
Dewi melihat suaminya yang mengantri sate aci. Ia mengantri dengan tertib dan terlihat protes saat ada ibu-ibu yang mau memotong antriannya.
"Bang, saya sate aci campur ati ampela ya sepuluh ribu!" ujar ibu-ibu yang mau memotong antrian.
"Antri, Bu! Antri!" sindir Wira.
"Cuma beli sepuluh ribu doang, Mas!" protes ibu tersebut.
"Saya juga cuma beli dua puluh ribu doang tapi antri, Bu!" balas Wira.
"Anak saya enggak bisa diam, Mas!" jawab ibu itu lagi.
"Istri saya saja yang lagi hamil saya suruh diam di tempat, Bu! Suruh aja anak ibu diam!"
"Ih Mas enggak mau kalah sama perempuan!" balas ibu itu lagi.
"Ibu juga, enggak mau antri!" balas Wira tak mau kalah.
"Yaudah deh saya enggak jadi beli! Jadi laki tuh ngalah sama perempuan, Mas! Jangan egois!" sindir ibu tersebut.
"Jadi perempuan tuh antri, Bu. Udah salah malah nyalahin orang!" Wira lalu berbicara pada abang penjual sate aci. "Punya ibu itu yang dicancel biar saya aja yang bayarin!"
Ibu yang udah terlanjur kesal pun meninggalkan tukang sate aci. Baru kali ini ada yang bisa menjawab semua perkataannya.
Dewi yang melihatnya pun tertawa-tawa dibuatnya. Wira dilawan!
Wira datang dengan plastik berisi satu bungkus sate aci dan air mineral botol di tangan satu lagi. Senyum penuh kemenangan terpancar di wajahnya. Berhasil antri dan sabar menunggu di antara banyak pembeli adalah nilai plus di mata Dewi.
"Yuk kita makan mumpung masih panas. Aku beli lontongnya juga loh!" Wira membukakan botol air mineral dan memberikannya pada Dewi. "Kalau mau jajan yang lain bilang ya! Nanti aku antri lagi."
Dewi tersenyum, "Antri lalu berdebat lagi sama ibu-ibu?"
"Salah dia sendiri kenapa motong antrian seenaknya! Biarpun ibu-ibu adalah ras terkuat di muka ini ya jangan suka seenaknya juga. Ada antrian. Orang lain sabar eh dia main selak aja!" gerutu Wira sambil memakan sate kulit dan lontong. "Enak loh ini! Pantas saja Carmen suka banget jajanan bocah kayak gini! Enak! Ayo sini kamu aku fotoin! Biar aku kirim ke Carmen!"
Dewi pun mulai bergaya dan menunjukkan makanan miliknya untuk Wira foto. Sambil tersenyum jahil, Wira pun mengirimkan foto tersebut pada Carmen.
"Iya enak nih. Aku juga suka. Padahal dari kemarin cuma capcay yang bisa aku makan tanpa drama muntah." Dewi memakan sate dengan lahap.
"Kasihan sekali kamu Sayang! Maaf ya aku enggak ada di sisi kamu saat kamu lagi menderita seorang diri!" sesal Wira.
"Ah basi! Padahal kamu di Bali senang-senang kan? Lihat bule berjemur di pantai tanpa memakai apapun! Pasti mata kamu yang sejak kecil sudah menyukai aset besar akan dimanjakan selama di sana!" cibir Dewi.
"Astaghfirullah, Sayang! Kamu enggak lihat apa aku sampai hitam begini? Boro-boro mikir kayak gitu! Aku tuh keluar masuk pasar nyari perlengkapan cafe. Belum keluar masuk tempat nyari lokasi cafe yang strategis. Satu lagi, adu mulut sama pihak asuransi yang awalnya cuma mau ganti sedikit saja. Udah tau 'kan pasti aku yang menang?! Mana aku sempat bersenang-senang? Apalagi kamu ngambek, ya Allah... Malam aku rasanya sepi, sunyi dan hampa!"
__ADS_1
"Lebay! Kenapa kamu makin lebay sih selama di sana? Kamu sebal sama Abi yang gombal eh kamu sendiri malah jadi lebay!"
"Kalau lebay ini hanya untuk kamu seorang, Sayang!"
Dewi kembali mencibirkan bibirnya. "Aku udah kenyang. Kamu aja habiskan!"
"Oke, siap! Aku lapar. Tadi di ruko makan aku sedikit. Kamu sih temenin aku makan sambil cemberut!" sindir Wira.
"Mau aku cemberut lagi?!" ancam Dewi.
"Oh tentu tidak! Ayo kita jalan-jalan! Kamu mau jajan apa? Nanti aku beliin?!"
"Aku lihat-lihat dulu ya!"
