
Wajah Wira langsung memerah. Jika selama ini lelaki terkenal suka menggombal, maka apa yang Dewi lakukan lebih hebat dari yang dilakukan kaum lelaki.
Pujian yang disertai dengan efek membuat jantung berdegup kencang serta wajah memerah dalam waktu bersamaan. Wira bahkan takut kalau jantungnya akan melompat keluar saking kencangnya suara detak jantung yang bertalu.
Dewi melenggang pergi meninggalkan Wira yang diam mematung. Senyum jahil terpasang di wajah Dewi. "Syukurin! Emang enak! Makanya jangan ngeselin!"
Suara pintu apartemen yang ditutup Dewi membuat kesadaran Wira pulih. Ia memukul mukul pelan pipinya. "Sadar Wir! Sadar! Lo habis dihipnotis sama Dewi! Wira bodoh! Bodoh!"
****
Dewi memulai harinya dengan perasaan bahagia. Hutangnya sudah terbayar 3 hari ini. Meskipun Ia merasa sangat mengantuk dan lelah, namun membayangkan hutangnya akan segera lunas membuat hatinya bahagia.
Dewi melepas jaket yang dikenakannya dan menaruhnya di loker. Ia mendengar suara salah seorang teman kerjanya sedang mengobrol. Dewi pun menajamkan pendengarannya karena topik yang mereka bahas sangat menarik.
"Tau enggak, laki gue kalo di ranjang tuh suka loyo. Baru sebentar udah keluar. Gue kan jadi kurang puas ya?! Apa gue selingkuh aja ya? Kebutuhan dia gue penuhin, tapi dia enggak bisa memenuhi kebutuhan gue?!" curhat temannya yang sudah memiliki anak yang kini sedang sekolah SD.
"Gila lo! Kurang apa sih laki lo sampai mau selingkuh?! Memangnya masih enggak bisa dibicarakan baik-baik? Lo ke dokter buat konsultasi. Jangan apa-apa mau selingkuh! Pernikahan itu untuk ibadah. Lo cuciin baju laki lo aja ibadah, apalagi melayani dia dengan tulus. Makin banyak pahala lo!" ceramah teman Dewi yang sudah lebih senior.
"Tapi batin gue enggak bahagia!" keluh yang pertama curhat.
"Heh, kebahagiaan batin tuh bukan hanya saat dia memuaskan lo di atas ranjang. Saat lo bahagia karena dia membuat lo tertawa juga masuk itungan kebahagiaan batin. Lo aja yang kurang bersyukur!" ceramah seniornya lagi.
Dewi terdiam mendengarkan percakapan dua orang yang masih terus berlanjut itu.
"Apa makna pernikahanku dan Pak Wira? Apakah sekedar topeng untuk menutupi perbuatan zina kami saja? Akankah pernikahan yang sebenarnya akan terwujud?" batin Dewi.
__ADS_1
Tak sadar kalau dirinya hanya diam mematung sejak tadi, Dewi tersadar saat temannya yang tadi menegurnya. "Ngapain lo di sini? Nguping curhatan gue?" temannya yang sedang sensitif karena kurang jatah tambah sensitif memergoki ada yang menguping pembicaraan rahasianya.
"Eng-enggak Kak. Aku baru taruh tas dan jaket di loker." elak Dewi.
"Jangan bohong deh! Lo nguping kan? Masih kecil udah kepo lo sama urusan orang dewasa. Mana ngerti lo tentang pernikahan dan segala permasalahannya? Pikirin aja tuh cara lo bayar hutang sama yang lain. Jangan mentang-mentang udah bayar hutang sama kita lo jadi sok akrab seenaknya aja nguping pembicaraan orang?!" omel si paling sensitif yang merasa paling butuh dihargai tapi tak mau menghargai balik orang lain.
"Sst! Udah! Udah! Enggak sengaja kali dia denger. Jangan malah ribut! Sebentar lagi cafe akan buka. Ayo semua keluar! Kita briefing dulu!" si rekan senior menengahi agar tidak terjadi keributan.
