Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Tak Berkutik


__ADS_3

Dewi berangkat kerja dengan semangat penuh. Ia tak mengacuhkan pandangan rekan kerjanya yang melihat dirinya membawa tas besar seperti sedang kabur dari rumah.


Dewi menaruh tas miliknya di atas loker dan lalu mulai bekerja. Wira tentu saja tak datang ke cafe. Ia hanya datang di hari tertentu saja.


Dewi bekerja dengan semangat dan tak sabar rasanya melihat wajah Wira yang kaget saat tau dirinya mau tinggal di apartemen miliknya dalam waktu lama.


"Biar si sombong itu kelabakan! Coba aja usir istrinya sendiri! Dosa!" batin Dewi sambil tersenyum penuh strategi.


Wira yang sedang memeriksa cafe di tempat lain tiba-tiba merinding. "Ih ada apa nih, bulu kuduk gue berdiri begini. Kayak ada yang mau niat jahat sama gue aja!" batin Wira.


Tak tahu saja Wira, sebentar lagi istrinya akan datang menemuinya.


****


Sepulang kerja, Dewi kembali memesan ojek online dan lalu pergi ke apartemen milik Wira. Di jalan, Dewi menyempatkan diri membaca pesan yang dikirimkan oleh Bahri.


Kak, tukang sedoot WC udah datang. Tadi uang yang Kakak kasih lebih tiga ratus ribu. Aku taruh di lemari Kakak.


Dewi pun mengetikkan balasan untuk adinya:


Kamu pegang aja buat keperluan di rumah. Kakak sengaja lebihkan. Kakak untuk sementara tidak pulang ke rumah. Kakak di apartemen Pak Wira. Kalau ada apa-apa hubungi Kakak.


Bahri membaca pesan dari Dewi dengan hati sedih. Kakaknya pasti harus kerja keras melayani Wira agar hutang mereka cepat lunas.


Mata Bahri berkaca-kaca. Dalam hatinya timbul banyak penyesalan. Andai dirinya bisa memiliki pekerjaan yang bisa membantu beban Kakak-nya, apapun itu akan Ia lakukan. Selama halal dan bisa membantu Kakak-nya.


Lalu datanglah seorang pemuda yang ingin menggunakan jasanya sebagai tukang ojek. "Bang! Mau antar saya ke alamat ini enggak?!"

__ADS_1


Bahri melihat alamat yang diberikan. Bekasi. Lumayan jauh dan macet juga dari tempat pangkalannya. Ia agak ragu menerima pesanan jarak jauh begini. Ia bukan ojek online yang setelah mengantarkan jarak jauh masih bisa dapat penumpang lagi. Kalau begini hanya tekor di ongkos, begitu pikir Bahri.


"Enggak ah Bang. Jauh!" tolak Bahri.


"Yah Bang! Saya tambahin deh. Pulang dari sana antar saya lagi ke tempat lain. Jadi Abang sekali narik dapat 2 tempat. Malah seminggu ini saya bakalan sewa Abang terus. Saya bakalan kasih lebih, bener deh. Daripada Abang mangkal begini, lebih baik muter Bang!" nego calon penumpangnya yang berusia di atas Bahri namun malah manggil Bahri dengan sebutan Abang.


Bahri memperhatikan penampilan pemuda di depannya. Dandannya santai dengan memakai celana jeans, jaket dan kaos. Sepatu yang dikenakan terlihat mahal, terlihat dari merk tanda check mark warna merah di sampingnya.


"Dari penampilannya sih anak orang berada. Pasti enggak bakalan bohong sih. Toh motor Bapak juga enggak bagus-bagus banget sehabis kecelakaan. Enggak akan diincar juga sih! Ambil aja deh! Daripada di pangkalan sepi." batin Bahri.


"Yaudah ayo!" kata Bahri.


Pemuda itu lalu tersenyum senang. "Nah gitu dong!"


****


Dewi masuk ke dalam apartemennya Wira dengan mudah. Wira sudah memberi akses pada dirinya untuk masuk ke apartemen kapanpun Dewi dipanggil oleh Wira.


Dewi ingat kalau dirinya tadi memasukkan baju renang ke dalam tas. Ia bertekad akan berenang besok pagi sebelum berangkat kerja.


Dewi tersenyum membayangkan kehidupan enak dan mewahnya. Tak ada lagi WC mampet dan kamar sekat seperti dikontrakkannya. Untuk sementara Ia akan menikmati hidup sambil membayar hutang-hutangnya.


