
Dewi menatap buku nikah yang Wira berikan padanya. Terdapat foto dirinya di samping foto Wira yang terlihat begitu gagah dan tampan, Dewi jadi berkecil hati.
"Kenapa lagi lo?" tanya Wira yang baru saja selesai mandi. Wira mengeringkan rambutnya dengan handuk kecil dan duduk di samping Dewi di atas tempat tidur.
"Kayaknya saya salah ngasih foto deh, Pak. Berada di samping foto Bapak, kelihatan tambah jelek saya di foto." ucap Dewi dengan murung.
"Mana sini gue lihat?!" Wira mengambil buku nikah yang diberikan dan melihat foto Dewi yang sedang tersenyum. "Kata siapa jelek? Cakep kok!"
"Jelek tahu, Pak!"
"Nggak! Kata siapa sih? Justru karena ada di samping gue, lo jadi kelihatan lebih bersinar! Lebih cantik! Kayak bidadari yang hobinya meong-meong di kamar mandi!" goda Wira sambil tersenyum. "Wi, pijitin gue dong! Pegal nih gue!"
Dewi menaruh kembali buku nikah ke dalam laci lemari, lalu mengambil minyak kayu putih. Dibalurkannya minyak kayu putih tersebut di tengkuk Wira dan ia pun mulai memijat suaminya.
"Memang ya, pijatan lo tuh paling mantap! Ada tenaganya dan berasa banget!" puji Wira.
"Pak, laundry mau dibuka kapan?" tanya Dewi. Dia sudah tidak mempermasalahkan buku nikah lagi.
"Rencananya sih, gue mau minta Bahri buat sebarin brosur gitu. Udah gue cetak dan tinggal dibagiin aja. Gue tulis di brosurnya sih dua hari lagi, promosi untuk yang datang membawa brosur dan dapat gratis minuman dingin. Ada juga cuci 10 kg gratis 1 kg. Hal yang kecil sih tapi lumayan untuk menarik minat pelanggan baru. Nanti gue bakalan ada promosi lagi dalam waktu dekat. Untuk biaya promosi, In sha Allah aman! Sudah ada donatur yang transfer gue!"
"Wow keren banget konsep promosinya! Memang ya Bapak hebat banget! Saya yakin nanti bisnis kita akan sukses dan maju pesat, aamiin!"
"Aamiin! Lo doain gue terus! Doa lo yang akan melancarkan rejeki gue. Kalo bisnis kita berkembang pesat, gue kan bisa kuliahin Bahri dan bantu sekolahin Ratna."
Dewi yang sedang memijat Wira pun terdiam dan menghentikan pijatannya. Matanya terasa perih dan tak kuat membendung air matanya.
"Loh kok diem? Lanjutin pijitannya!" ujar Wira yang tak peka kalau istrinya sedang menangis.
Air mata Dewi membanjiri wajahnya. Lelaki di depannya yang terbiasa berkata ketus adalah satu-satunya lelaki yang peduli dengannya secara tulus.
Saat keluarga besar Dewi bersikap seolah-olah tak mengenal keluarganya saat sedang kesusahan, Wira yang menolong. Kini, di saat tabungan Wira hampir habis karena memulai bisnis demi memajukan keluarganya, Wira bahkan ingin membiayai pendidikan kedua adiknya. Terlalu mulia hati pria di depannya. Sungguh berbeda dengan ucapannya yang kadang pedas.
__ADS_1
Dewi lalu memeluk Wira dari belakang dan menangis sesegukan. Tentu saja Wira terkejut. Dewi yang semula baik-baik saja semudah itu berubah.
"Lo kenapa? Kok nangis? Gue salah ngomong ya?" tanya Wira yang terdengar agak panik.
Dewi masih menangis sambil memeluk punggung Wira. Punggung yang lebar dan benar-benar melindungi Dewi dan keluarganya.
"Ya Allah, Pak. Hati Bapak baik banget. Hanya Bapak yang peduli dengan keluarga saya. Bersyukur banget saya bisa kenal Bapak. Huaaa...."
"Ih apaan sih lo! Begitu aja pake nangis!" omel Wira. "Bahri dan Ratna kan sekarang udah jadi adik gue. Mereka tanggung jawab gue juga!"
