Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
The End


__ADS_3

Dua tahun kemudian...


"Daddy!" panggil seorang anak kecil berwajah tampan yang sudah mulai lancar berjalan.


"Apa Sayang?" Wira berjongkok menyamakan tingginya dengan sang buah hati tercinta.


"Apa itu big papaya dan big banana?" pertanyaan polos dari bibir mungil malaikat kecil tanpa dosa membuat Wira memutar otaknya.


"Itu... Buah-buahan dengan kualitas super bagus. Tidak semua petani memiliki big banana dan big papaya! Hanya yang terpilih saja!" jawab Wira yang dengan cepat mengarang jawaban yang melintas di kepalanya.


"Sepelti Mommy dan Daddy?"


Wira mengangguk dan menyadari kesalahannya. "Bukan. Maksudnya Mommy dan Daddy itu beli dari petani yang menjual big banana dan big papaya! Seperti itu."


Wira menghela nafas lega. Hampir saja dia melakukan hal bodoh!


"Aku mau makan big banana boyeh?!"


Wira menggendong putranya dan mencium pipi sang putra yang wangi sehabis mandi. "Boleh dong! Tapi yang biasa saja ya! Jangan yang big! Nanti kenyang. Ayo kita ambil di meja makan!"


Wira memangku anaknya yang asyik memakan pisang seraya memperhatikan Dewi yang sibuk menyiapkan sarapan. "Kamu mau bawa makan tidak, Sayang?"


"Mau Cayang!" jawab sang buah hati sebelum Wira menjawab.


"Tuh kamu sih jadi ikutan 'kan anaknya!" tegur Wira.


"Maaf." Dewi menghampiri putranya dan mulai menjelaskan. "Mommy nanya Daddy, Sayang! Daddy mau bawa makan atau tidak?"


"Mau." jawab Wira.


"Baby mau juga? Nanti Mommy buatkan makan untuk Baby!"


"Mau. Sama kayak Daddy!"


"Oke! Sekarang duduk di tempat duduk kamu yang manis ya!"

__ADS_1


Wira menaruh putranya di kursi makan khusus baby. Mereka pun sarapan bersama.


Selesai sarapan, Dewi menggendong putranya dan mengantar Wira sampai depan rumah. Wira kini sudah membeli rumah tak jauh dari rumah Abi dan Mommynya. Rumah nyaman dengan lingkungan yang menyenangkan.


"Daddy pergi kerja dulu ya! Vino jangan nakal ya! Jagain Mommy! Vino jadi anak hebat bukan?!" pamit Wira.


"Vino hebat!" jawab Vino.


"Bagus! Nanti main ke rumah Aki Abi ya! Kasihan Aki Abi kesepian sejak Aunty Carmen menikah. Vino yang temani Aki Abi dan Nini Tari ya!" pesan Wira.


"Iya, Daddy!"


"Daddy pergi dulu. Jaga Mommy kamu ya!" Wira mencium Vino lalu gantian mencium Dewi.


"Hati-hati di jalan ya Sayang!" ujar Dewi.


"Iya. Assalamualaikum!"


"Waalaikumsalam!"


Setelah mengantar suaminya pergi bekerja, Dewi lalu mengajak Vino ke rumah mertuanya yang terletak tak jauh darinya. Abi Agas yang kini sudah menjadi Aki Abi menyambut Vino dengan senyum mengembang di wajahnya.


"Mauuuu!" Vino begitu bersemangat bertemu Aki kesayangannya. Mereka langsung akrab dan melupakan Dewi.


Dewi masuk ke dalam rumah dan membantu Mommy Tari yang sedang memasak. "Hi Wi, hari ini kamu enggak usah masak ya! Mommy yang akan masak. Mommy masak banyak nih! Vino sudah makan belum?"


"Tadi pagi sih aku udah masak, My. Bawain bekal untuk Daddy Wira. Vino juga sudah aku suapi makan." Dewi mengambil sayuran dan membantu Tari memasak.


"Ya sudah! Nanti bawa saja buat makan siang atau malam. Oh iya, jadwal Wira ngundang anak yatim kapan ya?" tanya Mommy sambil melanjutkan memasaknya .


"Hari minggu besok, My. Kemarin Daddy Wira sudah belanja tas. Katanya biar bisa dipakai sama anak-anak sekolah. Di dalamnya juga sudah diisikan buku 1 pak dan alat tulis serta pensil warna. Untuk makanannya, kita sih mau pesan dari Emcidi. Biar anak-anak senang!" jawab Dewi.


Tari tersenyum, "Ini yang Mommy suka dari kalian. Meskipun Vino sudah dua tahun, namun kegiatan kalian menyantuni anak yatim tetap berlanjut. Untuk bulan depan, Mommy mau nyumbang ya! Itung-itung buat bersihkan harta kita. Sebagaian harta kita juga hak orang lain. Kamu bantuin Mommy ya! Bagaimana kalau bagi-bagi sembako saja?!"


"Boleh, My. Pasti akan bermanfaat nantinya. Nanti aku bantu. Aku mau menyumbang ke anak yatim dari daerah berbeda. Biar penyalurannya merata."

__ADS_1


"Iya. Mommy ikut saja deh sama kamu dan Wira. Kalian 'kan sudah pengalaman." Tari dan Dewi melanjutkan acara masak mereka sambil mengobrol akrab.


Tak lama Vino datang membawa banyak balon pembelian dari Aki Abi. Beraneka bentuk balon diborong Aki Abi. Membuat Vino makin dimanjakan saja oleh Aki tercintanya.


"Aki, aku mau balon big banana dan big papaya!" request Vino membuat Dewi kaget dan susah payah menelan salivanya.


"Big banana? Yang gambar pisang?" tanya Aki Abi.


Vino mengangguk. "Yang besal kayak punya Daddy!" jawab jujur Vino.


"Hmm... Aki tau nih siapa biang keroknya!" Abi melirik ke arah Dewi yang menunduk malu. "Tolong nanti Wira dijewer ya Wi!" pesan Abi.


"Iya, Bi." jawab Dewi malu.


Tari hanya senyum-senyum saja mendengarnya. "Sok-sokan marah. Padahal dulu dia juga yang mengajarkan anaknya hal yang aneh!"


****


Wira pulang ke rumah dengan disambut suara penuh semangat dari Vino. Rasanya lelah dan penat seharian bekerja langsung hilang saat mendengar suara malaikat kecilnya.


Wira menggendong anaknya dan mengajaknya masuk ke dalam rumah. Dewi sudah menyiapkan makan malam, mereka pun makan bersama.


Selesai makan malam, Wira yang sudah membersihkan diri menemani Vino tidur di kamarnya. Setelah Vino tertidur lelap, Vino kembali ke kamarnya.


Nampak Dewi sedang menonton TV sambil tiduran di kasur. Wira ikut bergabung dengan Dewi dan memeluknya erat.


"I love you!"


Sebuah kata ajaib yang rajin Wira ucapkan.


"I love you too!"


Wira mengecup pipi Dewi dan kembali memeluknya erat. Tak ada tempat seindah di rumah. Tak ada tempat ternyaman selain pelukan orang tersayang.


...TAMAT...

__ADS_1


*******


Terima kasih semua yang sudah mengikuti novel Duda Nackal dan Bisnis Plus Plus sampai selesai. Terima kasih atas semua dukungan, like, gift, vote dan komentar kalian. Tetap dukung aku karena sehabis novel Pesona Penggoda Nakal akan ada cerita Vino yang tentunya lain dari yang lain. Luv u all 😘😘😘


__ADS_2