
Kini senyum di wajah Wira menghilang. Abi jika sudah berkata tegas seperti itu pasti tidak akan main-main dengan ucapannya. "Enggak Bi, Wira tadi bercanda doang kok! Abi mau ngomongin apa lagi?!" ujar Wira dengan nada diperlembut dan dipermanis, namun semua sia-sia.
"Enggak perlu! Sekarang kamu sudah jadi kepala keluarga. Bersikaplah dewasa dan menghargai orang lain! Untuk membuat kamu menjadi kepala keluarga yang bertanggung jawab, Abi setuju dengan apa yang dilakukan oleh Mommy kamu kemarin. Kita mulai hitung-hitungan sejak sekarang!" ujar Agas sambil tersenyum licik.
Perasaan Wira mulai tak enak. Abi kalau sudah mengancam seseorang pasti akan benar-benar dilakukan."Bi, Wira minta maaf ya! Wira cuma bercanda doang kok sama Abi! Nggak usah pakai itung-itungan, oke? Kita kan ayah dan anak, masa sih perhitungan begitu!" bujuk Wira.
Agas tersenyum penuh kemenangan, dia tahu kalau anaknya sudah mulai takut dengan ancamannya. Apakah Agas akan semudah itu menyerah? Tentu saja tidak! Ia malah merasa di atas angin melihat anaknya yang mulai tunduk dengan dirinya. Jelas, uang punya kuasa untuk menaklukan si Bangor itu!
"Semalam, Mommy membayar kamu untuk audit berapa? 2 juta bukan? Oke, selama ini kamu dapat gaji dari showroom dan cafe. Seharusnya gaji yang kamu terima tidak sebesar itu. Kami berdua sengaja melebihkan sebagai apresiasi atas kerja keras kamu. Mulai sekarang, Abi akan mengembalikan lagi pada koridornya. Pekerjaan kamu sebenarnya adalah supervisor sekaligus audit dadakan. Setiap audit, Abi akan membayar 2 juta, tapi kalau ada yang bermasalah berat saja. Jika tidak, kamu nggak perlu lagi turun tangan, sudah ada bagian sendiri yang menanganinya. Kamu akan mendapat gaji seorang supervisor. Tentu, tak ada lagi tambahan uang jajan dari Abi dan Mommy." perkataan Agas membuat wajah Wira memucat.
"Bi, Abi bercanda kan? Kalau dengan gaji Wira saja, mana mungkin cukup untuk membeli helm keren? Belum lagi buat hidup sehari-hari! Wira juga harus memberikan uang kepada Dewi sekarang Bi. Mana cukup hanya dengan uang gaji SPV aja? Abi tahu sendiri, cabang sudah banyak yang Wira audit. Jadi sudah jarang yang di audit lagi! Enggak ada tambahan uang audit dong? Mana cukup sih Bi? Seharusnya Abi tuh memberikan uang yang lebih untuk Wira, ini kok malah memotong uang yang Abi dan Mommy berikan setiap bulannya?!" protes Wira pada Abinya
Wira meletakkan toples berisi ikan goreng tepung di atas meja. Ia sudah tidak berkeinginan lagi untuk makan. Untung saja tadi dia tidak memakan nasi, rasa kesal sudah membuat rasa lapar dalam dirinya menghilang, berganti rasa mual karena sadar hari-hari ke depannya akan jarang jajan.
"Abi nggak peduli! Dulu juga Abi hidup susah dengan Mommy kamu! Sekarang kamu juga harus belajar untuk hidup tanpa bantuan Mommy dan Abi! Sudah selesai bukan yang dibicarakan? Kita ke rumah Dewi besok aja! Abi dan Mommy akan mempersiapkan diri dulu untuk menghadapi keluarga Dewi." ujar Agas dengan acuh.
"Bi... My... Wira sekarang butuh banyak uang! Bukan untuk senang-senang, untuk membiayai bisnis Wira! Uang tabungan Wira sudah hampir habis, tinggal sedikit banget. Masa sih Abi tega banget sama Wira?!" rengek Wira pada Abinya.
__ADS_1
"Abi nggak peduli! Kamu bisa mengurangi gaya hidup kamu! Kurangi nongkrong di cafe selama audit, makan makanan yang dimasak dari rumah oleh istri kamu. Enggak perlu deh kebanyakan gaya bawa-bawa mobil Mommy kamu ke kantor! Bensinnya mahal! Pakai saja motor kamu, atau kamu pakai motor punya Mommy kamu yang di rumah tuh! Masih bisa kok, malah lebih hemat bensin!" kata Agas dengan santainya.
