Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Bertemu di IndoJuni


__ADS_3

Wirata Agastya, lelaki yang selalu berkata judes dan pedas. Hanya orang tertentu yang bisa tahu bagaimana sikap dan sifat asli Wira sebenarnya. Keluarga sudah pasti yang utama tahu, teman-temannya belum tentu mengenal Wira dengan sangat dekat. Bagaimana dengan Dewi?


Dewi rupanya bisa membaca hati dan sifat orang yang sebenarnya. Wira yang di mata Dewi suka berkata pedas, adalah laki-laki yang memiliki hati paling baik. Baru bercerita tentang kesulitan keluarganya, ia tak akan ragu untuk membantu. Bahkan, Wira punya niat untuk membuatkan bisnis untuk keluarganya. Hal yang selama ini Dewi tak sangka.


Sangat baik hati sekali. Dewi lagi-lagi terpukau dengan lelaki tampan yang sedang fokus mengemudi sambil mengutarakan ide-ide bisnisnya tentang franchise laundry. Terlihat begitu semangat sekali.


Setelah curhat tentang apa yang dilakukan di pagi hari untuk membantu Ibunya, Wira malah ngomongin panjang lebar tentang keinginannya untuk membuka bisnis laundry. Fakta yang Ia tahu dan keuntungan-keuntungan yang akan didapatkan.


"Sekarang kan banyak bisnis laundry kiloan. Aku mau membuat yang lebih ada nilai tambahnya gitu. Misal, bisnis laundry sekaligus franchise. Jadi kita akan membuat beberapa cabang, semuanya dari kemasan plastiknya, harum sabun yang kita gunakan itu kita produksi sendiri. Jadi kayak bikin suatu kerajaan bisnis di mana ada perusahaan kecil industri rumah tangga gitu yang bertugas membuat sabun untuk laundry dan sabun itu kita distribusikan ke usaha laundry kita sendiri. Kamu bayangkan deh, akan menyerap banyak tenaga kerja. Untuk tahap awal, aku pengen kamu dan Ibu kamu yang akan menjalankan franchise awal aku ini. Untuk masalah pewangi dan sabun itu aku akan mencari informasi lebih dalam lagi dan mempelajari bagaimana membuka bisnis itu. Pasti ijinnya agak susah karena usaha kimia gitu kan berdampak dengan lingkungan, tapi nanti aku akan coba cari tahu lagi. Bagus... ide bagus itu. Aku mau bisnis yang berbeda dari orang tuaku,"


"Kalau Abi dan Mommy punya usaha showroom dan cafe serta pabrik pembuatan makanan frozen siap saji, aku ingin punya usaha franchise laundry dan produksi sabun dan pewangi untuk laundry. Nanti produksi sabun dan pewangi lokal buatan pabrik kita, akan kita jual ke masyarakat umum. Ada double pendapatan loh. Pasti Abi akan langsung setuju dengan rencana yang aku buat. Kita dapat buat kerajaan bisnis kayak Abi dan Mommy!" mata Wira begitu berbinar-binar saat mengutarakan idenya.


Meski sedang membicarakan bisnis, tetap saja Wira fokus dan mengendarai mobilnya dengan hati-hati. Ia memberhentikan mobilnya di sebuah warung sate pinggir jalan. "Kita makan dulu! Gue terlalu semangat sampai lapar berat!"


Dewi tersenyum dan geleng-geleng kepala dengan kelakuan suaminya. "Iya."


Mereka pun turun dari mobil dan masuk ke dalam warung sate pinggir jalan. "Pesan apa Mas, Mbak?"


"Lo mau apa?" tanya Wira pada Dewi.


"Sate aja." jawab Dewi.


"Iyalah makan di warung sate emang pesen sate. Lo mau sate apa?" mulai lagi Wira bicara dengan ketus.


"Sate ayam, Sayang!" goda Dewi membuat abang sate tersenyum.


"Tuh kayak Mbaknya, Mas. Pakai panggilan sayang. Mas mau pesan apa? Sate kambing? Cocok nih malam-malam begini makan sate kambing!" ujar penjual sate sambil menggoda Wira.

__ADS_1


"Enggak usah pake sayang-sayangan juga dia udah sayang sama saya, Pak." balas Wira dengan pedenya. "Saya sate ayam aja, Pak. Pake nasi. Jangan sate kambing, enggak ada lawannya nanti malam!"


