Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Rumah Mertua


__ADS_3

Acara berkunjung ke rumah besan berlangsung dengan lancar dan tanpa kendala. Meski sempat berbeda pendapat, namun mendengar Tari akan membiayai semua biaya untuk selametan membuat Ibu-nya Dewi berkurang kecewanya.


Keluarga Agas tidak berlama-lama berada di rumah Dewi. Setelah keputusan tentang upacara selamatan sudah disepakati, Agas dan keluarga pun pamit pulang.


Wira dan Dewi juga ikut serta dengan Agas dan keluarga. Wira berniat mengambil motornya yang tertinggal di rumah orang tuanya. Sementara tujuan Wira lainnya adalah mengajak Dewi ke rumah kedua orang tuanya


Dewi ikut saja apa yang Wira suruh. Ia juga penasaran bagaimana rumah keluarga Wira.


"Baiklah, Pak... Bu. Kami sekeluarga pamit dahulu. Nanti untuk keperluan konsumsi dan segala macam biar koordinasi dengan istri saya saja." kata Agas.


"Baik, Pak." jawab Pak Cipto dan Ibu Sari.


"Secepatnya kami akan mendaftarkan pernikahan Wira dan Dewi." kata Agas lagi.


Agas dan keluarga pun pamit pulang. Sudah ada beberapa tetangga yang menunggu keluarga Agas seraya bertanya-tanya ada keperluan apa sampai rumah keluarga Dewi ramai.


"Bapak ganteng, ada acara apa sih di rumahnya Bu Sari?" tanya ibu-ibu yang tadi berfoto sama Agas.


"Kami habis bermusyawarah, Bu." jawab Agas.


Tari memberi kode pada suaminya untuk menjawab ibu-ibu dengan seperlunya saja. Tak perlu terlalu terperinci.


"Maaf ya ibu-ibu, pengawas saya sudah memberi kode untuk segera pulang. Maklum, punya suami seperti saya suka was-was karena pesona saya yang tak lekang dimakan waktu. Saya permisi dulu ya ibu-ibu. Eh saya lupa, ada yang masih mau foto bareng lagi enggak?" Agas membenarkan kerah bajunya agar penampilannya rapi.


Sebal dengan kelakuan suaminya yang bak artis dadakan, Tari mengangkat kakinya dan dengan sekuat tenaga menginjak kaki Agas.


"Aww! Mommy sakit!" keluh Agas seraya meringis kesakitan.


"Oh kena ya? Maaf deh!" sindir Tari. "Ayo anak-anak, kita pulang! Abi kamu toh malam ini tidur di luar!"


Mendengar ancaman Tari, Agas pun lemah. "Mommy! Ayo kita pulang!" Agas merangkul pundak Tari dan merayu istrinya agar tidak marah.


Wira dan Dewi yang sejak tadi melihat hanya geleng-geleng kepala dengan ulah Abi. Dewi membisikkan sesuatu di telinga Wira. "Awas ya kalau Bapak kelakuannya makin tua makin mirip Bapak Agas!" ancam Dewi.


"Ih? Gue kayak Abi? Enggaklah! Mana level gue sama emak-emak rumpi. Kalau sama model yang cantik dan keren ya... Bolehlah." jawab Wira santai.


"Kayak punya duit aja!" cibir Dewi yang berjalan mendahului Wira dan mensejajari langkah Carmen.


"Iya sih. Sekarang udah kere. Tapi pesona mah tetap saja kaya! Wira gitu!" ujar Wira pada dirinya sendiri.


Mereka pun sampai di IndoJuli. Carmen tak langsung masuk ke dalam mobil. Ia asyik menunggu telur gulung dan cakwe yang dipesannya.


"Lama banget sih, Baby?" protes Agas yang sudah memakai kacamata sunglassnya.

__ADS_1


Carmen masuk ke dalam mobil dan duduk di sampaing Tari. Dewi memilih duduk di belakang bersama Mbak Inah. "Abi mau enggak? Masih panas nih?!"


Wira pun mengemudikan mobil Agas keluar dari IndoJuli. "Abi mau dong! Enak enggak?!"


"Enak dong, Bi! Mau Carmen suapin?"


****


Dewi merasa canggung berada di rumah milik Wira. Rumah Wira jauh lebih luas dari rumah kontrakkan miliknya. Banyak kamar kosong berisi tempat tidur nyaman. Hal yang membuat Dewi iri.


