
Wira menyempatkan dirinya pulang sebentar menengok Dewi. Dirinya sangat merindukan tidur sambil memeluk erat istrinya tersebut.
Kedatangan Wira disambut Dewi. Wira memeluk istrinya tapi setelah membersihkan dirinya dulu. Mereka duduk di sofa sambil tetap berpelukan. Puas puasin dirinya menghirup wangi Dewi yang amat ka rindukan.
"Kamu mau jalan-jalan enggak? Mumpung aku libur nih!" ajak Wira tetap sambil memeluk Dewi.
"Kamu enggak capek memangnya? Kata Mommy kadang kamu kirim email laporan jam 3 pagi. Artinya kamu suka begadang bukan?" tanya Dewi dengan nada khawatir.
"Ya namanya juga ngerjain laporan, Sayang. Kalau malam hari aku lebih konsentrasi. Siang aku sibuk ngurusin bisnis kita. Konsentrasi bisa pecah. Makanya aku kerjain laporan malam."
"Lalu tidurnya kapan?" tanya Dewi.
"Ya sesempatnya. Selesai kirim laporan tidur dulu sebentar lalu lanjut sholat dan tidur lagi. Bangun udah seger pergi ke ruko dan periksa kerjaan teman-temannya Bahri sambil mengecek barang apa saja yang harus aku pesan." Wira mencium rambut Dewi yang wangi shampoo. Wangi yang selama ini Wira rindukan.
"Kamu percaya saja gitu sama teman-temannya Bahri? Kamu yakin sama mereka? Kalau hasilnya jelek gimana? Mereka 'kan cuma jago coret-coret tembok saja. Sayang uang kamu kalau mereka enggak bisa dipercaya!" ujar Dewi menyuarakan kekhawatirannya.
Wira tersenyum, bukan hanya Dewi namun beberapa orang juga menyangsikan orang orang yang Wira percayai mendekor cafe miliknya. "Justru mereka itu butuh orang yang bisa memberi mereka kepercayaan macam aku, Sayang! Mereka punya potensi namun tak tahu mau mengembangkan dimana. Tak ada yang menganggap seni yang mereka buat selain hanya coretan yang membuat tembok kotor,"
"Kamu tenang saja, aku sudah memeriksa hasil lukisan mereka. Aku sudah meminta mereka membuat design yang aku minta dan hasilnya bagus. Tinggal di aplikasikan saja di dinding. Nanti kalau sudah selesai, kamu lihat deh hasil pekerjaan mereka seperti apa. Aku saja sampai kagum. Malah nih rencananya, dalam konsep bisnis plus plus yang aku buat ada mereka di dalamnya."
Dewi mendongakkan kepalanya dan menatap Wira dengan lekat. "Maksudnya gimana? Ada mereka?"
"Aku mau menjadi manajer mereka. Jadi, nanti banyak pengunjung yang akan datang ke cafe, salon dan laundry. Mereka pasti akan terpesona dong dengan mural dan lukisan yang ada di usaha milik aku?! Nah, nanti aku akan tawarkan sama mereka jasa untuk membuat mural di rumah, sekolah, atau bisnis yang mereka punya tentunya,"
"Selain aku bisa memajukan teman-teman Bahri yang punya potensi itu, aku juga bisa mendapat keuntungan dari hal tersebut. Enggak perlu untung besar, yang penting aku bisa membantu mereka mendapatkan pekerjaan dari hobi yang menyenangkan mereka sendiri. Agar mereka merasa lebih dihargai dan sadar kalau mereka tuh punya potensi yang layak diancungi jempol."
Dewi semakin kagum dengan pola pikir Wira yang semakin dewasa saja. Ternyata berada di Bali sudah mengubah Wira yang manja menjadi lebih mandiri dan peduli dengan keadaan sekitar. Banyak bergaul dengan Pak Budi membuatnya belajar banyak hal. Tak sia-sia Abi dan Mommy mengirim anak mereka ke sana.
"Hebat kamu, Sayang!" puji Dewi tulus dari dalam hati.
__ADS_1
"Iya dong! Namanya juga bisnis plus plus. Harus memiliki nilai plus yang bermanfaat untuk orang sekitar. Itulah konsep bisnis plus plus yang sebenarnya." jawab Wira dengan penuh keyakinan. "Jadi gimana nih, mau jalan-jalan atau di kamar aja?"
