
"My! Jadi anak kita kenapa dong? Mommy dari tadi ngelus dada dan istighfar terus! Wira ngapain sih sampai Mommy segitu harus menahan sabar?" tanya Agas yang tak sadar diri.
"Bi, Mommy sebenarnya kesal dan marah dengan apa yang Wira lakukan. Tapi kayaknya Abi malah jauh lebih bikin Mommy kesel dibanding Wira!" omel Tari yang akhirnya tak kuat menahan kesabarannya.
"Abi bikin kesel? Serius? Wajah ganteng begini bisa gitu bikin Mommy kesel?" goda Agas. Memang kelakuan suaminya suka membuat Tari geleng-geleng kepala. Bisa dengan mudah terlihat emosian tapi dalam sekejap malah berubah menjadi mengajak becanda.
"Serius ini, Bi! Anak kita Wira udah nikah!" ujar Tari.
"Nikah? Si Bangor nikah? Hua...ha...ha...ha..." Agas tertawa kencang mendengar perkataan Tari.
Lagi-lagi Tari mengelus dada dengan kelakuan suaminya. Sudah diberitahu kenyataan yang sebenarnya eh malah enggak percaya!
Tari terus menatap Agas yang menertawai ucapannya tanpa ekspresi sama sekali. Membuat Agas menghentikan tawanya dan perlahan menyadari kalau Tari berkata serius.
"Eh... Mommy serius? Enggak becanda? Tunggu... tunggu! Tadi Mommy bilang Wira nikah? Beneran? Nikah sama siapa? Kucing tetangga?!" masih saja Agas menggoda Tari.
Tari tetap tak bereaksi. Ia tetap tanpa ekspresi, membuat Agas tak enak hati. Barulah Agas menyadari kalau Tari serius dan ini bukan waktunya becanda. "Beneran... Udah nikah si Bangor, My? Sama siapa? Tunggu, LOH KOK BISA WIRA UDAH NIKAH? SIAPA YANG IJININ? CEWEK MANA YANG DIA NIKAHIN? KAPAN NIKAHNYA?"
Tari kembali menghirup udara banyak-banyak dan memenuhi paru-parunya, bukan hanya dengan udara namun Ia sekalian memenuhi stok sabarnya.
"Dewi!" jawab Tari dengan tenang. "Nama wanita yang dinikahi Wira adalah Dewi. Wira merahasiakan semuanya dari kita berdua dan sepertinya dari keluarga Dewi juga."
"Dewi?" Agas mulai menurunkan suaranya. Ia tak mau terkesan sedang membentak-bentak istrinya. Ia tak mau menyakiti Tari, istri tersayangnya. "Dewi mana? Siapa orang tuanya? Kerja apa? Model? Artis? Atau teman kencannya?"
"Kok Abi tau teman kencan Wira? Jangan-jangan Abi tau bagaimana kelakuan Wira di belakang kita?!" interogasi balik Tari.
"Kalau itu sih... Nebak aja, My. Dulu kan Abi kayak gitu jadi sedikit banyak tau lah! Apalagi anak muda jaman sekarang semakin aneh."
"Abi kenal kok sama Dewi." jawab Tari membuat Agas makin penasaran saja.
"Abi kenal? Anak teman Mommy? Anak pejabat? Atau artis pendatang baru? Bukan Dewi Sanca dong pastinya!"
__ADS_1
Tari kembali mengelus dadanya. Sudah Ia duga, memberitahu suaminya pasti akan makan hati. Ini belum diberitahu semua sudah bikin kesal, apalagi saat Tari membongkar semuanya?
"Bukan ya?" tanya Agas saat Tari tak menjawab pertanyaannya. "Siapa dong? Dewi Persik? Atau Dewi Setia Ningrum juragan sate dari Yogyakarta?"
"Bukan!" jawab Tari dengan sebal. Rasa sedih yang Ia rasakan sejak semalam sudah berubah menjadi rasa sebal.
"Lalu siapa? Banyak yang namanya Dewi, My. Istrinya Pak RT aja namanya Dewi! Lalu itu... Yang waktu itu Mbak Inah masukkin kerja juga namanya Dewi. Abi jadi bingung Dewi yang ma-" belum selesai Agas berbicara, sudah Tari potong.
"Iya itu! Dewi yang Mbak Inah masukkin kerja." jawab Tari.
"Jangan becanda, My! Mereka mana kenal?! Dewi kan hanya satu dari sekian banyak karyawan kita! Mana hafal si Bangor itu?!" kata Agas tak percaya.
