
Wira sadar kalau Dewi marah padanya. Wira pun mengubah mode panggilan dari telepon menjadi video call. Ia ingin melihat langsung wajah istrinya yang sudah dua hari tidak ia lihat.
"Kok muka kamu pucat banget sih? Ke dokter ya?! Kamu pasti nggak mau makan deh! Nanti aku suruh Bahri buat antar kamu ya ke dokter!" ujar Wira yang terlihat cemas melihat wajah Dewi yang memang pucat dan agak lemas.
"Aku baik-baik aja kok. Hanya masuk angin biasa. Kamu nggak usah khawatir, nanti aku akan minta Bahri antar aku ke dokter kalau memang masih nggak enak badan." tolak Dewi.
"Nggak! Pokoknya kamu harus ke dokter! Aku nggak bisa tenang bekerja kalau melihat kamu sakit kayak gini. Diperiksa dulu ya sama dokter. Lalu, kamu istirahat dan makan yang benar. Jangan mikirin keadaan aku di sini. Aku kerja sampai lupa waktu agar aku cepat pulang. Banyak yang harus aku urus di sini. Aku pikir pekerjaan aku hanya mengecek barang dan udah beres, ternyata enggak,"
"Kebakaran ini membuat aku seperti mengurus pembukaan cafe baru. Mencari tempat baru, barang-barang yang kemarin hangus terbakar dan tidak tercover asuransi juga harus aku beli lagi. Sedangkan aku nggak begitu tahu tempat-tempat di Bali yang menjual itu semua. Jadilah aku super sibuk. Bukan karena aku nggak mau hubungin kamu, tapi memang banyak sekali yang harus aku lakukan,"
"Aku hanya berdua dengan Pak Budi karyawanku yang menghandle semuanya. Pihak asuransi tentu saja tidak mau mengcover semua, mereka juga tak mau rugi. Perlengkapan cafe seperti alat makan dan dekorasi, semua harus dibeli lagi dari awal. Aku harus keluar masuk pasar untuk mencari itu semua mulai hari ini. Sepertinya, aku nggak bisa cepat pulang ke Jakarta,"
"Aku minta kamu mengerti ya keadaan aku di sini. Jujur, aku kangen banget sama kamu. Apalagi melihat kamu sakit begini, aku tuh pengen langsung pulang. Aku ingin peluk kamu, merawat kamu yang sakit dan mengantar kamu ke dokter langsung. Aku mau dengar dari dokter apa sakit kamu. Tapi aku nggak bisa. Maaf sekali,"
__ADS_1
"Abi sedang mengurus masalah di showroom miliknya. Sementara Mommy, sekalipun Mommy ada di sini juga nggak bisa banyak membantu. Untuk masalah administrasi dan segala macamnya, Mommy nggak bisa handle. Carmen, anak itu belum bisa diandalkan untuk manajemen cafe yang rumit. Hanya aku satu-satunya yang bisa dimintai tolong dan mengemban tanggung jawab ini. Kamu mau 'kan bersabar dan menunggu aku pulang?"
Entah mengapa Dewi merasa begitu mellow. Hanya dengan melihat wajah Wira di layar telepon, ia merasa sangat merindukan suaminya dan tanpa sadar air mata pun menetes di pipi Dewi.
Dewi menyentuh wajah Wira di layar telepon dengan ujung jari telunjuknya. Membayangkan kalau ia memang benar-benar menyentuh wajah suaminya secara langsung, bukan menyentuh layar Hp semata.
"Tuh kan, kamu malah sedih dan nangis. Aku jadi kepikiran nih. Kamu mau nyusul ke sini? Tak masalah bagi aku kalau kamu mau datang ke Bali. Aku akan kirimin tiket, tapi aku nggak mau di sini tuh aku malah mengecewakan kamu. Aku saja jarang pulang ke hotel kecuali untuk istirahat. Seharian aku berada di luar. Hari ini akan lebih sibuk lagi, keluar masuk pasar, keluar masuk ruko, pergi dari satu tempat ke satu tempat lain hanya untuk mencari lokasi cafe yang baru. Aku nggak akan ada waktu untuk terus menemani kamu. Nanti kamu malah kesepian dan tak betah, karena itu aku meminta kamu tetap tinggal di Jakarta. Aku mau ada keluarga kamu yang mengawasi saat aku pergi. Tapi kalau memang kamu ingin terus berada di sisi aku, datanglah!"
Dewi menghapus air mata yang terus-menerus menetes tanpa bisa ia tahan. Ia tak lagi marah dengan Wira. Dari wajah letih Wira bisa terlihat kalau suaminya memang bekerja keras di tempat yang jauh di sana. Egois namanya kalau Dewi memaksa Wira menghubungi dirinya setiap saat.
"Iya, Sayang. Aku ngerti. Aku juga merasakan apa yang kamu rasakan, enggak ada kamu, enggak ada yang aku omelin. Aku lebih banyak diam di sini, ini 'kan tempat orang. Kalau aku asal berbicara dan berkata pedas bisa habis aku di kampung orang! Kalau sama kamu 'kan aku bebas mau ngomong apa! Ya... Paling tubuh aku biru-biru karena kamu cubitin!" gerutu Wira yang membuat seulas senyum berhasil lolos di wajah Dewi.
"Nah gitu dong! Senyum! Aku kan senang melihatnya. Bidadari Surgaku sudah tersenyum lagi, aku jadi tenang di sini. Bisa kerja dengan benar, bisa punya semangat menyelesaikan pekerjaan biar cepat pulang dan bisa kalau kamu lagi!"
__ADS_1
Dewi kembali tersenyum namun kali ini lebih lebar. Mendengar ucapan Wira membuatnya tenang dan tak lagi diliputi oleh rasa cemas seperti sebelumnya. Kekhawatiran kalau Wira akan tergoda oleh bule cantik di sana sedikit demi sedikit pun terkikis.
"Tuh kan Bidadari Surgaku cantik banget kalau tersenyum! Lebih cantik lagi, kalau bibirnya nggak pucat kayak gitu. Ke dokter ya, biar Bahri yang mengantar! Kalau kamu sehat, pasti wajah kamu nggak pucat kayak gitu dan bibir kamu akan merona merah seperti biasanya. Makin cantik aja deh!" rayu Wira.
"Iya. Nanti aku akan minta Bahri untuk antar aku ke dokter. Kamu udah sarapan belum? Kita sarapan bareng yuk!" ajak Dewi penuh harap.
Sayangnya, Wira tak bisa mewujudkan keinginan Dewi. "Enggak bisa, Cinta. Aku habis mandi mau langsung berangkat. Sarapannya nanti saja di jalan. Aku ada janji dengan pihak asuransi. Mau tau berapa yang akan mereka bayarkan lalu uangnya akan digunakan untuk membeli peralatan yang baru. Beberapa malah harus impor dari luar. Aku akan lebih sibuk lagi hari ini, jangan mikirin aku ya! Aku akan hubungi kamu kalau aku senggang. Sekarang, kamu sarapan dan ke dokter ya!"
Dewi mengangguk patuh. "Iya. Aku udah lebih enakkan sekarang. Ternyata kamu adalah obat yang mujarab untuk aku!"
"Ih menggemaskan sekali. Sini aku cium dulu!" Wira mencium kamera Hp-nya membayangkan tengah mencium istrinya tercinta.
"Baik-baik ya kamu di sana, peluk cium dari aku. Love you, Sayang!"
__ADS_1
"Love you too Cinta!"
****