Bisnis Plus Plus

Bisnis Plus Plus
Sarapan Nasi Uduk di Bandung


__ADS_3

Mengenal Wira, Dewi jadi tahu satu hal. Tak ada siang maupun malam dalam hidupnya. Pergi ke Bandung yang biasanya Dewi lakukan sehabis subuh, kalau sama Wira jam satu malam langsung berangkat.


"Kita beneran enggak usah sewa hotel nih?" tanya Wira sekali lagi.


Dewi menggelengkan kepalanya. "Enggak usah. Tanggung, Pak. Kita sampai langsung ke rumah Tante saya aja. Nanti Bapak bisa istirahat di sana."


"Enggak usah, kita tunggu di cafe aja. Toh kita nyewa hotel enggak bisa ngapa-ngapain juga. Lo lama banget sih datang bulannya!" gerutu Wira.


"Baru beberapa hari, Pak. Udah bilang lama aja! Wajar tau. Saya kan masih muda dan produktif, wajar kalau tamu bulanan suka lama datangnya!" jawab Dewi.


"Udah lo tidur aja. Lo pasti ngantuk seharian kerja. Nanti gue bangunin kalo udah sampai." tak tega juga Wira melihat Dewi yang sejak tadi terus menguap.


"Yaudah. Saya tidur dulu ya, Pak." Dewi pun menyandarkan kepalanya di kaca mobil dan tertidur pulas. Beberapa kali Dewi terantuk namun tetap saja tidak mengganggu tidurnya. Malah Wira yang terganggu.


Wira pun menepikan mobilnya sebentar. Ia memundurkan posisi jok mobil dan membuat Dewi tidur dengan senyaman mungkin. Bantal milik Carmen yang ada di kursi belakang Wira ambil dan dijadikan bantal untuk Dewi.


"Sekarang lo bisa tidur nyenyak." bisik Wira, kemudian Ia melanjutkan mengemudi mobil.


Menyetir di malam hari lebih Wira sukai. Selain karena tidak semacet mengemudi di siang hari, udara juga tidak panas. Sambil mendengarkan alunan musik yang mengalun di dalam mobil, Wira mengemudi dengan bersenandung. Sesekali Ia melirik gadis cantik yang tertidur di sampingnya.


Wira merasa semakin mengenal Dewi. Meski belum kenal lama, mereka bisa sedekat ini. Semua karena kesabaran Dewi menghadapi sikap Wira yang judes dan suka berkata pedas.


Wira tak seperti Abinya Agas yang memiliki sahabat banyak. Wira agak tertutup dan lebih asyik dengan dunianya sendiri. Teman Wira hanya pemilik club dan beberapa player yang suka bersenang-senang di club, yang lainnya memilih menjauh setelah tau karakternya yang super judes.


Apakah Wira tak punya sahabat? Tentu saja punya, Zaky sepupu sekaligus sahabatnya. Zaky yang sudah mengenal Wira sejak kecil memang yang paling terdekat.


Apakah Wira kesepian? Tentu saja tidak. Wira punya banyak gadis yang bisa Ia ajak bersenang-senang dan tak akan menolak ajakannya.

__ADS_1


Kini, Wira memiliki Dewi. Si polos yang punya keberanian menawarkan bisnis plus-plus padanya. Mengenal Dewi semakin dekat, Wira jadi merasa seperti mengenal teman baru. Ada yang mendengarkan omongannya meski terasa tajam dan menyakitkan, bahkan menganggap lucu.


Jika bersama Dewi, Wira bagaikan landak jinak yang durinya bahkan tak lagi menyakiti Dewi. Dewi sudah menguasai Wira sepenuhnya.


Pukul setengah empat pagi mereka sudah sampai di Bandung. Wira memarkirkan mobil miliknya di parkiran Tarbi Cafe cabang Bandung yang rencananya akan Ia audit hari ini. Security yang melihat kedatangannya dengan sigap membukakan pintu gerbang dan hormat pada anak pemilik cafe tempatnya bekerja.


Wira melihat Dewi masih tertidur lelap. Di dalam cafe tak ada kasur seperti di cafe tempat Ia dulu menginap, jadi Wira putuskan tidur sebentar di dalam mobil.


Wira membuka sedikit kaca mobil agar udara segar tetap masuk. Dilihatnya Dewi, ada anak rambut yang menutupi wajahnya.


Wira mendekat dan merapihkan anak rambut Dewi. Menyelipkannya di belakang telinga. Dewi sama sekali tak terbangun. Wira mendekat dan mencium pipinya. "Dasar kebo! Dicium aja enggak bangun!" bisiknya seraya tersenyum.


