
Dewi menaruh Hp miliknya di atas nakas. Senyum bahagia masih mengembang di wajahnya. Hanya karena satu telepon dari Wira bisa menghilangkan semua kekhawatirannya.
Dewi tak tahu sejak kapan ia begitu ketergantungan dengan Wira. Tak mau jauh dari Wira dan ingin terus berada di dekat suaminya. Padahal dulu tidak. Apa karena rasa cinta dalam dirinya yang terus subur membuat dirinya menjadi semakin manja?
Sebuah ketukan di pintu menyadarkan Dewi yang sejak menutup telepon terus senyam senyum sendiri. "Masuk!"
Pintu pun dibuka, disusul Ibu yang melongokkan kepalanya. "Katanya kamu sakit, Wi?"
Ibu berjalan mendekat dan duduk di pinggir tempat tidur. "Kata Ratna kamu semalaman tidur di lantai hanya beralaskan sejadah saja. Pasti kamu masuk angin itu. Muka kamu aja kelihatan lemas."
Ibu lalu berdiri dan memeriksa kening Dewi. "Enggak demam sih. Mana minyak kayu putih? Biar Ibu pijitin?"
"Di meja rias, Bu." Dewi hendak mengambil minyak kayu putih namun Ibu melarangnya.
"Biar Ibu saja yang ambilkan." ujar Ibu.
Ibu membalurkan tengkuk Dewi dengan minyak kayu putih dan mulai memijatnya. "Pasti kamu kepikiran Nak Wira bukan?"
Dewi tak menjawab. Ibu sudah tau apa jawaban Dewi, karena itu beliau melanjutkan lagi perkataannya.
"Punya suami itu harus menanamkan kepercayaan. Bukan berarti kamu percaya 100%. Percaya boleh, tapi harus tetap berada dalam koridor yang benar. Dalam hal ini, suami kamu sedang bekerja di luar kota, yang dibutuhkan dalam pernikahan kalian sekarang adalah rasa saling percaya,"
Kalau kamu terus menerus berpikiran yang tidak-tidak sampai menyebabkan kamu sakit, suami kamu juga bekerjanya tidak akan konsentrasi. Padahal, tujuan suami kamu bekerja di sana itu demi membiayai kita loh! Kenapa Ibu bilang kita? Suami kamu itu lelaki yang sangat bertanggung jawab, bukan hanya terhadap kamu tapi terhadap keluarga kita. Kalau bukan karena suami kamu, entah bagaimana nasib keluarga kita?"
"Ibu lihat Nak Wira itu bisa dipercaya. Terlepas dari bagaimana masa lalunya dulu, Nak Wira yang sekarang itu penuh tanggung jawab dan Ibu yakin sangat mencintai kamu. Tugas kamu adalah mempercayai suami kamu dan mendukungnya, dengan cara apa? Dengan cara mendoakan dia, memberi kepercayaan pada dia dan menyambut teleponnya dengan senyum dan hangat,"
"Jangan malah kamu kepikiran terus dan ujung-ujungnya sakit. Kasihan suami kamu, sudah banyak yang ia pikirkan. Nanti Nak Wira akan tambah pusing kalau kamu juga sedang sakit!" ceramah Ibu panjang lebar.
"Iya, Bu." jawab Dewi singkat. Kalau sudah diceramahi Ibu panjang lebar, apa yang bisa Dewi lakukan selain mengiyakan saja tanpa membantah?
"Sudah! Mau dikerok tidak?" tanya Ibu yang sudah selesai memijat kening Dewi.
"Enggak usah, Bu. Sakit." tolak Dewi.
__ADS_1
"Kamu ini, baru dikerik saja sudah sakit! Ibu sudah menyuruh Ratna membelikan bubur. Nanti kamu makan selagi hangat! Jangan makan capcay dulu. Nanti Ibu yang masakkin kamu makan siang!" omel Ibu lagi.
"Iya, Bu."
Ibu lalu keluar kamar. Dewi baru saja hendak tidur lagi ketika Ratna datang membawakan bubur ayam.
"Kak, kata Ibu harus langsung dimakan!" pesan Ratna seraya melirik roti bakar yang ia buat namun tak disentuh sama sekali oleh Dewi. "Tuh kan, roti buatan Ratna saja tidak Kakak makan!"
