Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Bisnis Plus Plus yang Sukses


__ADS_3

Dewi dan Wira pun pamit pada Tari dan Agas serta Carmen. Tari mengijinkan Dewi kembali ke ruko dengan syarat Dewi harus menjaga dirinya.


Dewi pun mengiyakan syarat dari Tari. Mertuanya pun memeluknya sekali lagi untuk memberinya dukungan.


Dewi kembali ke ruko dan menatap sedih tempat ia terjatuh yang menyebabkan dirinya kehilangan janin dalam kandungannya. Wira merangkul Dewi, "Pulang ke rumah juga! Enggak mau puter balik ke rumah Mommy 'kan?"


Dewi menggelengkan kepalanya. "Ini rumah kita sekarang. Meskipun banyak kenangan sedih, tapi kita merintis semuanya dari nol di tempat ini."


Wira tersenyum seraya mengusap kepala Dewi dengan lembut. "Kamu benar! Ayo kita masuk!"


Hari-hari berikutnya Dewi dan Wira sibuk dengan bisnis mereka. Dewi double job, membuat laporan di laundry lama dan bisnis plus plus yang baru. Meski masih menggunakan anggaran biaya dan laporan pembelian barang sederhana, Dewi sudah mulai jago membuatnya. Sedikit demi sedikit Dewi makin jago dengan laporan yang ada.


Pekerjaan yang Dewi lakukan membuat tugas Wira sedikit berkurang. Ia bisa mengerjakan pekerjaan di cafe Mommy dan showroom Abi sebelum malam.


Keduanya benar-benar fokus bekerja. Melupakan kesedihan karena kehilangan anak pertama mereka.


Sampai akhirnya tibalah waktu pembukaan bisnis plus plus pertama mereka. Untuk menarik minat, sengaja Wira menamai laundry dengan kata plus plus di belakangnya.


Logo laundry, salon dan cafe juga dibuat penuh warna. Menarik perhatian siapapun yang melewati depan ruko.


Kalau menurut Wira, kesan pertama begitu penting. Menentukan apakah ada minat atau tidak. Lalu yang kedua adalah servicenya. Kalau kesan pertama oke namun kesan kedua mengecewakan, tetap saja pembeli tak akan kembali lagi.


Selain itu, Wira lagi-lagi memakai strategi marketing level s3. Kali ini ia beriklan di akun gosip. Menyasar target ibu-ibu yang berprofesi sebagai karyawan tukang gosip.


Benar saja, saat pembukaan pertama bisnis plus-plus sangat ramai pengunjung. Ibu-ibu yang ingin mencuci di mesin cuci coin sambil menikmati facial wajah atau nongkrong cantik di cafe berdatangan.


Area parkir luas yang Wira sediakan bahkan sampai penuh. Tukang parkir juga kebagian rejeki. Lumayan satu mobil membayar lima ribu, kalau dua puluh mobil sudah mengantongi seratus ribu! Lagi-lagi Wira membuka ladang pekerjaan untuk orang lain lewat bisnis yang ia buat.

__ADS_1


Kesan pertama pengunjung yang datang adalah satu kata, nyaman. Konon, kenyamanan itu bisa bernilai mahal. Bayangkan saja, mencuci baju bisa sekalian nyalon dan nongkrong di cafe. Modalnya pasti besar. Karena itu sasaran Wira adalah karyawan yang sibuk mencari uang namun tak mau ribet dengan kewajibannya mencuci pakaian.


Abi dan Mommy yang datang berkunjung setelah sebelumnya mengirimkan karangan bunga super besar pun merasa puas dengan hasil pekerjaan Wira. Benar-benar mengubah bisnis laundry menjadi naik kelas.


Bapaknya Dewi yang sejak tadi melayani pembelian koin terus tersenyum sambil ikhlas melayani pelanggan. Bisa bekerja lagi adalah impiannya. Berkat Wira ia kembali bisa menegakkan kepalanya sebagai pemimpin rumah tangga, setelah sebelumnya hanya bisa menunduk karena dianggap sebagai beban keluarga saja.


"Silahkan, Bu. Mesin cuci nomor tiga bisa dipakai." ujar Bapak dengan ramah.


"Terima kasih, Pak." ujar pelanggan dengan senyum penuh terima kasih.


Dewi memperhatikan semuanya. Melihat Bapak yang semangat bekerja seperti dulu membuat senyum bahagia terukir di wajah Dewi.


