Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ensiklopedia


__ADS_3

"Sebentar, gue titip helm gue dulu! Kalo hilang, nangis gue!" ujar Wira seraya membawa helm miliknya ke tempat penitipan helm.


"Titip ya Bang!" ujar Wira.


"Iya, siap!" jawab petugas penitipan helm.


Wira berjalan menghampiri Dewi yang sedang menunggunya.


"Kenapa sih harus repot banget dengan helm mahal. Mau kemana-mana mikirin helm. Pakai yang murah aja sih! Hilang tinggal beli lagi?!" protes Dewi.


"Itu kan kata lo! Lo liat tuh motor gue. Motor sport. Mana keren motor sport gitu pakai helm bogo? Enggak keren tau! Bagusnya pake helm full face. Biar keliatan makin keren!" jawab Wira.


"Iya... iya... Keren! Bapak mau beli apaan sih? Awas ya kalo kelamaan belanjanya terus saya telat masuk kerja!" ancam Dewi.


"Lo telat juga gue kasih dispensasi. Tenang aja. Meski sekarang status gue sebagai SPV, tetap aja gue anak owner. Kata-kata gue masih titah yang tak bisa terbantah!" jawab Wira dengan sombongnya.


"Dih sombongnya enggak nahan. Yaudah mau kemana?"


Wira menarik tangan Dewi dan mengajaknya memasuki departemen store yang menjual barang-barang dengan kualitas bagus. Wira berjalan terus dan berhenti di tempat tas.


Sebuah tas ransel berbahan kulit yang terlihat modis diangkatnya dari rak. Wira memeriksa bagian dalamnya. Seorang SPG datang hendak membantu namun Wira tak peduli. Ia memeriksa sendiri tanpa dibantu.


"Ini ada promo enggak? Pake kartu apa gitu?!" tanya Wira.


"Ada, Mas. Kalau Mas pakai kartu kredit Bank M, Mas bisa dapat tambahan diskon 10 persen." jawab SPG tersebut.


"Yah gue enggak ada kartu kredit. Enggak ada promo pakai kartu debet gitu?" tanya Wira lagi.


Wira memang tak memiliki kartu kredit. Abi melarangnya. Alasannya tak mau Wira jadi pribadi yang konsumtif.


"Untuk saat ini tidak ada, Mas."


Wira berpikir sejenak. "Yaudah gue mau ini deh satu! Bayar dimana?"


"Silahkan ikuti saya, Pak." SPG tersebut membawa tas yang Wira pilih lalu berjalan menuju kasir.

__ADS_1


Wira dan Dewi mengikuti SPG tersebut. Dewi terus bertanya-tanya untuk siapa tas ransel yang Wira beli. Untuk Wira tak mungkin karena yang dibelinya adalah tas ransel wanita.


Wira mengeluarkan dompet miliknya dan membayar dengan kartu ATM miliknya. Wira menerima paper bag berisi tas dan memberikannya pada Dewi. "Nih, buat lo! Pokoknya lo harus suka. Kalo lo enggak suka, ya lo bikin suka ajalah sendiri!"


"Ini... Buat saya, Pak?" tanya Dewi tak percaya.


"Iya! Ayo kita jalan lagi!" Wira kembali menarik tangan Dewi dan mengajaknya ke bagian pakaian wanita.


"Pak, ini beneran buat saya? Dalam rangka apa? Saya enggak ulang tahun loh!" tanya Dewi masih tak percaya kalau Wira sudah membelikannya sebuah tas baru.


"Memangnya kalau memberi sesuatu harus dalam rangka sesuatu gitu? Kalo gue memang mau kasih aja enggak boleh gitu?" Wira pergi ke area baju muslim.


Ia memilih-milih mukena yang bagus dan... murah.


Ya. Yang murah.


Seorang Wirata Agastya sampai beberapa kali melihat tag harga sebelum membeli sebuah mukena. Ada yang modelnya bagus tapi harganya tiga juta. Wira mundur.


Ada yang harganya lima ratus ribu tapi bahan parasut biasa saja. Beberapa kali Wira berdecak sebal.


"Kita cari di tempat lain aja ya!" Wira lalu berbisik pada Dewi. "Di sini mahal!"


"Ya nyari mukena buat lo! Memangnya lo enggak liat apa daritadi gue sibuk lihat-lihat mukena?!" keluar lagi kata-kata pedas dari mulut Wira.


