Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Bukan Mau Nyulik


__ADS_3

"Saya bantuin Mommy masak dulu ya, Pak." ijin Dewi.


"Iya." Wira kembali asyik dengan Hp miliknya. Bermain games online memang salah satu kegemarannya.


Dewi pun turun ke bawah dan membantu mertuanya memasak. Mommy senang ada temannya di dapur. Mereka memasak sambil Mommy memberikan pelajaran hidup pada menantunya tersebut.


"Kamu dan Wira masih sama-sama muda. Salah Mommy memang memanjakan Wira. Anak itu sebenarnya anak yang baik dan manis. Hanya mulutnya saja yang terlalu mirip dengan Abi-nya,"


"Kunci berumah tangga adalah sabar. Kamu sabar menghadapi Wira dan Wira juga harus sabar menghadapi kamu. Kalau kalian mau rumah tangga kalian awet sampai maut memisahkan ya kuncinya jangan membesarkan ego. Jiwa boleh muda tapi harus mengalahkan ego masing-masing demi keutuhan rumah tangga kalian." pesan Mommy.


"Mommy doakan ya semoga aku dan Pak Wira tetap jadi suami istri yang awet, langgeng dan bahagia sampai akhir hayat." ujar Dewi.


"Aamiin. Semoga rumah tangga kalian bisa seperti rumah tangga Bu Yudi, yang sudah mencapai usia 22 tahun pernikahan."


"Bu Yudi siapa, My?" tanya Dewi bingung.


"Itu tetangga Mommy. Baru kemarin bagi-bagi nasi kuning buat rayain anniversarynya. Kamu juga harus lebih mesra daripada Mommy dan Abi. Kamu harus lebih saling mencintai daripada Pak Habibi dan Bu Ainun. Mommy doakan semua kebaikan selalu tercurah dalam rumah tangga kalian anak-anak Mommy!" doa Tari.


"Ah... Mommy so cute banget. Boleh peluk, My?" tanya Dewi dengan mata berkaca-kaca.


"Tentu dong!" Tari membuka lebar tangannya membiarkan Dewi memeluknya dengan penuh kasih. "Maafin Mommy ya sudah pernah bersikap tak enak sama kamu. Sudah berprasangka buruk sama kamu! Sekarang kamu sudah jadi anak Mommy juga. Kamu yang akan menjaga Wira menggantikan Mommy. Didik anak Mommy menjadi imam yang baik. Kamu siap?"


Dewi melepaskan pelukannya. Setetes air mata berhasil lolos dari pelupuk matanya. "Siap, My. In sha Allah."


Tari tersenyum. "Ayo kita masak lagi. Sebentar lagi keluarga Mommy yang kelaparan akan keluar dan minta makan."


"Ayo, My! Aku bantu apa aja nih?"


****


Dewi memasukkan baju miliknya dalam tas ransel. Hari baru menunjukkan pukul sembilan pagi. Dewi hari ini masuk siang, jadi mereka akan pulang sekarang.


"Dewi pulang dulu ya, My... Abi..." pamit Dewi. Carmen sudah berangkat kuliah tadi sehabis sarapan pagi.


"Iya. Hati-hati di jalan ya! Kalau Wira ngebut omelin aja, Wi." ujar Mommy.


"Jangan omelin. Enggak mempan. Jitak aja kepalanya si bangor itu! Bawa bini kok ngebut! Valentino Rossi aja kalo bawa bininya santai." ujar Abi.

__ADS_1


"Abi tau darimana Valentino Rossi enggak ngebut?" tanya Wira seraya memakai sepatu.


"Ya... Nebak aja. Enggak mungkin juga bininya diajak ngebut di arena balap. Motornya enggak muat!" jawab Abi seenaknya.


"Dih... Sotoy banget!" celetuk Wira. "Wira balik dulu, Bi. Makasih gajinya dinaikkin. Ya... Meskipun uang audit ditiadakan sih. Kalo uang bisnis kapan cair, Bi?!"


"Enggak ada uang bisnis! Udah atur sendiri pengeluaran kamu! Inget, sekarang udah punya istri. Nafkahi istri kamu secara lahir, jangan minta nafkah batin terus!" ujar Abi.


"Abi!" Tari mengingatkan suaminya agar jangan seenaknya berbicara. Sudah ada Dewi di antara mereka. Takut tersinggung karena belum terbiasa punya mertua seperti Abi.


"Iya, My." Abi mengerem perkataannya.


