Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Menjalankan Tugas Istri


__ADS_3

"Sini! Biar gue peluk tidurnya." ujar Wira seraya menepuk lengannya yang kokoh.


Dewi yang sudah lelah pun menurut. Tak ada tenaga untuk melawan. Ia pun menaruh kepalanya di lengan kokoh milik Wira.


"Besok lo mau gue ajarin ensiklopedia apa lagi? Mau tentang buaya, monyet atau kelinci?" ledek Wira.


Mata Dewi yang sudah mengantuk pun terpaksa Dewi tahan demi menjawab pertanyaan dari Wira. "Gak usah, Pak! Saya nggak usah belajar ensiklopedia lagi deh. Saya lebih baik belajar ilmu politik aja! Walaupun memusingkan tapi nggak melelahkan. Bapak sih prakteknya suka ada-ada aja, segala kucing kewong-lah aku praktekin! Bapak sih enak, suara saya udah hampir habis tahu!"


Wira tersenyum mendengar keluh kesah Dewi. Memang sih, tadi apa yang mereka lakukan benar-benar gila. Ia mengharuskan Dewi bersuara seperti kucing mengeong. Sekali-kali mengerjai Dewi rupanya seru juga, begitu pikir Wira.


"Selama kita masih tinggal di apartemen ini, ya kita puas-puasin aja dulu! Toh nanti kalau kita sudah mulai tinggal di ruko, mana bisa kita seperti ini? Nanti penghuni ruko sebelah bisa dengar lagi apa yang kita lakukan!"


Perkataan Wira membuat mata Dewi benar-benar segar dan lupa kalau dirinya sangat lelah dan mengantuk. "Kita mau pindah? Kita jadi pindah ke ruko? Beneran?!"


"Ya... mau bagaimana lagi? Lo benar, harus ada yang gue korbanin untuk memulai suatu bisnis. Mengandalkan uang tabungan gue tentu saja tak akan cukup. Bisnis laundry lumayan merogoh kocek gue. Belum sewa ruko. Gue nggak punya modal selain menyewakan Apartemen ini. Lumayan uangnya untuk bayar biaya sewa ruko."


"Saya percaya kok, Bapak pasti akan sukses! Anggaplah kita bersusah-susah dahulu sebelum bersenang-senang kemudian. Harus ada yang dikorbankan, nanti hasilnya pasti akan lebih baik lagi. Kapan kita akan pindah?" tanya Dewi.


"Paling lama tiga hari lagi. Dari kemarin, gue udah iklanin apartemen ini. Banyak yang ingin sewa tapi gue seleksi dahulu. Pilihan gue jatuh pada sepasang suami istri yang kebetulan istrinya sedang hamil muda dan ingin tinggal di apartemen ini. Ngidamnya aneh kan? Karena apartemen ini sudah laku terjual semua, mereka pun berniat sewa. Sayangnya, nggak ada yang mau menyewakan karena lokasi apartemen yang strategis dan fasilitasnya yang memadai. Saat mereka melihat penawaran gue, tanpa pikir panjang mereka langsung tertarik,"


"Gue udah ketemu mereka dan memang menurut gue mereka adalah yang paling cocok untuk menempati apartemen ini. Gue minta banget sama mereka untuk menjaga apartemen ini seperti menjaga rumah mereka sendiri. Mereka setuju dan minta dalam waktu dekat kita segera pindah."


"Kalau begitu, besok kita mulai packing sedikit demi sedikit. Pak Wira juga harus datang ke ruko besok. Jangan sampai, ruko yang sudah kita incar malah disewa oleh orang lain. Nanti saya bantu deh, saya akan nego semoga saja harga sewa ruko bisa lebih murah." putus Dewi.


"Iya. Besok, sebelum lo berangkat kerja kita mampir dulu ke ruko itu. Udah malem, ayo kita tidur! Pasti lo capek banget hari ini! Istirahat, gue juga ngantuk!" Wira pun merapatkan tubuhnya dan memeluk Dewi dengan erat. Rasa lelah dan ngantuk membuat dia langsung tertidur pulas.


****


Dewi melakukan tugasnya sebagai seorang istri. Dari mulai bangun tidur, ia sudah sibuk. Mencuci semua pakaian lalu berbelanja ke pasar terdekat.


Dewi belanja seorang diri, Wira mana mau mengantarnya ke pasar becek. Alasannya bau dan kakinya nanti kotor.