Pembukaan bisnis hari pertama benar-benar ramai dikunjungi pelanggan. Rasanya tak habis-habis pelanggan yang datang. Semua ingin mencoba bisnis all in one yang memudahkan bagi orang sibuk.


Ibu penggemar kangkung dan penggemar kembung juga menyetrika baju dengan senang. Waktu yang biasanya mereka habiskan untuk bergosip, kini lebih baik untuk bekerja. Lumayan uangnya untuk ditabung beli emas di pasar lama.


Ternyata benar perhitungan Wira. Tanpa promo bisnis tetap ramai. Semua karena suasana yang enak dan pelayanan yang bagus membuat pelanggan kembali lagi.


Dewi yang semakin jago membuat pembukuan sudah Wira percayai membuat pembukuan bisnis baru. Wira fokus memegang showroom Abi dan cafe Mommy.


Setahun setelah pembukaan bisnis pertama, Wira akhirnya mampu membuka dua cabang lagi. Wira tidak meminta modal dari kedua orang tuanya. Ia menjual apartemen impiannya karena yang menyewa ternyata jatuh hati dan mau membayar mahal.


Uang dari menjual apartemen digunakan untuk modal membuat dua cabang bisnis plus plus yang baru. Masih menggunakan jasa teman-teman Bahri untuk mendekor ruko dan mempekerjakan ibu-ibu sekitar untuk jasa setrika pakaian.


Wira juga memperkerjakan Ratna dan Bahri untuk menjaga salah satu bisnisnya. Ratna bekerja mulai siang sepulang sekolah karena Bahri kuliah siang dan sore.


Untuk bisnis yang satu lagi, Wira mempekerjakan karyawan baru. Sudah tidak ada yang bisa menghandle lagi, sementara pelanggan semakin banyak dan meminta dibuka cabang baru yang lebih dekat rumah.

__ADS_1


Wira dan Dewi masih tinggal di ruko seperti sebelumnya. Mereka sudah menganggap ruko sebagai rumah mereka sendiri. Karena sibuk, Wira dan Dewi jarang memiliki waktu berdua. Mereka tidak bertengkar, hanya terlalu lelah bekerja saja.


Terkadang, Wira pulang pagi dan menghabiskan siangnya dengan tidur sementara Dewi harus ke ruko yang lain memeriksa laporan. Saat Dewi pulang, Wira sudah pergi bekerja kembali. Tak ada waktu berdua lagi. Mereka seakan ingin mengubur kesedihan dengan bekerja dan bekerja.


****


...**Setahun kemudian ...


...(Dua tahun setelah Dewi keguguran**)...


Wira turun dari mobil Mini Cooper warna biru muda miliknya. Wira akhirnya bisa membeli sendiri mobil impiannya. Mobil pemberian Abi, ia berikan untuk Dewi.


Hari ini kerjaannya sedang senggang. Ia ingin pulang cepat dan menghabiskan waktu dengan istrinya tercinta.


Wira memarkirkan mobil miliknya di depan ruko. Wira turun dari mobil dan membuat beberapa gadis SMA yang melihatnya terpesona.


Wira sudah memasuki usia 24 tahun. Sudah bukan lagi anak lelaki manja seperti dulu. Bukan lagi anak lelaki tukang malak dan suka membuat Mommy menunduk malu atas kelakuannya.


Ya, Wira sudah bertambah dewasa. Ketampanannya semakin terlihat nyata. Tubuhnya semakin kekar saja karena di sela kesibukannya, Wira masih menyempatkan diri berolah raga di gym. Wira mau tetap sehat agar tidak menyusahkan orang di sekitarnya. Banyak yang menggantungkan hidupnya di bisnis yang ia rintis.


Wira mengucapkan salam pada mertuanya yang sedang mendata baju yang sudah selesai di setrika. Ia salim pada mertuanya seraya mengajak mengobrol sebentar sebelum naik ke atas.


"Dewi belum lama pulang. Kayaknya kecapekan banget dia. Katanya laporan di laundry yang cabang kedua selisih. Baru saja ia bereskan." lapor Ibu Sari.


"Coba aku tanya dulu ya Bu ke atas. Aku permisi dulu!" ujar Wira.


Ia menaiki anak tangga ruko miliknya dan masuk ke dalam kamar. Nampak Dewi sedang khusyuk sholat. Tak mau mengganggu, Wira langsung ke kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.

__ADS_1


****


__ADS_2