Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Mengenal Mommy


__ADS_3

Dewi mengikuti Wira masuk ke dalam rumah. Pertanyaannya tidak terjawab, namun Dewi bisa menduga apa maksud jawaban Wira dengan kata terserah. Sama seperti menduga hati seorang perempuan jika ditanya dan menjawab terserah. Definisikan saja sendiri.


Di dalam rumah, Dewi yang hendak mengikuti Wira masuk ke dalam kamar menghentikan langkahnya saat melihat sang ibu mertua sedang sibuk di dapur. "Pak, saya bantuin Ibu Tari dulu ya!" ujar Dewi.


Lagi-lagi si lelaki cuek dan masa bodoh itu cuma menjawab, "Terserah!"


Sungguh jawaban yang benar-benar membuat orang males, tapi karena Dewi sudah terbiasa dengan sikap dan sifat Wira, Dewi tak ambil pusing. Ia pun menghampiri Tari yang sedang sibuk memasak di dapur seorang diri. Rupanya Carmen, anak perempuan Tari tidak begitu suka memasak dan malah memilih menghabiskan waktunya untuk olahraga di atas.


"Ada yang bisa Dewi bantu, Bu?" tanya Dewi dengan sopan.


Tari tersenyum melihat sikap ringan tangan yang ditunjukkan oleh Dewi. "Boleh. Kamu bisa bantu mengupas tentang ini? Mommy mau buat sambal kentang ati, salah satu makanan kesukaan Wira, mau?"


Dewi senang melihat niat baiknya disambut oleh Tari. Dengan cepat ia pun menjawab pertanyaan dari mertuanya tersebut. "Mau, Bu."


"Kok Ibu sih? Kamu tuh sekarang udah menjadi menantu Mommy. Panggilnya juga harus sama dong dengan anak-anak Mommy. Kamu manggilnya jangan Ibu lagi dong. Panggil Mommy. Biar sama kayak Wira dan Carmen. Kalian kan anak-anak Mommy. " ujar Tari dengan penuh kelembutan.

__ADS_1


Tentu saja mendengar perkataan dari Tari membuat Dewi sangat bahagia. Ia merasa kalau dirinya diterima oleh Tari. Selama ini Dewi merasa minder dan rendah diri jika berhadapan dengan keluarga Tari. Mereka adalah keluarga yang kaya raya dan punya banyak uang. Memiliki menantu banyak hutang dan berasal dari keluarga susah tentu saja membuat Dewi selalu merasa kalau mereka berbeda kelas.


Ternyata sikap Tari tidak menunjukkan apa yang ia khawatirkan selama ini. Tari bersikap ramah dan menerima dirinya sebagai menantu meskipun berbeda kelas. Dewi sangat senang sekali sudah menjadi bagian dari keluarga Wira.


"Iya, My."


Dewi lalu mengambil pisau dan mulai membantu mengupas kentang sesuai apa yang Tari perintahkan. Sesekali Dewi melirik apa yang dilakukan oleh Tari. Mertuanya tersebut memang sangat cekatan dan lihai di dapur. Ilmu memasaknya akan dijadikan contoh oleh Dewi.


"Kenapa kamu ngeliatin Mommy terus dari tadi " tanya Tari yang rupanya sadar kalau dirinya sejak tadi sudah menarik perhatian Dewi.


"Aku suka ngeliat Mommy yang jago banget masak. Aku jadi tambah ilmu. Aku suka masak, tapi ya menu standar aja. Kalau Mommy kan hebat, makanya cafe Mommy selalu ramai pengunjung. Semua karena masakan Mommy yang disukai banyak orang dan enak." jawab jujur Dewi.


"Mommy lihat kayaknya kamu tertarik dengan dunia memasak deh. Beda sekali dengan anak Mommy, Carmen. Anak itu lebih suka jajan dibanding memasak, padahal anak perempuan. Mommy jadi nggak ada temennya deh memasak. Untung aja sekarang ada kamu. Ada yang menemani Mommy memasak, bukan hanya tinggal terima beres aja di meja makan seperti tiga anggota keluarga Mommy yang lain tuh!"


