil muda juga! Seharusnya banyak istirahat di rumah! Kalau Wira sampai tahu, bisa diomelin kamu! Kenapa belum beli juga? Belum ketemu yang cocok? Memangnya kamu rencananya mau beli apa sih?!"


"Aku nggak enak Bi, belum beliin Wira kado buat ulang tahun. Terpaksa deh aku pergi sendirian. Abi jangan bilang-bilang ya sama Wira, aku juga takut nanti diomelin." pinta Dewi.


"Iya, memangnya Abi tukang ngadu?! Abi itu cuma tukang ngomporin aja!" Abi tertawa sendiri dengan perkataannya. Mungkin Abi sadar diri kalau memang dirinya itu kompor. "Kamu belum jawab, kamu mau beli apa?!"


"Mm... Aku niatnya mau beli jas, Bi."


"Jas?!"


"I-iya."


"Untuk apa? Memangnya Abang bekerja di kantoran? Showroom Abi berbeda dengan kantoran. Dia cukup pakai kemeja saja sudah terlihat formal di sana, untuk apa membeli jas?!"


"Untuk Wira bekerja. Mungkin agak aneh ya Bi? Aku pernah baca jika punya sesuatu sebagai pendorong semangat terutama dalam mencapai cita-cita, hal tersebut akan membuat semangat kita naik lebih tinggi lagi. Aku ingin, dengan memakai jas yang aku berikan nanti Wira akan lebih semangat lagi menggapai cita-citanya,"


"Abi tahu 'kan, cita-cita Wira adalah membuat kerajaan bisnisnya sendiri?! Aku ingin, jas ini sebagai pemicu semangat Wira nantinya. Siapa tahu, bisnis Wira nanti akan jauh berkembang sehingga bisa membentuk suatu perusahaan besar? Jas ini yang akan mengantarkan kesuksesan Wira nanti. Wira akan punya tekad yakni memakai jas ini jika dia sukses nanti! Aku mau memberikan semangat seperti itu Bi!"


****

__ADS_1


__ADS_2