
"Beneran? Beneran lo cemburu sama gue?!" tanya Wira tak percaya.
Dewi yang merasa wajahnya sudah memerah menahan malu, mencoba melepaskan diri dan pergi secepat mungkin. "Saya gerah! Mau mandi!"
Wira malah menaruh satu tangannya di samping pinggang Dewi. Membuat posisi Dewi semakin terkungkung tak bisa pergi.
"Jawab dulu! Lo beneran cemburu sama gue?" tanya Wira lagi. Rasa penasaran dalam diri Wira begitu menggelegak. Harus mendapat jawaban baru ia akan puas.
"Saya gerah, Pak. Bau pula. Bau ketek nih! Mau cium?!" elak Dewi.
"Ntar gue cium kalo lo udah mandi. Gue cium dari ubun-ubun sampai kaki lo kalo perlu! Jawab dulu pertanyaan gue!" paksa Wira.
"Ih maksa banget! Kalo saya bilang cemburu Bapak mau apa? Kalo saya bilang enggak cemburu juga Bapak mau bilang apa?" tantang Dewi.
"Ya mau lo cemburu atau enggak tetap aja gue bikin lo meong meong nanti malam!" balas Wira.
"Nah, enggak ada bedanya kan? Udah ah saya mau mandi!" Dewi mencari celah agar bisa lolos dari kungkungan Wira. Tubuhnya kalah besar dibanding Wira.
"Jawab dulu! Lo mah ngeselin. Tiba-tiba ngasih pertanyaan udah gue jawab eh lo sendiri malah enggak mau jawab! Curang lo!" Wira tetap mencegah Dewi kabur.
"Ya saya cuma mau tau aja. Enggak salah kan kalo mau tau. Untuk menambah khasanah pengetahuan saya aja." elak Dewi.
"Khasanah apaan? Lo udah belajar ensiklopedia belum?"
"Tau ah! Gerah nih saya, Pak! Saya mau mandi!"
Akhirnya Wira mengalah. Dibukanya jalan untuk Dewi pergi. Dalam hati Wira terus bertanya tanya, apa maksud pertanyaan Dewi.
****
Keesokan harinya Wira membawa sebagian barang-barang yang sudah ia packing ke ruko. Untunglah kemarin Wira sempat meminjam mobil milik Tari untuk mempermudah proses pindahan.
Tari hari ini datang untuk meninjau langsung bagaimana awal bisnis anaknya. Ruko masih kosong namun sudah di sapu dan pel oleh Dewi sebelum berangkat kerja.
"Luas juga rukonya! Strategis pula! Tapi kenapa ruko strategis begini lama kosong ya? Mommy jadi curiga!"
"My! Apa sih ngomong kayak gitu! Ruko ini tuh kosong karena untuk harga sewanya jauh lebih mahal dibanding ruko yang lain. Makanya kalah saing. Daerah perkampungan begini kalo mahal dikit enggak laku!" jawab Wira.
__ADS_1
"Kalo ternyata banyak setannya gimana?" goda Tari. Tari sangat tahu anak lelakinya sangat penakut.
Wira menengok ke kiri dan kanan. "Mommy ah! Jangan nakutin deh!"
Tari tersenyum. "Baru begitu aja udah takut. Kok masih kosong? Kasur buat kalian tidur mana?" tanya Tari.
"Kasur? Ya Allah! Wira lupa!" Wira menepuk keningnya, menyadari kebodohannya melupakan benda penting dalam hubungannya dengan Dewi.
"Bagaimana sih kamu! Mau tidur dimana kalau enggak ada kasur! Mana boleh kasur di apartemen kamu pindahkan seenak hati!" omel Mommy.
"Wira udah pusing mikirin harga mesin cuci dan keperluan laundry yang lain, My! Sampai lupa sama kasur! Mana uang Wira udah tipis lagi!" Wira membujuk Tari dengan caranya, Wira tau Tari tak akan tega membuat anaknya kesusahan. "Atau pakai karpet aja kali ya tidurnya."
"Loh kok pakai karpet? Kalau masuk angin gimana?" tanya Tari dengan wajah khawatir.
"Mau bagaimana lagi, My. Wira udah keluar uang banyak untuk bisnis. Mommy mana mau memodali Wira! Terpaksa deh Wira harus hidup prihatin. Oh iya, kompor juga enggak ada! Terpaksa juga deh Wira dan Dewi makan Popmie aja yang cuma pakai air panas dari dispenser!" Wira kembali memasang wajah memelas.
