Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Periksa ke Dokter


__ADS_3

"Wah sudah cantik nih anak Mommy!" puji Tari saat Dewi menuruni anak tangga ruko dengan berjalan pelan.


Tari dengan sigap berjalan menghampiri Dewi dan membantunya menuruni anak tangga. Takut menantunya masih pusing dan jatuh.


"Mommy bisa aja!" jawab Dewi sambil tersenyum lemah.


"Loh memang benar toh? Karena kamu cantik makanya anak Mommy jatuh cinta sama kamu!" puji Tari lagi. "Kita langsung berangkat sekarang ya?!"


Dewi mengangguk. Tari lalu pamit pada Bu Sari untuk mengantar Dewi ke dokter.


Tari meminta supirnya mengantar ke rumah sakit terdekat. Sepanjang jalan Tari mengajak Dewi mengobrol. Tari menceritakan tentang masa kecil Wira yang suka menghilang kalau di ajak jalan.


"Suka hilang gimana, My? Ada yang nyulik?!" tanya Dewi yang terkejut dengan cerita Tari.


"Bukan, Wi. Itu loh, Wira dari kecil sudah centil banget. Enggak boleh lihat cewek cantik dan seksi, apalagi yang punya aset besar, udah deh bakalan menghilang."


"Aset besar?" tanya Dewi tak mengerti.


Tari membusungkan dadanya. Memberitahu Dewi dengan bahasa tubuh apa yang dimaksud dengan 'aset besar'.


"Aset... itu maksudnya? Oh Ya Allah... Beneran? Dari kecil ternyata sudah mesum!" Dewi cekikikan mendengar cerita mertuanya.


"Iya. Tau enggak siapa yang mengajari mereka?" tanya Tari. Dewi menjawabnya dengan menggelengkan kepalanya.


"Teman-teman Abi, Sony dan Riko!"


"Oh... Om Sony dan Om Riko yang lucu itu ya, My? Pantas saja Wira jadi seperti itu, gurunya teman Abi yang paling konyol hi...hi...hi..."


Tari menatap Dewi dengan agak bingung. "Kamu kenal mereka berdua, Wi?"


Tawa di wajah Dewi menghilang. Ia lupa kalau harus merahasiakan tentang malam saat Wira bertengkar dengan Zaky.


"Pernah ketemu di pos kamling, My. Waktu itu kami berdua lapar dan makan nasi goreng di dekat komplek Mommy, eh ketemu deh sama Abi dan teman-temannya. Sempat ngobrol sebentar sebelum pulang di pos kamling." lancar jaya Dewi mengarang cerita. Tari tentu saja mempercayai perkataan menantunya tersebut.


"Pantas kamu mengenalnya. Jangan terlalu mempercayai omongan mereka, Wi. Banyakkan errornya dibanding benernya! Eh kita udah sampai ya, cepat juga!"


Dewi menatap Rumah Sakit Kesehatan Keluarga Itu Penting tempat dulu Bapak dirawat. Ia akan diperiksa di rumah sakit yang sama. Bedanya adalah Dewi tak perlu menunggu lama, setelah mendaftar mereka langsung bertemu suster untuk mendapat nomor antrian.


Sungguh berbeda pelayanan antara yang bayar tunai dengan asuransi gratis khusus warga miskin sepertinya. Untuk berobat jalan Bapak akhirnya bisa dicover asuransi tapi harus meminta surat rujukan dan antri sejak subuh hanya untuk dapat nomor antrian. Kalau dengan Mommy Tari...

__ADS_1


"Ibu Dewi Puspitasari!" suster memanggil nama Dewi.


"Cepat sekali!" batin Dewi.


"Iya!" jawab Mommy Tari yang menggandeng tangan Dewi.


Mereka lalu masuk ke dalam ruang periksa dokter. Mommy memilih dokter spesialis penyakit dalam untuk mengobati Dewi. Dokter lalu mempersilahkan Dewi dan Mommy untuk duduk di kursi yang berada di depannya.


"Siang, Bu. Ibu Dewi ada keluhan apa ya?" tanya dokter tersebut dengan sopan dan ramah. Berbeda sekali dengan dokter yang biasa Bapak datangi, jutek dan judes karena terlalu banyak pasien yang ditangani.


"Menantu saya enggak enak badan, Dok. Badannya dingin dan muntah-muntah. Katanya semalam tidur di atas sajadah sampai pagi." cerita Mommy Tari secara rinci.


"Baik. Silahkan naik ke tempat tidur dulu biar saya periksa!" perintah dokter.


