
Ruang UGD rumah sakit. Ruangan dimana dalam sehari ada banyak tetes air mata dan doa penuh harap. Ada banyak raut khawatir dan putus asa.
Banyak yang datang dan bisa langsung pulang karena sembuh penyakitnya dan tak jarang malah menghembuskan nafas terakhirnya di ranjang dengan bersimbah darah dan pekik tangis sanak saudara yang ditinggalkan.
Wira tak pernah menyukai ruangan UGD ini. Bermimpi memasukinya saja tidak. Tapi kini, ia harus meneguhkan hati dan menguatkan diri berjalan melewati beberapa orang yang berjuang melawan penyakitnya.
Suara mesin penanda detak jantung seakan menjadi irama sumbang yang memuakkan namun kalau irama itu berhenti maka tangisan pasti akan pecah. Pekik sakit dan lantunan ayat suci terdengar, menunggu akan dibawa ke ruangan mana selanjutnya.
Keluarga akan sedikit bernafas lega jika dipindahkan ke kamar rawat, mulai khawatir jika ke ruang operasi, syok kalau dibawa ke ICU dan menangis histeris jika dibawa ke ruang jenazah.
Tak ada yang menyukai ruang UGD, termasuk para perawat, dokter dan petugas kebersihan yang bertugas di dalamnya. Harus siap siaga menghadapi berbagai keadaan. Tak bisa tertawa sambil ngegosip karena harus empati pada keluarga pasien.
Wajah Wira sudah keruh. Pikiran buruk terus menguasainya meski ia sudah tangkal dengan doa dan dalam hatinya terus berzikir.
Wira menuju tempat tidur yang ditunjukkan oleh perawat dimana Dewi sudah terbaring dengan wajah pucat dan terus meringis kesakitan. Dokter yang memeriksanya sedang melakukan USG terhadap perut Dewi.
Wira berjalan mendekat dan memegang tangan Dewi. Sekuat mungkin ia tahan air mata dan keinginan memeluk Dewi. Ia harus kuat dan menahan diri, seperti yang Mommy pesan tadi.
Dokter yang memeriksa Dewi terlihat mengernyitkan keningnya dalam. Wira makin takut akan apa yang akan disampaikan pada dokter tersebut.
Benar saja, dokter mengangkat wajahnya dan menatap Wira seraya menggelengkan kepalanya. Air mata berhasil lolos dari pelupuk mata Wira. Dewi melihatnya. Dewi mulai dilanda kepanikan.
"Bagaimana Dok anak saya?" tanya Dewi dengan suara bergetar dan lemah.
Dokter tersebut harus menyampaikan berita yang akan membuat hati Dewi hancur. Berita yang tak pernah sama sekali akan didengar oleh pasangan yang beberapa waktu lalu sangat berbahagia karena merayakan pertambahan usia sang suami tercinta.
"Berdasarkan hasil USG yang dilakukan, mohon maaf sekali janin dalam kandungan ibu sudah tidak berkembang."
Wira mundur satu langkah. Dewi langsung menangis histeris. "Enggak! Bohong 'kan, Dok? Enggak mungkin. Huaaaaa....."
Wira tetap memegang tangan Dewi meski ia ingin menangis dan memeluk dirinya sendiri. Akhirnya Wira memutuskan memeluk Dewi. "Sayang..."
__ADS_1
Wira bahkan tak bisa berkata apa-apa. Suaranya tercekat di tenggorokan.
Anaknya meninggal!
Mimpi pun ia tak pernah membayangkan akan kehilangan anak!
Suara tangis Dewi perlahan menghilang. Dewi jatuh pingsan karena tak kuat menahan kesedihan yang teramat dalam.
"Sayang! Sayang bangun!" Wira berusaha menggoyangkan tubuh Dewi. Ia sudah kehilangan anaknya, tak mau sampai kehilangan istrinya juga. "Dokter tolong, Dok!"
Dokter dan perawat lalu berusaha menenangkan Wira. Dokter memeriksa keadaan Dewi dan meminta Wira menunggu di meja dokter jaga.
Wira duduk dengan pandangan kosong. Abi, Tari dan Ibu Sari datang setelah perawat meminta security memanggilkan keluarga yang lain. Abi melihat anaknya yang melamun dengan air mata terus menetes tanpa henti.
"Yang sabar, Bang! Yang kuat! Dewi butuh kamu!" peluk Abi.
"Anak aku meninggal, Bi!" ucap Wira dengan lirih. "Anak aku meninggal..." tangis Wira pun pecah.
