Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
22. Mantan Kekasih


__ADS_3

“Jangan khawatir! Aku sudah pernah mengemudikannya.”


“Maksud kamu apa?” tanya Era bingung sekaligus mencurigai sesuatu.


“Oh maksudku aku pernah mengemudikan mobil seperti ini. dulu, aku pernah punya mobil seperti ini.” bohong Pasha lalu segera masuk menuju pintu bagian kemudi.


Era pun hanya menghela nafasnya pelan. Dia sungguh bingung dan sedikit tidak nyaman jika harus berada dalam satu mobil dengan Pasha. padahal sebelumnya ia pernah berada dalam posisi seperti itu. bahkan melakukan kegiatan di luar nalar. Namun sayangnya saat itu Era sedang dalam keadaan mabuk.


Era kini sudah duduk di samping Pasha yang sedang fokus dengan kemudinya. Dia memilih diam saja, mengingat dia masih punya salah pada pria di sebelahnya itu karena telah memberikan luka akibat tumpahan kopi panas.


“Bukankah kamu bilang mau ke rumah sakit?” tanya Era bingung saat menyadari kalau Pasha menghentikan mobilnya tepat di parkiraan sebuah restoran.


“Bukankah kamu juga tadi ingin menebus kesalahan kamu akibat luka ini?” tanya Pasha balik sambil menunjuk dadanya.


“Baiklah kalau dengan mentraktir kamu adalah caraku untuk menebus kesalahanku tadi.” jawab Era pasrah.


Kini mereka berdua sudah keluar dari mobil, lalu masuk ke dalam restoran. Setibanya di sana, seorang pelayan langsung datang menyambut mereka berdua dengan mencatat beberapa menu makanan yang mereka pesan.


“Terimaa kasih, silakan ditunggu!” ujar pelayan itu.


Era dan Pasha saling diam. Era memilih sibuk dengan ponselnya daripada tidak melakukan apapun. Apalagi orang yang sedang berada di hadapannya itu adalah orang yang selama ini sangat menyebalkan sekaligus menjengkelkan. Jadi tidak mungkin keduanya terlihat akur dan saling ngobrol dengan nyaman.


Sedangkan Pasha sejak tadi justru terus memperhatikan wajah wanita dewasa yang sangat cantik itu. entah kenapa tatapan Pasha tertuju pada bibir Era. Bibir yang dengan sengaja pernah ia cium saat si empunya sedang dalam keadaan tidak sadar. Dan sekarang Pasha ingin mengulanginya lagi.


“Apak kamu pernah berciuman?” tanya Pasha tiba-tiba.


Era yang sedang fokus dengan ponselnya langsung melihat ke arah Pasha. meminta penjelasan tentang pertanyaan Pasha baru saja. mungkin saja Era salah dengar.


“Kamu ngajak aku bicara?” tanya Era sambil menunjuk dirinya sendiri.


“Nggak. Aku sedang bicara dengan macan betina.” Jawab Pasha asal, namun terkesan jengkel. Bagaimana tidak jengkel jika keberadaannya seperti tidak dianggap ada oleh Era.


“Kamu ngatain aku?” tanya Era dengan tatapan tajam.

__ADS_1


“Dah lah! Percuma ngomong sama kamu. Selalu saja pakai urat.” Kesal Pasha jadi kehilangan moodnya saat hendak bertanya tentang ciuman pertama Era.


Era hanya mengendikkan bahunya acuh. Lalu ia kembali memainkan ponselnya. Dan tak lama kemudian pelayan restoran datang dengan membawa pesanan mereka.


Tanpa banyak bicara dan saling mempersilakan, keduanya langsung menyantap makanan masing-masing.


“Era!” seru seseorang yang tiba-tiba saja muncul di samping Era yang sedang makan.


Mendengar namanya dipanggil oleh seseorang yang suaranya tidak begitu asing, Era pun langsung menoleh ke sumber suara. Begitu juga Pasha. dia tidak kenal juga tidak tahu sama sekali pada sosok pria tampan yang kini tampak memandangi Era dengan tatapan berbeda.


Era kini kembali melanjutkan makannya setelah menatap sekilas pria itu. entah kenapa Era bisa bertemu lagi dengan pria itu di sini, di tempat yang menurutnya sudah sangat nyaman.


“Era! Bagaimana kabar kamu?” tanya pria itu dan langsung duduk di kursi kosong samping Era tanpa mempedulikan Pasha.


