Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Mie Instan


__ADS_3

Wira tentu saja tidak merasa tenang dengan keberadaan Dewi di apartemen miliknya. Susah payah Wira menahan diri tidak mau menyentuh Dewi eh anak itu malah sengaja mendekatinya.


Seakan menggoda Wira dengan mengajaknya mandi bareng tak cukup, Dewi dengan sengaja keluar dari kamar mandi dengan memakai bathrobe tanpa sehelai benang pun di baliknya. Benar-benar menggoda keimanan Wira.


Wira memilih mengambil rokok miliknya dan mencari udara segar. Dibukanya jendela apartemen dan Ia pun menyalakan rokok miliknya.


Dihisapnya rokok yang terasa manis di lidah dan dipenuhi paru-parunya dengan nikotin lalu dikepulkannya asap tebal ke udara. Pikirannya berkelana entah kemana, seperti asap yang menghilang di kegelapan malam.


Wira menatap kerlip lampu yang terlihat dari atas apartemen miliknya. Sangat enak dilihat. Hal inilah yang membuatnya ingin membeli apartemen yang menguras isi tabungannya.


Kini, apartemen tempat Ia menenangkan diri dari hiruk pikuk pekerjaan yang tak ada habisnya malah ditempati oleh Dewi. Karyawan yang kini sudah menjadi istri sirinya.


Wira bukan tak mau menyentuh Dewi, pagi ini saja Ia hampir khilaf dan menyerah dengan hasrat terpendam yang seakan meronta minta disalurkan. Ia ingin bersenang-senang dengan Dewi dan menikmati saat-saat mereguk nikmatnya melepas gairah bersama.


Wira hanya butuh waktu berpikir. Banyak yang menjadi bahan pikirannya saat ini. Pernikahan di usianya yang masih terlalu muda. Kekhawatiran kalau apa yang Ia lakukan akan ketahuan oleh kedua orang tuanya. Bagaimana masa depan Dewi kelak saat bisnis plus plus mereka selesai.


Kalau Wira hitung, mungkin mereka sudah melakukan bisnis plus-plus sekitar 20 kali. Tersisa 180 kali lagi. Hubungan mereka kini bukan lagi sebagai rekan bisnis tapi sudah jadi suami istri. Setelah bisnis mereka selesai apa mereka langsung bercerai?


Bagaimana dengan Dewi?


Apa kata orang-orang tentangnya?


Itu yang membuat Wira sebisa mungkin menahan gairah membara miliknya.


Mudah saja, tinggal teruskan pernikahan mereka. Gampang.


Ternyata bagi Wira tidak semudah itu. Dewi jelas bukan tipe istri idaman Wira. Cinta dengan Dewi saja tidak. Wira tak mau calon ibu dari anak-anaknya adalah Dewi.


Kenapa?


Jujur saja, meski tau bagaimana sebenarnya sifat Dewi namun Wira menganggap sebelah mata pada istri sirinya tersebut. Wanita baik-baik tak akan menawarkan untuk menjual dirinya demi uang. Seterpaksa apapun keadaan yang menjeratnya.

__ADS_1


Hal ini yang membuat Wira ragu akan kepolosan Dewi. Benar Dewi masih suci dan Wira yang mengambilnya. Tapi apakah setelah mereka selesai bisnis plus-plus, Dewi akan menawarkan dirinya pada lelaki lain yang punya uang? Itu yang Wira ragukan.


Wira mendengar suara pintu kamar dibuka. Tak lama Dewi keluar dan berjalan menuju dapur.


"Pak, saya lapar. Saya buat mie instan ya?!" tanpa menunggu persetujuan dari Wira, Dewi mulai mencari mie dan memasak seperti layaknya di rumah sendiri.


"Bapak mau enggak?" tanya Dewi. Akhirnya sadar kalau ada pemilik sebenarnya dari apartemen ini.


"Maunya lo pulang!" jawab Wira dengan ketus.


"Ih Bapak! Saya tanya apa, jawabnya apa?! Yaudah kalo enggak mau!" Dewi lalu berjalan menuju lemari es dan mengambil telur, bakso dan sosis. Benar-benar seperti pemilik rumah.


