Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Si Pekerja Keras


__ADS_3

Wira dan Bahri pulang menjelang maghrib. Mereka masih berdiskusi ruko mana yang akan mereka ambil.


"Kalo ruko yang dekat perempatan itu strategis, Pak. Cocok meski harganya agak mahal." usul Bahri.


"Lingkungannya enggak sesuai. Samping kiri kanannya membuat tempat usaha terlihat agak kumuh dan kurang berkelas." jawab Wira.


"Memangnya berpengaruh ya, Pak?" tanya Bahri yang benar-benar tak tahu ilmu bisnis. "Bukannya kalau tempatnya strategis udah jadi nilai plus?"


"Berpengaruh dong! Laundry ini tuh berbeda dari konsep laundry kiloan pada umumnya. Pangsa pasarnya adalah karyawan yang malas mencuci sendiri dan memilih laundry sebagai jalan ninja. Keberadaan cafe dan salon di atas cafe juga menargetkan pelanggan yang lebih memilih pergi ke satu tempat namun menyediakan berbagai fasilitas. Ruko yang lo usulkan bagaimana kiri kanannya?"


"Ada warteg dan tukang jahit pakaian."


"Bagaimana nasib cafe nanti? Lebih baik makan di warteg daripada di cafe dong? Kasihan nasib cafe Mommy gue nanti. Kalau bisa yang sampingnya perkantoran gitu. Karyawan yang bekerja di ssna akan menjadi pelanggan tempat kita."


"Oh... gitu. Wah aku jadi dapat ilmu baru dari Pak Wira."


"Lo manggil gue Abang aja! Jangan Pak lagi. Kemarin lo udah manggil gue Kak eh lo ganti!"


"Iya, Bang!"


"Kalau gue sih lebih suka ruko yang sebelahnya kantor penerimaan SPG. Banyak SPG cantiknya!" ujar Wira.


"Ehem!" Dewi yang sedang membawakan kue dan es sirup berdehem mengingatkan Wira.


"Becanda, Sayang!" Wira membujuk Dewi agar tak marah.


"Kenapa Abang lebih suka ruko itu?" tanya Bahri yang mengambil sebungkus pie susu dan memakannya.


Dewi ikut duduk dan bergabung bersama Wira dan Bahri. Percakapaan mereka seru, penuh ilmu yang belum Dewi ketahui.


"Tadi 'kan Abang bilang karena ada SPG. Ya... Itu jawabannya! Biasanya, kantor SPG itu rame dari hari senin sampai jumat. Sabtu rame sedikit lah. Nah, di hari senin sampai jumat mereka akan nongkrong di cafe kita. Apalagi yang gue dengar itu penerimaan SPG untuk produk rokok atau automotif. Cocok untuk cafe dan salon!"


"Lalu laundry kamu gimana?" tanya Dewi penasaran.


"Di samping ruko yang menerima SPG, ada Indo Agustus dan Toko daging. Ibu-ibu yang membeli ke sana bisa sekalian mampir ke ruko kita. Itu lebih strategis!"


"Tapi agak jauh, Bang! Kasihan Ibu kalau ke sana!" protes Bahri.


"Bukan Ibu kamu yang menjaga laundry di sana."

__ADS_1


"Lalu siapa?" tanya Bahri lagi.


"Bapak."


"Hah? Abang serius? Bapak bisa kerja lagi?" tanya Bahri tak percaya.


"Serius dong! Bapak akan menjadi kasir sekaligus mengawasi mesin laundry koin kalau ada customer yang tidak bisa mengoperasikannya. Ibu akan tetap menghandle laundry di sini."


Bahri tersenyum senang. "Makasih ya Bang! Abang sudah membuka lapangan pekerjaan untuk Bapak!"


Wira ikut tersenyum melihat kebahagiaan Bahri. "Iya. Semoga bisnis Abang makin maju ya, agar bisa membuka lapangan pekerjaan yang lain.


"Aamiin!"


****


Sehabis sholat isya, Wira dan Dewi sibuk dengan urusannya masing-masing. Dewi sibuk dengan pembukuan sederhana laundry yang Wira ajarkan padanya sementara Wira asyik dengan laptop miliknya.


Anggaran bisnis yang lumayan mahal membuatnya putar otak. Dewi sudah menyediakan secangkir kopi dan cemilan untuk menemani suaminya bekerja.


"Makasih, Sayang!" ujar Wira yang memeluk pinggang Dewi seraya mencium perutnya.


Wira mengangguk. "Iya. Kamu tidur duluan ya!"


