Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Kunjungan Dadakan


__ADS_3

Dewi sangat terharu dengan apa yang Bahri lakukan untuknya. Bahri memang adalah adik yang dewasa untuk usia seumurnya. Bukan hanya cerdas, Ia juga sayang terhadap keluarga.


Mungkin rasa bersalah Bahri karena sudah membuat Dewi nekat mengambil keputusan dan jalan pintas yang membuat Bahri ingin menembus kesalahannya dengan membantu melunasi hutang milik Dewi.


Wajah Bahri yang terlihat kurus dan lelah adalah bukti kalau ia sudah bekerja keras semampunya. Pantas saja, ia sudah lebih dari seminggu tidak pulang. Ternyata ia bekerja mengojek ke sana ke sini hanya demi membantu Dewi Semata. Air mata pun tak kuasa Dewi tahan. Dia menangis haru melihat pengorbanan adiknya.


"Makasih ya, Dek! Kakak menghargai usaha kamu. Namun lebih baik uang ini kamu pakai untuk mendaftar kuliah. Kamu pintar, Dek. Dengan menuntut ilmu, kamu bisa sukses. Masalah hutang Kakak, kamu tak perlu khawatir. Pak Wira tak sejahat itu kok sama Kakak. Pak Wira baik, bahkan mau membuka bisnis laundry dengan Ibu sebagai pengawasnya."


Dewi lalu memberikan kembali amplop yang Bahri berikan. "Kakak bangga sama kamu. Kakak akan lebih bangga lagi kalau kamu bisa menggunakan uang ini buat masa depan kamu. Jangan pikirkan Kakak. Kakak baik-baik saja tinggal dengan Pak Wira."


Bahri menelisik kebenaran perkataan kakaknya dari sorot mata dan wajah Dewi. Wajah Dewi memang menampakkan kebahagiaan dan tak seperti dulu yang terlihat tertekan. "Tapi Kak-"


"Udah. Percaya deh sama Kakak. Kami sekarang udah suami istri berkat kamu. Pak Wira juga tak meminta Kakak membayar dengan cara yang Kakak tawarkan. Cukup menginap di apartemen dan menemaninya sudah mengurangi hutang Kakak. Baik bukan? Jadi, kamu daftar kuliah saja ya! Nanti Kakak gajian, akan Kakak tambahin. Oke?"


Bahri tak bisa menolak permintaan Kakaknya. "Baiklah kalau Kakak maunya kayak gitu. Bahri akan daftar kuliah dan buktikan kesuksesan Bahri sama Kakak!"


Dewi tersenyum bangga dengan adiknya. "Dek, begini aja deh. Kamu anterin Kakak ke pasar. Kakak mau beli ikan. Mau kan?"


"Tentu dong, Kak. Ayo!"


Dengan diantar Bahri, Dewi pun ke pasar dan membeli ikan untuk Wira. Ia sempatkan membuat dua toples ikan goreng tepung untuk Wira sebelum Ia pergi bekerja.


Wira masih tertidur pulas. Dewi pun pergi bekerja dan meninggalkan makanan untuk Wira bangun nanti. Ia harus bekerja dan akan pulang ke apartemen lagi nanti malam.


****


Wira bangun saat adzan dzuhur berkumandang. Tidurnya lelap sekali sampai lupa sholat.


Wira pun mencari keberadaan Dewi dan tak menemukan dimana istrinya berada. Namun di meja makan sudah ada aneka masakan dan dua toples ikan goreng tepung kesukaannya.

__ADS_1


Wira melihat jam di dinding dan sadar kalau Dewi sudah berangkat kerja. Wira merasa sangat lapar dan hendak makan. Ia pun mengambil nasi dan lauk lalu bersiap makan.


Baru dua suap Ia menikmati enaknya masakan Dewi, pintu apartemennya ada yang mengetuk. Wira pun membukakan pintu dan agak terkejut saat Mommy Tari datang.


"Mommy?" tanya Wira dengan kaget.


"Iya. Kenapa sih? Kaget begitu liat Mommy?! Mommy habis dari cafe, mampir sebentar liat keadaan kamu." Tari pun masuk ke dalam apartemen Wira. "Kamu baru bangun ya?"


"Iya, My."


"Ya Allah. Habis begadang deh pasti! Udah makan belum?"


