Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
CCTV


__ADS_3

Dewi menatap layar handphonenya yang berisikan pesan dari Wira. Susah payah ia kirim pesan agar Wira tahu kalau ia mengkhawatirkan keadaannya (karena gengsi Dewi malah menanyakan cucian) eh balasan pesan Wira malah ngeselin. Jawaban Wira sangat singkat dan membuat Dewi ingin menjambak rambut Wira saat itu juga.


*Iya bawel!*


Hanya dua kata. Dewi saja sampai memikirkan mau kirim pesan apa sampai memutar otak, eh... Wira cuma jawab 2 kata aja. Dewi kesal. Kenapa Wira jadi orang seperti itu?! Enggak peka!


Dewi lalu memutuskan untuk tidur lebih cepat hari ini. Besok dia akan shift 2 dan pulang jam 10.00 malam. Rencananya, pagi hari Dewi akan membantu ibu menyetrika cucian yang ia lihat menggunung di ruang tamu. Kasihan ibunya, terlalu lelah sampai marah-marah sendiri. Semua karena tingkat stress yang tinggi. Jika dibiarkan Ibu bisa saja sakit.


Dewi pun tertidur pulas, namun tidak demikian dengan Wira. Ia menunggu balasan dari Dewi namun ternyata tak ada sama sekali balasan yang Dewi Berikan. Wira pun akhirnya memutuskan untuk tidur dan berharap besok Dewi akan membalas pesan yang ia kirimkan.


Dewi bangun subuh hari, membantu Ibunya mencuci pakaian sementara Ibunya harus ke rumah yang lain sehabis mencuci, Dewi pun mulai mencicil pakaian yang harus disetrika. Biasanya, Ibu sudah mengelompokkan cucian untuk rumah A, dan mana untuk rumah B. Ibu pekerjaannya rapi karena itu banyak yang ingin menggunakan jasa Ibu. Jika bukan karena Ibu sudah tua dan tenaganya tidak kuat lagi, Ibu pasti akan mengambil semua orderan cucian yang masuk.


Dewi juga memasak menggantikan tugas Ibu. Menanyakan pada Bapak mau makan apa lalu berbelanja di tukang sayur. Dewi tahu semalam Bapak pasti sakit hati mendengar perkataan Ibu. Untuk menghiburnya, Dewi akan memasak makanan sesuai request dari Bapak.


Dewi berbelanja terong dan ikan kembung. Bapak suka terong balado dan ikan kembung goreng. Dewi juga akan membawa untuk bekalnya di kantor nanti.


Dewi tiba-tiba kepikiran dengan Wira, suami sirinya. Apa yang Wira makan? Meski di lemari es-nya banyak makanan, pasti Wira lebih menyukai makanan yang ia masakkan langsung.


Dewi akhirnya membeli ikan teri basah dan berniat membuat ikan goreng tepung yang garing. Bisa awet beberapa hari. Rencananya akan Ia berikan kalau Wira berkunjung ke cafe tempatnya bekerja.


Dewi memasak semua list masakan yang akan Ia buat lalu bersiap-siap pergi ke cafe. Ia tak bertemu adiknya Bahri di tempat pangkalan ojek. Semalam Bahri juga tak pulang ke rumah. Hatinya mulai cemas memikirkan keadaan adiknya.


Dewi memberhentikan sebuah angkot. Ia duduk di kursi depan bersebelahan dengan nenek tua yang dari tubuhnya tercium bau minyak angin. Beda sekali saat naik mobil Wira yang harum pewangi mobil.


Masih ada waktu sebelum jam kerjanya dimulai. Dewi merapihkan dandannya di loker dan berpapasan dengan rekan kerjanya yang dulu menganggap ia menguping kala sedang curhat. Tatapan sinis langsung diterima Dewi.


Dewi menundukkan kepalanya. Tak mau menatap balik yang malah membuat dirinya makin dimusuhi.

__ADS_1


"Eh aneh gak sih lo, dulu banyak utang tau-tau sekarang sering perawatan ke salon. Duit darimana ya, Cyin? Ngefet atau minta sama sugar daddy?" sindir temannya tersebut pada Dewi.


"Entah! Jaman sekarang tuh banyak orang nekat. Banyak menggadaikan keimanan dan harga diri hanya demi materi semata. Semoga anak keturunan kita enggak kayak begitu ya, Cyin?!" ujar temannya yang membuat hati Dewi sangat sakit mendengarnya.


