Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Terima Kasih


__ADS_3

Seperti yang Dewi bilang, sehabis mandi dan melaksanakan shalat isya dirinya langsung tertidur pulas. Wira heran, biasanya selelah apapun Dewi, dia tak pernah menolak untuk diajak makan malam. Padahal, Wira sudah membelikan makan malam untuk mereka berdua namun Dewi lebih memilih untuk tidur dan memulihkan tenaganya.


Keesokan paginya, Dewi juga kesiangan. Tidurnya begitu pulas karena kelelahan. Ibu bahkan sudah menggetok-ngetok pintu ruko agar dibukakan namun Dewi masih saja belum terbangun.


Wira yang akhirnya turun dan membukakan pintu untuk ibu mertuanya.


"Dewi ke mana, Nak Wira?" tanya ibu kepada Wira yang sedang membuka pintu luar ruko lebih lebar lagi. Nampak Ratna mengikuti Ibu dari belakang. Untung saja Ratna masuk sekolah di siang hari, jadi pagi harinya masih bisa membantu ibu di laundry.


"Masih tidur, Bu. Kayaknya kelelahan deh. Semalam aja, dia nggak mau makan malam dan memilih langsung tidur." jawab Wira dengan jujur.


"Loh kok tumben?! Biasanya, Dewi itu tenaganya super kuat loh! Pagi membantu ibu ngurusin cucian, siang udah mulai kerja dan malam kadang bantuin Ibu menggosok setrikaan lagi. Tumben sekali dia kelelahan begitu. Coba Nak Wira cek lagi, jangan-jangan Dewi sedang sakit." ujar ibu dengan wajah yang terlihat khawatir.


Akhirnya Wira semakin menyadari kalau memang ada yang aneh dengan Dewi. Dewi selama ini bekerja keras dan tak pernah mengeluh sama sekali pada Wira.


Wira pun kembali naik ke atas dan melihat Dewi yang tertidur pulas. Wira tak tega untuk membangunkannya.


Wira diam-diam memegang kening Dewi yang ternyata suhunya normal. Tidak demam yang artinya Dewi sedang sehat. Dewi terbangun karena perbuatan yang Wira lakukan.


"Sudah jam berapa, Pak?" tanya Dewi yang langsung bangun dari tidurnya. Dewi pun duduk tegak sambil mengucek matanya


"Jam 06.30 pagi." jawab Wira sambil terus memperhatikan wajah Dewi, apakah benar istrinya sakit atau tidak.


"Hah? Saya kesiangan dong! Kok tumben sih alarm saya nggak bunyi?" Dewi lalu mengecek handphone miliknya yang ada di atas nakas. Alarmnya berbunyi namun Dewi tidak bangun juga. Dewi menyadari tidurnya terlalu lelap.

__ADS_1


"Ibu udah datang belum, Pak? Bapak udah sarapan belum?" tanya Dewi dengan agak panik. Kelihatan sekali kalau ia jarang kesiangan.


Wira pun menenangkan istrinya. "Udah, lo tenang aja. Ibu udah datang dan sarapan nanti biar gue yang beli. Lo masuk jam berapa? Biar gue antar?!"


"Saya masuk shift pagi, boleh kalau Bapak mau antar. Ya udah, saya mandi dulu ya Pak." dengan lemah Dewi berjalan menuju kamar mandi dan membersihkan tubuhnya.


Wira memilih untuk membelikan sarapan untuk Dewi saat Dewi sedang mandi. Wira membelikan nasi uduk dan khusus untuk Dewi, Wira belikan bubur ayam.


Dewi sudah rapi saat Wira datang. "Lo makan bubur ayam aja ya!" Wira meletakkan bubur ayam untuk Dewi. "Sendoknya udah ada di dalam kata abangnya."


"Kok saya dibeliin bubur sih, Pak? Memangnya saya sakit?" protes Dewi.


"Lo kelihatan lemas banget. Lebih baik makan bubur, atau lo enggak usah masuk kerja aja deh!"


Dewi menggelengkan kepalanya. "Kemarin udah enggak masuk pas pembukaan laundry. Masa sekarang ijin lagi sih, Pak? Apa kata yang lain? Mentang-mentang saya menikah sama Bapak jadi seenaknya."


