
Hari ini Hagi kembali ingin menemui Era. Pria itu sungguh tidak tahu malu, setelah menyakiti hati Era bertahun lamanya, kini kembali dengan mudahnya meminta untuk menjalin hubungan kembali seperti dulu.
Memang saat masih menjalin hubungan dengan Era dulu, diam-diam Hagi berselingkuh dengan Nola, sepupu Era. Sayangnya setelah hubungan gelapnya diketahui oleh Era dan dibongkar di depan keluarganya, saat itu juga kedua orang tua Hagi mengusirnya. Tentu saja juga dengan Nola yang diusir oleh orang tuanya.
Pasangan selingkuh itu akhirnya memutuskan untuk hidup bersama tanpa adanya ikatan. Namun semakin berjalannya waktu, Hagi menyesali perbuatannya yang telah menduakan Era. Apalagi Nola sudah berubah drastis tidak seperti saat awal menjalin hubungan dulu. hingga akhirnya setelah bertahun-tahun Hagi memutuskan untuk mencari Era. Dia ingin meminta maaf dan memperbaiki kesalahannya.
Berulang kali Hagi sudah mendapatkan penolakan dari Era. Bahkan dia sempat mendapat ancaman dari Pasha kalau masih menganggu Era, hidupnya akan dibuat menderita oleh Pasha. tapi sayangnya ancaman Pasha waktu hanya membuat Hagi ketakutan di awal saja. setelah itu dia kembali menemui Era.
Dan sore ini, Hagi datang ke rumah Era lagi. dia berharap Era berbesar hati menerima cintanya lagi setelah melihat perjuangannya. Namun saat ia sampai di rumah Era, ternyata mobil mantan kekasihnya itu tidak ada. Itu artinya Era belum pulang.
“Apa ini?” gumam Hagi saat melihat sebuah buket bunga yang diletakkan di kursi teras rumah Era.
Hagi mengambil buket itu dan membaca tulisan yang tertera dalam kertas kecil.
“Semangat menjalani hari, Tante Cantik kesayanganku! From: Pasha”
Seketika itu amarah Hagi langsung naik ke ubun-ubun. Sekilas terlintas bayangan pria tanggung yang usianya masih jauh di bawahnya juga di bawah Era, yang pernah mengancamnya dulu. entah siapa dan ada hubungan yang seperti apa antara Era dan pria itu. tapi Hagi yakin kalau pria itulah yang bernama Pasha.
“Rupanya selera kamu sekarang sama bocah ingusan seperti dia.” Gumam Hagi sambil meremat buket bunga itu.
Hagi kemudian membawa buket itu ke tong sampah sebelum Era tahu. Karena sampai kapanpun dia tidak akan membiarkan Era jatuh ke pelukan orang lain, termasuk Pasha sekalipun.
Sementara itu Era yang dari jauh sudah meihat Hagi tampak membuang sesuatu ke tomg sampah, ia segera berlari mendekati pria itu.
“Apa yang kamu buang?” tanya Era dengan suara tegasnya.
Hagi sangat terkejut dengan kemunculan Era yang secara tiba-tiba. Bahkan tanpa menunggu jawaban dari Hagi, Era langsung memungut sesuatu yang telah dibuang oleh Hagi baru saja.
Era sudah mengambil benda yang ternyata adalah buket bunga. Keadaannya sudah rusak, karena tadi Hagi sudah merematnya sebelum membuangnya.
“Era! Itu kotor!” cegah Hagi saat Era hendak membaca tulisan ada kertas kecil yang masih belum rusak.
__ADS_1
Seketika itu Era menatap tajam pada Hagi setelah membaca tulisan yang isinya adalah dari pengirim buket itu. yang tak lain adalah Pasha.
“Lancang sekali kamu, hah! Apa maksud kamu membuang barang yang dikirimkan untuk aku ini?”
Era benar-benar marah. Ternyata ini alasan dia memilih ingin pulang lebih dulu daripada ikut Gala dan teman-temannya pergi ke restoran. Bagaimana jika ia tidak pulang? sampai kapanpun ia tidak akan tahu kalau Pasha mengirim buket bunga untuknya.
