Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Musyawarah-1


__ADS_3

Wira sudah biasa melihat ulah Abi-nya yang selalu menjadi pusat perhatian dimana pun Abi berada. Mommy Tari pun demikian. Sudah tak ada rasa cemburu dalam diri Tari. Sudah biasa, itu yang Mommy Tari katakan.


Kali ini Mommy Tari menekuk wajahnya. Hanya tinggal beberapa langkah mereka sampai ke rumah Dewi, eh Abi Agas malah tebar pesona ke ibu-ibu tukang rumpi. Membuat perjalanan ke rumah Dewi harus mengalami gangguan sebentar.


Untunglah Wira berteriak memanggil Abi dan membuat kerumunan bubar. Sambil melambaikan tangan kepada para fans, Agas mengikuti Tari yang menarik tangannya.


"Jangan kecentilan kek, Bi! Kita udah di depan rumah besan! Apa kata mereka kalau tau besan mereka suka tebar pesona?!" gerutu Tari.


"Justru mereka akan bangga dengan Abi, My. Besan mereka jadi idola para ibu-ibu. Abi akan membuat nama mereka semakin harum saja!" jawab Agas dengan santainya.


"Hush! Inget umur! Kita tuh sedang dalam mode mau melamar ke rumah besan! Jangan malu-maluin!" omel Tari.


Tari berhenti sejenak dan berbalik badan. "Mana lagi si Carmen?!" Tari celingukan mencari keberadaan putrinya.


Carmen berjalan dengan santai sambil makan cilok. Mbak Inah mengikuti majikannya dengan sabar sambil membawa paper bag berisi kue yang Tari beli dari salah satu toko kue terkenal.


Tari geleng-geleng kepala dengan ulah anak bungsunya tersebut. Selain hobby jalan-jalan, Carmen sangat suka dengan jajanan SD. Mungkin karena selalu bersekolah di sekolah elit yang jarang tukang jualannya, Carmen jadi agak norak kalau melihat jajanan SD.


"Kamu ngapain sih Sayang beli jajanan banyak kayak gitu?! Bukannya kamu udah sarapan tadi di rumah?" tegur Tari.


"Sarapan beda sama ini, My. Ini tuh cemilan. Enak banget rumah Kak Dewi, banyak makanannya. Aku beli aja. Ini ada cilok, kue ape sama kue cubit. Nanti pulangnya beli lagi ya, My!" kata Carmen penuh semangat.


Tari kembali geleng-geleng kepala melihat ulah anak gadisnya. Sudah besar tapi lemah sekali kalau melihat jajanan SD. Bagaimana cowok akan memandangnya? Cantik-cantik kok hobby ngemil jajanan SD?


"Sudah disimpan dulu! Malu kamu tuh udah gede!" omel Tari.


"Yah... Mommy! Tanggung! Enggak enak kalau dimakan dingin!" protes Carmen.


"Kayaknya enak tuh, Abi boleh nyoba enggak?" Agas membuka mulutnya dan Carmen langsung menyuapi cilok yang sedang ia makan. "Enak! Nanti ingetin Abi ya, pulangnya kita beli lagi!"


"Iya, Bi! Enak ini. Berasa mecinnya!" ujar Carmen.

__ADS_1


"Hei! Kalian berdua! Kita mau ke rumah besan loh! Tolong jaga sikap!" omel Tari. "Carmen! Cepat habiskan yang kamu makan, sisanya dimakan di rumah saja!"


Kedua Bapak dan anak tersebut mengangguk patuh. Kalau Tari sudah bertitah, tak ada yang bisa menentangnya. Cepat-cepat Carmen menghabiskan sisa cilok yang ia makan lalu membuang bungkus plastiknya di salah satu tempat sampah di depan rumah kontrakkan. "Udah selesai, My!"


"Bagus! Ayo kita masuk! Kakak kamu sudah melambaikan tangannya sejak tadi!" ajak Tari.


Tari beserta rombongan pun berjalan lagi ke kontrakkan Dewi yang hanya tinggal beberapa langkah. "Assalamualaikum!" ucap Agas sebelum masuk.


"Waalaikumsalam!" jawab keluarga Dewi.


"Silahkan masuk Pak... Bu!" ujar Bapaknya Dewi mempersilahkan. "Maaf rumahnya kecil."


"Tak apa, Pak. Permisi!" Agas masuk terlebih dahulu ke dalam rumah diikuti Tari, Carmen dan Mbak Inah. Mereka saling bersalaman dan duduk di karpet yang sudah disediakan.


