
Bahri pun mulai melakukan penyelidikan. Ia ingin mencari tahu sendiri dari mana Kakaknya mendapatkan uang sebanyak itu.
Sayangnya, baik Dewi maupun Wira tidak ada kontak sama sekali. Wira sibuk dengan pekerjaannya dan Dewi juga sibuk sampai mereka belum membuat janji kapan bisnis plus-plus itu akan mereka lakukan lagi.
Namun Bahri tetap yakin ada sesuatu yang Kakaknya sembunyikan. Entah apa itu, Bahri bertekad akan menemukannya nanti.
Sesuai instruksi dari Wira, Dewi tetap meminum pil KB-nya setiap hari tanpa bolong sama sekali. Ia menyembunyikan pil KB tersebut di tempat yang aman agar tak ada yang menemukannya.
Hari ini, Dewi kembali mendapat shift kedua. Bahri akan menjemputnya nanti. Dia tak perlu mengkhawatirkan akan pulang naik apa karena cafe baru tutup jam 12.00 malam.
Rupanya, hari ini jadwal Wira berkunjung ke cafe di mana Dewi bekerja. Cafe yang terletak di Jalan Dharmawangsa tersebut, malam ini lebih sepi. Tak banyak pengunjung hari ini.
Cafe ini biasanya ramai pada weekend maupun pada jam kerja. Kalau sudah malam, hanya anak muda saja yang suka nongkrong. Jangan bandingkan dengan malam minggu, jumlah pengunjung pasti akan membludak.
Wira datang ke cafe sekitar pukul 08.00 malam. Ia harus mengecek laporan di cafe karena sempat menemukan selisih antara petty cash dengan laporan yang Ia terima.
Sambil menghitung jumlah petty cash yang ada di kasir, mata Wira terus terpaku pada Dewi. Rekan bisnis plus-plusnya itu malam ini terlihat begitu segar dan cantik. Bahkan, saat Dewi mengantarkan pesanan ke meja depan beberapa mahasiswa pun menggodanya
Wira terus memperhatikan gerak-gerik Dewi. Anak itu hanya menunduk malu dan tidak menanggapi anak mahasiswa yang menggodanya. Namun Wira tahu, anak mahasiswa itu benar-benar menyukai Dewi yang cantik. Hal tersebut membuat Wira tidak menyukainya
"Suruh Dewi ke ruangan saya!" pesan Wira pada karyawan yang lain dengan suaranya yang terlihat sekali sedang menahan emosi.
Wira lalu pergi ke ruangannya di atas. Ia menunggu Dewi datang sambil memeriksa laporan yang ada.
Dewi yang kembali dengan membawa pesanan yang telah Ia catat dari anak mahasiswa di depan, langsung diberitahu oleh bagian kasir kalau Ia dipanggil oleh Wira.
"Dewi, lo dipanggil tuh sama Pak Wira! Katanya lo disuruh ke ruangannya!" pesan kasir tersebut.
__ADS_1
"Dipanggil Pak Wira? Kenapa ya?"
Kasir itu mengangkat kedua bahunya. "Gue sih nggak tahu! Tapi, Pak Wira tadi kayaknya agak marah deh pas ngelihat lo digodain sama anak mahasiswa di depan! Seharusnya tadi tuh lo menghindar, jangan malah kayak tersipu-sipu malu gitu loh! Kesannya kan lo kesenangan gitu digodain sama anak mahasiswa!" kata sang kasir dengan pedasnya.
"Aku nggak tersipu malu kok! Waktu mereka menggoda, aku cuma menunduk aja. Aku kan harus mencatat pesanan mereka! Aku nggak ngegodain mereka!" Dewi pun mulai membela dirinya.
"Mana gue tahu? Udah sana lo samperin Pak Wira! Biar nanti yang lain aja gantiin kerjaan lo! Siap-siap aja lo diomelin sama Wira! Lo jelasin deh biar lo enggak kena omel." kasir tersebut pun menakut-nakuti Dewi.
Dewi tak langsung pergi ke lantai atas. Ia mengambil air minum dan meminumnya untuk menenangkan dirinya
Setelah menghirup nafas banyak-banyak, Dewi pun menghembuskan nafas perlahan dan menenangkan dirinya yang deg-degan karena tak tahu kenapa Wira memanggilnya di tempat kerja. Dewi lalu naik ke atas dan mengetuk pintu ruangan Wira. Setelah Wira mempersilahkan masuk, Dewi pun membuka pintu ruangan tersebut.
"Tutup pintunya dengan rapat lalu kunci!" perintah Wira.
"Maaf, Pak. Kata kasir, Bapak manggil saya?!" tanya Dewi setelah melakukan apa yang diperintahkan oleh Wira.