Mommy Tari dan Ibu Sari saling menguatkan. "Maafin saya ya, Bu. Seharusnya tidak saya tinggalkan Dewi seorang diri!" sesal Ibu Sari yang menganggap semua adalah kesalahannya.
"Jangan bicara seperti itu, Bu! Semua sudah takdir Yang Maha Kuasa!" Tari menenangkan Ibu Sari padahal dirinya sendiri sangat bersedih. Cucu pertama yang amat dinantikannya sudah meninggal dunia.
Dokter yang memeriksa Dewi lalu keluar dan menghampiri Abi. Melihat Wira tak bisa diajak berbicara, dokter tersebut lalu berbicara dengan Abi selaku wakil dari suami pasien.
"Ibu Dewi harus secepatnya melakukan kuret. Setelah diperiksa ternyata Ibu Dewi juga mengalami pendarahan dan proses ini harus dilakukan secepatnya karena keadaannya semakin lemah." ujar dokter yang memeriksa.
"Silahkan dilakukan, Dok. Saya mau menantu saya selamat." ujar Abi dengan tegas.
Mommy lalu menggantikan Abi menenangkan Wira. Abi harus mengisi beberapa formulir dan membayar biaya rumah sakit. Wira terlalu syok sampai terus menerus menangis.
****
__ADS_1
Wira menatap Dewi yang masih belum sadarkan diri sehabis menjalani kuret. Agas mengajak anaknya untuk mengurus janin Dewi.
Wira pun meninggalkan Dewi dan mempercayakannya pada Mommy dan Ibu Sari. Ia harus memakamkan janinnya dengan layak, seperti yang Abi katakan.
Wira terus menangis menatapi janin yang kini tak bernyawa. "Maafin Daddy, Nak. Daddy seharusnya menjaga Mommy kamu! Daddy terlalu sibuk sampai abai. Maafin Daddy!"
Wira kembali menangis. Agas menepuk bahunya dan kembali menasehati Wira agar bisa ikhlas dan sabar. Mudah memang mengatakan namun bagi Wira yang menjalani sangatlah sulit.
Wira memakamkan janin mungilnya lalu mendoakannya dengan tulus. Agas berusaha menguatkan Wira. "Anak ini yang akan menjadi tabungan kamu di akhirat nanti. Akan menyambut kamu dan Dewi. Ikhlas dan bersabarlah! Semua sudah kehendak Allah."
Wira mengangguk namun tetap saja bersedih. Agas kembali mengajak Wira ke rumah sakit. Dewi sudah siuman dan terus menangis. Membuat Wira tak kuat dan kembali lemah.
"Anak Dewi mana? Anak Dewi mana, My? Mana Bu? Huaaa...." tangis Dewi begitu lirih dan menyayat hati. Tangisan seorang ibu yang kehilangan buah hatinya.
"Sabar, Sayang! Sabar!" ujar Mommy Tari.
"Kamu harus ikhlas, Wi! Ikhlas!" tambah Ibu Sari.
Wira yang mendengar dari depan pintu pun urung masuk ke dalam kamar. Ia malah duduk di lantai dan kembali menangis. Tangisnya tak kalah memilukan dari Dewi.
"Sudah, Bang! Tadi Abang sudah ikhlas!" ujar Abi yang ikut duduk di lantai seperti Wira. Tak peduli sorot mata orang memandang apa yang mereka berdua lakukan.
"Semua salah Wira, Bi! Salah Wira!" ujar Wira disela tangisannya.
"Semua sudah takdir, Bang! Abang enggak boleh menyalahkan diri Abang sendiri! Tadi Abang sudah menerimanya dengan ikhlas, kenapa sekarang Abang malah kayak gini lagi?!" nasehat Abi.
Wira menggelengkan kepalanya. Matanya bengkak dan wajahnya kusut. Ia tak peduli lagi pada penampilannya.
"Ini karena Wira, Bi! Andai dulu Wira langsung bersyukur saat Dewi mengabari Wira kalau dirinya hamil, bukan malah mempertanyakan kehamilan Dewi. Andai Wira lebih banyak bersyukur atas anak yang Allah titipkan, bukan malah takut karena akan punya anak di usia muda. Andai Wira tak sombong dan memamerkan kehamilan Dewi pada semua orang. Semua karena Wira, Bi! Wira yang sudah membuat Allah mengambil kembali apa yang sudah dititipkannya pada Wira!"
****
__ADS_1