Dewi makin senang mendengar kata-kata bernada pujian yang diucapkan oleh Tari. "Ah Mommy bisa aja. Nanti Mommy ajarin aku memasak ya! Biar aku makin jago dan bisa masakin Pak Wira di rumah."

__ADS_1


"Tentu dong sayang. Eh kok kamu manggilnya masih Pak Wira sih? Panggilan ke suami itu yang mesra dong! Kamu kayak Mommy saja nih! Dulu Mommy juga manggil Abi dengan sebutan Om. Jadi keterusan deh, kalau punya anak enggak mungkin dong manggil suami sendiri dengan sebutan Om?! Mommy belajar tuh sedikit demi sedikit memanggil Abi sampai sekarang deh. Kamu juga ya! Belajar sedikit demi sedikit memanggil Mas atau Abang atau Papa atau kata-kata panggilan sayang yang lain." pesan Tari.


"Iya, My. Nanti aku belajar sedikit-sedikit untuk merubah panggilan ke Pak Wira. Cuma aku takut, kalau aku terbiasa memanggil dengan panggilan lain nanti di tempat kerja aku jadi kebiasaan. Aku nggak enak aja kalau sampai teman-temanku tahu tentang hubungan kami." jawab jujur Dewi.


"Kamu masih mau bekerja? Mommy pikir kamu mau mengurus keluarga kamu di rumah dan melepaskan pekerjaan di cafe?!" Tari mengambil kentang yang sudah Dewi kupas dan potong-potong untuk kemudian ia cuci dan goreng dengan minyak banyak.


"Memangnya tidak boleh ya, My? Apa aku harus di rumah aja?!" tanya balik Dewi.


"Bukan tidak boleh. Lebih baik kamu kalau sudah menikah ya di rumah aja mengurus rumah tangga. Mommy sih nggak ngelarang kamu mau kerja atau enggak. Saran aja. Mommy juga kerja kok. Tapi Mommy itu kerja dari rumah. Mungkin waktu awal-awal merintis usaha, Mommy masih sering kursus dan meninggalkan Wira dalam pengasuhan Abinya. Tapi setelah selesai kursus Mommy bekerja dari rumah. Mommy bisa mengawasi anak-anak Mommy dan bisa mengawasi bisnis yang mau dijalankan juga. Sebaiknya sih, kamu bekerja dari rumah, itu saran dari Mommy. Enggak kamu turutin juga enggak masalah."


"Aku juga maunya begitu, My. Apa daya, keluargaku masih butuh uang dari hasil aku bekerja. Mommy kan tahu, aku anak pertama dan juga menjadi tulang punggung keluarga. Pak Wira sih nggak pernah melarang aku mau bekerja atau enggak. Aku bekerja semata-mata demi keluarga. Kalau aku nggak kerja, siapa yang akan bantu keluarga aku buat membayar biaya hidup sehari-hari. Adik aku masih sekolah. Tentu saja butuh biaya. Karena itu aku mutusin tetap bekerja, My."


Tari terdiam mendengar penuturan jujur dari Dewi. Ia merasa salah karena sudah menyamakan hidupnya dengan Dewi. Semenjak menikah dengan Agas, ia terlepas dari jerat bapak tirinya. Namun Dewi berbeda, setelah menikah dengan Wira, Dewi masih terjerat dalam keluarganya yang membutuhkan banyak biaya.


Tari sadar dirinya tidak bisa memaksakan Dewi harus menjadi menantu yang seperti apa. Untuk anak seusia Dewi, pemikiran Dewi sudah lumayan matang. Banyak anak seusia Dewi yang lain masih asik bermain dan nongkrong dengan teman-temannya. Dewi mana sempat seperti itu, ia harus bekerja. Kalau tidak bekerja, bagaimana nasib keluarganya?

__ADS_1


Sadar akan kesalahannya, Tari pun meminta maaf. "Maafin Momny ya sayang. Mommy pikir kita mirip, namun ternyata kita berbeda. Mommy sudah banyak memaksakan kehendak Mommy sama kamu. Mommy percaya semua keputusan yang kamu ambil pasti sudah kamu pertimbangkan. Mau kamu bekerja atau tidak, semua terserah kamu. Mommy cuma mau, kamu bisa membagi waktu antara pekerjaan dengan kehidupan berumah tangga kamu."


***


__ADS_2