
Rasanya Dewi masih tak bisa percaya kalau yang berada di layar tersebut adalah anak hasil buah cintanya dengan Wira. Penjelasan dokter bagaikan angin lalu, Dewi masih terkagum-kagum dengan janin miliknya yang terlihat di layar.
"Nanti jangan lupa diminum vitaminnya ya, Bu. Jangan terlalu lelah dan makan makanan yang bergizi." pesan Dokter sebelum Dewi dan Tari meninggalkan ruangan.
Tari masih tersenyum bahagia seraya merangkul Dewi dengan penuh cinta. Sesekali ia mengusap perut Dewi dengan lembut. Seakan dengan mengusap perut Dewi, ia sudah menyentuh langsung cucu pertamanya tersebut.
"Habis nebus obat, kamu mau makan apa, Wi? Mau makan makanan Korea, Jepang, Chinese food, Sunda, Padang atau apa semua bebas!" ajak Tari.
Dewi hanya tersenyum tipis, "Terserah Mommy saja!" jawab Dewi.
"Jangan begitu dong! Kamu yang pilih mau makan apa. Mommy akan menuruti keinginan kamu!"
"Hmm... Apa ya, My? Dewi enggak selera makan." jawab Dewi jujur.
"Enggak boleh! Kamu harus makan! Kamu dengar kan apa yang dokter katakan tadi? Harus makan makanan yang bergizi. Sekarang kamu makan bukan hanya untuk diri kamu sendiri, tapi juga anak dalam kandungan kamu juga!"
"Yaudah kita makan-" belum sempat Dewi menjawab, Hp milik Tari berbunyi.
"Wira, Wi! Wah tahu saja anak itu! Kontak batin rupanya!" ujar Tari yang langsung mengangkat panggilan dari anaknya.
"Assalamualaikum, My. Mommy jadi ke ruko? Jadi antar Dewi ke dokter enggak, My?" tanya Wira tak sabaran.
"Waalaikumsalam. Jadi dong, Sayang. Mommy sekarang lagi nunggu obat. Baru saja selesai diperiksa." jawab Tari seraya mengerlingkan matanya ke arah Dewi.
"Dewi sakit apa, My?" Wira sangat mengkhawatirkan keadaan Dewi. Sejak melihat wajah pucat Dewi, pikiran Wira jadi tak tenang. Selama bekerja saja kepikiran Dewi. Untunglah Mommy mau menjenguk dan mengantar Dewi ke rumah sakit. Mengikis sedikit rasa khawatir dalam dirinya.
"Sakit apa ya? Dewi saja deh yang beritahu kamu!" Tari membuat Wira semakin diliputi rasa penasaran.
"Bikin aku jadi tambah penasaran aja, My! Jangan main teka teki deh!" omel Wira.
"Sabar, Sayang! Mommy kasih teleponnya ke Dewi ya!" Mommy Tari memberikan Hp miliknya pada Dewi.
Dewi menerima Hp Mommy dan menempelkannya di telinga. "Assalamualaikum."
"Waalaikumsalam! Sayang, kamu sakit apa? Kenapa Mommy enggak mau beritahu aku langsung sih? Kalian lagi main teka teki ya?!" cerocos Wira panjang lebar.
"Sabar dong, Sayang!" mendengar suara Wira yang sudah emosian mengobati sedikit rasa kangen dalam diri Dewi. Sudah lama sekali rasanya tidak mendengar Wira marah-marah, "Aku nggak sakit."
"Kalau kamu nggak sakit, kenapa muka kamu pucat? Pasti ada sesuatu deh! Ayo cerita sama aku! Aku nggak mau ya kamu sama Mommy menyembunyikan tentang kesehatan kamu sama aku! Aku jadi kepikiran terus nih! Jangan sampai, aku langsung pulang ke Jakarta cuma untuk melihat keadaan kamu!" ancam Wira dengan sungguh-sungguh.
"Kamu jangan emosian dulu dong! Aku nggak bohong. Aku nggak sakit. Aku tuh memang lemas dan mual, tapi bukan karena aku sakit!" ujar Dewi menenangkan emosi Wira.
__ADS_1
"Lantas kenapa? Kata dokter apa? Kamu tadi sudah periksa ke lab belum? Pokoknya, harus periksa sampai terperinci ya!" Wira kembali menjadi sosok yang bawel.
"Aku enggak periksa ke lab karena-" belum selesai Dewi berbicara sudah Wira potong.
"Tuh kan enggak periksa ke lab! Gimana sih Mommy ini?!" keluh Wira.
"Sayang!"
"Hemm."
