
Wira mengangkat wajahnya dari layar laptop ketika mendengar suara pintu rumahnya terbuka.
"Assalamualaikum!" salam Dewi yang datang sehabis bekerja.
"Waalaikumsalam." jawab Wira yang kembali asyik dengan laptop miliknya.
"Kok gelap begini sih? Bapak enggak nyalahin lampu?" tanya Dewi yang bak rumah sendiri, menyalahkan semua lampu agar apartemen Wira terlihat terang.
"Sibuk. Masih buat laporan." jawabnya singkat.
Dewi berjalan mendekat ke arah Wira dan mengulurkan tangannya untuk salim. Wira sudah tau dan memberikan tangannya. "Bapak udah makan belum?"
Wira menggelengkan kepalanya.
"Hah? Dari kapan belum makan?" tanya Dewi.
"Hmm... Terakhir sih waktu kita makan bareng sebelum kamu kerja." jawab Wira tanpa mengalihkan pandangannya dari laptop.
"Ya ampun! Udah lama itu mah! Tunggu saya mandi sebentar nanti saya masakkin. Mau makan apa?" tanya Dewi yang sangat mengkhawatirkan Wira.
"Apa aja." jawab Wira singkat.
Dewi melihat Wira sekilas dan suaminya memang fokus dengan layar laptopnya sampai lupa makan. Apa yang Wira lakukan juga untuk Ibunya. Tanpa Wira sadari, timbul rasa kagum dalam diri Dewi.
Laki-laki baik meski ucapannya sangat menyakitkan hati ternyata seperti malaikat yang bersembunyi dibalik topeng devil. Hanya memasak untuk Wira yang bisa Dewi lakukan.
Dewi pun segera mandi dan berganti pakaian. Ia yang menganggap apartemen adalah rumahnya sendiri langsung mencari bahan makanan. Benar yang Wira bilang, Mommynya selalu mengisi lemari es dengan banyak makanan tapi jarang Ia masak.
Dewi mengambil kwetiaw, telur, sosis dan bakso. Ia berencana akan membuatkan kwetiaw rebus. Menu hangat yang pas dimakan di malam hari saat perut kosong.
Dewi pun memasak untuk Wira. Menu praktis yang siap hanya dalam 10 menit saja. "Tutup dulu laptopnya, mau makan!" ujar Dewi seraya membawakan makanan yang Ia buat.
"Tanggung. Lagi on fire!" jawab Wira.
Dewi duduk di samping Wira dan melihat toples ikan goreng tepung miliknya sudah kosong. "Ikannya enak? Mau saya buatin lagi?"
__ADS_1
"Mau!" jawab Wira cepat. "Tadi gue sambil ngetik makanin. Enak. Buatin yang banyak!"
Dewi tersenyum senang, hanya ikan teri tepung namun Wira sudah senang seperti itu. Setidaknya bersama Wira Ia merasa memiliki teman yang sebenarnya. Tidak seperti di kantor yang seharian ini menatap dirinya dengan jijik. Dewi tak tau dan tak mau tahu. Peduli setan dengan pandangan orang, toh mereka tak memberinya uang untuk makan.
Mungkin hanya Wira satu-satunya teman Dewi. Reputasi jelek keluarganya yang suka ngutang membuat teman-temannya menjauh. Takut diutangin. Tak masalah buat Dewi. Toh mereka juga tak akan Ia ingat kala punya banyak uang nanti. Entah kapan...
Wira tak juga menyentuh masakan buatan Dewi. Membuat Dewi gemas dan memutuskan menyuapi Wira. "Buka mulutnya!"
Wira menurut dan memakan apa yang Dewi suapi. "Enak. Apaan nih?!" rupanya melihat apa yang Dewi masak juga tidak. Wira kalau sudah fokus pada satu hal bisa lupa sama yang lain.
"Kwetiaw rebus. Saya lihat ada kwetiaw di lemari es yaudah saya buat aja." jawab Dewi seraya kembali menyuapi Wira.
"Enak. Gue suka. Nanti gue minta Mommy bawain kwetiaw lagi biar lo masakkin." kata Wira seenaknya.
Dewi tersenyum mendengarnya. "Pak, itu makanan siapa yang masak? Kenapa banyak banget? Kayak enggak tau aja kalau Bapak enggak pernah ngabisin?!"
Gantian Wira yang tersenyum. "Mommy gue tuh takut anaknya kelaperan karena tinggal di apartemen sendirian. Jadi ya dilengkapi makanan kayak mau perang. Stoknya banyak! Padahal ada lo yang masakkin!"
