Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Ibukota di Malam Hari


__ADS_3

Biasanya saat dicium sang kekasih hati pasti akan merasa senang. Hati berbunga-bunga, jantung berdegup kencang dan bunga-bunga bermekaran dengan indahnya.


Namun tidak dengan Wira. Ia yang seharian dipermainkan degupan jantungnya oleh Dewi malah kesal. "Ih apaan sih lo main nyosor aja! Ini di tempat umum tau! Lo bener ya, makin berani sama gue?!" gerutu Wira.


"Kok marah sih Pak?!"


"Bukan marah, tapi sebel. Dari tadi lo enak banget nyium gue tanpa permisi! Gue lagi enggak mood, lo pancing. Empat kali lagi! Kesannya tuh gue jadi cowok gampangan banget, digoda dikit langsung mau!"


Dewi tak kuasa tertawa mendengar keluhan Wira. "Maaf, Pak. Bukan mau ngetawain. Asli, Bapak tuh lucu banget. Makin gemas saya." Dewi lalu mencubit pipi Wira, membuat Wira makin melotot sebal.


"Tuh... Tuh! Malah berani nyubit! Nih anak bener-bener ya!" Wira balas mencubit pipi Dewi.


"Aww! Sakit, Pak! Bapak mah nyubitnya pakai tenaga super sih! Padahal aku nyubitnya pakai kelembutan tau!" gerutu Dewi sambil memegang pipinya yang kesakitan akibat ulah Wira.


"Biarin! Udah cepetan habisin! Kita pulang, udah malam!"


"Nanti dulu ah, Pak! Besok saya libur. Gimana kalau kita jalan-jalan lagi?!" ajak Dewi.


"Jalan-jalan kemana lagi sih? Gue ngantuk berat nih. Mau tidur!" Wira jelas ngantuk. Empat kali bersenang-senang seakan menguras seluruh energi Wira.


"Ke... Dekat sini aja. Mumpung malam hari, kita foto-foto. Gimana?"


Sebenarnya Wira malas. Mau tidur saja di apartemen. Namun melihat mata Dewi yang berbinar-binar saat meminta sesuatu padanya membuat Wira luluh.


"Yaudah ayo! Habisin dulu cepet!"


"Siap, Bos!"


Dewi menghabiskan kacang rebus dan air jahe miliknya lalu membuang sampah bekas mereka makan dalam tempat sampah. Ia lalu menghampiri Wira yang menunggu di parkiran motor sambil mengobrol dengan security.


Ini adalah sisi lain Wira yang Dewi tak tahu. Rupanya Wira mudah sekali akrab dengan orang lain. Tak terkecuali security yang baru dikenalnya.


"Udah?" tanya Wira.


Dewi mengangguk.


"Yok, Pak! Makasih udah dijagain!" Wira menyelipkan selembar uang lima puluh ribu pada security yang terlihat sangat gembira menerimanya.

__ADS_1


"Walah makasih Mas. Sering-sering aja pacaran kesini. Saya senang toh kalo ada yang kayak Mas datang ke sini." ujar security tersebut tanpa sungkan.


Wira tersenyum dan melajukan motornya meninggalkan taman. Mereka berdua mulai menelusuri jalanan ibukota yang mulai sepi dari kendaraan.


Jelas saja sepi, besok masih hari kerja. Para pencari nafkah butuh istirahat agar kembali pulih tenaganya untuk mencari rejeki keesokan harinya lagi.


Tidak sama seperti Wira dan Dewi. Besok adalah hari libur Dewi, kalau Wira sih terserah mau masuk kerja jam berapa. Mereka bebas menikmati malam ini.


"Pak! Berhenti di depan!" pinta Dewi seraya menunjuk sebuah halte sepi, tak ada yang menunggu kendaraan.


"Mau ngapain? Udah jam 1 malam nih!" protes Wira namun tetap saja menepikan kendaraannya.


"Mau foto-foto seperti tujuan kita semula." kata Dewi dengan penuh semangat.


Wira geleng-geleng kepala dengan kelakuan istri sirinya tersebut. Jam 1 malam minta foto-foto di halte. Kayak enggak ada hari lain saja?!


Wira lalu memarkirkan motornya di depan halte. Dibawanya helm mahal dan di taruh di halte. Jangan sampai ada yang menjambret helm miliknya. Kalau helm Dewi sih dibiarkan saja di atas motor. Murah.