Dewi pun mengabaikan apa yang dua orang itu katakan. Ia lalu pergi meninggalkan loker dan memilih memulai shift kerjanya lebih awal. Bekerja dan terus bekerja sampai waktu istirahat tiba.


Wira ternyata tidak datang ke cafe hari ini. Dewi agak kecewa. Dewi pun berinisiatif ke ruangan Wira untuk menaruh ikan goreng tepung buatannya. Sayang, ruangan Wira dikunci.


Dewi pun membawa balik toples plastik berisi ikan tepung buatannya. Dengan langkah lesu, Dewi kembali ke loker miliknya.


Suara dering Hp miliknya dari dalam loker membuat Dewi cepat-cepat membuka loker dan mengangkat panggilan masuk. Tertulis nama Si Judes sebagai penelepon.


"Wah pas sekali!" batin Dewi.


"Hallo?" ujar Dewi.


"Ngapain lo ke ruangan gue?" tanya Wira tanpa kata-kata manis sebagai pembuka percakapan mereka.


"Iyalah! Gue kan bisa lihat di CCTV! Ngapain lo ke ruangan gue? Kangen?!" tanya Wira dengan penuh percaya diri.


Dewi tersenyum mendengar pertanyaan Wira yang sudah menjadi ciri khasnya. Over pede.


Beda dengan Dewi, Wira kesal karena tak bisa melihat ekspresi Dewi saat mendengar pertanyaan yang Ia ajukan. Ruangan loker karyawan tak ada CCTV-nya, alasannya karena privasi.


"Mau kasih ikan goreng tepung buatan saya. Entah Bapak doyan apa enggak. Maklum, ini kan bukan ikan salmon yang bisa Bapak makan. Saya enggak tau Bapak-" belum selesai Dewi berbicara sudah Wira sela.


"Gue doyan. Lo pulang jam 10 kan? Gue kesana! Tunggu di halte aja! Eh jangan deh, udah malam. Di depan cafe aja! Jangan jauh-jauh dari cafe! Jangan sambil mainan Hp, bahaya. Takut ada jambret." ujar Wira panjang lebar.

__ADS_1


Dewi tersenyum mendengar ocehan Wira. Bagaimana mungkin dulu dia menganggap ocehan Wira menyakitkan hati padahal sebenarnya ada makna yang terkandung di dalamnya. Makna kalau Wira memberi perhatian terhadapnya.


"Iya." jawab Dewi singkat sambil senyum-senyum sendiri.


"Hah? Iya doang? Gue ceramah panjang lebar, lo cuma jawab 'iya' doang? Bener-bener nih orang!" gerutu Wira.


"Iya, Pak." Dewi mengoreksi jawabannya.


"Cuma lo tambahin Pak doang? Pelit banget sih lo sama kata-kata?!" omel Wira lagi.


"Iyaaaaa Paaaaakkkkk! Tuh, udah panjang jawaban saya!" jawab Dewi dengan sebal.


"Tetap saja cuma dua suku kata!"


"Apa bedanya sama Bapak? Bapak juga gitu!" balas Dewi.


"Ih kapan gue kayak gitu?!"


"Semalem! Saya nitip pesan sama Bapak eh jawabnya cuma pendek begitu. Gimana, enggak enak kan?!" Dewi mencurahkan isi hatinya yang terpendam.


"Masa sih? Ah lo juga enggak bales. Ngapain gue bales panjang-panjang!" sahut Wira tak mau kalah.


"Iya... Iya. Terserah Bapak! Udah ya saya mau kerja lagi!" Dewi pun menutup teleponnya. Wajahnya tersenyum senang.


"Kenapa aku senang banget ya terima telepon dari Pak Wira? Kalau tau dia selucu itu, sudah sejak dulu aku pinjam uang darinya!" batin Dewi.


Dewi pun meninggalkan loker dan tak menyadari kalau sejak tadi ada yang menguping percakapannya. Ya, siapa lagi kalau bukan rekan kerjanya yang tak suka dengan Dewi.

__ADS_1


"Wow... Bapak? Ternyata benar anak itu punya sugar daddy?! Berita besar ini! Pantas tiba-tiba punya uang banyak! Dasar perempuan murahan!" cibirnya tanpa tahu fakta sebenarnya.


****


__ADS_2