Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
56. Tidak Tenang


__ADS_3

Pasha merasa sangat bersalah setelah secara tidak langsung menuduh Era sedang menutu-nutupi sesuatu darinya. Terlebih setelah melihat Era yang tiba-tiba menangis. Dan Pasha pun langsung menarik Era ke dalam pelukannya.


“Maafkan aku, Ra! Bukan maksud aku menuduhmu seperti itu. tapi,-“


“Apa kamu tahu sesuatu, King? Apa kamu tahu kalau aku sedang menyembunyikan sesuatu?” kini Era yang balik bertanya pada Pasha.


“Maafkan aku, Ra. Aku memang orang baru dalam hidupmu. Jika dibandingkan dengan orang yang lebih lama singgah di hati kamu, aku tidak ada apa-apanya.”


Deg


Perasaan Era semakin tidak enak. Apa itu artinya Pasha tahu kalau ia bertemu dengan Hagi dan berinteraksi lagi dengan mantan kekasihnya itu. apa sebaiknya Era jujur saja tentang pertemuannya dengan Hagi. Dan tetap meyakinkan kalau dirinya sudah tidak ada hubungan apapun dengan pria itu.


“Iya, King. Aku tahu maksud dari ucapanmu. Di sini memang aku yang salah, karena tidak jujur denganmu. Tapi satu hal yang harus kamu tahu dan kamu percaya, aku sudah tidak mempunyai hubungan apapun dengan orang masa laluku. Aku memang ada sedikit sangkutan dengannya. tapi maaf, aku tidak bisa mengatakan semuanya padamu. Aku hanya ingin kamu tetap percaya dengan perasaanku.”


Pasha terdiam setelah mendengar penjelasan Era. Mungkin untuk saat ini lebih baik ia mempercayai ucapan Era, dan tidak ingin mengorek masalah apa yang sedang Era alami bersama mantan kekasihnya itu. Dan lebih baik ia cari tahu sendiri nanti.


“Ya sudah. Aku percaya denganmu. Maafkan aku sudah membuatmu bersedih.” Ucap Pasha.


Setelah itu Era menyalakan mesin mobilnya dan segera mengantar Era pulang.


Setibanya di rumah Era, perempuan itu langsung masuk ke dalam rumah setelah mengucapkan terima kasih pada Pasha. karena waktu sudah malam, jadi Era tidak mengajak Pasha mampir dulu.


Pasha pun akhirnya pulang juga. namun saat sudah keluar dari halaman rumah Era, ia berpapasan dengan sebuah mobil yang dia lihat kemarin malam berhenti di depan rumah Era. Pasha pun putar balik dan mengikuti mobil itu.


Dari jauh dan dari tempat yang aman Pasha memantau seorang pria yang tak lain adalah Hagi sedang mendatangi rumah Era. Terlihat Hagi berulang kali mengetuk pintu rumah Era, namun tidak dibukakan oleh si pemilik rumah. karena bosan, akhirnya Hagi memilih pulang.


“Sepertinya ada yang tidak beres dengan pria itu. dan Era juga dibuat tidak nyaman dengan mantan kekasihnya.” Gumam Pasha setelah melihat mobil Hagi meninggalkan rumah Era.


***


Hari-hari berikutnya sungguh hidup Era tidak tenang. Dia selalu menghindar dari Hagi setiap kali pria itu berusaha menemuinya. Bahkan berangkat kerja pun Era terpaksa berangkat sangat pagi-pagi sekali. Pulangnya memilih pulang paling akhir, agar tidak bertemu dengan Hagi.


Era juga sudah menghubungi Bibinya untuk bertanya langsung mengenai kabar utang piutang itu. sebenarnya Era berharap kalau ucapan Hagi bohong dan mengada-ada. Tapi sayangnya Bibinya membenarkan itu semua.

__ADS_1


Bibi Era meminta maaf pada Era tentang hutangnya pada Hagi. Wanita itu juga sedang berusaha melunasi hutang-hutangnya yang terbilang tidak sedikit itu.


Era tidak banyak berkata. Entah mau percaya apa tidak kalau Bibinya bisa melunasi hutang itu. dirinya saja yang selama ini rajin menabung, tetap saja tidak bisa menutup nominal hutang Bibinya. Apalagi keluarga Bibinya yang hidupnya sangat pas-pasan.


Saat ini Era sedang memegang buku rekening tabungannya. Dia tampak menimbang-nimbang, apakah sebaiknya semua isi tabungannya itu ia ambil untuk mengangsur hutang Bibinya? Atau lebih baik menjual mobilnya saja.