Merasa tak bisa membujuk Abi-nya, Wira pun meminta bantuan pada Mommy. "My, tolongin Wira dong My. Bantuin Wira! Mommy kan tahu, bagaimana keluarga Dewi. Mereka tuh mengandalkan Wira, My! Kalau terjadi apa-apa lagi, Wira mau bayar dengan apa? Mommy sendiri kan yang belum mau ACC bisnis yang Wira ajukan? Niatnya, bisnis itu bisa membantu keluarga Dewi agar bisa mandiri! Tolong Wira dong My, Mommy jangan setuju begitu aja dengan apa keputusan Abi! Lihat beban Wira tuh apa aja."
"Maaf, Wira. Mommy hanya bisa mengikuti apa yang Abi kamu putuskan! Belajarlah mandiri. Perbaiki kesalahan kamu dengan memperbaiki sikap kamu! Satu lagi, Mommy sudah tak bisa terus menerus mensupport kamu. Hiduplah berumah tangga dengan benar. Mommy yakin kamu bisa melakukannya. Mandirilah, Nak! Kelak kamu akan tau kenapa Abi dan Mommy bertindak tegas seperti ini." kata Tari.
"Sudah, My? Ayo kita pulang!" ajak Abi.
"Tunggu, Bi. My. Kita bicarain dulu semuanya! Atau setidaknya, Mommy Acc dulu bisnis yang Wira ajukan. Please, My! Kenapa sih Mommy dan Abi enggak seperti Tante Tara dan Om Damar yang mendukung Zaky?" protes Wira.
"Karena kami bukan mereka berdua!" jawab Agas dengan entengnya.
"Ayo, My! Kita tinggalkan anak bangor itu! Biarkan pengalaman hidup membuat dia dewasa!" ajak Agas lagi.
Tari pun berdiri dan menuruti apa kata suaminya. "Mommy pulang dulu ya! Mulai sekarang, Mommy enggak bisa stok kamu makanan lagi. Mommy yakin, Dewi adalah istri yang bisa mengurus suaminya! Satu tips dari Mommy, hanya Allah sebaik-baik jalan keluar. Berdoalah dan bertaubatlah, agar kamu mudah menjalani rumah tangga kamu!"
Tari dan Agas pun pergi meninggalkan Wira yang tengah kalut. Baru saja pergi, Agas masuk kembali ke dalam rumah. "Kunci mobil Abi mana?"
__ADS_1
Dengan malas Wira menunjuk kunci mobil yang Ia taruh di atas ambalan. "Oh di sini! Oke Abi pulang dulu! Besok pagi kita ke rumah Dewi! Bye-bye Bangor!"
Rasanya Wira ingin berkata kasar pada Abi-nya sendiri. Bukan dukungan yang ia dapatkan eh malah hukuman. Bagaimana ia menjalani hari-harinya kelak?
Wira memutuskan mengambil laptop miliknya. Asyik dengan perencanaan bisnis dan melupakan berjuta pikiran yang ada dalam benaknya sampai Wira tak menyadari kalau waktu berlalu dengan cepat. Wira juga tak sadar kalau Dewi sudah pulang dan kini duduk di depannya. Ia asyik dengan laptop dan sedang fokus dengan anggaran biaya yang Ia buat.
"Pak! Ya Allah saya panggilin! Kebiasaan deh! Kalo udah fokus sama laptop suka lupa sama keadaan sekitar!" omel Dewi.
"Loh kok lo udah pulang sih? Emang udah jam berapa sekarang?" tanya Wira.
"Jam 10 malam!" Dewi menunjuk jam di dinding.
"Oh udah malam toh." Wira menutup laptop miliknya dan merenggangkan tubuhnya. "Besok Abi dan Mommy mau ke rumah lo. Udah lo kasih tau belum keluarga lo tentang kita berdua?"
Dewi terkejut mendengar berita yang Wira katakan. "Ke rumah? Saya belum bilang sama orang tua saya, Pak. Bagaimana kalau mereka marah?"
"Yaudah, hadepin aja! Gue aja udah diomelin! Sekarang gantian, lo yang diomelin. Udah sekarang kita makan dulu! Besok pagi-pagi kita ke rumah orang tua lo dan jelasin semuanya!"
__ADS_1
****