
Jam pun berganti, para karyawan mulai berdatangan dan agak terkejut saat mengetahui kalau anak pemilik cafe tempat mereka bekerja datang untuk melakukan audit dadakan. Yang lebih membuat mereka heran dan bertanya-tanya, Wira yang biasanya datang seorang diri kini malah membawa seorang perempuan cantik.
Tentu saja hal tersebut membuat bisik-bisik penuh tanda tanya. Siapa wanita yang bersama dengan Wira? Apa hubungannya? Apakah sekarang Pak Wira sudah punya pacar?
Sejujurnya, kedatangan Wira banyak dinantikan oleh para karyawan di cafe tersebut. Apalagi Wira masih muda dan belum punya pasangan. Terlahir dari keluarga kaya raya yang memiliki banyak bisnis cafe dan showroom, membuat Wira menjadi idola bagi para karyawannya. Meskipun perkataannya suka pedas, semua seakan terkikis oleh ketampanan yang ia miliki.
Rasa kagum mereka semakin bertambah ketika melihat sikap tegas yang Wira tunjukkan. Wira tak malu menegur anak buahnya yang salah. Wira juga tidak langsung memberikan hukuman yang kejam seperti pemecatan. Ia akan memberikan kesempatan orang tersebut untuk berubah. Kalau memang masih tak ada perubahan ke arah lebih baik, dengan terpaksa Wira akan memberi hukuman yakni pemotongan gaji dan kalau masih belum berubah juga dengan terpaksa Wira akan berhentikan sebelum membuat kerugian yang lebih besar lagi.
Sebenarnya Wira jarang datang ke Bandung, ia lebih sering berada di Jakarta. Namun, karena cafe sudah semakin banyak dan butuh bagian audit, Wira terkadang turun tangan. Ada bagian audit tersendiri namun Wira ingin terjun langsung dan melihat bagaimana usaha yang dibangun oleh kedua orang tuanya.
Wira lalu mulai melakukan sidak sebelum cafe buka dan para tamu datang. Permasalahan utama adalah perbedaan antara petty cash dengan laporan yang diberikan. Wira lalu memanggil Dewi dan memintanya membantu menghitung petty cash yang tersedia. Wira sengaja tidak menyuruh kasir agar ia bisa mengecek langsung kebenaran dari apa yang ada di depan matanya
Para karyawan berpikir kalau Dewi memang adalah asisten Wira yang bertugas untuk mengaudit Cafe. Ketika Wira dan Dewi asyik memeriksa petty cash, manajer toko tiba-tiba mendapat telepon dari Tari. Ia pun pergi ke luar untuk menerima telepon yang masuk.
__ADS_1
"Selamat pagi, Bu Tari. Pasti Ibu mau bertanya apakah Bapak Wira sudah sampai atau belum ya? Bapak Wira udah sampai kok Bu bersama asistennya yang bertugas untuk mengaudit di sini." ujar manajer tersebut memberi laporan kepada atasannya.
Tari tentu saja terkejut. Ia tahu kalau terjadi selisih di cafe cabang Bandung, namun Wira belum mengatakan padanya kalau ia akan pergi ke Bandung dalam waktu dekat. Lalu yang lebih membuat Tari kaget adalah Wira tidak pergi seorang diri.
Tak mau membuat anaknya kehilangan muka di depan karyawan, Tari pun berpura-pura sudah tahu kalau Wira akan datang. "Alhamdulillah kalau sudah sampai, Pak. Boleh saya tahu Pak, asisten yang mana yang dibawa ya? Soalnya asistennya ada dua. Boleh difotoin nggak Pak? Tapi jangan bilang-bilang sama Wira kalau saya minta difotoin. Dia paling nggak suka kalau lagi kerja diganggu!"
Pintar sekali Tari kalau membuat alasan. Ia tak mau ada yang curiga sama sekali. Tari sangat penasaran, Tari yakin cewek yang dibawa oleh Wira adalah cewek yang sama yang rambutnya pernah ia temukan di atas kasur milik Wira.
Tari menutup teleponnya dan dia pun menunggu kiriman foto dari manajer cafe miliknya. Ia tampak cemas, bahkan tanpa sadar sejak tadi bolak-balik di dapur. Untunglah rumah sedang sepi. Agas sedang asyik mengobrol di pos kamling bersama teman-teman satu gengnya. Sedangkan Carmen, anak itu sudah berangkat kuliah.