“Ck, ternyata selera kamu sekarang brondong ya, Ra?” bukannya takut atas kemarahan Era, Hagi justru mengejek Era yang sedang dekat dengan Pasha.
“Bukan urusan kamu. Mau aku dekat dengan siapa pun, kamu nggak berhak ikut campur.” Era semakin meradang. Entah dengan cara apa lagi agar bisa menendang Hagi dari muka bumi ini.
“Apa karena selama ini kamu nggak bisa move on dariku, sampai harus melampiaskannya padaa brondong?”
Plakkk
Era melayangkan tamparan yang cukup keras ke pipi kiri Hagi. Dia sudah tidak bisa lagi menahan emosinya.
“Dengar baik-baik ya, Gi! Sekali lagi kamu mengusik ketenangan hidupku, aku berani jamin kalau hidup kamu tidak akan baik-baik saja. camkan itu!” ucap Era lalu segera pergi meninggalkan Hagi dengan membawa buket yang sudah rusak itu.
***
Mood Era benar-benar rusak. Rencana dia akan datang ke acara Gala terpaksa ia batalkan setelah kejadian beberapa saat yang lalu.
Kini lebih baik Era menghubungi Gala dulu untuk meminta maaf tidak bisa datang. setelah itu Era membersihkan buket bunga pemberian Pasha itu dari debu. Untung saja tidak terlalu kotor buket itu saat masuk ke tong sampah tadi. dan masih terlapisi plastic lagi. jadi Era masih bisa memperbaikinya.
Tak lama kemudian ponsel Era berdering. Ternyata si pengirim buket itu lah yang meneleponnya. Pasti Pasha ingin menanyakan tentang buket kirimannya tadi. jadi, Era tidak ingin membuat pria itu curiga jika terjadi sesuatu dengan barang kiriman Pasha.
“Halo?” sapa Era dengan suara kembali normal setelah sempat emosi gara-gara Hagi.
“Kenapa lama sekali angkatnya? Barusan telpon siapa? Apa kamu senang karena aku sedang jauh?” tanya Pasha bertubi-tubi.
Era menjauhkan ponselnya sebentar. Dia menatap aneh ponsel itu. lebih tepatnya dengan apa yang dikatakan oleh Pasha baru saja. benarkah Pasha bicara seperti itu padanya? Kenapa pria tanggung itu seperti seorang kekasih yang sangat posesif. Jujur saja Era sangat tidak nyaman jika diperlakukan seperti itu oleh seorang pria.
__ADS_1
“Halo!”
“Halo!”
“Halo!”
“Ada apa sih berisik?” kesal Era.
Sementara Pasha yang berada di seberang sana tampak terdiam sesaat. Dia mendengar suara ketus Era. Pasha sadar kalau sikapnya baru saja salah. Padahal sebelumnya ia sudah berjanji selama mendekati Era, harus membuat perempuan itu nyaman. Kalau dirinya terkesan posesif, Era pasti tidak akan suka. Seperti sekarang ini.
“Maaf. Aku hanya ingin tahu kabar kamu hari ini bagaimana?” tanya Pasha dengan merendahkan nada bicaranya.
“Aku baik-baik saja.”
Setelah mengatakan itu, keduanya sama-sama diam. mungkin bingung mau bicara tentang apa lagi. padahal Pasha tadi berniat menghubungi Era untuk menanyakan bunga kirimannya. Tapi kini mendadak lupa setelah tidak sengaja membuat Era kesal.
“Ya sudah, semoga kamu baik-baik saja. jaga kesehatan dan makan yang teratur.” Pungkas Pasha.
“Hem.. makasih. Makasih juga buat bunganya.” Jawab Era. Namun sebelum mendapat balasan dari Pasha, Era sudah lebih dulu memutus sambungan teleponnya.
Pasha yang sedang berada jauh di sana tampak mengulas senyum. Ternyata Era sudah menerima bunga pemberiannya. Kini ia sedang berpikir. Apalagi yang akan ia kirimkan besok untuk Era?
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
__ADS_1