Era benar-benar bingung. Mobil adalah salah satu kendaraan yang ia punya dan itu hasil jerih payahnya sendiri selama bekerja di perusahaan ini. rasanya tidak rela jika dia menjualnya. Dan akhirnya Era memutuskan untuk mengambil uang tabungannya, dan menyisakan sedikit saja untuk kebutuhan tak terduga.


Jam makan siang segera tiba. Era memilih keluar lebih dulu, karena ia akan pergi ke bank untuk mengambil uang. Setelah itu nanti sore akan menyerahkannya langsung pada Hagi.


Belum juga Era keluar dari ruangannya, namun tiba-tiba pintu dibuka oleh seseorang yang tak lain adalah Pasha.


“Makan di luar yuk Ra!” ajak Pasha bersemangat.


“Ehm, bagaimana kalau besok saja? hari ini aku urusan, jadi belum bisa. Maaf ya?”


Pasha hanya menganggukkan kepalanya. Sebenarnya kecewa atas penolakan Era. Tapi lebih baik ia simpan saja rasa kecewanya itu daripada akan membuat Era tidak nyaman.


“Tentu saja.”


Setelah Pasha keluar dari ruangannya, Era buru-buru pergi. Namun ia tidak mengendarai mobilnya sendiri, melainkan naik taksi.


Beberapa menit perjalanan Era sudah sampai bank. Dengan yakin ia akan mengambil sejumlah uang di tabungannya untuk membayar hutang Bibinya pada Hagi. Selain itu ia akan meminta Hagi untuk tidak lagi mengusiknya setelah ia membayar hutang itu. ya, meskipun masih mengangsur.


Uang yang jumlahnya lumayan banyak itu Era masukkan ke dalam tasnya, dan ia segera kembali ke kantor. tanpa Era sadari, ternyata sejak tadi Pasha mengikutinya. Pria itu tampak heran dengan kekasihnya yang keluar dari bank sambil membawa tas yang terlihat isinya penuh.


Pasha yakin kalau Era habis mengambil uang. Tapi untuk apa? Kenapa sebanyak itu? apa uang itu masih ada hubungannya dengan mantannya. Tapi tidak mungkin jika Era memiliki hutang pada kekasihnya.


Berbagai macam pertanyaan muncul di kepala Pasha. dia juga akan terus menyelidiki masalah apa antara Era dan mantannya itu.


Pasha pun ikut pergi setelah taksi yang ditumpangi oleh Era melaju meninggalkan bank. Ia juga harus mengawal taksi itu agar Era selamat dalam perjalanannya kembali ke kantor. apalagi terlihat sedang membawa uang banyak.


***

__ADS_1


Sore harinya, atau lebih tepatnya saat jam pulang kantor, Era menghubungi Hagi dan meminta bertemu dengan pria itu. bagi Era lebih cepat lebih baik. Dan untuk sisa hutang Bibinya yang masih banyak itu, Era belum bisa berpikir sekarang.


Era sudah tiba di café yang dijanjikan untuk bertemu dengan Hagi. Pria itu dari jauh sudah mengembangkan senyum bahagianya karena Era mengajaknya bertemu. Jujur saja, beberapa hari ini Hagi dibuat kesal Era karena perempuan itu selalu menghindar saat ia ingin menemuinya.


“Sore, Ra! Silakan duduk! Aku senang sekali dengan ajakan kamu untuk bertemu denganku.”


Era langsung duduk begitu saja tanpa menimpali ucapan Hagi. Lalu ia membuka tasnya dan mengeluarkan beberapa amplop berisi uang cash.


“Apa ini, Ra?” Hagi tampak bingung.


“Bukannya ini yang kamu inginkan? Meskipun aku belum bisa membayar sepenuhnya.”


“Dan satu hal lagi, jangan lagi mengusik kehidupanku!”


Hagi tersenyum sinis menatap Era. Dia juga mengambil beberapa amplop uang itu dan mengeceknya sebentar.


“Aku terima. Kalau perlu aku kasih tanda bukti pembayarannya juga. tapi, aku tidak bisa mengabulkan permintaan kamu yang terakhir itu. karena hutang Bibi kamu belum lunas.”


Era semakin kesal. Tapi apa yang dikatakan oleh Hagi memang benar.


Tanpa Era dan Hagi ketahui, sejak tadi Pasha memperhatikan interaksi mereka berdua. Dia juga melihat jelas saat Era mengeluarkan beberapa amplop uang dan diberikan pada mantan kekasihnya itu. hanya saja Pasha tidak mendengar apa yang mereka berdua bicarakan.


.


.


.


*TBC


Happy Reading!!


NB: Bagi yg kurang berkenan dg alur yg dibuat author, silakan buat karya sendir!! #Lagi mode judes bin galak😎😎 

__ADS_1


__ADS_2