Andai di rumahnya ada kamar senyaman itu...


Andai di rumahnya ada kasur empuk...


Andai rumahnya seluas ini...


"Kamu jangan langsung pulang dulu, Nak! Makan malam dulu!" pesan Tari pada Wira.


"Nanti aja deh Wira makan di rumah! Mommy enggak mau biayain bisnis Wira sih! Jadi Wira males makan di rumah!" sindir Wira.


"Oh gitu? Jadi sama Mommy begitu ya?" jawab Tari sambil memasang wajah sedih.


Wira memeluk Mommynya. "Enggak dong, My. Wira akan makan di sini. Sesuai titah Mommy!" ujar Wira mengambil hati Tari.


"Ilham sih ada, My. Modal yang enggak ada. Mommy modalin ya?" bujuk Wira lagi tak patah semangat.


"Usaha aja kamu! Enggak! Udah sana temani Dewi!"


Dengan memanyunkan bibirnya Wira melepas pelukan pada Mommy tersayangnya. "Ayo, Wi!" ajak Wira tanpa ada nada bersahabat sama sekali.


Dewi menganggukkan kepalanya pada Tari sebagai bentuk sopan santun. Tari membalas dengan senyuman. Tari tak sejutek seperti awal tahu kalau Dewi menikah dengan Wira waktu itu. Ia melihat Dewi adalah gambaran dirinya di masa lalu. Hanya rasa iba yang tersisa.


Dewi menyusul Wira yang berjalan ke samping rumahnya. "Ayo!"


Wira lalu memperkenalkan tentang pabrik milik orangtuanya. "Ini bahan baku cafe yang dibuat sendiri di pabrik. Lo liat aja bagaimana mutu dan kualitasnya terjaga. Mau cafe dimana pun semua kualitasnya terjaga dan rasanya sama."


Dewi melihat penuh rasa kagum. Hebat sekali bisnis keluarga Agastya di mata Dewi. Andai keluarganya bisa memiliki bisnis seperti ini, pasti tak akan hidup menderita seperti sekarang.


"Kapan ya Pak aku bisa buat bisnis kayak gini?" tanya Dewi.


"Lo doain aja bisnis kita akan sukses kayak bisnis Mommy dan Abi. Mereka juga mulai semuanya dari nol. Kita harus yakin kalau kita bisa sesukses mereka." ujar Wira seraya mengacak rambut Dewi.


"Aamiin. Semoga ya, Pak." Dewi dan Wira pun keluar rumah dan memutuskan berdiri di depan rumah seraya menghirup udara segar

__ADS_1


"Pak."


"Hem." jawab Wira singkat.


"Pil saya udah habis." bisik Dewi.


"Pil? Pil apa ya?" Wira lupa dengan pil yang ia berikan sendiri pada Dewi.


"Pil KB! Bapak lupa menyuruh saya minum pil itu? Saya rutin minum loh, Pak! Udah habis nih. Gimana dong?"


Kini Wira ingat, Ia yang memberi pil KB pada Dewi saat mereka melakukan bisnis plus plus dulu.


"Lo mau beli lagi?"


Dewi mengangkat kedua bahunya. "Terserah Bapak."


"Kok terserah gue sih?"


"Saya kan hanya nurut aja apa kata Bapak." jawab Dewi.


Wira terdiam. Mau menyuruh Dewi membeli lagi, gunanya apa? Mereka akan meresmikan pernikahan. Gunanya pil KB apa?


Kalau dulu saat bisnis plus plus, pil KB berguna sekali karena mencegah kehamilan. Kalau sekarang?


"Lo maunya gimana? Masih mau konsumsi pil KB lagi enggak?" tanya balik Wira.


"Saya... Jujur saya takut, Pak. Banyak yang bilang kalau pil KB bisa membuat rahim kering dan bahaya jika belum pernah punya anak. Berpengaruh dengan kesuburan katanya, Pak."


"Terus?"


"Ya saya takut."


"Terus?"


"Kalau Bapak maksa ya saya bisa apa?"


"Jadi gimana keputusan lo?!"


Dewi terdiam. "Boleh enggak pakai lagi enggak, Pak?"


Wira bersiap masuk ke dalam rumah karena adzan maghrib sudah berkumandanh.


"Terserah lo!"

__ADS_1


***


__ADS_2