Dewi menuruti apa yang diperintahkan oleh Wira lalu berjalan mendekat dan berdiri di samping mejanya Wira. "Kenapa lo ngobrol sama mahasiswa tadi sambil senyum-senyum malu gitu? Sengaja mau tebar pesona?!"
"Saya nggak senyum-senyum kok Pak! Mereka memang menggoda saya, tapi saya cuekin. Saya kan harus mencatat pesanan mereka. Makanya saya nunduk aja." jawab Dewi dengan jujur, Ia tak mau dianggap sebagai cewek yang kecentilan.
Kejujuran Dewi malah membuat Wira semakin kesal. Justru sikap malu-malu Dewi membuat para mahasiswa itu terlihat makin gemas dengan apa yang Ia lakukan dan semakin tertarik untuk menggodanya.
"Lain kali, gue nggak mau ya ngelihat lo kayak gitu. Kalau ada mahasiswa yang ngegodain, lo beralasan pengen ke belakang dulu kek, terus suruh aja tuh karyawan cowok yang ambil alih! Jangan membuat diri lo makin digodain lagi sama mereka!" perintah Wira.
"Baik Pak!" Dewi mengiyakan saja perkataan Wira. Tak ada gunanya membantah, bisa kena omel lebih banyak lagi nantinya.
"Lo libur kapan?" tanya Wira lagi. Kini nadanya sedikit lebih lembut. Tak mau membuat Dewi takut padanya.
__ADS_1
"Besok lusa, Pak. Kenapa ya?" tanya Dewi dengar polosnya.
"Ya... Gue mau ngajak lo nginep di apartemen gue! Gue mau kali ini kita beneran seharian menghabiskan waktu bersenang-senang!" kata Wira yang juga menahan rasa malunya.
"Iya Pak. Terserah Bapak. Saya ikut aja."
"Hmm.... Tapi, tiba-tiba gue pengennya sekarang! Boleh kan gue ambil jatah gue sekarang?" rupanya Wira tersulut gairahnya melihat Dewi yang terlihat berbeda hari ini.
Dewi terkejut saat tahu Wira menginginkan dirinya sekarang. Ia masih bekerja dan baru 2 jam lagi jam kerjanya selesai. Di bawah masih banyak tamu dan karyawan yang bekerja. Kalau sampai mereka ketahuan bagaimana?!
Seakan tahu apa yang dipikirkan oleh Dewi, Wira pun membuka komputer miliknya dan mematikan CCTV yang berada di ruangannya. "Tenang saja, pintu sudah lo kunci .CCTV udah gue matiin, jadi aman!"
Lagi-lagi Dewi hanya bisa pasrah menuruti kemauan Wira. Ia harus membayar kewajibannya kapan pun Wira mau sesuai perjanjian mereka. Tentunya kalau Ia sedang datang bulan, persyaratan mereka batal. Untunglah, ruangan Wira tak terlihat dari luar. Ia pun berjalan mendekati Wira yang sudah menepuk pahanya.
Tanpa disuruh lagi, Dewi lalu duduk di pangkuan Wira dan melakukan apa yang Wira perintahkan.
Meski awalnya tak setuju dengan ide gila Wira yang mengajaknya berhubungan di kantor, namun saat bibir Wira mulai menciumnya, Dewi melupakan segala kekhawatirannya. Dia bahkan membalas ciuman Wira dengan lebih bergairah lagi
Wira tersenyum senang mendapati Dewi yang sudah banyak belajar. Ia tak lagi menjadi gadis polos yang pasif namun kini malah bertindak agresif. Dewi yang membuka sendiri pakaiannya dan membiarkan Wira menikmati dua buah sintal miliknya yang begitu menggoda.
Bahkan Dewi yang memimpin permainan hari ini. Ia bergerak dengan lincah di atas tubuh Wira, memberikan kenikmatan demi kenikmatan yang membuat Wira tak pernah merasa bosan dapatkan pelayanan darinya. "Lo minum obatnya dengan rutin kan?" tanya Wira sebelum mencapai pelepasannya
Dewi hanya bisa menggangguk karena Ia tak bisa mengucapkan kata-kata lagi selain suara desahaan ketika kenikmatan yang tiada tara datang lagi. Wira pun lalu menyelesaikan gairahnya dan membuat Dewi memeluknya dengan erat seraya menyebutkan namanya di sela-sela suara desahaannya yang seksi.
****
Mana nih votenya? Kok turun sih? Hmm... Apa? Double Up? Boleh aja kalau masuk 3 besar ya 🤣🤣🤭🤭
__ADS_1