Wira melepas jaket miliknya dan menutupi tubuh Dewi dengan jaketnya. Ia lalu menyetel kursi agar nyaman saat Ia tiduri. Rasa kantuk mulai menyerang, membuat Wira langsung tertidur lelap.


Pagi pun menjelang. Waktu sudah menunjukkan pukul 6 pagi. Dewi yang sudah cukup tidurnya pun terbangun. Ia merasakan rasa hangat karena tubuhnya diselimuti oleh jaket jeans milik Wira. Dewi bangun dengan tersenyum bahagia. Ia menatap cowok yang sudah memberikan jaket di sampingnya.


Nampak Wira tertidur lelap. Ia lelah sehabis menyetir mobil. Kini gantian, Dewi yang menyelimuti Wira dengan jaket yang tadi diberikan untuknya.


Sebelum pergi, Dewi titip pesan dengan security agar menjaga Wira yang tertidur lelap di mobil. Setelah security mengiyakan, Ia pun berjalan keluar dari cafe dan mencari sarapan pagi. Hari masih terlalu pagi rupanya. Udara masih terasa dingin menusuk baju tangan panjang yang Ia kenakan.


Suasana sekitar cafe yang hanya berisi tempat nongkrong anak muda, membuat Dewi kesulitan untuk mencari sarapan di pagi hari. Dewi pun berjalan agak jauh dari cafe sampai akhirnya menemukan sebuah warung yang menjual nasi uduk.


Dewi tersenyum, jauh-jauh ke Bandung eh yang dicari tetap saja nasi uduk. Ia lalu membeli 3 bungkus nasi uduk beserta tempe goreng. Dewi juga membeli air mineral untuk minum.


Dewi kembali berjalan menuju cafe, diberikannya sebungkus nasi uduk pada security yang sudah begadang menjaga cafe. Senyum dan ucapan penuh terima kasih langsung terlontar dari security tersebut.


Dewi pun berjalan menuju mobil, nampak Wira masih tertidur lelap. Dewi masuk ke dalam mobil dengan pelan-pelan, tak mau membangunkan Wira. Ia memakan sarapannya untuk mengusir kebosanan.

__ADS_1


Suara kerupuk rupanya mengganggu tidur Wira. Ia pun terbangun dan mendapati Dewi sedang lahap makan.


"Lo makan apaan sih? Berisik banget?!" tanya Wira yang kini duduk tegak dan membenarkan posisi jok mobilnya.


"Nasi uduk. Saya udah beliin buat Bapak. Mau makan sekarang apa nanti?" tanya Dewi yang sedang menikmati sisa kerupuk yang masih ada sementara nasi uduknya sudah habis duluan.


"Jam berapa sih? Lo beli dimana?" Wira memeriksa jam di Hp miliknya. Sudah jam 8 pagi. Sudah cukup Ia tertidur.


"Lumayan jauh sih dari sini. Mau saya suapin?" tanya Dewi yang merapihkan bungkus nasi uduk miliknya. Sudah selesai Ia makan.


"Enggak usah! Emangnya gue anak kecil?!" cibir Wira.


Dewi tersenyum. Diberikannya sebungkus nasi uduk beserta air mineral untuk Wira. "Begitu aja langsung keluar judesnya. Bibirnya makin seksi loh kalo ngomong pedes terus!"


"Mulai deh godain gue?!" ujar Wira dengan wajahnya yang bersemu merah. "Gue baru bangun tidur nih, tanduknya masih bisa buat nyeruduk!"


"Masa sih? Pasti tanduknya seksi juga kayak Bapak." goda Dewi lagi.


"Wi! Ah elah! Gue mau sarapan nasi uduk, bukan sarapan gombalan! Jadi enggak napsu makan gue, udah nih lo aja yang suapin!" Wira memberikan nasi uduk yang Ia pegang.


"Loh? Katanya mau makan sendiri? Lagi manja ya mau disuapin? Jadi tambah gemes deh!" dengan cueknya Dewi mencubit pipi Wira.


"Dewi! Jangan godain terus!"


"Ha...ha...ha... Bapak gemesin banget sih! Cium boleh?" goda Dewi lagi.


"Lo gue tinggal di Bandung nih kalo godain gue terus! Udah cepet suapin!"

__ADS_1


Dewi tak kuat menahan tawanya. Senang sekali Ia menggoda Wira.


****


__ADS_2