Cepat-cepat Dewi mengusap-usap dada Wira. "Enggak ada. Sabar dulu ya jangan emosi. Itu hanya pemikiran saya aja. Enggak ada yang ngomong begitu kok. Ayo kita sarapan dulu!"


Wira pun menuruti keinginan Dewi. Mereka memakan sarapan. "Atau hari ini gue kerja di cafe tempat lo kerja aja? Jadi gue bisa lihat keadaan lo. Kalo lo sakit jadi bisa langsung gue bawa ke dokter gitu."


"Enggak usah, Pak. Saya baik-baik aja kok. Ini tuh karena semalam saya tidur belum makan jadi kekurangan sumber energi. Sekarang udah baikkan. Lihat aja buburnya udah mau habis." Dewi memamerkan bubur yang sudah dimakannya.


"Yaudah gue cari cafe di dekat tempat lo aja deh. Pokoknya kalo lo ngerasa sakit langsung hubungi gue! Dalam waktu cepat gue akan datang, oke?"

__ADS_1


Dewi tersenyum mendapat perhatian dari Wira. "Iya! Ayo Bapak mandi dulu! Nanti saya kesiangan!"


Dengan patuh Wira menuruti perintah Dewi. Mandi dan mengantar Dewi bekerja. Sebelum pergi, Wira menitipkan Dewi pada manager cafe. Memintanya mengawasi kalau istrinya terlihat tak enak badan.


"Gila ya Wi, nasib lo bagus banget. Bos Wira aja sampai segitu perhatiannya sama lo. Pake nitipin lo sama gue lagi. Dikira gue daycare kali yak?!" goda manager cafe pada Dewi.


Dewi tersenyum malu. "Bukan bernasib bagus lagi, Pak. Saya adalah wanita paling beruntung karena menikahi laki-laki sebaik Pak Wira." puji Dewi.


"Heran gue. Padahal Bos Wira itu kalo ngomong puedesnya minta ampun. Belum sikapnya yang sumbu pendek, gampang banget ngegas. Tapi bisa seperhatian begitu sama lo. Eh tapi jangan lo aduin ya sama Bos Wira. Bisa dipecat gue nanti!" ujar Manager Cafe.


"Enggak, Pak. Tenang aja. Pak Wira enggak sekejam itu kok. Enggak akan dia memecat karyawan seenaknya. Mommy Tari sudah mewanti-wanti untuk tidak memutus mata pencaharian seseorang seenaknya. Pak Wira itu baik, Bapak aja yang belum mengenal lebih dekat."


"Beda deh pengantin baru. Muji terus! Kalo udah nikah lama kayak gue nih, jangankan muji ngeliat penuh cinta aja udah jarang. Anak-anak sampai penasaran sama lo, Wi. Kok lo bisa nikah sama Pak Wira? Sejak kapan lo berdua bisa deket?" tanya Manager Cafe lagi.


Sambil mengerjakan pekerjaannya, Dewi menjawab setiap pertanyaan yang diajukan. Manager cafe pasti bertanya mewakili teman-teman yang lain.


"Sejak saya dan Pak Wira terlibat dalam sebuah bisnis, Pak. Kita berdua kerjasama dan langsung nikah. Pacarannya setelah menikah. Karena Pak Wira masih muda, jadi kami nikah secara agama aja dulu. Namun baru beberapa bulan berjalan, Mommy Tari dan Abi Agas maksa agar pernikahan kami disahkan dan ingin dipestakan. Namun kami berdua menolak mengadakan pesta dan ya... kayak kemarin, selametan aja." cerita Dewi.


"Mau dipestakan atau tidak, selamat ya Wi! Kamu beruntung bisa membuat Bos Wira sangat mencintai kamu! Kami semua mendoakan kebahagiaan kamu, Wi. Oh iya, ada yang mau saya kasih ke kamu!" Manager cafe lalu masuk ke ruang karyawan dan keluar dengan membawa sebuah kado yang berukuran lumayan besar.


"Ini buat kamu dari anak-anak cafe. Semoga rumah tangga kalian langgeng sampai maut memisahkan ya, Wi!" ucap manager cafe.


Dewi terharu menerima kado dari teman-temannya. Ia pikir selama ini dirinya tak dipedulikan, namun semuanya ternyata sangat baik dan memperhatikannya.

__ADS_1


"Makasih, Pak!" ujar Dewi seraya menghapus air mata yang berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Makasih teman-teman!"


***


__ADS_2