Dewi pun menurut. Dengan dibantu mertuanya ia naik ke atas tempat tidur dan merebahkan tubuhnya. Dokter lalu memeriksa tubuhnya, saat memeriksa area perut nampak dokter mengernyitkan keningnya. "Terakhir kali menstruasi kapan, Bu?"


"Hmm... Sudah sebulan lebih, Dok." jawab jujur Dewi.


Dokter tersebut tersenyum dan berbicara pada suster yang mendampinginya. "Silahkan Ibu mengikuti suster dulu ya untuk diambil urinnya."


Dewi pun menurut. Ia mengikuti suster dan kembali lagi bersama suster tersebut setelah mengambil urin. Tari hanya diam sambil menduga-duga. Kalau dugaannya benar, menantunya tersebut sedang hamil muda.


Dokter tersebut tersenyum. "Benar, Bu."


"Alhamdulillah!" ucap syukur Tari yang langsung memeluk Dewi.


Dewi tentu saja bingung karena tiba-tiba dipeluk oleh Tari. "Kenapa, Ma?" tanya Dewi dengan polosnya.


"Biar dokter yang memberitahu!" jawab Tari dengan senyum di wajahnya.


"Selamat ya Ibu Dewi! Ibu sedang hamil! Untuk pemeriksaan lebih lanjut, akan saya rujuk ke dokter spesialis kandungan!" ujar dokter .


Dewi tak percaya dengan berita yang dokternya sampaikan. Dewi menunjuk dirinya sendiri, "Saya? Saya hamil, Dok?"


Dokter tersebut tersenyum, "Iya. Ibu hamil. "


Dewi masih tak percaya meski Tari sejak tadi memeluknya seraya mengucap selamat. Dewi bahkan seperti tak sadar saat Tari menuntunnya menuju dokter spesialis kandungan.


"Aku hamil? Dalam rahimku ada anaknya Wira? Apakah ini sungguhan?" tanya Dewi dalam hati.

__ADS_1


Rasanya semua ini seperti mimpi. Diusapnya perutnya yang masih rata. Ada makhluk hidup yang kini ada dalam rahimnya. Buah cintanya dengan Wira. Pasti suaminya akan terkejut mendapat berita ini.


"Wira pasti akan senang, Wi!" ujar Tari penuh semangat.


Dewi tersenyum tapi kemudian teringat kalau Wira pernah memintanya minum pil KB karena tak mau dirinya hamil. Apakah sekarang Wira sudah siap untuk punya anak?


"Abi telepon! Mommy kabarin Abi dulu ya, Wi?!" Mommy lalu berdiri dan menjawab telepon agak jauh dari tempatnya. Mungkin mau menjawab dengan mesra seperti biasanya dan malu kalau pasien lain mendengarnya.


"Ibu Dewi Puspitasari!" panggil suster lagi.


Dewi tak melihat keberadaan mertuanya. Cepat sekali mertuanya menghilang!


"Ibu Dewi Puspitasari!" panggil ulang suster.


"Iya!" jawab Dewi tak mau namanya terselip pasien lain.


"Silahkan, Bu!" suster lalu membantu Dewi dengan memapahnya. Dokter menyambut ramah dan sudah diberitahu kalau Dewi sebelumnya sudah konsultasi ke dokter spesialis penyakit dalam.


"Kita langsung USG saja ya, Bu!" ujar dokter kandungan yang memakai jilbab bermotif bunga-bunga nan cantik, terlihat modis di balik jas kebesaran dokter miliknya.


Dewi menurut dan naik ke atas tempat tidur. Bajunya dinaikkan oleh suster dan diolesi gel. Baru saja dokter mulai memeriksanya, pintu ruangan diketuk.


Mommy datang sambil melongokkan kepalanya. "Maaf, saya mau menemani menantu saya!" ujar Mommy dengan senyum penuh kebanggan di wajahnya.


"My!" panggil Dewi membuat dokter yakin kalau Mommy memang benar mertua Dewi.


"Silahkan, Bu. Baru saja kami mau mulai." ujar dokter.


"Saya boleh lihat dari dekat , Dok?" tanya Mommy dengan penuh antusias.


"Tentu, Bu. Silahkan!"


Tari pun berdiri di dekat Dewi dan melihat layar monitor di depannya.


"Benar nih ada baby. Udah ada kantongnya juga!" ujar Dokter.


"Ya Allah cucu Mommy!"


****

__ADS_1


__ADS_2