
Sekarang gantian, Bahri yang turun tangan membela Wira. "Bahri Pak yang mengusulkan semuanya! Waktu itu, Bahri lagi main ke apartemennya Pak Wira, Bahri yang menawarkan sama Pak Wira kalau Bahri saja yang menikahi Pak Wira dengan Dewi. Pak Wira nggak langsung setuju, namun ia pikir ini satu-satunya cara agar hubungannya dengan Kak Dewi bisa menjadi suami istri,"
"Bahri yang membujuk Pak Wira agar mau menikah siri dahulu baru nanti setelah Bapak sudah lebih sembuh dan pulih kembali bisa melegalkan pernikahannya. Bapak inget enggak, Bahri pernah tanya-tanya tentang wali nikah sama Bapak? Nah, itu tujuan Bahri nanya-nanya sama bapak, untuk mengetahui bagaimana keputusan Bapak. Waktu itu, Bapak menyerahkan sama Bahri kok! Jadi Wajar dong kalau Bahri berani menikahkan Kak Dewi dan Pak Wira?!"
"Bapak nggak suka ya kamu mengambil keputusan semudah itu Bahri! Kakak kamu tuh masih punya Bapak yang bisa menikahkan secara langsung! Kalaupun memang Bapak sedang sakit setidaknya Bapak bisa meski hanya melihat saja. Yang penting Bapak tahu kapan Dewi menikah!" ujar Bapak yang terlihat kesal dengan jawaban dari Bahri.
"Saya mohon maaf sekali, Pak." Wira kembali turun tangan. Dia tak mau keadaan menjadi semakin panas. Sebentar lagi orang tuanya akan datang, ia harus bisa meyakinkan kedua orang tua Dewi. "Karena cinta saya yang begitu besar pada Dewi, saya khilaf dan ingin memiliki Dewi sebagai istri saya secepatnya. Meskipun dengan jalan nikah siri. Saya nggak mau kehilangan Dewi, Pak."
Wira lalu meraih tangan Dewi dan mulai berakting layaknya sepasang kekasih yang saling mencintai. "Dewi adalah istri yang sangat saya cintai. Dewi adalah wanita yang ingin saya bahagiakan hidupnya. Selama ini saya menunggu Dewi menerima lamaran saya, semakin hari semakin tak sabar rasanya, Pak. Apa yang ditawarkan oleh Bahri, jujur saja membuat saya tergoda. Ini kesempatan saya memiliki Dewi yang sangat saya cintai."
Kedua alis Dewi bertaut mendengar akting Wira. "Cinta? Bukannya kerjaan Bapak cuma ngomel-ngomelin saya aja?!" batin Dewi.
Wira lalu mencengkram agak kencang tangan Dewi. Memberi kode agar istrinya tersebut membantunya dalam berakting. Dewi menahan rasa sakit akibat ulah Wira, Ia pun mulai mengikuti Wira berakting guna meyakinkan kedua orang tuanya.
"Apa yang Pak Wira katakan benar, Pak. Kami sudah saling mencintai tapi Dewi nggak mau kami berpacaran. Banyak yang harus Dewi pikirkan. Bagaimana dengan Bapak dan Ibu? Bagaimana adik-adik Dewi? Namun Dewi sangat mencintai Pak Wira. Dewi tak kuasa saat Pak Wira ingin menikahi Dewi. Tak bolehkah Dewi sedikit saja egois dan mementingkan perasaan Dewi, Pak?!" Dewi juga ikut berakting dengan memeluk lengan Wira sambil tangannya mencubit-cubit sedikit Wira sebagai bentuk pembalasan atas ulahnya membuat tangan Dewi sakit.
Wira menahan rasa sakit akan perbuatan yang Dewi lakukan sambil tetap memasang senyum di wajahnya. "Sekarang kedua orang tua Pak Wira mau datang, ini kesempatan untuk Dewi dan Pak Wira meresmikan pernikahan kami berdua di mata hukum. Bapak tentu mau kan pernikahan Dewi dicatat di Kantor Urusan Agama? Jadi, daripada kita berdebat lebih baik kita bersiap-siap menyambut kedatangan kedua orang tua Pak Wira, Pak."
Wira melirik ke arah Dewi sambil memberi kode kalau sejak tadi tangan Dewi terus mencubit dirinya dan terasa sakit. Dewi acuh saja. Dia suka melihat ekspresi Wira yang menahan sakit tapi harus tetap tersenyum.