Dewi lalu berjalan ke tengah trotoar dan mulai berpose. "Ayo Pak fotoin! Pake Hp Bapak aja. Kameranya lebih bagus dari Hp butut punya saya!"


Dewi kembali memerintah Wira seakan Wira adalah bawahannya. Tak ada rasa takut dalam diri Dewi kalau suami sekaligus rekan bisnisnya akan marah. Anak itu sudah mulai berani pada Wira.


Wira juga membalik kameranya dan melakukan teknik fotografi yang Ia bisa. Dewi asyik saja bergaya karena punya fotografer pribadi.


"Lo coba deh loncat! Nanti gue hitung sampai tiga, biar pas gue jepretnya!" Wira malah menikmati mengambil foto Dewi.


Ternyata seru juga. Dewi ternyata fotogenik, hasil foto miliknya terlihat sangat bagus di kamera Wira. Itu yang membuat Wira ketagihan mengambil gambar Dewi.


"Oke!"


Sesuai aba-aba dari Wira, Dewi pun meloncat.


"Kurang bagus! Coba lagi!"


"Oke!"


Beberapa kali pengambilan gambar sambil meloncat, membuat Dewi kelelahan.

__ADS_1


"Bapak sengaja... ngerjain... saya ya?" tanya Dewi dengan nafas tersengal.


"Ih siapa yang ngerjain. Nih lo liat deh hasil foto gue! Bagus! Kayak fotografer profesional!" ujar Wira memuji dirinya sendiri.


"Mana coba liat?!" Dewi yang kelelahan lalu duduk di bangku halte.


Wira datang menghampiri dan memberikan Hp miliknya. Dewi menscroll foto miliknya sambil sesekali men-zoom. Memperhatikan detail terkecil dari hasil jepretan Wira.


"Iya loh bagus!" puji Dewi.


"Iyalah! Siapa dulu? Wira gitu loh?!" kata Wira penuh percaya diri.


"Enggak akan bagus foto Bapak tanpa saya yang jadi modelnya! Ini semua karena saya yang fotogenik. Foto lagi manyun, garuk-garuk sampai kayang juga bakalan bagus kalau yang jadi modelnya saya." Dewi tak mau kalah menyombongkan dirinya.


"Dih najis deh, sombong lo enggak kira-kira! Lo enggak liat apa tadi gue ngambil foto lo sampai jongkok dan hampir tiarap? Kalo bukan jasa fotografer handal kayak gue mana bisa foto lo bagus! Sekelas Angelina Jolie yang cantik dan seksi aja kalo yang foto bapak-bapak petugas SIM dan KTP juga belum tentu bagus!"


Dewi tertawa mendengar perkataan Wira. "Eh iya bener loh, Pak. Foto KTP saya ancur. Muka saya kaku gitu. Mana mau senyum enggak boleh, katanya ini bukan buat foto majalah. Hasilnya beda banget sama aslinya saya yang cantik begini!"


"Masa? Coba gue liat?!"


Dewi lalu mengeluarkan dompet miliknya dan menunjukkan KTP miliknya. "Tuh Bapak lihat sendiri. Beda kan?"


Wira memperhatikan foto KTP milik Dewi, di dalam foto tersebut Dewi memakai kemeja berwarna biru muda. Dewi juga memakai jepitan rambut yang menghiasi wajahnya yang terlihat begitu polos dan lugu. Benar yang Dewi katakan, wajahnya di foto terlihat begitu tegang dan tak ada senyum sama sekali. Namun, Wira justru menyukai hasil foto yang ada di dalam KTP tersebut.


"Bagusan ini malah dibanding aslinya. Kelihatan lebih lugu dan suci, nggak kayak aslinya yang centil dan suka mancing orang terus!" sindir Wira.


"Ih nyindir! Padahal kalau aku pancing juga senang. Mukanya aja sampai merah." balas Dewi tak mau kalah.


"Heh centil, semua karena gue tuh kaget. Catat ya, kaget. Lo tuh terlalu impulsif. Suka tiba-tiba nyosor tanpa aba-aba. Kalau enggak kaget juga gue enggak akan merah mukanya!" elak Wira.


"Jadi kalau saya kasih aba-aba, Bapak beneran siap nih?"


"Iyalah!"


"Yaudah siap ya! Satu... dua..."


Wira pun menyiapkan diri, dirinya akan dicium Dewi. Wira pun memajukan pipinya lalu ....

__ADS_1


****


__ADS_2