Wira kembali menyalakan rokok keduanya. Menyesapnya dengan lama dan menghembuskan asapnya ke udara. Gadis super cuek yang sedang memasak di dalam mana tau apa yang Ia pikirkan. Ia asyik saja memasak dan membuat iman Wira tergoda saat harum mie instan mulai tercium.


Wira mematikan rokok miliknya dan menutup jendela. Ia berjalan menuju lemari es dan mengambil susu uht dingin. Wira lalu duduk di meja makan, memperhatikan Dewi yang sedang menuangkan mie yang sudah matang ke dalam mangkuk.


Air liurnya hampir menetes manakala harum mie instan semakin menguar. Dewi membawa mie miliknya dan duduk di meja makan. Di depan Wira tepatnya.


Dengan cueknya Wira menarik mangkuk mie milik Dewi ketika Ia hendak memakannya. "Ini buat gue. Lo bikin lagi aja yang baru!"


Dewi tak jadi makan. Ia menahan mangkuknya diambil oleh Wira. "Enggak bisa begitu, Pak. Ini punya saya! Bapak tadi saya tawarin enggak mau?!"


"Itu kan tadi. Sekarang gue laper! Udah ini buat gue! Lo tinggal bikin lagi yang baru! Pelit banget sih?!" protes Wira.


Mangkuk mie berada di tengah-tengah meja makan. Baik Wira maupun Dewi sama-sama menahannya agar tidak ada yang mengambil.


"Enak aja! Ini tuh saya tinggal makan. Saya laper belum makan! Bapak aja yang bikin lagi!" jawab Dewi tanpa kenal takut.


"Ini kan rumah gue! Berarti itu mie instan punya gue dong!" balas Wira tak mau kalah.


"Tapi saya yang masak. Berarti punya saya!" balas Dewi.

__ADS_1


"Gue yang beli mie instan dan segala macem yang lo masukkin dalam mie. Gue lebih berhak!" masih tak mau kalah Wira ternyata.


"Nanti saya ganti! Pelit banget ih! Anggap aja saya ngutang!"


"Gue bukan tukang kredit! Gak terima utang!" balas Wira.


"Saya bayar cash!"


"Piring, gas dan air buat masak juga punya gue! Bayar juga lo!"


Dua orang yang sama-sama keras kepala ini tak ada yang mau mengalah. Saling menunjukkan sikap egois masing-masing.


"Itu kan tugas Bapak yang bayar!" sahut Dewi.


"Justru ini tugas lo sebagai istri. Nyiapin makan buat suami! Udah lo bikin lagi. Keburu mienya bengkak nih! Awas!" Wira menarik mangkuk dan memenangkan perebutan atas mie instan hari ini.


Dewi hanya bisa memanyunkan bibirnya dan menahan kekesalannya. Mie yang Ia buat malah dimakan dengan lahap oleh Wira. Padahal Ia sudah lapar sekali dan ingin makan.


Kalau bukan kata-kata Wira yang mengatakan kalau tugas dirinya sebagai istri, sudah Ia rebut mie yang Ia buat sepenuh hati tersebut.


"Nafas Pak makannya! Jangan sampai keselek!" sindir Dewi yang bangun dari duduknya dan hendak membuat mie instan baru.


"Hmm... Enaknya mie instan kalo orang yang buatin ya?! Pedesnya juga mantap. Lo mau kuahnya enggak?!" ledek Wira sambil terus menikmati mie instan milik Dewi.


Dewi menahan kekesalannya. Ia harus memasak ulang sementara Wira yang rese tinggal menikmati mie buatannya.


"Wah... Enak banget ya mienya. Kenyang. Nanti bereskan ya! Jangan lupa lampu matikan. Suami ganteng ini ngantuk habis makan. Bye!" Wira yang sudah menghabiskan mie instan miliknya meninggalkan bekas makannya begitu saja di meja makan.


Dewi mengepalkan tangannya. "Dasar suami siri ngeselin! Awas aja ya! Bakalan aku balas nanti! Arghhh!" batin Dewi.


Dewi lalu mengangkat mie instan miliknya dan siap memakannya. Saat memakan mie yang sejak tadi menggugah seleranya, ternyata rasanya tak seenak yang Ia pikir. Semua karena rasa kesal yang menggunung dan mie kedua pasti tak lebih enak dari mie pertama. Betul?

__ADS_1


****


__ADS_2