"Jangan dong! Kesehatan itu penting! Masa sih gara-gara bisnis, kamu dan Dewi jadi sengsara begitu hidupnya?!"
"Enggak apa-apa, My. Wira dan Dewi masih muda. Kami pasti bisa melalui ini semua." perkataan Wira membuat Dewi merasa semakin bersalah.
"Sofa enggak ada juga, My. Kalau Mommy dan Abi berkunjung masa sih duduknya di lantai?!" bujuk Wira.
"Enggak! Mommy dan Abi tak masalah duduk di lantai! Jangan nyari kesempatan kamu atas kebaikan Mommy!" tolak Dewi.
"Rice cooker, AC, sama lemari es enggak ada, My. Semua ditinggal di apartemen. Sekalian aja My pesenin!" bujuk Wira lagi.
Tari semula hendak menolak, tapi melihat wajah Wira yang memelas membuat naluri seorang ibu dalam dirinya tak tega. "Yaudah! Mommy beliin karena itu hal yang penting."
Wira tersenyum penuh kemenangan. "Nah gitu dong! Mommy memang Mommy terbaik sepanjang masa! Mommy baik sekali sama aku!" ujar Wira seraya memeluk Mommy Tari, penyelamat hidup dan kantongnya.
Wira mengantar Tari pulang seraya mengambil motornya. Saat hendak mengeluarkan motor, Wira meragu. Ruko tempatnya tinggal nanti tak se-aman di apartemen. Bagaimana kalau motornya hilang? Apartemen sudah disewakan, jangan sampai motor kesayangannya juga hilang.
Wira melirik sepeda motor milik Tari. Meski agak ketinggalan jaman, namun masih bagus. Yang terpenting, aman ditaruh di depan ruko.
"Abi, Bi!" Wira memanggil Abinya.
"Kenapa sih?" tanya Abi seraya keluar dari kamarnya dengan memakai kain sarung.
__ADS_1
"Kunci motor dan STNK motor Mommy mana?" tanya Wira.
"Ada. Kenapa?" tanya Agas penuh selidik.
"Wira pinjam! Motor Wira taruh di sini aja!"
Agas tersenyum. "Ngikutin saran Abi ya?"
"Mau bagaimana lagi, ruko enggak aman untuk motor Wira. Lebih aman pakai motor Momny." jawab Wira.
"Nah gitu! Bisnis itu nyari duit, bukan buang duit." Abi masuk ke dalam kamar dan mengambilkan kunci motor dan STNK lalu memberikannya pada Wira.
"Abi rajin service kan? Jangan sampai pas Wira pakai malah rusak!"
"Iyalah! Abi merawat motor ini seperti Abi merawat cinta Abi sama Mommy kamu! Kamu juga harus merawatnya, jangan cuma bisa pakai saja enggak dirawat!" pesan Abi.
"Iya. Wira pinjam dulu! Titip motor Wira ya, Bi. Ya kalo Abi berkenan boleh lah motor Wira Abi ganti jadi Ferrari atau Lamborghini." goda Wira.
"Ngarep! Udah sana pulang! Udah malam!"
Perkataan Abi mengingatkan Wira akan perkataan Tari tadi siang. Kenapa ruko yang Wira tempati lama kosong padahal bagus. Apakah karena ruko-nya seram?
Mau ke apartemen, semua barang-barang sudah Wira pindahkan. Besok penghuni yang akan menyewa sudah pindahan. Tak mungkin ke apartemen lagi.
Wira mengemudikan motornya dengan pikiran galau. Mau pulang ke ruko namun takut, kalau tak pulang mau kemana?
Wira pun memutuskan berhenti di depan halte dekat cafe tempat Dewi bekerja. Ia menyalakan rokok miliknya dan menunggu sampai Dewi pulang kerja.
Sudah lama Wira tidak merokok. Untuk mengisi waktu, memang merokok salah satu hal terbaik.
Hampir dua jam Wira menunggu sampai akhirnya lampu cafe dimatikan dan beberapa pegawai mulai pulang. Yang ditunggu akhirnya datang juga.
Dewi yang celingukan mencari angkot melihat Wira yang melambaikan tangannya. Agak ragu karena tak ada motor sport yang biasa Wira kendarai. Berganti menjadi motor matic yang bukan selera Wira banget.
"Loh, beneran Pak Wira toh?!"
****
__ADS_1