
"Perhatian! Perhatian! Pemberhentian berikutnya adalah jagung bakar! Next stop... roasted corn... Apakah anda siap?" tanya Dewi menirukan suara dari microfon Trans Jakarta namun dikarang sendiri kalimatnya.
"Saya sih siap, tapi tuh liat! Macet cyin!" jawab Wira.
Dewi melihat ke depan jalan dan ternyata Wira tidak bohong. Di depan mereka macet. Dewi menekuk wajahnya dengan kecewa. "Yah... Macet! Gagal deh!"
Wira mengusap kepala Dewi dengan penuh kasih. "Kita nikmati saja."
Mobil Wira pun berhenti. Rupanya kemacetan hari ini lumayan panjang juga. Baru berjalan sebentar, mobil Wira harus berhenti lagi.
"Sayang!"
"Hmm." jawab Dewi yang rupanya memilih mengisi TTS untuk mengisi kebosenannya di kala macet.
"Kita honeymoon yuk!"
Dewi mengangkat kepalanya, "Kemana? Inggris? Jepang, Korea Selatan atau Paris?"
Wira tersenyum sambil geleng-geleng kepala. "Enggak usah jauh-jauh! Tuh di depan ada hotel! Daripada kita macet-macetan, lebih baik kita staycation sambil bermesraan."
Kini Dewi mencibirkan bibirnya. "Itu sih memang mau kamu!"
"Memangnya kamu enggak mau?" tanya balik Wira.
Dewi terdiam. "Aku cuma takut."
Inilah yang Wira tunggu. Momen dimana mereka bisa ngobrol berdua dari hati ke hati. "Aku booking hotel dulu ya!" putus Wira tak lagi menanyakan pendapat Dewi.
Wira membelokkan mobilnya ke sebuah hotel yang berada tak jauh dari mobilnya yang terkena macet. Wira memarkirkan mobil lalu mengajak Dewi membooking hotel.
Dewi nampak tak semangat. Ia kembali menjadi Dewi pemurung seperti biasanya. Wira tak langsung mengajak Dewi masuk ke dalam kamar. Ia mengajak Dewi berjalan kaki keluar hotel.
Sepanjang jalan, Wira terus menggenggam tangan Dewi. "Jangan murung lagi. Aku ngajak kamu jalan-jalan buat senang-senang."
"Kenapa enggak langsung masuk ke dalam?!" tanya Dewi.
"Mau beli cemilan! Tuh di depan ada Indo Agustus!" Wira menarik tangan Dewi mengajaknya masuk ke dalam Indo Agustus.
__ADS_1
Wira membeli banyak cemilan. Chiki, aneka minuman, cokelat, Popmie dan sebuah bedak bayi. Dewi bingung namun mengikuti saja tanpa banyak bertanya.
Mereka berjalan kembali ke hotel, melewati tepi jalan yang macet. Wira menggenggam erat tangan Dewi. Melindunginya dari kendaraan yang lewat.
Dewi sesekali melirik ke arah Wira. Suaminya itu kini benar-benar sudah bertambah dewasa. Sifatnya dari dulu tak pernah berubah, selalu melindunginya dan menjadi malaikat penolong dirinya.
Seulas senyum terukir di wajah Dewi. Wira kebetulan melihatnya lalu menyindir Dewi, "Kenapa? Suami kamu makin ganteng ya?"
"Mulai deh super pede?!" jawab Dewi sambil tersenyum.
Wira tersenyum, "Ini tuh cuma realita. Dosa kalau mengingkari indahnya ciptaan Tuhan!" Wira kembali ke mobilnya dan mengambil tas berisi baju ganti mereka berdua lalu berjalan menuju kamar mereka.
Wira membuka pintu kamar dan mempersilahkan Dewi masuk. "Silahkan Tuan Putri!"
Dewi tersenyum tipis. "Makasih ajudanku!"
"Yang lengkap dong! Makasih ajudanku yang ganteng, baik hati, suka menolong, pintar dan punya big gun!"
Senyum tipis di wajah Dewi akhirnya berubah menjadi tawa. "Iya... Iya! A Man with a big gun!"
Wira tersenyum mendengar julukan Dewi. Ia menaruh tas mereka di lemari dan mengeluarkan makanan yang mereka beli.
"Hmm... Tawaran menarik. Pasti big gun aku suka jika dimulai dari sofa, lanjut ke tempat tidur dan berakhir dengan saling membersihkan diri di bath up. Tapi aku tak mau sekarang. Kita sholat isya dulu yuk! Berjamaah!" Wira mengulurkan tangannya mengajak Dewi.