__ADS_1


Dewi tak ambil pusing, ia pergi seorang diri dan pulang dengan kedua tangannya penuh dengan belanjaan. Dewi memasak untuk sarapan dan membawakan bekal untuk Wira.


Jam setengah sepuluh semua pekerjaan sudah selesai Dewi kerjakan. "Ini bekal untuk Bapak makan nanti siang ya! Jangan jajan! Hemat. Lumayan uangnya kalau mulai sekarang kita berhemat!"


"Harus bawa bekal gitu?"


"Iya dong. Kita sudah dalam fase berhemat. Mau buat bisnis sendiri enggak?"


Wira memanyunkan bibirnya. "Iya... iya... Mana?"


Dewi menyerahkan tempat makan plastik berisi nasi dan lauknya. Terlihat menggugah selera sekali meski tempatnya hanya tempat plastik bekas Wira membeli makan di salah satu restoran.


"Ayo kita berangkat sekarang!" ajak Wira.


Dewi menurut, hari ini ia memakai tas baru yang Wira berikan. Tas punggung yang terlihat sangat cantik dan Dewi sangat menyukainya.


Wira melirik sekilas tas pemberiannya, terasa sangat cocok dikenakan Dewi.


Mereka pergi ke ruko yang sebelumnya sudah Wira lihat-lihat. Setelah tawar menawar yang cukup alot, akhirnya Dewi bisa menurunkan sedikit harga sewa dari yang sebelumnya diberikan.


Wira hanya tersenyum sambil mengangguk saja. Kagum dengan kemampuan Dewi dalam bernegosiasi.


"Pak, saya mau ke rumah Ibu dulu ya sebentar." ijin Dewi.


"Mau ngapain?" Wira melihat jam tangannya. Sudah hampir jam 11 siang. Takut Dewi terlambat datang bekerja.


"Mau kasih uang buat ibu bayar kontrakkan dan uang sekolah Ratna."


"Oh yaudah ayo! Gue ikut!" Mereka pun naik motor masuk ke dalam gang dekat rumah Dewi. Motor sport Wira tentu saja menarik perhatian para tetangga. Biasanya yang tinggal di kontrakkan kebanyakan memakai motor bebek, tak ada yang punya motor sebagus Wira.


Wira menaruh motornya di teras rumah Dewi. Dewi yang meminta, karena takut hilang.

__ADS_1


"Assalamualaikum!" salam Dewi saat memasuki rumah.


"Waalaikumsalam." jawab Bahri yang baru selesai mandi dan bersiap-siap untuk ngojek.


"Ibu mana Dek?" tanya Dewi.


"Biasa. Lagi ambil cucian. Aku suruh Ratna panggilkan ya?!" Bahri pun memanggil Ratna dan menyuruhnya memanggil Ibu. Takut Dewi kesiangan kalau menunggu terlalu lama.


"Kapan kamu ke sekolah untuk ambil ijazah, Dek?" tanya Dewi.


"Lusa, Kak. Sebenarnya ada acara perpisahan ke Bandung, tapi aku enggak ikut. Mahal." ujar Bahri.


"Memang bayar berapa sih?" tanya Dewi. Wira sejak tadi hanya diam dan menyimak percakapan Dewi dan adiknya.


"700 ribu, Kak. Mahal kan? Sewa hotelnya yang bikin mahal. Kalo aku jemput Ratna aja cuma habis sedikit." ujar Bahri.


"Kamu mau ikut?" tanya Dewi yang merasa kasihan pada adiknya.


"Enggak, Kak. Aku enggak mau! Enakkan ngojek, dapat uang. Ke Bandung malah buang-buang uang." tolak Bahri.


"Kalau kamu mau ikut, Kakak bayarin. Biar kamu merasakan perpisahan sama teman-teman kamu, Dek."


"Gue yang bayarin!" ujar Wira tiba-tiba mengeluarkan uang 800 ribu dari kantongnya. "Nih! Buat bayar dan jajan lo. Kirim foto lo sama temen-temen lo di sana buat jadi bukti ke gue!"


Dewi dan Bahri saling tatap tak percaya. Mereka yang berdebat tapi Wira yang memenangkan perdebatannya.


"Tapi Kak-"


"Udah terima aja! Tadi gue di diskon 800 ribu dari sewa ruko. Itu rejeki lo!" putus Wira tanpa mau dibantah lagi.


Bahri hendak menolak tapi Dewi mencegahnya, "Bilang makasih aja, Dek. Terima. Itu rejeki kamu!"

__ADS_1


"Makasih, Kak."


****


__ADS_2