Wira dan Dewi menyusuri taman yang ramai pengunjung tersebut. Tangan Wira selalu menggenggam tangan Dewi. Takut istrinya terpisah. Wira bahkan beberapa kali melindungi Dewi saat padat pengunjung. Tak mau ada yang melukai istri dan anak yang ada dalam kandungannya.
"Sebentar ada pesan masuk!" Wira membuka Hp miliknya. "Dari Carmen."
"Bilang apa Carmen?" tanya Dewi penasaran.
"Kalau enggak bawain aku makanannya, aku sumpahin Abang diare!"
Wira dan Dewi saling pandang lalu kompak menertawakan Carmen. Lalu tawa di wajah Dewi menghilang saat matanya melihat sesuatu yang terlihat begitu blink blink. "Sayang! Itu ada ceker pedas! Kayaknya enak deh!" tunjuk Dewi.
Dewi pun menekuk wajahnya, "Padahal aku pengen makan ceker pedas bareng kamu!"
"Kalau makan gulali kapas aja gimana? Aku doyan deh!" nego Wira.
"Enggak mau! Aku enggak suka!"
"Atau mau makan toppoki? Ada gorengan ala-ala Korea juga tuh di sana! Kita coba yuk!" Wira menunjuk beberapa tukang dagang sebagai rekomendasi namun tetap saja Dewi menolaknya.
Dewi menggelengkan kepalanya, "Kamu aja yang makan. Aku enggak mau!" Dewi pun memasang wajah sedihnya.
Wira menghela nafasnya. "Ini ya yang namanya ngidam?"
"Enggak. Aku cuma pengen aja makan ceker. Kamu aja yang enggak mau belikan!" jawab Dewi.
"Iya sama aja. Namanya ngidam! Aku beliin tapi kamu aja yang makan ya!"
"Enggak usah kalau begitu! Aku enggak mau kalau kamu enggak makan juga!" tolak Dewi.
"Tuh marah deh! Yaudah aku makan! Terpaksa deh demi kamu!" Wira lalu menggandeng Dewi dan memesan seporsi ceker.
__ADS_1
"Itu pedes kayak gitu, Sayang?" tanya Wira sambil melihat ngeri ceker mercon yang ingin Dewi makan.
"Iya. Enak banget kan kelihatannya?"
"Enak darimana? Serem kayak gitu! Kalau cekernya bekas ngais-ngais tanah gimana?" batin Wira.
Dewi pun menerima ceker pesanannya dan mengajak Wira mencari bangku kosong untuk duduk sambil menikmati ceker mercon.
Dewi mengambil sebuah ceker dan memakannya dengan lahap. "Enak. Kamu juga dong!"
"Tulang semua itu! Apa yang dimakan?" protes Wira.
"Justru itu enaknya. Daging di dekat tulang tuh rasanya lebih enak. Cobain dong! Jangan dilihatin aja!"
Dengan wajah agak ngeri karena terus membayangkan kaki ayam yang sedang mengais-ngais tanah, Wira mengambil sebuah dan memakannya. Bumbu pedas yang kaya dengan kandungan mecin pun meski terasa pedas namun meninggalkan sensasi enak di lidah.
"Gimana? Enak?" tanya Dewi.
Wira mengangguk. "Enak ternyata!"
"Yaudah abisin!" Dewi memberikan semua ceker yang dipegangnya pada Wira.
"Aku yang habisin nih? Semua? Enggak salah?"
"Kata kamu enak 'kan? Yaudah habiskan, mubazir! Aku lihat-lihat jilbab dulu ya! Kamu makan aja dengan tenang!" Dewi pun pergi meninggalkan Wira dan mendatangi penjual jilbab. Memilih beberapa jilbab dan membelinya untuk adik serta ibunya.
Dewi menghampiri Wira yang sudah menghabiskan seporsi ceker ayam tanpa sisa. Wajahnya berkeringat, merah dan kepedesan. Dewi menahan tawanya melihat suaminya benar-benar menuruti keinginannya.
Dewi mengeluarkan tisu dari dalam tas miliknya dan mengusap keringat di kening Wira. "Kalau enggak kuat kenapa dihabiskan?"
"Bukannya kamu yang nyuruh aku habisin ya?" sindir Wira. Diambilnya air mineral dan meneguknya sampai habis. "Bibir aku kayaknya tebel banget deh! Perut aku juga terasa panas!"
"Jadi lebih seksi dong!" celetuk Dewi.
"Mau coba?" goda Wira.
"Enggak ah. Udah pedes jadi tambah pedes kena ceker mercon!" Dewi akhirnya tak kuasa dan menertawai Wira.
"Senang ya lihat suami menderita?" sindir Wira yang masih kepedesan.
"Kasihan... Cup... Cup... Cup.... Mau pulang sekarang atau mau lihat-lihat dulu nih?"
"Pulang aja! Perut aku panas! Takut enggak kuat dan kelepasan deh! Ayo kita pulang!"
__ADS_1
****