Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
50. Makan Malam Berdua


__ADS_3

Kini Era dan Pasha sudah duduk berhadapan untuk menikmati makan malam mereka. Era juga tampak mengambilkan nasi beserta lauknya di atas piring Pasha. sungguh mereka benar-benar seperti pasangan suami istri. Atau mungkin saja mereka sedang latihan menjadi suami istri? Ya, biar nanti saat terjun langsung tidak canggung lagi.


“Enak sekali masakan kamu, Ra.” Puji Pasha setelah menyuapkan nasi ke mulutnya.


“Ada-ada saja kamu. Ini makanan siap saji. Dan aku tinggal memanasinya saja.” sahut Era sambil mencebikkan bibirnya.


Pasha hanya tersenyum kaku. Niat ingin memuji sang kekasih, malah jadinya salah sasaran. Setelah itu mereka kembali melanjutkan mankannya sampai habis tanpa ada pembicaraan apapun.


Usai makan malam, Era segera membereskan sisa makanan itu, juga mencuci peralatan makannya. Sedangkan Pasha juga ikut menemani kekasihnya. Hanya menemani, bukan membantu. Karena saat ini dia sedang berdiri di samping Era yang sedang mencuci piring.


“Senang sekali hari ini aku, Ra.” Ucap Pasha sambil menatap ke arah Era. Sedangkan Era masih fokus dengan kegiatannya.


“Alasannya?” tanya Era melirik sekilas ke arah kekasihnya.


“Ya, seharian ini bisa menikmati waktu bersama kamu. Kamu merasa nggak, kalau kita ini sudah seperti pasangan suami istri.”


“Biasa saja. memangnya kamu nggak pernah seperti ini sebelumnya? Palingan juga kamu dulu lebih dari ini sama mantan-mantan kamu.”


Era sudah selesai mencuci piringnya. Setelah itu ia beranjak dari dapur dan menuju teras rumah sambil membawa cemilan sekaligus jus buah yang sudah ia buat tadi. sedangkan Pasha mengikuti Era dari belakang. Jujur saja tanggapan Era baru saja membuatnya sedikit kecewa. Karena itu artinya Era sudah sering seperti ini saat masih bersama mantan kekasihnya dulu.


“Nih, minum dulu!” Era memberikan segelas jus jeruk pada Pasha.


“Nanti saja.” tolaknya, dan meletakkan gelas itu di atas meja. Pasha masih penasaran sekaligus ingin tahu bagaimana dulu hubungan Era dengan mantan kekasihnya.


“Kenapa wajah kamu tiba-tiba kecut gitu? Ada yang salah dengan ucapanku tadi?” tanya Era.


“Jujur saja iya. kamu menanggapi perkataanku biasa saja. apa itu artinya kamu dulu sering seperti ini, atau lebih dari ini sama mantan kekasih kamu, Ra?”


Era hanya menghembuskan nafasnya pelan. Sebenarnya ia malas jika harus membahas masa lalunya. Tapi salah dia juga sih, karena tadi sempat menyinggung mantan-mantan Pasha.

__ADS_1


“Baiklah, kalau kamu ingin tahu. Tapi aku hanya memberikan informasi sedikit saja, jangan banyak bertanya apalagi dengan detail. Ok?” Pasha menganggukkan kepalanya.


“Sebelumnya aku memang sudah pernah punya kekasih. Kami hampir bertunangan untuk melanjutkan hubungan yang lebih serius. Tapi sayangnya Tuhan tidak menghendaki kita berjodoh. Jadi, ya gitu deh..” ujar Era tanpa memberitahu tentang siapa mantan kekasihnya. Baginya Pasha tidak perlu tahu banyak tentang masa lalunya itu. meskipun secara tidak sengaja, Pasha sudah pernah bertemu dengan Hagi.


“Lalu, untuk pertanyaan kamu tadi, rasanya aku tidak perlu menjawabnya dengan detail. Kamu bisa pikir sendiri. Namun satu hal, aku selalu menjaga kehormatanku sebagai perempuan.” Lanjut Era.


Akhirnya Pasha bisa bernafas lega. Memang dia tahu kalau Era adalah perempuan baik-baik. Jadi, dia percaya kalau perempuan itu pasti selalu menjaga kehormatannya.


Setelah itu Era bertanya tentang masa lalu Pasha. Ya, harusnya memang adil seperti itu. mereka harus tahu masa lalu satu sama lain. Namun bukan menjadi patokan dalam menjalin hubungannya saat ini.


