Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
LDM-6


__ADS_3

Tari pergi ke lantai atas ruko ditemani dengan ibu Sari. Nampak di dalam kamar, Dewi sedang tertidur lelap. Benar yang Wira katakan, Dewi nampak pucat.


Ibu Sari lalu mendekati Dewi dan membangunkan putrinya dengan lembut. "Wi, bangun! Ada mertua kamu tuh!"


Perlahan Dewi membuka matanya. "Ada siapa Bu?" rupanya Dewi belum sadar sepenuhnya. Sambil mengucek mata Dewi mengikuti arah pandangan yang ditunjuk oleh ibunya tersebut.


Dewi terkejut mendapati mertuanya yang cantik dan terlihat anggun sedang berdiri tak jauh dari pintu kamar. Tari tersenyum hangat membuat Dewi langsung bangun dan duduk tegak. Hal yang seharusnya Dewi tidak lakukan, karena rasa pusing langsung menyerangnya.


Dewi memijat kepalanya yang terasa sakit. Hal tersebut membuat ibu dan mertuanya khawatir. Tari bahkan langsung berjalan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur.


"Kamu kenapa, Wi? Pusing? Seharusnya tadi kamu nggak usah langsung buru-buru bangun. Pelan-pelan saja!" ujar Tari seraya membantu Dewi duduk lebih nyaman dengan menaruh beberapa bantal di punggung dan membuatnya bersandar di header board tempat tidur.


"Mommy ke sini sama siapa?" tanya Dewi yang mengacuhkan kekhawatiran Tari pada dirinya dan bersikap seolah baik-baik saja. Semua karena Dewi tak mau membuat mertuanya khawatir.


"Sama supir. Tadi, Wira telepon Mommy. Wira bilang, katanya kamu sakit. Kebetulan sekali, Mommy memang berniat main ke ruko ini sekalian melihat-lihat bisnis laundry milik Wira. Kamu kenapa sih? Kangen ya sama anak Mommy?!" goda Tari.


Ibu Sari yang tak mau mengganggu percakapan Dewi dan mertuanya pamit hendak membuatkan minuman lalu kembali bekerja di bawah.


Dewi tersenyum malu-malu.


"Jangan malu sama Mommy! Bukan kamu saja, Mommy juga kangen sama Wira. Anak itu memang kalau berbicara puedesnya minta ampun tapi hatinya baik. Ya... Sebelas dua belas lah sama Abinya. Kadang ngeselin tapi kalau nggak ada rasanya tuh sepi sekali. Serasa ada yang kurang gitu. Selalu ingin mendengar mereka marah-marah, ngomel-ngomel dan denger omongan pedas mereka yang lucu banget."


Ucapan Tari membuat Dewi teringat suaminya. Bukan rasa sedih yang Dewi rasakan tapi senang. Serasa Wira ada bersama mereka sambil memanyunkan bibir karena kesal dibicarakan.

__ADS_1


"Iya ya, Ma. Kenapa ya Wira tuh manis banget? Meskipun marah-marah dan ngomong pedas, namun aku tuh kayak udah kecanduan gitu sama dia. Malah menganggap dia makin lucu dan menggemaskan!" ujar Dewi sambil tersenyum senang. Hatinya sudah menghangat karena membicarakan Wira, apalagi kalau orangnya beneran ada?


"Wah... Ini sih fix kamu sudah jatuh sejatuh-jatuhnya pada pesona anak Mommy! Asal kamu tau ya, dari dulu anak Mommy itu banyak yang suka. Tapi... Kalau dia diam! Saat dia sudah bicara yang nyelekit, langsung semua yang suka sama dia langsung kabur! Cuma kamu aja tuh yang tahan dan bilang kalau dia lucu dan menggemaskan!" ujar Tari.


"Ah Mommy... Aku kan enggak rela suamiku banyak yang suka...."


Tari tersenyum mendengarnya. "Anak muda ya, kalau lagi jatuh cinta jadi super posesif! Enggak apa-apa, Mommy suka kok dengan sikap kamu. Artinya kamu benar-benar mencintai anak Mommy!"


"Tentu cinta dong, My. Anak Mommy tuh anugerah yang Allah kasih dalam hidup aku!" puji Dewi.