"Lihat sih. Beneran buat saya, Pak?" tanya Dewi sekali lagi.


"Ya beneran! Lo pikir gue tukang bohong! Udah siang nih! Kita makan dulu sebelum lo kerja! Nanti lo kesiangan marah-marah sama gue!" Wira kembali menarik tangan Dewi dan mengajaknya ke food court.


Wira memesan makanan sementara Dewi duduk di tempat sambil memandangi punggung suaminya. Dipeluknya tas baru pemberian Wira. Tas yang bagus. Dewi sangat suka.


Wira datang membawa 3 porsi makanan. Satu dibungkus sementara dua lainnya di atas piring. "Satu lagi lo bawa kerja. Buat lo makan nanti!"


Lagi-lagi Dewi terpukau dengan apa yang Wira lakukan. Wira bahkan membelikannya makan untuk nanti ia makan saat jam istirahat. Hal kecil namun membuat Dewi sangat bahagia dibuatnya.


"Bapak baik banget sih!" puji Dewi.

__ADS_1


"Emang gue baik. Baru tau lo?" ketus Wira sambil memakan makan siangnya. "Udah cepetan makan! Nanti lo telat, gue lagi yang lo omelin!"


"Iya... Iya." jawab Dewi sambil tersenyum. Dewi makan dengan hati senang. Makanannya terasa jauh lebih nikmat jika hatinya bahagia.


"Maaf ya." ujar Wira tiba-tiba.


"Maaf? Maaf kenapa, Pak?" tanya Dewi tak mengerti.


"Maaf gue beliin lo tas yang murah, nyari diskonan lagi. Terus mukena lo juga belum gue beli karena harganya mahal. Gue ada sih uang, tapi lo kan tau gue mau buka bisnis dari uang tabungan gue sendiri. Jadi hari ini gue pakai uang gaji gue buat beliin lo. Maaf kalo harganya murah."


Mata Dewi langsung berkaca-kaca. "Saya mengerti kok, Pak. Saya sangat mengerti. Makasih, Pak. Makasih sudah mengingat saya." ujar Dewi dengan suara bergetar sedih.


"Yaiyalah gue inget lo. Emangnya gue amnesia? Lo pasti kebanyakan nonton sinetron dimana pemerannya lupa ingatan ya?! Udah dibilang banyakkin baca ensiklopedia daripada nonton kayak gitu, bandel sih!" omel Wira.


Dewi yang semula terharu malah tertawa mendengar omelan Wira. "Ya Allah, Pak. Bapak tuh cute banget tau! Boleh cium di sini enggak?" tanya Dewi seraya memajukan tubuhnya.


"Jangan ngaco loh! Udah habisin cepet! Lama-lama otak lo mesum juga. Gue tau kalo gue ganteng, tapi enggak nyium gue di depan umum juga kali!" gerutu Wira.


Dewi terus tersenyum. Carmen salah. Mungkin Wira bersikap baik dengan cewek lain, tapi Dewi menyukai sikap jutek dan kata-kata pedas yang Wira ucapkan padanya.


"Eh tapi kalo malam lo enggak capek kita boleh lah ikutin kucing kewong. Meong... meong..." usul Wira.


Dewi tertawa terbahak-bahak dibuatnya.


"Jangan ketawa aja lo! Ih seneng banget denger gue ngomong kayak gitu!"


"Ha...ha...ha... Iya... iya... Nanti malam kita meong... meong...meong... "


Wira kini tersenyum mendengar ucapan Dewi.


"Eh, gimana kalau gue beli kostum kucing gitu? Pasti seru deh!" usul Wira.


Senyum di wajah Dewi menghilang. "Kayaknya saya baca ensiklopedia aja deh Pak. Biar pengetahuan saya makin luas. Bapak jangan macam-macam! Awas aja kalo beneran beli!" ancam Dewi.


"Memangnya kenapa? Lo pasti lebih menggemaskan lagi deh. Mau ya? Biar gue impor dari Jepang. Banyak loh kostum kayak begitu yang bagus-bagus dari Jepang. Nanti gue pilihin model yang lucu dan cocok sama lo!"

__ADS_1


"Yuk, Pak. Saya harus pergi kerja!" Dewi berdiri dan membawa paper bag serta memakai tas miliknya. "Lama-lama ditanggepin otak Bapak bisa gesrek!"


****


__ADS_2