
Abi terlihat mengerutkan keningnya mendengar penjelasan Dewi. "Masuk akal sih. Yaudah beli aja!"
"Hmm... Aku beli kadonya nyusul aja, Bi." ujar Dewi malu-malu.
"Loh kenapa? Ulang tahun Wira kan lusa. Mumpung ada di sini beli sekalian!"
Dewi diam sejenak. "Aku nabung dulu, Bi. Bulan depan aku akan beli."
Abi kini mengerti kenapa Dewi tak membeli kado sekarang. Uangnya tak ada. "Memangnya Wira tidak memberi kamu uang bulanan?" cecar Abi.
"Wira beri kok, Bi! Wira bahkan memberi gaji aku meski sudah tidak bekerja lagi. Aku akan nabung dulu, agar uang aku cukup untuk membelinya. " jawab Dewi dengan jujur.
"Tadi kamu lihatnya di toko mana? Abi mau lihat juga dong!"
Tanpa curiga, Dewi mengantar Abi pergi ke toko tempat ia membeli jas. "Coba selera kamu kayak gimana? Abi mau lihat!"
Dengan patuh Dewi kembali menurut. Dewi tunjukkan jas yang ia pilih. "Bagus sih. Kelihatan selera anak muda banget. Abi mau beli ah! Buat Abi kira-kira yang mana ya yang cocok?"
Dewi memilih di antara beberapa jas yang ada di toko. Pilihannya jatuh pada jas berwarna abu-abu. "Kayaknya ini deh, Bi."
"Biar sama kayak uban Abi ya?" sindir Abi.
Dewi jadi tak enak hati. Bukan niatnya menyindir Agas seperti itu. "Bukan, Bi. Bukan itu maksud Dewi."
Agas tersenyum melihat menantunya yang takut ia marah, "Abi tak apa kok. Kamu tahu 'kan Abi enggak baperan! Tapi selera kamu bagus juga sih!"
Abi lalu berbicara dengan penjaga toko, "Saya mau jas ini ukuran saya ya!" pesan Abi.
"Rencana besok jangan sampai si Bangor tau ya!" pesan Abi.
"Iya, Bi. Aku akan jaga rahasia ini baik-baik!" janji Dewi.
__ADS_1
"Bagus! Abi suka itu!"
Tak lama pelayan datang membawakan jas yang Abi pesan. Ukurannya benar-benar pas di tubuh Abi. Membuat Dewi spontan memujinya. "Abi tambah ganteng!"
"Beneran?"
Dewi menganggukkan kepalanya beberapa kali. "Bener!"
Agas tersenyum bangga seraya melihat wajahnya di cermin. Memang ia masih terlihat awet muda dan gagah untuk orang seusianya. Olahraga yang rajin dan pola hidup sehat yang membuat Abi awet muda.
"Oke. Karena kamu bilang Abi ganteng, Abi beli jas ini!" Abi lalu memberikan jas yang sudah ia lepas dari tubuhnya ke penjaga toko. "Saya mau jas ini dan ini!"
Abi mengambil jas yang Dewi pilihkan untuk Wira. "Sudah sesuai kan Wi dengan ukuran si Bangor?"
"Abi mau beli buat Wira juga?" tanya Dewi tak percaya.
"Iya. Sekalian Abi bayar, terlalu murah kalau beli satu jas. Malas gesek kartunya! Kalau beli dua 'kan jadi pas tuh!" ujar Abi dengan sombongnya.
"Jangan, Bi! Biar Dewi aja yang nanti akan membelinya. " tolak Dewi.
"Tapi Bi, Dewi jadi tak enak hati. Kenapa jadi Abi yang mau belikan Wira?"
"Sudah, anggap saja ini kado Abi untuk kamu. Mommy sudah membelikan kamu kado, Abi belum. Kamu mau apa lagi? Biar Abi traktir kamu seharian ini!" Abi mengeluarkan ATM miliknya dan membayar jas miliknya dan Wira.
"Tak perlu, Bi. Ini saja sudah cukup!" tolak Dewi.