"Iya deh... Iya. Bagaimana keadaan kamu? Udah enakkan bukan setelah ngomongin Wira? Paling anak itu sedang panas-panasan di sana ditambah kupingnya juga panas karena kita omongin!"


"Iya ya, My. Jadi kasihan aku." ujar Dewi.


"Biarkan saja! Biar Wira belajar arti tanggung jawab! Sebenarnya Abi bisa saja pergi ke sana dan mengurus kebakaran cafe, tapi untuk apa? Anak itu minta dibuatkan bisnis, kalau mentalnya enggak Abi didik sejak sekarang, bagaimana ia bisa berdamai dengan kegagalan?" ujar Tari dengan serius.


"Sebagai orang tua kami tak mau hanya memberikan modal dalam bentuk materi saja. Kami juga harus memberikan modal dalam bentuk ilmu. Wira masih terlalu muda, emosinya masih belum stabil dan terkadang pengambilan keputusannya pun masih belum bijaksana. Masih perlu jam terbang dan harus di asah terus. Kesempatan mengirim Wira ke Bali adalah ajang bagi Mommy dan Abi mendidiknya terjun langsung ke lapangan,"


"Mommy minta, kamu sabar menunggu Wira. Anggap saja, suami kamu sedang kuliah di luar kota. Sedang menuntut ilmu. Nanti saat suami kamu kembali ilmunya akan banyak, kesabarannya akan bertambah dan semakin bijak dalam mengambil keputusan. Kalian 'kan akan membuat bisnis baru, ilmunya sudah Mommy dan Abi berikan, in sha Allah akan memudahkan kalian nanti."


"Aamiin, My." Dewi kini paham apa maksud dan tujuan kedua mertuanya mengirim Wira ke Bali seorang diri. Semua karena cinta dan kasih mereka sebagai orang tua. Memberikan ilmu untuk bekal di hari tua.


"Nah, kamu harus sehat dong! Harus menyambut suami kamu dengan wajah segar, tidak pucat seperti sekarang. Kamu mau makan apa? Mommy bawa banyak makanan loh buat kamu! Tunggu sebentar ya!"

__ADS_1


Mommy Tari lalu keluar kamar dan kembali dengan banyak makanan yang ia bawa. "Kamu mau cake cokelat, buah atau makan nasi dengan ayam woku yang baru saja Mommy masak?"


"Wah enak-enak nih kayaknya. Aku lebih pilih cake cokelat aja deh, My!" jawab Dewi.


"Oke! Ini cake cokelat buat kamu!" Tari memberikan sepotong kue untuk Tari, lalu mengambil sebuah toples dan menaruhnya di atas nakas, "Mommy taruh toples isi cheese stick di samping tempat tidur kamu ya! Kalau lapar kamu bisa ngemil."


"Makasih, My. Mm... Enak kuenya! Pasti Mommy bikin sendiri deh!" tebak Dewi.


"Pintar deh kamu! Tentu Mommy buat sendiri dong buat menantu Mommy tersayang!"


"Baik sekali Mommy aku ini! Makin sayang deh sama Mommy!"


"Bisa saja kamu, Wi. Bagaimana keadaan kamu sekarang? Mommy lihat sih habis Mommy cerita tentang Wira kamu agak lebih segar. Tapi Mommy lihat kamu memang agak pucat. Ke dokter ya?! Mommy yang antar!" ajak Tari.


"Aku enggak apa-apa, My. Beneran deh."


"Mommy sudah janji dengan Wira akan mengantar kamu ke dokter, gimana dong? Nanti Mommy dosa sudah ingkar janji." bujuk Tari dengan cara yang tak bisa membuat orang lain menolaknya.


"Iya deh. Aku ke dokter. Aku mandi dulu ya, My!"


"Nah gitu dong! Ayo Mommy bantu kamu ke kamar mandi. Jangan dikunci ya pintunya. Teriak saja kalau kamu perlu sesuatu!" pesan Tari.


"Iya, My." Dewi pun membersihkan dirinya.

__ADS_1


Dewi menatap wajahnya di cermin dan benar apa yang dikatakan orang di sekelilingnya. Ia memang terlihat pucat. Pantas Tari agak memaksa menyuruhnya ke dokter.


****


__ADS_2