__ADS_1
Bapak terdiam dan memperhatikan Wira dan Dewi secara bergantian. Dewi melepaskan tangannya agar Wira bisa berakting natural. Bapak bisa melihat kalau hubungan antara Dewi dan Wira memang sudah dilandasi oleh rasa cinta. Tak mungkin boss dan anak buah bisa begitu dekat sampai seperti ini. Wira juga sangat peduli dengan keluarganya dan rela menolong keluarganya saat sedang kesusahan. Apa namanya kalau bukan cinta?!
Bapak lalu menghela nafas panjang. Sebuah keputusan sudah diambil. Tentu konsekuensinya juga harus ia terima. "Baiklah. Bapak bisa apa? Toh kalian berdua sudah nikah siri! Sekarang mari kita sambut keluarga Bapak Wira yang mau datang. Mengenai pernikahan kalian yang sudah terjadi Bapak hanya bisa berdoa agar rumah tangga kalian langgeng sampai mau memisahkan."
Mata Dewi berkaca-kaca mendengarnya bukan karena perkataan Bapak yang begitu menyentuh, namun karena Dewi sadar kalau dia sudah melakukan banyak perbuatan dosa terhadap Bapaknya. Ia dan Bahri sudah memperalat Bapak agar bisa melakukan nikah siri. Kini Bapak-nya malah menerima pernikahan mereka dan mendoakan agar dirinya bahagia. "Makasih, Pak. Bapak selalu mendoakan Dewi. Dewi juga selalu berdoa agar Bapak sehat selalu dan bisa melihat kebahagiaan demi kebahagiaan dalam hidup Dewi. "
"Sudah... Sudah! Sekarang, mari kita beres-beres rumah dan mempersiapkan makanan untuk menyambut kedua orang tua nlNak Wira!" Ibu pun menengahi.
Setelah Ibu bertitah, semua pun mulai sibuk membereskan rumah. Menyapu, mengepel, dan menggelar tikar di dalam ruang tamu. Wira pamit sebentar keluar untuk menghubungi Mommynya. Wira minta tolong dengan sangat kepada Mommy dan Abi untuk tidak menceritakan tentang bisnis plus-plus yang dilakukan dirinya dan Dewi. Ia juga meminta Mommy bekerja sama dengan mengatakan kalau ia sangat mencintai Dewi karena itu rela melakukan nikah siri.
Tari menyanggupi permintaan anaknya. Dia juga setuju kalau alasan mereka menikah karena bisnis plus-plus adalah sebuah aib yang harus ditutupi. Keluarga Dewi tak perlu sampai tahu, apalagi Bapaknya yang baru sembuh dari sakit. Tak perlu menambah beban pikiran keluarga yang sudah susah hidupnya. Agas juga sependapat dengan Tari. Mereka pun mengiyakan permintaan dari Wira.
Dewi membantu Ratna mengangkat meja untuk ditaruh di luar karena tahu Ratna tak kuat mengangkatnya seorang diri. Wira pun ikut turun tangan dan membantu Bapak dan Ibu membereskan rumah. Ia juga memesan cemilan untuk menyambut kedatangan kedua orang tuanya.
Sampai tetangga Dewi mulai kasak kusuk karena kedatangan Bapak ganteng, Agastya Wisesa. Wira dan Dewi melihat ke depan rumah dan mendapati Agas sedang berfoto bersama para ibu-ibu.
"Bapak artis yang main sinetron itu ya?" tanya seorang ibu-ibu pada Agas.
"Bukan, Bu." jawab Tari dengan sopan.
__ADS_1
"Tapi mirip, Bu! Kayak yang main film box office gitu!" ibu-ibu itu masih ngotot kalau dia pernah melihat Agas.
"Bukan, Bu. Suami saya cuma bapak-bapak biasa yang suka ngongkrong di pos kamling!" jawab Tari dengan sebal. Sejak tadi langkah mereka tertahan karena Agas mau saja menuruti kemauan ibu-ibu yang minta foto bareng.
"Ah masa sih, Bu? Kulit Bapak halus banget kayak artis loh! Rahasianya apa sih Bu dapat suami tampan dan gagah begini? Pasti kalau di ranjang gagah juga dong!" ibu-ibu yang lain kompak tertawa mendengar celetukan ibu-ibu centil itu.
"Saya enggak segagah itu sih, ya... beberapa ronde masih bisa lah!" Agas yang di atas angin merasa senang dielu-elukan ibu-ibu.
Sampai...
"Bapack-bapack centil! Cepat sini!" teriak Wira membuat kerumunan bubar.
"Yah... Udahan dong? Nanti kita foto lagi ya, Bapak ganteng!" goda ibu-ibu centil.
"Oke! Saya pergi dulu ya ibu-ibu! Jangan lupa tag nama saya ya kalau di upload di sosial media! Cari saja Agastya Wisesa, oke?" ujar Agas.
"Oke Bapak ganteng!"
****
__ADS_1