“Baik. Masih banyak meja kosong lainnya. Kamu bisa menggunakannya tanoa harus mengusik meja yang sudah ditempati orang lain.” Jawab Era dengan suara tampak menahan marah sekaligus sedih.


Kini Pasha pun paham. Sepertinya diantara dua orang yang ada di hadapannya itu pernah mempunyai kisah masa lalu. Namun Pasha tidak tahu pasti kisah yang seperti apa.


“Ra! Apa kamu masih marah sama aku? please, maafkan aku! aku ingin kita,-“


Hagi, pria yang duduk di samping Era itu tampak memandangi Pasha dengan seksama. Dia memag tadi melihat Era sedang berdua dengan seorang pemuda. Tapi dia tidak terlalu memperhatikannya.


“Era, dia siapa?” tanya Hagi.


“Bukan urusan kamu. Lebih baik kamu pergi sekarang juga, atau aku saja yang pergi dari sini?” ucap Era dengan tegas. Bahkan ia sudah meletakkan sendok dan garpunya tidak lagi melanjutkan makannya.


“Era, please! Aku ingin kita bicara baik-baik,-“


Tanpa mendengar kelanjutan kalimat Hagi, Era segera meninggalkan mejanya dan menuju kasir. Pasha pun langsung mengejar Era dan dia lebih cepat membayar makanannya sebelum Era mengeluarkan dompetnya.


“Bukankah kamu yang minta ditraktir?” tanya Era dengan kesal karena pengaruh emosinya terhadap Hagi.


“Terima kasih, Mbak!” ucap Pasha pada kasir tanpa mempedulikan ucapan Era.

__ADS_1


Era menghentakkan kakinya, lalu pergi begitu saja meninggalkan Pasha. dan Pasha buru-buru mengejarnya.


“Aku mengajak kamu makan di sini bukan untuk minta traktir, tapi aku ingin kamu menemaniku makan. Itu saja.” ucap Pasha sambil berjalan mensejajarkan langkahnya dengan Era.


“Era! Aku ingin bicara dengan kamu! Please, beri aku waktu dan kesempatan untuk memperbaiki semuanya.” Ucap Hagi sambil mencekal lengan Era.


Pasha pun semakin geram dengan pria yang tak dikenalnya itu. apalagi dia bisa melihat sendiri kalau Era tampak tidak nyaman dengan kemunculan pria itu.


“Hei, Bung! Jangan maksa kalau Era tidak nyaman denganmu. Ini tempat umum, kalau kamu berbuat macam-macam, aku akan melaporkan kamu dengan tuduhan tindakan tidak menyenangkan.” Sahut Pasha.


Hagi tersenyum sinis pada Pasha yang menurutnya terlalu ikut campur dengan masalah pribadinya dengan Era.


“Hei bocah! Kamu ini siapa beraninya ikut campur urusanku?” tanya Hagi dengan senyum mengejek pada Pasha.


Pasha jelas tersulut emosi saat dikatai bocah oleh Hagi. Selama ini saja dia tidak terima kalau Era menyebutnya bocah. Tapi ia selalu menahan kekesalannya itu. atau mungkin bahkan hanya Era saja yang boleh mengatainya bocah. Namun kali ini kontesnya berbeda. Apa karena ia sedang bersama Era yang dewasa, jadi ia pantas dianggap bocah.


“Lebih baik kamu pergi dari sini juga dan jangan pernah lagi datang menemuiku!” seru Era menengahi kedua pria itu saat melihat Pasha hendak melayangkan pukulan pada Hagi karena tidak terima disebut bocah.


Era langsung keluar dari restoran mengabaikan tatapan pengunjung lainnya. Sedangkan Pasha langsung mengejar Era. Tapi tidak dengan Hagi. Pria itu tahu kalau mantan kekasihnya itu masih marah dengannya. jadi lebih baik sekarang ia mengalah dulu sebelum kembali berusaha merebut hati Era.


“Era, tunggu!” seru Pasha sambil mengejar Era.


“Ada apa lagi? bukankah aku sudah menemani kamu makan? Sekarang pulanglah naik taksi saja. aku mau langsung pulang saja.” ucap Era lalu meninggalkan Pasha.


Sesampainya di parkiran, tepatnya di samping mobilnya, Era tampak terdiam menyadari sesuatu.


“Kita akan tetap bersama, karena kunci mobil kamu aku bawa.” Ucap Pasha sambil tersenyum menang.


.


.


.

__ADS_1


*TBC


Happy Reading!!


__ADS_2