Kini Dewi terdiam. Ia pun memberanikan diri bertanya pada Wira. "Pak, kalau orangtua Bapak tau kita udah nikah gimana?"
Hati Dewi sedikit tercubit mendengarnya. Ternyata benar, pernikahan ini selamanya harus dirahasiakan. Apakah karena pernikahan ini hanya sementara?
"Wi! Dewi!" kata Wira mengagetkan Dewi.
"Ah iya, Pak!" Dewi kembali hendak menyuapi Wira.
"Bukan mau makan! Lo pasti kepikiran kan sama perkataan gue? Jangan mikir macem-macem! Gue cuma mau kita rahasiain untuk sementara. Karena jujur aja gue enggak tau bagaimana reaksi mereka kalau tau kita nikah siri, apalagi dengan alasan menghalalkan bisnis plus plus kita. Gue takut mereka marah dan kecewa sama gue. Gue belum siap. Gue juga takut Mommy gue sedih. Jadi, please kita rahasiain sampai gue siap memberitahu mereka, oke?" ujar Wira menenangkan Dewi.
Apa yang bisa Dewi lakukan selain hanya mengangguk? Mengiyakan perkataan Wira dan menomorduakan perasaannya. Dewi kembali menyuapi Wira sampai habis dan menunggu Wira bekerja.
Dewi yang lelah seharian bekerja sampai tertidur di karpet dengan kepala bersandar di sofa. Wira tak menyadari karena fokus dengan layar laptop miliknya. Namun saat hendak meregangkan tubuhnya yang terasa pegal, Wira melihat istrinya tertidur karena lelah menemaninya.
Hati Wira merasa tersentuh. Meski Dewi hanya istri siri namun Dewi tetap patuh padanya seperti istri yang sangat mencintainya. Wira meminta Dewi pulang ke apartemen pun Dewi turuti, tapi Ia malah asyik dengan laptopnya sendiri.
Sudah jam 3 pagi, Wira juga lelah. Dimatikan laptop miliknya lalu menggendong Dewi dan menidurkannya di tempat tidur. Wira memeluk Dewi dan tidur dengan lelap.
__ADS_1
Dewi kembali merasakan tidurnya begitu lelap dan nyaman. Ia membuka matanya dan mendapati pemandangan pagi yang indah, wajah tampan yang memeluknya erat.
Dewi memberanikan diri mencium pipi Wira. Suaminya masih tertidur pulas karena belum lama terlelap. Ia tak tahu kalau Dewi sudah mencuri ciuman darinya.
Dewi pun bangun dan mulai melakukan tugasnya. Membersihkan apartemen Wira dan memasak sarapan untuk Wira. Wira belum juga bangun dan Dewi membiarkan suaminya yang lelah bekerja tidur lebih lama.
Suara panggilan telepon membuat Dewi agak kaget. Ia pun mengambil Hp miliknya dan tertulis nama Bahri.
"Kenapa Dek?" tanya Dewi tanpa basa basi.
"Kak, Kakak dimana? Masih di apartemen Pak Wira?" tanya Bahri.
"Iya. Kenapa?"
"Aku dibawah nih! Kakak turun sebentar dong!" pinta Bahri.
Meski agak heran dengan kelakuan adiknya, Dewi pun mengiyakan. Ia turun ke bawah dan bertemu Bahri di lobby apartemen.
Bahri terlihat lebih kurus dan agak lelah. "Kamu kemana aja Dek? Jarang pulang! Bapak dan Ibu nyariin terus loh!" omel Dewi.
"Nyari duit, Kak. Ini!" Bahri memberikan sebuah amplop yang agak tebal.
"Apa ini?" tanya Dewi.
"Buat Kakak bayar hutang sama Pak Wira. Enggak banyak sih. Tapi lumayan mengurangi hutang Kakak kan?" jawab Bahri.
Dewi membuka amplop pemberian Wira dan terkejut mendapati isinya. Ada uang ratusan ribu dengan nominal lima juta. "Wow! Banyak sekali! Uang dari mana?" tanya Dewi heran.
"Ya dari ngojek, Kak. Ada yang carter aku, nganterin dari satu tempat ke tempat lain. Banyak tempat aku datangin dalam sehari. Makanya bisa dapet sebanyak itu!" jawab Bahri dengan bangganya.
"Siapa yang carter kamu?" tanya Dewi dengan curiga.
"Udah Kakak enggak usah tau. Kasih ke Pak Wira ya Kak. Lumayan ngurangin hutang Kakak. Aku mau nyari uang lagi. Nanti kalau aku dapat uang banyak, Kakak bisa kasih ke Pak Wira lagi. Oke?"
****
__ADS_1