"Wira dan Dewi pulang dulu, My... Abi... Nanti jangan lupa selamatan pernikahan Wira dan Dewi, Mommy yang ngurus." pesan Wira sambil mengeluarkan motor sport miliknya.


"Iya. Inget! Jadi imam yang baik ya, Nak!" pesan Tari.


"Jangan bangor lagi! Cepet punya anak biar Abi bisa ajak cucu Abi main di poskamling!" pesan Agas.


"Ogah! Ngapain anak Wira main di poskamling? Nanti ketularan Abi dan teman-teman Abi yang sok gaul itu! Wira pulang, assalamualaikum!" Wira menyuruh Dewi naik ke atas motornya.


"Waalaikumsalam." jawab Abi dan Mommy kompak.


Wira melajukan motornya menuju apartemen miliknya. "Lo langsung bawa baju kerja, kita berangkat sekarang!"


"Sekarang? Enggak terlalu cepat, Pak?" tanya Dewi. Baru jam sepuluh dan ia masuk jam dua belas. Jarak apartemen ke cafe tidak terlalu jauh, paling hanya setengah jam. Sisanya Dewi mau ngapain?


"Udah jangan bawel! Cepetan deh!" ujar Wira tak terbantahkan.


"Iya, baik."


Dewi masuk ke kamar dan membawa baju ganti dalam tas selempang agak lusuh miliknya. Sengaja tak langsung dipakai Dewi, takut keringetan dan jadi tak fresh dalam bekerja nanti.


"Udah?" tanya Wira.


"Udah, Pak."


"Yaudah ayo!"

__ADS_1


Dewi pun menurut. Mengikuti langkah Wira menuju parkiran motor miliknya. Wira mengemudikan motornya keluar apartemen dan ternyata melajukan motornya melewati cafe tempat Dewi bekerja.


"Loh, kita mau kemana Pak? Udah kelewatan cafenya." tanya Dewi.


"Udah jangan bawel! Nanya melulu lo dari tadi! Kayak wartawan aja!" ketus Wira.


"Kalau Bapak nyulik saya gimana? Saya berhak tau mau dibawa kemana!" jawab Dewi tak mau kalah.


"Nyulik lo? Ha...ha...ha... " Wira menertawai perkataan Dewi. "Ngapain nyulik bini sendiri? Kadang lo buodohnya enggak ketulungan deh! Kalo lo menghilang, yang pertama ditanyain polisi ya gue! Langsung ketangkep polisi gue kalo nyulik lo!"


"Ya... kali aja! Banyak kan kasus suami culik dan menghabisi istrinya karena mau nikahin selingkuhannya!" sindir Dewi.


"Kebanyakan baca berita yang enggak penting lo! Baca ensiklopedia aja deh lebih baik. Jadi tambah pinter. Lo bisa tau, apa salah satu bagian lembut seekor gajah. Daripada mikir suami berniat jahat gitu!" ujar Wira.


"Ih ngapain juga saya tau apa bagian lembut seekor gajah. Saya juga udah tau tanpa harus baca ensiklopedia segala!"


"Apa coba?" tanya Wira.


"Ya... Itunya lah! Pake ditanya lagi!" jawab Dewi dengan sombongnya.


"Sok tau! Lo tuh emang pikirannya kesana terus ya! Segala 'ituan' gajah aja lo pikirin! Kayak pernah sentuh aja 'ituan' gajah! Salah jawaban lo!"


"Enggak kok. Memang biasanya 'ituan' memang lembut." Dewi masih tak mau kalah.


"'Ituan' punya gue iya lembut. Ada 'ituan' yang enggak lembut. Konon katanya 'ituan' kucing tajam dan sakit, makanya kucing kalau kewong suka berisik. Eh lo juga suka berisik sih kalo kita lagi kewong."


Dewi memukul bahu Wira. "Jangan disambungin ke kita. Terus gajah jawabannya apa yang lembut?" tanya Dewi penasaran.


"Jawabannya bagian dalam belalainya. Itu bagian lembut gajah. Sekarang lo nyadar kan pikiran lo suka negatif?! Gue nanya serius lo jawab melenceng!" Wira kini membelokkan motornya ke salah satu Mall.


"Oh... Jadi Bapak mau ngajak saya ke Mall toh?!" tanya Dewi sambil menahan senyumnya.


"Iya! Siapa juga yang mau nyulik lo? Daripada nyulik lo mending gue aja kewong biar lo teriak-teriak kayak kucing ha... ha... ha.. "


****


Ayo Bu Yudi lambaikan tangan ke kamera 😁😁

__ADS_1


__ADS_2