"Dengerin aku dulu dong!"
"Kamu juga dengerin aku juga, kalau periksa di lab bisa tahu sakitnya dimana jangan ngeyel dan-" sekarang gantian Dewi yang memotong ucapan Wira.
"Aku udah di cek dan udah ketahuan hasilnya." ucapan Dewi membuat Wira membungkam mulutnya tak lagi mengoceh dan mulai penasaran.
"Apa hasilnya? Bagus kan?!"
"Iya. Bagus. Alhamdulillah."
"Alhamdulillah. Lalu penyebab kamu terlihat pucat dan lemas apa?"
"Iya. Aku tahu kamu lemas dan muntah makanya jadi mual." ujar Wira.
"Karena aku hamil."
"Iya memang orang hamil suka mual dan muntah di awal kehamilan." Wira akhirnya tersadar dan menaikkan sedikit intonasi suaranya. "HAH? KAMU HAMIL?"
Dewi menjauhkan Hp Mommy dari telinganya. Bukan hanya Wira yang kaget saat ini, dirinya juga. Tiba-tiba mendengar suaminya teriak, siapa yang tak kaget coba?!
"Iya. Aku hamil."
Wira terdiam. Di ujung telepon sana Ia masih membuka mulutnya karena terlalu terkejut. Sampai akhirnya ia berhasil bertanya. "Kok bisa?"
Dewi mengernyitkan keningnya mendengar pertanyaan Wira. "Maksudnya?"
"Ada apa? Abang nanya apa?" Tari lalu mengambil Hp dari tangan Dewi, gantian dirinya yang berbicara.
"Tadi kamu nanya apa, Bang?" tanya Tari.
"Aku nanya, Dewi kok bisa hamil?!" tanya Wira yang masih tak percaya.
__ADS_1
Tari menghirup udara banyak-banyak dan menghembuskannya dengan kasar.
"Bang, kamu lupa malam-malam panas kamu dan istri kamu?" tanya Tari yang membuat Dewi menoleh dan malu. "Pake nanya lagi kenapa Dewi bisa hamil!"
"Ya... Iya. Wira tau, My. Tapi bukannya Dewi minum pil KB?" tanya Wira.
"Sebentar, Mommy nanya Dewi dulu!" Mommy lalu bertanya pada Dewi. "Wi, kata Wira bukannya kamu minum Pil KB?"
"Udah habis, My." jawab Dewi jujur.
"Oke. Mommy sampein dulu." Mommy kembali bicara pada Wira. "Kata Dewi udah habis."
"Kenapa enggak beli lagi?" tanya Wira.
"Wi, kenapa enggak beli... Loh kok Mommy jadi kayak penghubung kalian berdua sih? Nih kamu ngomong langsung saja sama Dewi!" omel Tari.
Dewi menerima Hp yang kembali Tari berikan. "Iya."
"Kenapa kamu enggak beli lagi?" tanya Wira.
"Bukannya kamu bilang terserah aku mau minum lagi atau enggak?" Dewi membalikkan lagi perkataan Wira dulu.
"Ya... Iya sih. Tapi.... "
"Kamu enggak suka kalau aku hamil?!" tebak Dewi.
Bukan hanya Wira yang kaget dengan pertanyaan Dewi, Tari juga. Nada suara Dewi terdengar marah bercampur kecewa. Tari mengusap punggung Dewi seraya bicara menenangkan, "Sabar, Wi!"
"Bukan. Aku bukan enggak senang kamu hamil. Aku pikir kamu tetap minum pil KB makanya kok bisa kebobolan hamil." Wira mulai bingung mau berkata apa.
"Ya itu sama saja kamu enggak suka aku hamil!" Dewi mulai berlinang air mata. Satu persatu tetes air mata mulai membasahi wajahnya.
"Aku... Enggak gitu, Sayang!"
"Jawab jujur. Kamu enggak senang bukan mendengar kabar aku hamil?!" tanya Dewi dengan emosi. Suaranya bergetar karena berbicara sambil menangis. Hatinya sedih dan kecewa karena Wira bukannya menyambut bahagia kehamilannya malah mempertanyakan kenapa dirinya bisa hamil!
"Aku... Kaget. Berita ini membuat aku kaget dan ya... terkejut. Aku pikir kamu sakit makanya memaksa Mommy antar kamu ke dokter tapi... Beri aku waktu untuk menenangkan diri. Aku-"
"Berarti kamu benar tidak senang dengan kehamilanku bukan? It's oke." Dewi lalu memberikan Hp pada Tari dan pergi ke toilet.
****
__ADS_1