"Maaf ya, Dek. Kakak enggak berselera makan. Nanti Kakak makan. Sekarang Kakak makan bubur saja dulu, sebelum Ibu datang lagi dan mengomeli Kakak."
****
Wira sebenarnya agak kecewa dengan pihak asuransi. Uang ganti rugi yang dibayarkan tidak bisa mengcover semua, membuat Mommy harus mengeluarkan uang yang besar untuk membuat cafe baru.
Ia juga lelah sejak tadi mencari lokasi yang sesuai untuk cafe. Wira membeli sebotol air mineral dingin dan meneguknya sampai habis. Panas sekali cuaca siang ini, membuat kulitnya agak terbakar karena lupa memakai sunblock.
"Pak Wira masih belum ketemu tempat ya pas ya?" tanya Pak Budi.
"Baik, Pak."
Wira lalu mengikuti Pak Budi yang mengajaknya ke pasar. Sambil video call dengan Mommy Tari, Wira menunjukkan barang apa saja yang Mommy mau beli untuk mengisi cafe baru.
Beberapa barang yang cocok langsung Mommy suruh beli, sementara yang kurang cocok akan Mommy cari di Jakarta. "Belum dapat tempat juga, Bang?" tanya Tari.
Wira menggelengkan kepalanya. "Belum, My. Susah ternyata. Di sini lebih banyak cafe buat senang-senang dibanding cafe keluarga." keluh Wira.
"Kalau begitu, kamu cari dong obyek wisata yang pengunjungnya kebanyakan satu keluarga. Biasanya, tempat yang seperti itu lebih baik." saran Mommy.
Wira seperti mendapat ide baru. "Mommy benar juga! Oke deh, Wira akan cari dekat obyek wisata." ujar Wira dengan penuh semangat.
"Nah gitu dong! Semangat! Oh iya, Mommy mau main ke ruko ya sekalian melihat bisnis kamu. Mommy bosan di rumah. Boleh kan?"
"Boleh dong, My. Tentu saja buat Mommy, apa sih yang enggak? Sekalian Mommy tolong hibur Dewi ya, My. Kayaknya Dewi sedih aku ke Bali, sampai kepikiran dan sakit."
__ADS_1
"Hah? Dewi sakit? Sakit apa?" tanya Tari.
"Sakit rindu belaian dan pelukan Wira mungkin!" jawab Wira.
"Ish anak ini! Mommy nanya serius juga!"
"Wira hanya tau Dewi masuk angin, My. Bibirnya tadi pucet. Dewi sih bilang enggak apa-apa, tapi Wira enggak percaya. Mommy nanti coba tanya ya sakit apa?!"
"Iya. Yaudah Mommy tutup teleponnya ya! Kamu kerja lagi sana yang benar, biar cepat pulang jadi bisa membelai dan memeluk Dewi lagi deh!" goda Mommy.
"Ah Mommy, tau aja deh! Titip Dewi ya, My. Assalamualaikum!"
****
Tari mempersiapkan barang bawaannya untuk ke tempat Dewi. Dia sudah menyiapkan bahan makanan untuk mengisi lemari es agar Dewi mudah memasaknya.
Tari juga membawakan beraneka macam buah, cemilan, dan kue kering. Makanan yang dibawakan oleh Tari sangat banyak. Semua karena ia sangat mengkhawatirkan keadaan menantu satu-satunya tersebut.
Tari dibantu supirnya menurunkan barang bawaannya. Kedatangan Tari tentu saja disambut hangat oleh Ibu Sari, besannya. Mereka pun saling bersalaman.
"Gimana keadaan Dewi, Bu Sari? Kata Wira, Dewi sakit?" tanya Tari setelah dipersilahkan duduk oleh besannya.
"Masuk angin, Bu. Semalam kata Ratna enggak mau makan eh malah ketiduran di atas sejadah. Ratna bilang tadi pagi badannya dingin sampai muntah-muntah segala." cerita Ibu Sari.
"Ya Allah! Udah dibawa ke dokter belum?" tanya Tari yang sangat mengkhawatirkan keadaan menantunya tersebut.
"Belum, Bu. Habis makan bubur Dewi ketiduran. Tadi sih saya cek masih tidur."
"Boleh saya lihat langsung?" tanya Tari.
"Tentu, Bu. Mari saya antar!"
****
__ADS_1