Pasha memang mempunyai garis wajah yang tampan dan mempesona. Tidak mungkin kalau kehidupan dia tidak pernah mengenal yang namanya wanita. Ya, meskipun dia putra dari seorang mantan playboy, namun Pasha tidak seperti sang Papa yang semasa mudanya selalu membuat skandal. Walaupun Pasha beberapa kali menjalin asmara, tapi kandasnya hubungannya dengan sang kekasih karena memang sudah tidak ada kecocokan.


Kini mereka sama-sama bisa menerima tentang masa lalu masing-masing. Untuk hubungannya sekarang ini, baik Era maupun Pasha masih menjalaninya dulu, karena belum sampai memikirkan ke jenjang yang labih serius. Meskpun usia Era juga sudah terlalu cukup untuk menikah. tapi sayangnya Era masih enggan jika membahas masalah pernikahan. Atau mungkin dia masih trauma.


Waktu sudah menunjukkan pukul setengah sepuluh malam. Pasha akhirnya berpamitan pulang. padahal dia masih ingin menikmati waktunya bersama sang pujaan hati. Tapi ia juga sadar kalau Era juga butuh istirahat.


“Ya sudah, hati-hati! Nanti kalau keluar kompleks ditanyai Pak satpam, bilang saja saudaraku.” Pesan Era sebelum Pasha pulang.


“Nggak ah. Nanti aku bilang saja sama Pak Satpam kalau aku ini gig*_lo kamu.” Jawab Pasha dan segera masuk ke dalam taksi yang sudah ia pesan sebelum mendapat amukan Era.


“Eh, jangan macam-macam kamu ya, King!” pekik Era mengejar Pasha yang sudah menutup pintu taksi itu. bahkan Era sempat meminta sopir taksi itu untuk membukakan kaca mobilnya, tapi tidak dipedulikan.


“Selamat malam, Tante Era yang cantik!” canda Pasha setelah Era sedikit menjauh dari taksi yang ia tumpangi. Era benar-benar murka.


“Awas saja kamu, King kalau besok ada berita heboh dari kompleks ini.” gerutunya kesal.


***


Pasha kini sudah sampai rumahnya. Dia segera masuk ke rumah. semua penghuni rumah jam segini tentunya sudah pada tidur. Namun saat Pasha hendak menaiki tangga menuju kamarnya, dia mendengar suara Mama Shanum memanggilnya.

__ADS_1


“Iya, Ma? Kok Mama belum tidur?”


“Kamu dari mana kok baru pulang jam segini, King?” tanya wanita itu, mengabaikan pertanyaan Pasha.


“Mama, aku ini bukan anak kecil lagi yang harus ditanyain kenapa baru pulang, dan kemana saja kok baru pulang.” jawab Pasha sedikit menahan kesal. Pasalnya dia memang tipe orang yang tidak suka diinterogasi.


“Kamu marah dengan pertanyaan Mama? Mama hanya tanya, King. Apa susahnya menjawab?” kini justru Mama Shanum yang baper.


“Bukan seperti itu, Ma. Maafkan Pasha! Pasha tadi hanya keluar jalan-jalan saja setelah jam kantor selesai.” jawab Pasha tanpa berniat menjelaskan dengan siapa ia pergi, dan kenapa mobilnya dibawa pulang sopir kantor.


Mama Shanum sebenarnya kurang puas dengan jawaban Pasha. berhubung waktu sudah malam, dan tidak ingin berdebat. Akhirnya ia cukup menganggukkan kepalanya saja.


“Tadi Yeslin menghubungi Mama. katanya kamu sudah bohongi dia. Karena kamu sudah menjajikan akan mengantar Yeslin pulang.”


Pasha benar-benar kesal dengan apa yang dikatakan oleh Yeslin. Padahal dia tidak janji apapun dengannya. justru Yeslin sendiri yang meminta pulang bersama dengan mobilnya. Menurut Pasha juga tidak salah, karena tetap menuruti keinginan Yeslin yang pulang menaiki mobilnya. Meskipun bukan dirinya yang mengemudi.


“Ma, sudah aku katakan berapa kali kalau aku nggak pernah suka dengan Yeslin.”


“Mama sebenarnya juga tidak ingin ikut campur dengan urusan asmara kamu, King. Jadi lebih baik kamu katakan saja secara langsung dan apa adanya pada Yeslin dan kedua orang tuanya saat makan malam, weekend nanti.”


Pasha hanya mengangguk. Setelah itu ia melanjutkan langkahnya menuju kamarnya untuk segera beristirahat.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


 


__ADS_2