Abi tersenyum bangga pada menantunya. "Pantas Wira sangat menyukai kamu! Sikap kamu yang sederhana seperti ini yang membuat Wira makin jatuh hati. Kamu mengingatkan Abi pada Mommy dulu. Waktu pertama mengenal Mommy, Abi pikir Mommy adalah wanita yang materialistis karena keadaan yang membuatnya butuh banyak uang, ternyata tidak. Mommy malah tak menuntut apapun pada Abi. Mommy juga menerima masa lalu Abi dengan tangan terbuka. Mirip sekali dengan kamu!"
"Ah Abi bisa saja! Aku tidak sebaik Mommy, Bi. Mommy adalah wanita terbaik yang aku kenal. Pantas Wira memiliki hati yang baik." jawab Dewi tanpa dipikir dulu.
"Maksud kamu, kalau mirip Abi enggak baik begitu?!" sindir Abi sambil tersenyum jahil, apalagi melihat Dewi yang langsung panik dan tak enak hati.
__ADS_1
"Bukan! Bukan begitu, Bi. Aku enggak bermaksud seperti itu. Aku-" Dewi berusaha memperbaiki jawabannya, membuat Abi makin tersenyum. Senyum Abi malah membuatnya terlihat semakin tampan saja di usia senja. Pantas banyak wanita yang ngefans dengan Abi. Makin tua aura ketampanannya semakin keluar saja!
"Abi ngerti kok! Tapi awas ya kalau kamu bilang kayak gitu lagi!" ancam Agas sambil menahan senyumnya.
"Enggak, Bi! Aku enggak akan begitu lagi! Aku janji! Abi adalah papa mertua paling baik sejagat raya. Seantero dunia. Seluas samudera. Se-"
"Iya... Iya.... Abi tau kok! Kamu lucu sekali sih! Pasti Abang sering mengerjai kamu ya karena kamu selucu ini! Sudah ayo Abi antar kamu pulang! Sudah sore! Nanti Abang curiga kamu pergi lama-lama. Kita masih mau merahasiakan pesta kejutan buat Abang bukan?!"
"Tentu! Jangan sampai Wira tau apa rencana kita! Wira harus benar-benar terkejut!"
Agas menerima dua buah paper bag, satu berisi jas miliknya dan satu lagi milik Wira. "Ini punya kamu! Ayo Abi antar kamu pulang!"
Dewi mengikuti mertuanya yang selalu menjadi pusat perhatian kaum hawa karena ketampanannya. Apakah Wira nanti akan seperti Abi? Apakah Dewi akan siap melihat suaminya disukai banyak wanita lain? Mendengar suaminya dekat dengan Cerry saja dirinya sudah dilanda cemburu hebat, apalagi kalau banyak fans seperti Abi ini?!
"Oh iya, kamu mau makan dulu enggak? Mumpung kamu lagi hamil, pilih deh apa yang mau kamu makan! Abi kabulkan!"
"Enggak usah, Bi. Terima kasih. Aku tidak lapar." ternyata perut Dewi tak bisa diajak kerjasama. Perutnya tersebut berbunyi kerucuk tanda minta diberi makan.
"Tuh kan kamu bohong! Mau apa? Steak? Bakso? Ayam kentucky atau apa? Ayo mumpung ada Abi di sini, minta apapun yang kamu mau!"
"Hmm... Aku mau capcay saja deh, Bi!" jawab Dewi.
"Capcay? Hanya capcay? Dari awal hamil kamu cuma suka capcay?" tanya Abi heran.
Dewi mengangguk. "Hanya capcay yang buat aku makan tanpa dimuntahkan kembali."
"Baiklah kalau begitu! Ayo kita beli!" Abi berjalan sambil mengacak rambut Dewi. Hal yang biasanya ia lakukan pada Carmen.
Dewi pun tak keberatan. Ini artinya Abi sudah menganggapnya sebagai anak sendiri. Banyak pasang mata menatap iri ke arah Dewi. Mereka berpikir Dewi berjalan dengan hot sugar daddy. Siapa yang tak iri coba? Andai mereka tahu kalau Agas memiliki bigger gun????
Perut kenyang, puas jalan-jalan dan diantarkan sampai rumah. Kurang apalagi coba treat Agas hari ini? Semua demi menantunya tersayang!
__ADS_1
Dewi pulang ke rumah dan melambaikan tangannya saat Agas pergi. Cepat-cepat disembunyikannya kado yang ia beli. Kejutan. Wira jangan sampai tahu.
***