"Oke. Besok temani aku ke rumah Mommy ya?!" ajak Dewi.


"Untuk apa?" tanya Wira.


"Aku mau buatkan kue untuk Mommy dan Abi. Sekalian mau bawain oleh-oleh dari kamu."


"Oh... Oke!"


"Yaudah aku tidur duluan ya! Selesaikan secepatnya lalu tidur!" pesan Dewi.


"Siap, Bos!"


Dewi pun tertidur lelap. Tengah malam, menjelang pagi ia terbangun. Rupanya Wira sudah tertidur di sampingnya. Ia tersenyum dan merapihkan rambut Wira yang menutupi keningnya.


"Selamat ulang tahun imamku. Semoga Allah selalu memberkahi hidup kita dengan kebahagiaan dan rejeki. Semoga kita selalu menjadi pasangan yang saling melengkapi sampai maut memisahkan. Aamiin."

__ADS_1


Dewi memajukan dirinya dan mencium kening Wira. Diusapnya pelan pipi suaminya dengan penuh cinta lalu kembali tertidur lelap.


Keesokan harinya, Dewi membuatkan mie goreng plus telor untuk Wira sarapan. Harum mie membuat Wira keluar dari kamar dengan perut keroncongan. "Tumben kamu buat mie goreng pagi-pagi?! Biasanya suka melarang kalau aku buat mie untuk sarapan?"


Dewi tersenyum, ia teringat temannya yang kalau ulang tahun tradisinya memakan mie. Katanya agar panjang umur.


"Sesekali enggak apa-apa. Kamu makan mie dan aku cukup telur rebus saja! Selamat makan!" ujar Dewi seraya duduk di meja makan menemani Wira.


"Selamat makan." Wira makan dengan lahapnya. "Nanti mau ke rumah Mommy jam berapa? Aku soalnya masih mau hunting-hunting sama Bahri. Survey beberapa ruko lagi."


"Habis sholat maghrib aja kali ya? Biar enak kesananya."


"Oke!" Wira sudah menghabiskan sarapannya. "Aku pergi dulu ya! Doain aku dapat ruko yang cocok!"


"Aamiin!"


Wira mencium pipi Dewi lalu pergi bersama Bahri. Dewi lalu membuatkan kue bolu tape untuk acara nanti malam. Dewi sudah membungkus kado dan menaruhnya di bagasi mobil. Ia sengaja tutupi agar Wira tak melihatnya.


Dewi kemudian sibuk membantu di laundry. Banyak pakaian yang harus diselesaikan sebelum diambil pemiliknya. Ratna hanya datang sesekali sekarang. Sudah mulai fokus sekolah dan mata pelajarannya banyak. Tak bisa sering membantu seperti biasanya.


Rupanya meski sudah tidak ada promo, namun pelanggan masih banyak yang menitipkan pakaiannya di laundry milik Wira. Pelayanan yang bagus dan hasil yang rapi serta wangi dengan pengemasan yang bagus membuat banyak pelanggan yang terus berdatangan.


"Jangan terlalu lelah, Wi! Kamu lagi hamil muda!" nasehat ibu.


"Iya, Bu." Dewi kembali duduk dan tak terlalu aktif membantu. Ia juga harus menjaga janin dalam kandungannya.


Wira pulang saat sore. Terlihat kelelahan dan lapar. Untung saja Dewi sempat masak tadi, meski hanya menu simple karena takut mual.


"Aku ngantuk, Sayang. Aku tidur sebentar ya! Tolong bangunkan aku saat adzan maghrib!" pesan Wira.


Dewi pun menurut. Ia merasa kasihan melihat suaminya sangat lelah seharian mencari ruko dan berbagai macam keperluan bisnis baru, lalu malamnya mengerjakan pekerjaan di cafe dan showroom. Benar-benar tak ada waktu untuk istirahat. Dirinya saja belum disentuh sejak pulang dari Bali. Entah Wira lelah atau takut karena Dewi sedang hamil? Entahlah....


Dewi mulai bersiap-siap. Ia mengambil baju dress panjang dan memakai hijab. Entah kenapa sekarang ia lebih suka saat mengenakan hijab.


Wira yang dibangunkan Dewi kembali pangling melihat penampilan istrinya. "Kamu... Sekarang mau pakai hijab?"


Dewi mengangguk. "Iya. Boleh kan?"


Wira tersenyum senang. "Tentu saja, Sayang! Boleh banget! Cantik! Kamu cantik sekali!"

__ADS_1


****


__ADS_2