
Perlahan Era berdiri dan membalikkan tubuhnya menghadap sang suami. usia boleh lebih tua dari suaminya. namun nyatanya Era malam ini terlihat sangat cantik, bahkan memperlihatkan wajahnya yang sangat muda seperti sesusia dengan Pasha.
Pasha tersenyum hangat menatap istrinya yang kemungkinan wanita itu sangat gugup. Namun Pasha berusaha mentralkan rasa gugup istrinya itu dengan memberikan kecupan yang cukup lama di kening Era.
“Maafkan atas semua kesalahanku. Ini memang bukan pertama kalinya bagi kita. Tapi malam ini, aku tetap menganggap sebagai malam pertama kita. Aku mencintaimu, Era.” Ucap Pasha dengan lembut setelah melepas kecupannya.
“Aku juga sangat mencintaimu, My King. Seluruh jiwa dan raga ini hanya untukmu seorang. Mulai malam ini dan seterusnya, kamu berhak atas diriku.” Balas Era tak kalah lembutnya dengan ucapan Pasha baru saja.
Perlahan, rasa gugup yang Era rasakan tadi menguap begitu saja. kemudian Pasha mendekatinya, lalu menggendong Era menuju ranjang. Era yang pasrah pun hanya mengalungkan tangannya pada pundak Pasha.
Dengan hati-hati Pasha menurunkan Era ke atas ranjang. Tubuhnya masih berjongkok, menatap indah mata sang istri. Di tengah suasana kamar yang temaram, Pasha bisa melihat senyum tipis Era yang seolah sudah benar-benar siap untuk melakukan malam panjangnya.
Pasha mengawalinya dnegan kecupan singkat pada kening Era. Kemudian kecupan itu turun ke bibir, kedua pipi, dan seluruh wajah Era. Namun setelah itu Pasha mendaratkan kembali bibirnya pada bibir Era. Melu matnya dengan lembut, dan mendapatkan balasan yang lembut pula.
Kedua insang yang tengah dimabuk asmara itu saling mencecap di tengah keheningan malam. suasan kamar yang dingin berubah memanas kala tangan Pasha sudah mulai menjalar mencari titik-titik kenikmatan yang ada pada tubuh istrinya.
Pasha melepas pagu tannya. Kini bibirnya turun ke lehar jenjang Era yang sejak tadi sudah menggodanya. Meninggalkan beberapa tanda cinta di sana , sebelum akhirnya turun pada dua bongkahan besar yang menantang dan hanya terbalut kain tipis berenda warna hitam.
Suara lenguhan dari bibir Era keluar begitu saja saat Pasha memainkan dua pucuk buah kismisnya bergantian. Tengannya reflek mencengkeram rambut Pasha. bahkan tanpa sadar Era menekan kepala Pasha lebih dalam pada himpitan dua bongkahan itu.
Sentuhan demi sentuhan sangat lembut diberikan oleh Pasha pada istrinya. Dia tidak ingin gegabah dan lebih mementingkan kenyamanan wanita itu.
Setelah cukup lama melakukan pemanasan, mereka langsung menuju inti. Hanya butuh waktu beberapa detik saja, keduanya sudah dalam keadaan polos. Era yang berada di bawah kungkungan sang suami mulai merasakan ada sesuatu yang tampak mengeras mulai menyentuh bibir kenikmatannya yang ada di bawah sana. Ini bukan yang pertama kalinya, namun tetap saja Era masih asing dengan benda itu.
“Sayang, tahan sebentar. Hanya sakit sebentar.” Bisik Pasha dengan suara yang sangat berat karena menahan gai rahnya.
__ADS_1
Era mengangguk samar. Kemudian Pasha mulai mendorong miliknya ke dalam inti Era, bersamaan dengan luma tan lembut pada bibir Era agar bisa mengalihkan rasa sakit itu.
Era mencengkeram kuat punggung suaminya saat milik Pasha melesat penuh ke dalam intinya. Deru nafas menggebu dari bibir Era terdengar jelas di telinga Pasha, yang itu artinya kalau Era sedang syok.