Dewi menekan password pintu apartemen Wira dan masuk layaknya rumah sendiri. "Assalamualaikum!" ujar Dewi seraya menaruh sepatu miliknya dalam rak sepatu. Bersebelahan dengan sepatu mahal milik Wira.


Wira yang sedang minum air putih terkejut melihat kedatangan Dewi. Apalagi Dewi membawa tas besar yang ditentengnya.


"Mau ngapain lo kesini? Gue kan enggak hubungin lo?!" tanya Wira.

__ADS_1


Dewi tersenyum. "Jawab dulu salam saya, Pak." sindir Dewi. "Memang enggak. Saya mau tinggal di rumah suami saya untuk sementara waktu."


Tanpa sungkan Dewi masuk ke dalam kamar dan menaruh barang-barang miliknya ke dalam lemari yang sebelumnya Wira kosongkan untuk menaruh baju-baju miliknya. Ternyata sekarang berguna juga untuk menaruh baju yang Ia bawa.


Wira mengikuti Dewi ke dalam kamar dan menaruh gelas yang Ia pegang dengan asal di atas meja makan. "Eh apa-apaan lo main tinggal di sini aja seenaknya! Siapa yang nyuruh?!"


Wira melipat kedua tangannya dengan kesal sambil memperhatikan Dewi yang santai saja dan tetap memasukkan pakaiannya seperti di rumahnya sendiri.


Dewi lalu berdiri dan mendekati Wira. Dilingkarkannya tangannya di leher Wira. "Enggak ada yang nyuruh. Saya cuma terinspirasi sama kata-kata Bapak aja tadi pagi. Pernikahan kita kalah di mata hukum. Lebih kuat bisnis plus plus kita. Betul?"


Wira mengangguk tanpa sadar. Jantungnya berdegup kencang karena Dewi sangat dekat dengannya. Dewi di hadapannya seakan tak dikenalinya. Matanya menyiratkan keberanian, bukan Dewi yang hanya menurut saja seperti biasanya.


"Karena itu, saya akan di sini. Agar memudahkan bisnis kita. Sejak kita menikah Bapak jadi jaga jarak. Tak mau menyentuh saya. Bagaimana bisnis kita akan cepat selesai kalau begitu caranya? Untuk itu saya datang membantu Bapak. Tenang saja, saya di sini akan menjalankan tugas sebagai istri Bapak juga. Rumah akan rapi selama ada saya. Bagaimana? Penawaran yang menguntungkan bukan?" Dewi mengusapkan jarinya di bibir Wira yang Ia rindukan saat menciumnya.


Wira terdiam sesaat. Dewi benar-benar membuatnya terhipnotis dan blank. Bahkan dirinya yang berpengalaman dengan banyak gadis cantik saja sampai tak berkutik.


Ketika kesadaran Wira mulai muncul, Wira langsung mengajukan protes. "Enggak bisa begitu dong! Perjanjiannya adalah lo datang kalau gue panggil. Bukan lo tinggal di sini!"


Dewi melepaskan tangannya dari leher Wira. Pegal juga sejak tadi berjinjit karena tinggi Wira yang lumayan jauh darinya. Kalau tidak berjinjit, tak bisa ngomong tatap-tatapan begitu pikir Dewi.


"Saya gerah Pak. Mau mandi dulu. Bapak mau ikut enggak?" dengan santainya Dewi mengambil bathrope yang biasa Ia pakai dan membawanya ke dalam kamar mandi. "Kita mandi bareng kayak waktu itu. Mau enggak?!" goda Dewi.


Wira yang mau marah-marah malah hilang marahnya dan berganti dengan kesal. Ia pun keluar kamar dan mengambil gelas berisi air putih yang Ia taruh di atas meja makan.


Diteguknya air dalam gelas sampai habis. Merasa kurang, Wira kembali mengambil air dan meminumnya sampai habis. "Dewi gila!" batinnya sambil mengumpat kesal. "Gue kan juga pengen mandi bareng!"


****

__ADS_1


Hi Semua!


Yuk dukung Abang Wira dengan vote yang banyak. Jangan sampai kendor ya Vote kalian. Like dan komen juga gak boleh kendor dong, Yuk buat aku makin semangat nulis tentang Abang Wira Bangor ini 🥰🥰🥰


__ADS_2