"Huaaa.... Bapak bikin saya makin terharu... Huaa...." tangis Dewi makin deras saja. Membuat baju Wira basah dengan air matanya.
Wira menghela nafas dalam dengan kelakuan istrinya. "Begitu aja lo nangis sampai kejer! Nanti tetangga mikirnya gue udah KDRT lagi sama lo!"
Seketika tangis Dewi berhenti. Ia tak mau tetangga mereka berpikir jelek tentang Wira. Suaminya terlalu baik untuk difitnah.
"Nah... begitu. Berhenti nangisnya!" Wira berbalik badan dan menghapus air mata tanpa suara yang masih keluar dari pelupuk mata Dewi.
Dewi memegang tangan Wira dan menaruh di pipinya. "Dengan cara apa saya bisa membalas semua kebaikan Bapak?"
Dewi menghapus air mata di wajahnya. Kini ia tak lagi menangis. "Siap. Mau kapan? Sekarang? Mau gaya apa? Sebentar! Saya pakai baju tidur seksi dulu!"
Dewi turun dari tempat tidur dan cepat-cepat memakai salah satu koleksi baju tidur yang Wira belikan. "Warna merah atau pink? Merah aja ya! Lebih menggoda!"
Wira hanya melongo dengan ulah Dewi yang tak biasa. Ia terus memperhatikan istrinya sibuk sendiri. Memakai baju tidur seksi, cepat-cepat memakai body butter dan parfum lalu berjalan mendekati Wira.
Tanpa sungkan Dewi duduk di pangkuan Wira. "Saya siap. Silahkan Bapak Wira reques mau gaya apa. Atau mau... Meong... meong...."
Wira tak kuat menahan tawanya. Istrinya benar-benar lucu dan menggemaskan. Caranya membalas budi benar-benar berbeda.
"Atau Bapak mau saya pakai cosplay yang lain gitu?" tawar Dewi lagi.
__ADS_1
"Udah cukup. Lo begini aja udah bikin adik gue terbangun!" Wira pun menyambut ajakan Dewi. Menyatukan cinta mereka yang kini sudah berlabuh.
****
"Pak, saya berangkat kerja dulu ya!" pamit Dewi pada Wira yang tertidur lagi sehabis sholat subuh. "Sarapan dan makan siang sudah saya masukkin ke lemari makan."
Wira membuka matanya dan duduk tegak seraya mengucek matanya yang masih mengantuk. Semalam Dewi benar-benar on fire, Wira sampai kelelahan mengikuti kegilaan istrinya.
"Gue anter aja! Sekalian gue mau ke cafe!" ujar Wira.
"Tapi Pak nanti semua jadi tau kalau-" belum selesai Dewi berbicara, Wira sudah memotongnya.
"Lo pikir Mommy cuma ngadain selametan di rumah lo aja? Mommy buat banyak nasi box dan dibagikan ke tetangga sekitar juga... semua karyawan di cafe." Wira yang hendak masuk ke kamar mandi lalu ditahan oleh Dewi.
"Semua karyawan gimana? Mommy juga bagiian nasi box ke karyawan di cafe tempat saya kerja juga?" tanya Dewi seraya mencekal lengan Wira agar jangan masuk ke dalam kamar mandi dulu.
"Iya. Memangnya lo enggak tau? Udah ah gue mau mandi! Lo mau mandi lagi memangnya?" ancam Wira. Dewi reflek melepas tangannya, membuat Wira tersenyum penuh kemenangan. "Semalam aja lo, on fire! Sekarang takut!"
"Pak, beneran satu cafe tau?" tanya Dewi sekali lagi.
"Bukan satu cafe. Semua cafe! Kayak enggak tau Mommy gue kayak gimana! Udah lo tunggu gue mandi, nanti gue anterin! Memangnya lo siap ke cafe sendirian?"
Dewi menggelengkan kepalanya.
"Makanya tungguin gue! Udah duduk manis sana!" Wira pun masuk ke dalam kamar mandi sementara Dewi duduk lemas di atas tempat tidur.
"Aduh... Gimana nasib aku di kerjaan nanti?!"
****
Hi semua... Jangan lupa di vote ya Abang Wira!
__ADS_1
Oh iya, aku mau promosiin karya sesama author nih. Yuk bisa mampir ke novel ini: