
Era kini sedang duduk di samping brankar suaminya. Ya, status Era dan Pasha sudah berubah menjadi suami istri. Walau keduanya masih canggung menjalaninya.
“Istirahatlah, kalau kamu lelah. Maaf, jika cara yang dipakai Ray tadi agak ekstrim.” Ucap Pasha sembari menggenggam lembut jemari Era.
“Nggak apa-apa. Aku di sini saja ingin menjagamu.” Jawab Era yang masih merasa bersalah atas sikapnya yang telah membuat Pasha seperti sekarang ini.
Jujur saja, walau Pasha dan kedua orang tuanya sudah memaafkan kejadian yang menimpa Pasha tempo hari, dalam hati Era masih diliputi rasa bersalah yang begitu mendalam. Perubahan statusnya sebagai istri Pasha semoga saja bisa menebus kesalahan yang Era perbuat.
“Ciee… sekarang bucin nih sama suami bocilnya.”
Era membelalakkan matanya atas ucapan Pasha baru saja. rasa haru dan sesal yang sejak tadi menyelimuti hatinya, kini menguap begitu saja berganti rasa kesal pada pria bocil yang sayangnya sangat ia cintai. Dan sayangnya lagi, telah menjadi suaminya.
Bugh
Era reflek memukul lengan Pasha. lengan yang tidak terpasang selang infus. Jadi Era merasa aman, pukulannya tidak menyebabkan Pasha kesakitan. Lagian pukulannya juga tidak keras.
Aawwww
Seketika itu Pasha meringis kesakitan. Sampai menunjukkan perubahan wajahnya. Otomatis Era kembali merasa bersalah. Padahal mereka baru saja sah menjadi pasangan suami istri. Namun di hari pertamanya menyandang status suami, Pasha sudah mendapatkan tindak kekerasan dari sag istri.
“Kamu tega sekali, Sayang!” lirih Pasha seperti menahan sakit. Nama panggilan yang baru ia sematkan pun semakin membuat Era percaya kalau Pasha sedang kesakitan akibat ulahnya.
“Maaf. Aku.. aku tidak bermaksud melakukan itu.” Era berkata sambil ketakutan.
“Kamu tahu, kalau rasa sakit ini akan berakibat fatal pada bekas operasiku?” Pasha mendrama meyakinkan Era.
Era terdiam sesaat. Memang saat Pasha mengalami kecelakaan itu, dia ada di tempat lokasi. Pasha banyak sekali mengeluarkan darah dari kepalanya. Bahkan saat mendapatkan penanganan dokter, Pasha membutuhkan banyak darah akibat luka di kepalanya yang terus mengeluarkan darah. Jadi, jika yang dioperasi kepalanya, kenapa tangannya juga berdampak? Era pun sadar kalau semua itu hanya akal-akalan suami bocilnya saja.
“Ya sudah, tunggu sebentar. Aku akan panggil dokter untuk mengamputasi tangan kamu sekalian.” Ucap Era sengaja memancing reaksi Pasha.
“Eh, jangan! Sayang, aku hanya bercanda kok. Tanganku baik-baik saja. jadi nggak perlu panggil dokter, ya?” rengek Pasha seperti anak kecil yang minta dibelikan permen pada Ibunya.
Era hanya mendengkus kesal. Bisa-bisanya Pasha beralasan seperti itu. tapi dengan begitu, keduanya bisa menjalin keakraban lagi seperti dulu. saat pertama kali bertemu, mereka memang sering berdebat untuk hal-hal konyol. Maka dari itulah timbul benih-benih cinta di hati keduanya. Walau badai sempat menerpa, namun Tuhan sudah menghendaki mereka berjodoh, akhirnya dipertemukan lagi.
Kini keduanya sudah rukun lagi. hubungan mereka perlahan menghangat. Banyak sekali perubahan yang mereka berdua rasakan. Era yang semakin dewasa, begitu juga dengan Pasha.
__ADS_1
“Nanti kalau aku sudah sembuh dan diperbolehkan pulang, aku akan menggelar pesta pernikahan kita. Apa kamu setuju?”
“Terserah kamu saja. yang terpenting saat ini kamu harus semangat untuk sembuh.”
“Iya, iya. nggak sabaran banget sih. Apa kamu juga sudah tidak sabar untuk melakukan malam pengantin kita?” goda Pasha dan berhasil membuat muka Era memerah
“Terserah, kamu mau bilang apa. Sudah, aku mau istirahat!” Era menghindar dari tatapan suaminya dengan beranjak meninggalkan Pasha menuju sofa yang tak jauh dari brankar Pasha.