"Hmm... Di kamar aja deh." jawab Dewi malu-malu.
"Kangen ya sama big gun aku?" goda Wira membuat wajah Dewi memerah karena malu.
"Ih... Enggak usah dipertegas tau! Aku kan malu!"
"Malu sama siapa? Wong cuma ada kita berdua di ruko ini, dan baby aku di perut kamu tentunya!" Wira menunduk dan mencium perut Dewi. "Kangen mau ketemu Daddy ya Nak? Kangen main sama adik Daddy ya?"
Dewi tak kuasa untuk tersenyum mendengar Wira bicara dengan janin dalam kandungannya seperti itu.
"Yaudah, Daddy eksekusi Mommy kamu dulu ya. Sebentar lagi kita ketemu!"
Wira tersenyum penuh maksud dan mulai mencium bibir Dewi. Pelan namun lembut. Penuh cinta dan segudang rindu yang menggebu.
Wira mengusap pelan perut Dewi yang sudah mulai terlihat membuncit. Tubuh Dewi tak lagi sekurus dulu karena sudah jarang mual dan sudah mulai doyan makan.
Wira mencium setiap inci perut Dewi dengan penuh cinta. Dewi bisa merasakannya. Dewi menyerahkan diri sepenuhnya pada Wira. Membiarkan Wira melakukan penyatuan kedua tubuh mereka yang sudah lama tak mereka lakukan.
Suara mendesaah keluar dari mulut Dewi. Setiap gerakan Wira, setiap itu pula kenikmatan dirasakan oleh Dewi. Apalagi sekarang mereka melakukannya atas dasar cinta, bukan perjanjian bisnis plus plus karena ada asas manfaat di dalamnya.
Sampai akhirnya Wira sampai di batasnya. Mereka tersenyum karena kenikmatan yang dirasakan keduanya. Wira mengecup kening Dewi dalam. "Terima kasih, Sayang!"
Dewi tersenyum. Hanya sebuah kalimat sederhana namun mampu membuat hati Dewi menghangat.
Mereka pun tertidur sambil berpelukan. Malam ini lebih baik berdua saja. Tak perlu jalan-jalan keluar. Hanya mereka berdua, bersama cinta yang mengalun indah di antara keduanya.
****
__ADS_1
Pagi hari, Wira kembali berangkat bekerja. Meninggalkan Dewi yang kini sudah semangat kembali sehabis di charge cintanya semalam.
Dewi sudah membuatkan bekal makanan untuk Wira dan menyiapkan beberapa baju ganti karena Wira tidak akan pulang selama beberapa hari. Banyak yang harus ia lakukan.
Dewi salim pada suaminya dan mendapat kecupan di kening sebelum Wira pergi. Mobil berplat nomor B 481 TOP yang semula Wira rutuki kini malah berisi banyak keperluannya sehari-hari.
Dewi masuk kembali ke dalam ruko dan membantu ibunya mengerjakan laundry. "Wi, Ibu mau pulang sebentar ya. Bapak kamu belum Ibu sediain makan siang. Cuma beli di warteg doang kok. Ibu nitip sebentar ya!"
"Iya, Bu."
"Inget, jangan angkat berat-berat. Taruh saja di bawah. Nanti Ibu yang angkat!" pesan Ibu sebelum pergi.
"Iya, Bu. Sudah tenang saja. Dewi tau kok. Ibu pulang saja dulu." jawab Dewi yang masih melanjutkan pekerjaannya merekap pemasukan laundry.
"Yaudah. Ibu pergi dulu. Hati-hati!" Ibu pun pergi meninggalkan Dewi.
Dewi masih asyik dengan rekapannya ketika datang seorang ibu-ibu yang membawa beberapa karpet untuk di laundry.
"Siang, Mbak. Aku mau laundry karpet."
Dewi berjalan mendekat. "Iya. Silahkan. Berapa karpet, Bu?" tanya Dewi.
"Ada 3, Mbak. Kapan selesainya ya?"
"Paling lama seminggu, Bu. Saya buat notanya dulu ya!" Dewi memberikan nota dan pelanggan tersebut memberikan uang sesuai nota.
"Mbak, bisa tolong bantu angkat?"
****
__ADS_1