"Iya, Kak." Dewi hanya bisa menunduk patuh. Melawan senior tak ada gunanya. Hanya membuat hidup Dewi yang sudah susah semakin sulit saja.
Si sensitif menatap sebal pada Dewi tapi mengikuti apa yang seniornya perintahkan. Ia masih kesal akan sikap ingin tahu Dewi yang dianggapnya tak sopan. Menguping percakapan orang lain dan berbohong. Membuat Dewi tambah jelek saja di matanya.
Dewi pun kembali bekerja. Kini suasana kerjanya serasa tidak nyaman. Hanya karena tak sengaja mendengar orang lain curhat dirinya dianggap manusia paling ingin tahu urusan orang lain.
"Kalau enggak mau ada yang denger, ya jangan cerita di tempat umum! Di kamar sana curhatnya!" ingin Dewi berani mengatakan seperti itu. Namun nyalinya menciut. Bayangan akan kehilangan pekerjaan karena ribut dengan rekan kerja lebih Ia takuti.
"Besok jangan lagi berbuat seperti itu ya Dewi!" tegur manajer cafe sebelum shift kerjanya selesai.
"Baik, Pak."
Dewi pun pulang kerja dengan tubuh yang lebih letih dari biasanya. Lelah fisik ditambah lelah batin. Lengkap sudah penderitaannya hari ini.
Dewi memesan ojek online dan berhenti di depan apartemen Wira. Suaminya belum pulang kerja. Entah kapan dan jam berapa, Dewi tak pernah tau.
Dewi menuang sabun agak banyak ke dalam bath up. Ia mengisinya dengan air hangat dan mulai berendam di bath up penuh busa sabun.
__ADS_1
Air hangat membuat tubuhnya lebih rileks dan Ia pun tertidur. Nikmat sekali. Kenikmatan hidup orang kaya yang hanya sesaat bisa Ia nikmati.
Sampai Ia merasakan bahunya ada yang mengguncangnya. "Wi! Dewi! Bangun!"
Dewi membuka matanya dan melihat suaminya sedang melihatnya dengan tatapan agak cemas. "Huft... Untunglah! Lo masih hidup! Lagian ngapain sih lo tiduran di bath up?!" omel Wira.
Dewi pun duduk dan membuat busa di sekitarnya tersingkap. Buah sintalnya yang menggoda pun tertangkap mata Wira. "Ya Allah! Lo sengaja banget sih menggoda iman gue! Udah tau gue lemah sama yang namanya nen monthok!" gerutu Wira seraya menutup sebelah matanya.
Dewi sudah pulih kesadarannya dan tersenyum dengan sikap malu-malu Wira. "Pak!" panggilnya.
"Apa? Lo udah bangun kan? Cepetan mandi! Gue juga mau mandi!" Wira hendak beranjak berdiri namun Dewi lebih cepat meraih kerah baju Wira dan menariknya mendekat.
Dewi mencium bibir Wira. Wira yang menahan tubuhnya agar tidak tercebur di bath up malah salah pegang dan memegang paha mulus Dewi.
Dewi terus menggoda Wira sampai Wira lemah dan membalas ciumannya. Tangan Wira tak jadi Ia angkat dan malah membelai tubuh indah Dewi.
Rencana membangunkan Dewi malah berubah menjadi membangunkan adik kecil Wira. Sekuat Wira ingin menolak, pesona Dewi terlalu kuat untuk Ia tolak.
Wira membuka bajunya dan ikut masuk ke dalam bath up. Tak menyangka acara mandinya akan lebih nikmat dari biasanya.
Dewi teringat curhatan temannya yang mengatakan kalau suaminya tak bisa memuaskannya. Dewi tersenyum dan menatap Wira yang kini sedang memasukinya.
"Mohon maaf, suamiku ini sangat perkasa. Uh... Tak pernah ada kata tak puas dengan si tampan ini. Yang ada malah... uh... aku mau dan mau lagi." batin Dewi seraya mendesaaah penuh kenikmatan.
****
__ADS_1
Hi Semua!
Udah senin nih. Yuk dukung Abang Wira dengan like, komen dan vote tentunya. Vote yang banyak ya maacih 😘😘😘