"Wira lagi buat proposal buat diajuin sama Mommy." Wira pun duduk kembali di meja makan melanjutkan sarapannya. "Wira lagi makan, My. Mommy mau?"


"Makan? Kamu masak?" Tari berjalan mendekati Wira dan melihat aneka masakan yang rasanya tak mungkin Wira yang masak.


"Iya. Ayo makan bareng!" ajak Wira.


Tari pun duduk dan ikut mencoba makanan yang Wira makan. Ia curiga namun tak mau bertanya lebih jauh. "Itu ikan kamu bikin sendiri?" tunjuk Tari pada ikan tepung yang sejak tadi Wira makan dengan lahap.


"Enggak. Ini teman Wira yang buat. Mommy coba deh. Kalau Mommy cocok, bisa kali dimasukkin ke menu makanan yang dijual di cafe. Nanti teman Wira yang jadi pemasoknya!" Wira memberikan Tari ikan kesukaannya.


Tari mencoba dan langsung menyukai ikan buatan Dewi. "Iya. Enak loh. Boleh nih buat dimasukkin ke makanan yang dijual di cafe. Tinggal pakai sticker udah kelihatan keren. Kenalin dong Mommy sama teman kamu!"


Wira tersenyum senang dan bangga karena Dewi dipuji oleh Mommynya. "Nanti aku kenalin. Mommy makannya yang banyak dong!"


Tari makan dengan penuh rasa curiga. Selesai makan, Wira mencuci piring dan merapihkan meja makan. Kesempatan ini Tari gunakan untuk melihat kamar Wira.


Sudah diduga, kamar anak lelakinya pasti berantakan. Jiwa seorang ibu-ibu miliknya memberontak. Ia pun langsung membereskan tempat tidur dan terdiam manakala menemukan dua helai rambut panjang.

__ADS_1


"Rambut panjang? Enggak mungkin milik Wira. Pasti ini rambut perempuan! Apa Wira sering membawa perempuan ke apartemennya untuk berbuat mesum? Apa perempuan ini juga yang memasak untuk Wira?" batin Tari.


Selesai membereskan tempat tidur, Tari pun pergi ke toilet. Tak ada yang aneh di sana.


Tari terus mencari bukti untuk memperjelas kecurigaannya. Feelingnya mengatakan kalau di dalam lemari ada sesuatu yang anaknya sembunyikan.


Baru saja Tari hendak membuka lemari, Wira memanggil namanya. "Mom! Sini deh! Wira mau nunjukkin sesuatu sama Mommy!"


Tari acuh, Ia masih penasaran siapa pemilik rambut panjang di atas tempat tidur. Ia pun hendak membuka lemari namun sayang dikunci.


"Mom! Mommy ngapain sih?" tanya Wira tak sabaran.


Tari mengambil sapu lidi dan berpura-pura merapihkan tempat tidur. "Mommy lagi rapihin tempat tidur kamu!"


Wira pun mendekat dan merangkul Mommnya. "Udah biarin aja! Ayo aku mau tunjukkin rencana bisnis aku sama Mommy!"


Tari pun mengalah atas rasa penasarannya. Toh nanti juga akan ketahuan, begitu pikirnya.


Tari mengikuti Wira ke ruang tamu. Wira lalu mempresentasikan rencana bisnis buatannya.


"Kamu mau bisnis laundry? Enggak salah? Udah banyak yang buka bisnis kayak gitu, Nak!" ujar Tari.


"Iya, My. Tapi aku mau buat sekalian sama produksi sabun cuci dan pewanginya. Kayak Mommy yang membuat cafe juga pabrik kecil buat supplai bahan ke cafe. Rencananya aku mau buat beberapa cabang nanti. Lumayan menyerap tenaga kerja." ujar Wira dengan penuh keyakinan.


"Bukannya kamu mau bisnis otomotif biar bisa dijual di showroom Abi kamu?"


"Itu dulu, My. Aku udah survey lapangan. Menurutku bisnis ini lumayan menjanjikan. Nanti aneka sabun aku jual secara online. Aku juga mau jual aneka makanan kering kayak ikan tepung yang Mommy makan tadi."


"Kamu... dapat ide darimana?"

__ADS_1


****


__ADS_2