Rasa penasaran Tari harus ia sembunyikan terlebih dahulu. Jangan sampai Wira tahu kalau dia sudah mencurigai anaknya sendiri. Agas juga jangan sampai tahu dulu, takut suaminya terbakar emosi dan langsung mengomeli Wira. Hubungan Wira dan Agas bisa saja merenggang karena kejadian itu. Mereka saja kalau bertemu sering bertengkar, apalagi kalau ada masalah kayak gini? Bisa semakin bertengkar saja karena terlalu miripnya sifat mereka berdua!
Setelah mengucapkan terima kasih, Tari pun duduk di ruang tamu seraya memikirkan siapa gadis dalam foto yang bersama dengan Wira? Berdasarkan rambut yang ditemukan oleh Tari, sesuai sekali dengan rambut cewek yang berada di samping Wira. Yang mencurigakan selanjutnya adalah Wira yang tiba-tiba ke Bandung tanpa memberi tahu dirinya terlebih dahulu.
__ADS_1
Tari jadi penasaran, sejauh apa hubungan Wira dengan cewek tersebut? Tari nggak mau Wira sampai berbuat di luar batas. Tari memang sudah mencurigai Wira agak mirip dengan kelakuan Agas di masa lalu tapi sebisa mungkin Tari sebagai orang tua mengarahkan Wira agar tidak melakukan kesalahan seperti yang dilakukan oleh Agas dulu. Namun Tari nggak bisa selamanya mengawasi Wira.
Anaknya itu sudah dewasa. Segala bekal demi masa depannya sudah diberikan oleh Tari. Mulai dari ilmu agama, pendidikan di sekolah yang bagus dan komunikasi di rumah juga. Apa daya kalau memang sejak kecil Wira sering bergaul dengan teman-teman Abi-nya yang menurutnya masih nggak bener.
Tari tak mau bersikap keras terhadap Wira karena tahu anaknya pasti akan nekat dan malah tidak mau mendengarkan jika diperlakukan dengan keras. Ia mau menjadi sahabat bagi anaknya karena itu Tari memutuskan akan datang ke apartemen Wira secara diam-diam.
***
Pemeriksaan petty cash dan berbagai laporan di cafe cabang Bandung sudah selesai ketika jam menunjukkan pukul 14:00. Permasalahannya sudah ditemukan dan hanya terjadi kesalahan input saja antara laporan dengan jumlah petty cash. Masalah sudah selesai, Wira dan Dewi pun memutuskan untuk menjemput Ratna.
"Lo udah telepon Tante lo belum? Bagaimana reaksi Tante lo?" tanya Wira seraya mengemudikan mobil keluar dari area cafe. Tak lupa Wira memberikan tip kepada security yang berjaga sebelum dia pergi.
"Udah. Agak kaget sih tapi kayaknya Tante juga terima. Sekarang Tante lagi hamil, udah 8 bulan. Dari kemarin, Tante sih udah ngomong kalau setelah melahirkan nanti belum tentu bisa mengurus Ratna. Saya agak kesal sih dengernya, kayak kalau udah nggak dibutuhin ya udah gitu Ratna dilupain. Saya sebenarnya nggak mau Pak adik saya diperlakukan kayak gitu. Apa daya, kalau saya mampu juga sudah saya ambil adik saya sejak dulu! Sekarang berkat Bapak , Ratna bisa pulang ke rumah. Kami sekeluarga bisa kumpul lagi. Makasih banyak ya Pak. Bapak tuh punya jasa yang besar sekali di keluarga saya." kata Dewi dengan sungguh-sungguh.
__ADS_1
"Pokoknya, lo doain aja gue tetap punya banyak rezeki. Jadi gue bisa membantu lo dan keluarga lo terlepas dari masalah keuangan. Lo juga harus berdoa semoga bisnis yang gue ajuin ke Mommy bisa di acc. Kalau gue punya bisnis sendiri setidaknya keluarga lo akan hidup lebih baik. Gue juga akan punya uang lebih yang bisa terus membantu lo." entah kenapa Wira malah memberikan harapan kepada Dewi. Satu yang pasti, Wira tak ingin melihat Dewi hidup dengan penuh penderitaan. Mungkin Wira malu mengakui, tapi dimulai dari rasa peduli dan nyaman, semuanya akan berujung dengan cinta.
****