“Sayang, maafkan aku! aku akan melakukannya dengan pelan.” Bisik Pasha sengaja menghentikan sejenak kegiatannya.
Tak ada sahutan dari Era. Wanita itu masih mengatur nafasnya. Senjata milik suaminya semakin terasa sesak di dalam sana, bergerak sedikit saja sudah membuat Pasha mengerang. Akhirnya Pasha tidak menunggu lama lagi. ia mulai bergerak dengan ritme yang pelan. Hingga Era pun bisa menikmati permainan itu.
Pasha terus bergerak menguasai tubuh istrinya. Malam ini ia benar-benar bahagia karena bisa menunaikan kewajibannya sebagai seorang suami. suara desa han saling bersahutan dari bibir mereka berdua. Hujaman demi hujaman yang Pasha berikan, mampu membuat Era terbang melayang ke angkasa. Lenguhan panjang pun akhirnya keluar bibir mereka berdua. Menandakan permainan babak pertama berakhir.
Pasha menjatuhkan tubuhnya di samping tubuh istrinya. Keringat masih membasahi tubuh mereka. Namun rasa nikmat yang mereka keluarkan sebanding dengan usaha keras mereka pula.
Biasanya setelah selesai mengalami pelepasan, mereka akan menutup tubuh mereka dengan selimut dan tidur saling berpelukan. Namun hal itu tidak dilakukan oleh Pasha.
Dengan tubuh yang masih polos tanpa tertutup sehelai benang, Pasha beranjak lalu mengambilkan air minum untuk Era. Era sendiri hanya menggelengkan kepalanya melihat tingkah Pasha yang menurutnya sangat absurd.
“Minumlah dulu! atau kamu butuh makanan karena tenaga kamu terkuras?”
“Nggak usah. Aku hanya haus.” Jawab Era lalu mengambil geleas itu.
Era memberikan gelas kosong itu pada Pasha. kemudian Pasha mengambil kimono dari lemari pakaiannya. Pria itu duduk di samping Era yang masih polos. Era kira setelah ini Pasha juga akan tidur. Dia pun hendak memungut baju dinasnya tadi yang sudah tercecer ke lantai.
“Jangan dipakai!” cegah Pasha.
“Ya sudah aku ambil baju tidur saja.” lanjut Era turun dari ranjang.
__ADS_1
Melihat sang istri sudah turun dari ranjang, Pasha dengan cepat menangkap tubuh telanjang itu, dan menggendongnya menuju sofa. Era memekik terkejut. Dia tidak tahu apa yang akan dilakukan oleh suaminya.
“Kenapa di sini?” tanya Era bingung sekaligus gugup.
Bagaimana tidak gugup. Posisinya saat ini sudah duduk di atas pangkuan suaminya yang sedang bersandar pada sofa. Dan jangan lupakan dengan tubuh Era yang masih polos.
“Waktu break sudah selesai. kini saatnya babak kedua, Sayang!” jawab Pasha dan tanpa basa-basi langsung melahap salah satu buah segar milik istrinya yang begitu padat dan menantang.
Lagi lagi Era reflek meremat rambut suaminya, dan menekan kepala Pasha agar semakin terbenam dalam belahan dadanya. Jujur saja, Era juga sangat menggila dengan sentuhan yang diberikan suaminya.
Babak kedua ini benar-benar semakin memanas. mereka bertukar posisi. Layaknya pertandingan bola sungguhan. Jika tim sepak bola pindah posisi dari kanan ke kiri saat pergantian waktu. Namun tidak untuk Era dan Pasha. di babak pertama tadi Pasha yang sudah menguasai permainan, dan di babak kedua kali ini Pasha dalam mode pasrah. karena posisi sang istri yang ada di atasnya. Meliuk-liukkan tubuhnya dan mencari kenikmatan dengan caranya sendiri.
.
.
.
*TBC
Happy Reading!!
Jangan bilang kurang hot! Othor engap nih ngetiknya. Kalau kurang hot, silakan eksekusi dengan pasangan halalnya sendiri, Ok!🤣🤣
Salam anu!🤣✌
__ADS_1