Grepp
Pasha dengan cepat menarik tangan Era, hingga perempuan itu jatuh tepat di atas tubuhnya. Wajah mereka saling berhadapan dengan jarak yang semakin terkikis. Pasha pun langsung mendaratkan ciumannya pada bibir Era.
Cup
Era terdiam. Seolah sedang terhipnotis dengan ciuman itu. ciuman yang rasanya masih sama seperti dulu. ciuman yang selalu membuatnya nyaman, sekaligus candu.
Hanya beberapa detik saja ciuman itu berlangsung. Era lah yang lebih dulu melepasnya. Mengingat keadaan Pasha masih belum pulih seratus persen.
Era menegakkan tubuhnya, sambil mengusap bibirnya yang basah bekas ciumannya baru saja. sedangkan Pasha hanya tersenyum simpul menatap istrinya yang tampak malu-malu kucing.
“Ehm, Iya. kalau butuh sesuatu nanti kamu panggil aku saja.”
Pasha mengangguk samar. Era pun segera menuju sofa yang cukup luas yang bisa ia gunakan untuk istirahat sejenak. Walau di ruangan itu masih ada satu bed kosong, tapi Era memilih sofa.
Di ruangan itu hanya ada Pasha dan Era saja. papa Nabil dan Mama Shanum kembali ke hotel untuk istirahat. Era juga lah yang memintanya. Mengingat ia butuh waktu berdua dengan Pasha, juga ingin mengganti waktunya untuk menemani Pasha.
***
Sudah seminggu setelah menjalani operasi, keadaan Pasha pun semakin membaik. Meskipun mendapatkan perawatan terbaik dengan fasilitas yang terbaik pula, hari ini Pasha sudah diperbolahkan untuk pulang.
Papa Nabil mengurus administrasi biaya perawatan Pasha. sedangkan untuk kepulangan mereka, rencananya besok pagi atau lusa.
Era juga harus bertemu dengan Rayyan dan juga Mr. Chan untuk memberikan surat resign secara resmi. Bagaimana pun juga Era akan tetap ikut suaminya pulang ke Indonesia.
Setelah semua urusan administrasi selesai, kini Pasha pun diperbolehkan meninggalkan rumah sakit. Tujuan mereka berempat yaitu pulang ke apartemen Era. Kedua orang tua Pasha mungkin hanya mengantar saja, setelahnya mereka akan kembali ke hotel.
__ADS_1
***
“Silakan masuk, Ma, Pa!” Era mempersilakan mertuanya masuk ke dalam unit apartemennya.
“Maaf, memang begini keadaan apartemen Era.” Lanjutnya sambil mempersilakan duduk di ruang tamu sekaligus ruang tengah.
“Nggak apa-apa, Sayang. Mama dan Papa tidak terlalu mempermasalahkannya. Yang terpenting selama ini kamu hidup dengan baik saja aku sudah sangat beruntung. Ya nggak, Ma?” sahut Pasha lalu menoleh ke arah Mamanya.
“Ya.. ya.. tapi setresnya seperti ODGJ selama dua tahun ini, Ra.” Jawab Mama Shanum. Sontak semua orang tergelak. Kecuali Pasha yang hanya mendengkus kesal.
Mama Shanum pun semakin blak-blakan menceritakan keadaan Pasha selama dua tahu ini. lebih tepatnya setelah ditinggal oleh pujaan hatinya, yaitu Era.
“Kamu tahu nggak, Ra? Mama dan Papa juga sempat mengira kalau si King ini berubah haluan.” Ucap Mama Shanum sambil tersenyum mengejek pada Pasha. sedangkan Pasha hanya bisa memelototkan matanya.
“Berubah haluan bagaimana, Ma?” Era benar-benar tidak mengerti.
“Ya berubah, Ra. Sudah nggak doyan lagi sam,-“
“Ma! Sudah dong, Ma! Cukup! Aku masih normal. Bukan seperti yang Mama tuduhkan. Ya kan, Pa?”
Era hanya menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Bingung kemana arah pembicaraan dari ketiga orang yang ada di hadapannya itu.
“Ya sudah kalau kamu masih normal. Tunjukkan pesona kamu!” kali ini Papa Nabil yang bersuara.
“Ok. Siapa takut! Sekarang juga Mama dan Papa silakan kembali ke hotel. Aku akan menunjukkan pada Era kalau aku masih normal.” Ujar Pasha membanggakan diri.
Era pun langsung paham dengan apa yang dibahas Pasha dan mertuanya baru saja. Seketika itu ia langsung menatap tajam sang suami bocilnya yang sedang tersenyum smirk.
.
.
.
*TBC
__ADS_1
Happy Reading!!