Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Permintaan Wira pada Dewi-2


__ADS_3

Dewi terdiam, bingung mau berkata apa. Jika tidak bekerja, bagaimana nasib keluarganya?


Dewi adalah tulang punggung keluarga. Bahri rencananya mau ia kuliahkan. Untuk bayar kontrakkan dan makan keluarganya masih ia sokong dengan gajinya. Belum biaya sekolah Ratna. Bagaimana nanti hidupnya?


Seakan bisa membaca apa kesulitan yang Dewi rasakan, Wira pun berusaha menenangkan istrinya.


"Aku tau apa yang kamu pikirkan. Keluarga kamu bukan?" tanya Wira.


Dewi mengangguk.


"Ada aku! Kamu tenang saja!"


Dewi malah menggelengkan kepalanya. "Aku enggak mau keluargaku hanya menjadi beban kamu saja. Aku dan keluargaku sudah banyak menyusahkan kamu!" Dewi menundukkan wajahnya dan mulai menitikkan air matanya.


"Sst! Kok kamu malah nangis sih? Aku tuh mau membawa kabar bahagia buat kamu, kenapa kamu malah nangis?" Wira mengangkat dagu Dewi dengan telunjuknya. Kini kedua mata mereka saling bertemu.


Dewi balas menatap Wira. "Aku tau, aku dan keluargaku cuma menyusahkan kamu selama ini. Karena itu aku tetap bekerja setelah kita menikah. Biar keluargaku, beban aku saja. Kalau aku tidak bekerja, aku...."


Wira lalu menarik tangan Dewi. "Kita bicaranya di dalam aja ya! Aku tunjukkin apa yang aku kerjain sampai otakku rasanya ngebul dan mau keluar asap!"


Wira lalu mematikan lampu ruko lantai bawah dan menuntun Dewi berjalan ke lantai atas. Wira meminta Dewi duduk di sofa sementara dirinya mengambil laptop dan mulai menunjukkan apa yang sejak kemarin ia kerjakan.


"Aku sudah membuat konsep bisnis baru." Wira lalu menunjukkan konsep ruko baru yang sudah ia rancang. "Rencananya, bagian bawah ruko akan aku buat laundry koin."


"Laundry koin? Seperti di drama Korea?!" tanya Dewi.


"Iya. Benar sekali, Sayang. Seperti di drama Korea. Yang bertugas sebagai kasir adalah Bapak kamu."

__ADS_1


"Bapak? Bapak aku? Bapak bisa kerja lagi?" tanya Dewi dengan antusias.


Wira mengangguk. "Pekerjaannya mudah, hanya duduk sebagai kasir yang menjual koin. Menjelaskan pada pelanggan bagaimana cara kerja mesin dan ya... kalau ada yang kesulitan bisa meminta bantuan Bapak kamu."


Wira melanjutkan lagi penjelasannya. "Ibu bilang, dulu waktu di pabrik Bapak kerjaannya mengoperasikan mesin. Ya, kurang lebih sama. Nanti Bapak juga akan mengoperasikan mesin tapi mesin cuci koin. Itu pun kalau ada pelanggan yang tidak mengerti. Mudah bukan?"


"Beneran Bapak bisa kerja lagi?" tanya Dewi penuh haru. Membayangkan Bapak bisa bekerja lagi adalah impian Dewi. Bukan karena Dewi sudah lelah membiayai keluarganya. Ia hanya tak mau melihat Bapak terus menyesali diri karena dianggap kepala keluarga yang tak bisa bekerja. Kini, suaminya akan mewujudkan salah satu impian yang Dewi inginkan.


Wira mengangguk sambil tersenyum. "Sesuai janji aku sama Ibu. Kamu jangan berburuk sangka dulu. Ibu kamu juga memikirkan perasaan Bapak. Ibu memang masih kuat bekerja, tapi Ibu juga merasa sedih melihat Bapak yang ingin bantu bekerja tapi terbatas keadaan karena masih dalam proses penyembuhan pasca kecelakaan. Ibu tahu Bapak ingin bekerja lagi. Saat Ibu curhat sama aku, jujur aku kepikiran. Bagaimana caranya membuat lapangan pekerjaan buat Bapak,"


"Lalu Mommy membahas tentang bisnis plus plus kita. Aku jadi ada ide. Bagaimana kalau bisnis laundry kita merangkap segalanya. Ada nilai plus plus-nya. Bukan hanya laundry saja tapi bisa membuat Bapak bisa bekerja kembali,"


"Aku kembali teringat cerita Ibu kalau Bapak dulu bekerja sebagai operator mesin. Entah mengapa aku berpikir cepat dan mendapat ide kalau bisnis laundry kita akan keren kalau pakai koin dan ada petugas yang mengawasi, yakni Bapak."