"Silahkan duduk, Pak!" ujar Ibunya Tari mempersilahkan.


Setelah semua duduk, Agas pun mulai berbicara. Menyampaikan maksud dan tujuan kedatangan keluarganya ke rumah Dewi.


"Perkenalkan saya Abi-nya Wirata. Nama saya Agas." Abi menunjuk dirinya sendiri. "Lalu wanita cantik yang duduk di samping saya adalah Mommy-nya Wira, Tari."


Tari menganggukkan kepalanya seraya tersenyum saat namanya disebut oleh Agas.


"Lalu anak gadis cantik di sebelahnya adalah putri saya yang juga adiknya Wira, Carmen!" Abi kini memperkenalkan Carmen.


Carmen melakukan hal yang sama. Menganggukkan kepalanya dan tersenyum.


"Kalau sebelah Carmen pasti Bapak dan Ibu sudah kenal. Mbak Inah ini adalah asisten rumah tangga yang sudah saya anggap sebagai keluarga sendiri. Lalu anak laki-laki yang gantengnya beda tipis itu adalah anak pertama saya, Wira." Abi menunjuk ke arah Wira yang tersenyum sambil menahan rasa sebal atas kelakuan Abi-nya. Lebay seperti biasa.


"Kalau begitu, gantian saya yang memperkenalkan keluarga saya." ujar Bapaknya Dewi. "Nama saya, Cipto. Saya Bapaknya, Dewi. Ini istri saya Sari. Lalu anak pertama saya Dewi, di sebelahnya Bahri anak laki-laki saya satu-satunya dan anak bungsu saya Ratna."


Wira menahan senyumnya. Ia mau menertawakan Abi karena terlalu lebay dalam berkenalan. Tak seperti Bapaknya Dewi yang singkat dan padat.

__ADS_1


"Saya lagi ya yang berbicara?!" tunjuk Agas pada dirinya sendiri. Bapaknya Dewi pun mengangguk.


"Oke. Tujuan kedatangan kami ke rumah Bapak Cipto dan Ibu Sari adalah untuk membicarakan tentang hubungan kedua anak kita Wira dan Dewi. Rupanya kedua anak kita sudah saling mencintai dan tak sabar membendung gelora cinta yang amat besar dalam diri mereka sehingga-" belum selesai Abi bicara, Tari sudah mencubit pinggangnya.


"Jangan lebay!" bisik Tari memperingati.


Abi pun menurut. Ia tak lagi membesar-besarkan perkataannya. "Ya intinya kedua anak kita berdua sudah melakukan pernikahan siri tanpa sepengetahuan kita, selaku kedua orang tuanya."


"Nah gitu, to the point! Jangan kebanyakan muter-muter!" bisik Tari pelan.


"Udah diem! Abi lagi ngomong!" omel Abi juga sambil berbisik.


Abi pun kembali meneruskan perkataannya. "Mungkin karena jiwa muda mereka, tak memikirkan bagaimana pendapat kita sebagai orang tua. Namun yang berlalu biarlah berlalu. Kekecewaan kita lebih baik diganti dengan untaian doa agar kehidupan rumah tangga mereka selalu diberi kebahagiaan, betul?!"


"Betul!" jawab semua orang di ruangan dengan kompak.


"Agar pernikahan mereka langgeng sampai maut memisahkan, betul?" tanya Agas lagi.


"Betul!" lagi-lagi semua menjawab kompak.


Tak ayal sebuah cubitan di pinggang pun Agas dapatkan dari Tari. "Jangan kebanyakan ngebanyol! Serius!" bisik Tari.


"Aww! Sakit, My!" protes Agas.


"Makanya serius!" omel Tari lagi sambil melepaskan cubitannya.


Wira yang melihat ulah kedua orang tuanya pun mengelus dada. "Ya Allah, tolong biarkan momen ini terjaga keseriusannya dari ulah Abi, aamiin!" doa Wira dalam hati.


"Ehem!" Agas berdehem untuk mengatur suaranya. "Tentu pernikahan mereka tak bisa dirahasiakan terus menerus. Harus ada payung hukum yang melindungi agar tak ada salah satu pihak yang dirugikan. Jadi, saya dan keluarga saya ingin melegalkan pernikahan Dewi dan Wira di mata hukum. Bagaimana pendapat keluarga Bapak?!"


****

__ADS_1


__ADS_2