Dewi mengernyitkan keningnya. "Tumben. Biasanya langsung ke menu utama." sindir Dewi namun tetap menyambut uluran tangan Wira. Bergantian mereka mengambil wudhu.
Wira sudah menyiapkan sajadah dan mukena untuk Dewi. Mereka pun menunaikan sholat berjamaah dengan Wira sebagai imamnya.
Selesai sholat, Dewi pun mengulurkan tangannya hendak salim. Wira malah mencium kepala Dewi seraya mendoakan istrinya.
"Ya Allah, berilah kebahagiaan untuk istriku tercinta. Bawa pergi segala kesedihannya. Berilah kesempatan bagi hamba untuk terus mengukir senyum di wajahnya. Sesungguhnya Engkau Maha Mengetahui betapa hamba sangat mencintai wanita ini." ucap Wira.
Dewi yang mendengar doa Wira pun tak kuasa menahan tangis. Ia menyesali sikapnya yang terus berselimut kesedihan sampai mengabaikan lelaki baik yang begitu mencintainya tersebut.
"Maafin aku, Sayang! Maafin aku!" ujar Dewi sambil berderai air mata.
"Sst! Aku enggak nyalahin kamu, Sayang! Aku lagi mendoakan kamu!" Wira menarik Dewi dalam pelukannya. "Jangan sedih ya! Kalau kamu sedih, aku akan lebih sedih lagi!"
__ADS_1
Wira mengusap kepala Dewi. Membuat Dewi makin terharu dibuatnya. Dewi balas memeluk Wira sampai Wira menghapus air mata di wajahnya.
"Kita datang ke sini untuk bersenang-senang, bukan? Ayo lepas mukena kamu dan kita senang-senang!"
Dewi mengangguk patuh. Ia melepas mukena dan sajadah lalu melipatnya. Wira yang sudah duduk di tempat tidur lalu menepuk sisi di depannya. "Sini!"
Dewi menurut. Setelah mengganti tunik yang dikenakannya dengan baju tidur, Dewi duduk di depan Wira.
"Aku bukan mau ngajak kamu meong-meong. Aku mau ajak kamu mainan!" Wira mengangkat sebuah botol teh dan membuka segel pembuka bedak bayi yang dibelinya. "Permainan truth or dare yang basi banget tapi kita bikin asyik! Kalau enggak mau jawab, akan dicemongin mukanya oleh lawan. Setuju?!"
Dewi mengangguk, "Setuju!"
"Oke! Kita mulai!" Wira lalu memutar botol di tangannya. Botol teh tersebut lalu berhenti di depan Dewi. "Yess! Aku tanya kamu duluan!"
Wira memikirkan pertanyaan yang akan ia ajukan. "Truth or dare! Punya aku beneran big, iya 'kan?!"
"Pertanyaan macam apa itu?!" ujar Dewi sambil tersenyum.
"Udah pilih truth or dare?!" tagih Wira.
"Oke, aku jawab. Iya. Guede. Sampai susah masuk dan sakit! Jadi, pemanasan dulu ya Bang jangan langsung masuk! Lecet Cyin!"
"Ha...ha...ha..." Wira tertawa penuh bangga. "Enggak sia-sia nih warisan Bapack-bapack rusuh."
"Gantian ya aku yang putar!" Dewi mengambil botol dan mulai memutar botol. Lagi-lagi botol berhenti pada Dewi. "Yah... Aku lagi yang ditanya!"
"Oke, truth or dare. Kamu suka aku cium di bagian mana?! Selain bibir ya!" tanya Wira lagi.
"Masa kayak gitu kamu tanyain sih?!" protes Dewi.
"Ya aku kan mau tahu lebih jauh tentang kamu! Jawab aja sih! Protes terus! Kalau protes lagi aku cemongin pake bedak nih!" ancam Wira.
"Iya... Iya... Aku jawab jujur. Aku suka kamu pas cium kamu di..." Dewi membusungkan dadanya memberitahu jawaban tanpa kata, "Lalu di..." Dewi menunjuk ke bagian inti miliknya, membuat Wira makin tergelak tawa.
"Sudah aku duga! Tiap aku cium di sana kamu pasti langsung ah... ih... ah... ih... ha... ha... ha..."
Dewi melempar bantal ke arah Wira yang puas menertawainya. "Rese! Awas ya aku balas kalau botolnya mengarah ke arah kamu!"
__ADS_1
****