"Aku jadi ingat film Mr. Bean. Ada cerita dimana Mr. Bean mencuci dan mesin cucinya itu mesin cuci koin. Aku cepat-cepat browsing dan benar saja ada yang jual. Ide itu mengalir saja dengan cepat. Saat Mommy dan Abi adu pendapat, aku cepat-cepat mencari tau dan jadilah konsep bisnis aku yang baru. Bisnis Plus Plus!"


"Keren!" hanya satu kata pujian yang bisa Dewi katakan. Sisanya dalam hati penuh akan ribuan kata pujian yang tak mampu ia ungkapkan karena terlalu banyaknya.


"Ada yang lebih keren lagi. Jadi, bisnis plus plus ini aku ciptakan karena menggabungkan beberapa impian menjadi satu. Pertama, laundry koin. Ini memang impian aku untuk mengembangkan bisnis laundry yang aku miliki saat ini,"


"Kedua, impian ibu-ibu tukang gosip di lingkungan kamu. Yang suka sama kangkung dan ikan kembung itu loh. Daripada mereka menggosip tak jelas, mereka bisa ambil pekerjaan sampingan sebagai pegawai jasa setrika pakaian. Lumayan menambah penghasilan dibanding hanya bergosip saja,"


"Ketiga, impian Mommy. Jadi, Mommy itu ingin punya bisnis yang jadi satu dengan keluarganya. Ada beberapa showroom Abi yang ada cafe Mommy juga. Nah, di bisnis plus plus ini, bisnis Mommy ada bareng bisnis aku dan Carmen."


"Carmen? Memang Carmen punya bisnis?" tanya Dewi.


"Rencananya. Anak itu punya ketertarikan membuka bisnis salon. Dalam bisnis plus plus nanti, akan ada salon yang ada di lantai atas laundry aku. Dimana ibu-ibu yang sedang menunggu cucian dicuci dan disetrika bisa memanjakan dirinya sambil di creambath atau pijit. All you can get kan? Jadi dalam satu tempat sudah mencakup semuanya."

__ADS_1


"Lalu Abi kamu?" tanya Dewi. "Bukankah ini impian semuanya? Kok Abi enggak diajak sih?"


"Abi cukup memodali kami saja! Itu saja sudah buat Abi garuk-garuk kepala. Modalnya lumayan besar tapi Abi mau kok membiayai."


"Wow... Keren banget sih ide kamu, Sayang! Lalu aku bisa bantu apa?" tanya Dewi.


"Kamu sih cukup pakai pakaian seksi dan menemani aku di kasur." goda Wira.


Dewi mencubit pinggang Wira yang langsung mengaduh kesakitan. "Aww! Sakit Cinta!"


"Aku lagi serius! Malah dibecandain." omel Dewi.


"Aku serius. Kamu cukup melayani aku saja. Itu sudah cukup buat aku!"


"Serius enggak?! Kalau enggak serius aku marah nih!" ancam Dewi.


"Begitu aja marah. Hmm... Jujur tugas kamu belum aku pikirin. Paling bantu aku mengaudit dan buat laporan keuangan."


"Aku? Aku enggak bisa?!" tunjuk Dewi pada dirinya sendiri.


"Bisa. Belum belajar aja! Otak kamu tuh encer dan cepat tanggap. Nanti aku yang ajari. Kita buat pembukuan untuk bisnis kita. Agar jelas mana modal milik Abi yang harus dikembalikan dan mana yang memang keuntungan kita. Sebagian keuntungan akan aku tabung untuk membuka bisnis baru nanti. Oh iya, Bahri juga bisa jadi jasa kirim laundry seperti sekarang. Kalau Ratna bisa bantu setrika untuk nambah uang jajan. Ibu tentu saja mengawasi laundry di ruko ini. Semua tercover bukan?"


Sampai sejauh itu Wira memikirkan keluarganya. Betapa lelaki judes ini super baik dan berhati bak malaikat.


"Baik sekali kamu, Sayang. Oke, aku akan melaksanakan kewajiban aku yakni melayani kamu dengan pakai pakaian seksi. Kamu mau yang mana?"


****

__ADS_1


__ADS_2