Abang penjual sate tersenyum mendengarnya. "Loh kirain udah ada lawannya?!" balas Abang penjual sate.


"Ada. Tapi dia lagi males."


"Kalian ngomongin apa sih?!" tanya Dewi yang kebingungan dengan obrolan Wira dan abang sate.


"Udah anak kecil diem aja! Lo pake lontong apa nasi?" ketus Wira.


"Lontong aja."


"Pak, sate ayam dua porsi, satu pakai nasi dan satu pakai lontong. Oh iya, sopnya boleh deh satu. Minumnya teh hangat aja!" pesan Wira.


"Oke. Mohon ditunggu ya Mas!"


Penjual sate pun meninggalkan Wira dan Dewi yang melanjutkan obrolan mereka. "Deket rumah lo ada ruko pinggir jalan yang disewain enggak? Yang lokasinya strategis dan agak luas biar pengerjaan laundrynya mudah."


"Iya tanyain coba. Gue beneran yakin nih kali ini. Klo ke rumah lo, gue parkir mobil dimana? Motor gue lagi di rumah Mommy soalnya." tanya Wira seraya memakan sate yang baru saja dihidangkan. Ia makan dengan lahap karena belum makan sejak tadi.


Dewi juga memakan makanannya. "Agak susah sih. Hmm... Di IndoJuni aja deh. Nanti saya nitip sama Bang Adun yang jaga parkir. Bapak kabarin kalau udah sampai sana nanti saya jemput."


"Yaudah kalau gitu malam ini gue anter lo sampai IndoJuni aja. Biar gue tau. Jam berapa besok gue dateng?" Wira merasa kalau makan ditemani Dewi sambil mengobrol, makannya lebih enak dan lahap daripada makan sendirian di apartemen.


"Jam 9 aja. Kalau terlalu pagi pasti Bapak belum bangun."


"Oke. Tau aja lo!"

__ADS_1


Mereka lalu menghabiskan makanan mereka. Wira mengantar Dewi sampai IndoJuni dan pulang ke apartemennya. Pagi hari Wira sudah bangun dan hendak ke tempat Dewi. Ia memakai kaos dan celana jeans lalu sarapan pagi dengan nasi dan ikan goreng tepung buatan Dewi.


"Enak. Nih anak jago juga. Crunchy tapi enggak keras. Boleh nih buat dimasukkin ke list Mommy!" puji Wira yang sangat menyukai buatan Tari sampai menghabiskan setengah toples sendirian.


Wira pun mengemudikan mobilnya menuju Indojuni tempat semalam Ia menurunkan Dewi. Ia mengabari Dewi kalau Ia sudah di Indojuni dan menunggu Dewi datang menjemputnya.


Wira melirik dari kaca spion dan melihat Dewi datang. Rambut pendeknya dikuncir dan Dewi memakai kaos serta celana 7/8. Wira tersenyum. "Jadi ini pakaian keseharian dia?"


Dewi mengetuk kaca mobil Wira, Wira pun turun seraya membawa satu kantong makanan yang Ia beli di IndoJuni.


"Ayo, Pak!" ajak Dewi.


Dewi menghampiri seorang cowok, "Bang Adun, nitip mobil bos saya ya! Tolong jagain sebentar!" pesan Dewi pada tukang parkir yang terlihat hanya lebih tua beberapa tahun saja darinya.


"Iya dong Dewi Cantik! Jangankan mobil, hati Abang Adun juga selalu Abang jaga untuk Neng Dewi Cantik seorang!" gombal Bang Adun yang membuat wajah Wira terlihat kesal.


"Ayo, Wi! Cepetan!" ujar Wira dengan kesal.


"Bahkan tukang parkir saja godain Dewi." batin Wira.


"Iya, Pak!" jawab Dewi. "Titip ya Bang!"


"Siap Cantik!"


Dewi lalu menunjukkan arah ke rumahnya pada Wira. Dewi melirik suaminya dan langsung tau kalau suaminya sedang kesal.


"Kurang tidur, Pak? Muka ditekuk begitu!" sindir Dewi.

__ADS_1


"Senang ya dipanggil cantik sama tukang parkir?" sindir Wira dengan pedas.


****


__ADS_2