"Tentu saja akan hafal. Dewi cantik, Bi! Mana mungkin anak kita yang sejak kecil sudah terobsesi dengan nen dan tewe seksi tidak hafal?" cibir Tari.
"Mommy serius? Dewi-nya Mbak Inah? Mereka nikah? Bohongan kali, My! Settingan kayak artis-artis!" lagi-lagi Agas tak percaya.
"Terserah lah kalau Abi enggak percaya!" Tari lalu turun dan mengambil tas miliknya. Ia mengeluarkan kertas berisi surat perjanjian milik Wira yang semalam Ia bawa pulang dan juga Hp miliknya.
Tari menunjukkan Hp miliknya, tepatnya Tari menunjukkan foto yang manager cabang Bandung kirimkan untuknya. "Liat mukanya baik-baik! Itu Dewi Puspitasari. Gadis yang Mbak Inah kenalkan dan kita berdua terima bekerja!"
Agas memperhatikan foto yang Tari berikan. Tari pun kembali memberitahu tentang foto tersebut. "Mereka pergi bersama ke Bandung!"
"Iya sih ini Dewi. Tapi bisa aja kan mereka hanya teman dekat?" Agas menaruh Hp milik Tari di samping nakas tempat biasa Tari menaruhnya.
Tari pun kehilangan kesabarannya. Ia memberikan kertas yang sejak tadi Ia tahan untuk diberikan. "Nih! Abi baca sendiri!"
Agas menerima kertas yang Tari berikan lalu mulai membacanya. Keningnya yang sudah mulai ada kerutan, jadi bertambah kerutannya saat membaca. Kerutannya bertambah dalam manakala membaca isi perjanjian yang tak masuk di akal itu.
"Mommy serius si Bangor itu bukan sedang jahil aja?" tanya Agas yang kini sudah terlihat serius. Tak ada lagi ulah jahil yang Agas keluarkan kalau berhadapan dengan masalah serumit ini.
Tari mengangguk. "Mereka sudah nikah siri, dinikahi oleh adiknya Dewi. Entah bagaimana dan kapan pernikahan itu mereka lakukan, yang jelas anak kita sudah membohongi kita, Bi!" kata Tari dengan nada kecewa.
__ADS_1
Agas pun berdiri dari duduknya. Wajahnya nampak sangat marah dengan apa yang putranya lakukan. "Kita ke apartemen Wira sekarang!" ujar Abi dengan tegas.
"Oke! Mommy ganti baju dulu!" kata Tari mengiyakan.
Agas mengambil jaket miliknya dan menunggu Tari di dalam mobil. Pikirannya berkecamuk.
Wira anaknya, kenapa melakukan apa yang Ia lakukan dulu?
Apakah ini karma?
Ataukah ini memang karena dirinya yang tak becus mendidik anaknya sendiri?
"Ya Allah! Aku lagi-lagi gagal!" Agas menyandarkan kepalanya di jok mobil. Air mata mulai menetes dari kedua kelopak matanya. Air mata yang sejak tadi disembunyikan di depan Tari. Air mata kegagalan yang terasa amat menyakitkan baginya.
"Aku harus apa?" tanya Agas pada dirinya sendiri.
Hilang sudah wajah ceria dan suka becanda dalam diri Agas. Berganti dengan rasa penyesalan karena menganggap dirinya gagal dalam mendidik anak.
"Apa semua ini adalah balasan atas perbuatanku di masa lalu? Apa semua ini pelajaran untukku karena sudah banyak menyakiti hati para gadis?" ratap Agas.
Agas mendengar suara pintu rumah ditutup. Cepat-cepat Ia mengambil tisu dan menghapus air mata di wajahnya. Ia seorang pemimpin rumah tangga. Tak boleh cengeng, tak boleh lemah.
"Ya, aku harus menghadapi semuanya. Jika ini adalah pusaran takdir akibat kelakuanku di masa lalu, maka aku akan hentikan di Wira." Agas menghela nafas berat. "Maafin Abi, Wira. Toh semua ini demi kebaikan kamu!"
Agas membukakan pintu untuk Tari. Diam-diam Tari memperhatikan raut wajah serius Agas.
"Abi akan melakukan apa terhadap Wira?"
****
Hmm... Abi ngelakuin apa ya? kalau kalian vote dulu yuks! Jangan lupa like dan komen ya! Maacih 😘😘😘
__ADS_1