Brondong Tajir Vs Perawan Tua

Brondong Tajir Vs Perawan Tua
S2 (136) Membunuh Rayyan


__ADS_3

Kini hanya ada Rayyan saja yang ada di meja itu. sedangkan Pasha baru saja pergi mengejar istrinya yang tengah marah terhadap kelakuan sahabatnya yang disama-samakan dengan dirinya.


Rayyan juga tidak berselera makan. Bayang-bayang Serena sudah memenuhi otaknya. Apalagi semalaman ia membiarkan wanita itu tidur sendiriaan. Dan tadi pagi dia pergi ke kantor begitu saja tanpa pamit, bahkan tidak menyiapkan menu sarapan nasi goreng kesukaan Serena.


Rayyan baru ingat kalau tadi ia melihat istrinya datang ke kantor dengan menenteng paper bag saat ia jumpai di lift. Serena tadi sempat memanggil namanya, namun ia abaikan begitu saja.


“Seren!” gumamnya. Setelah itu Rayyan beranjak dari tempat duduknya meninggalkan restoran.


*


Dalam perjalanan menuju kantor, Rayyan terus memikirkan Serena. Dia ingat dengan ucapan Era baru saja. bagaimana kalau di antara dirinya dengan Serena hanya terjadi kesalah pahaman. Kenapa tidak bertanya langsung saja pada Serena tentang pria yang ditemui saat di kantin rumah sakit kemarin.


Sesampainya di kantor, Rayyan langsung menuju ruangannya. Dia berharap Serena masih ada di sana. Dia akan meminta maaf pada wanita itu. namun sayangnya, saat Rayyan tiba, di ruangan itu tampak kosong. hanya ada sebuah paper bag di atas mejanya. Dia sangat yakin kalau itu adalah bekal yang dibawah oleh istrinya tadi.


Rayyan membuka isi paper bag itu yang ternyata adalah menu makan siang buatan Serena. Hatinya seperti tertusuk jarum saat melihat usaha keras istrinya datang ke kantor dengan membawakan bekal makan siang. Namun sayangnya kehadiran Serena, ia abaikan begitu saja.


“Maafkan aku, jika telah membuat hatimu sakit.”


Rayyan membaca secarik kertas yang ditulis oleh tangan Serena yang iaa letakkan dalam paper bag itu. Rayyan meremat kertas itu dengan dada beergemuruh. Dia harus secepatnya menemyi istrinya dan meminta maaf. Lebih tepatnya meluruskan kesalah pahaman ini. Rayyan akan bertanya baik-baik pada Serena tentang sosok pria yang ditemui istrinya kemarin.


Rayyan bergegas keluar dan ingin mencari istrinya. Dia mengambil jubahnya yang menggantung di ruangan itu. jubah yang baru saja ia lepas, ia pakai kembali. Namun, saat Rayyan baru saja meraih handle pintu, Papa Chan sudah berdiri di sana.


“Mau ke mana kamu?” tanya Papa Chan yang menelisik pakaian Rayyan seperti hendak keluar dari kantor.


“Kamu lupa kalau sepuluh menit lagi ada meeting?”


Sumpah demi apapun Rayyan benar-benar lupa kalau setelah jam makan siang dia ada meeting penting dengan para pemegang saham di perusahaannya. Dan dia tahu kalau kehadirannya sangat dibutuhkan, alias tidak bisa diwakilkan.


“Ini berkas yang harus kamu bawa. Papa tunggu di ruangan meeting.” Ucap Papa Chan seolah tidak mau menerima berbagai macam alasan dari putranya yang memang kelihatannya akan pergi.


Rayyan menerima berkas dari papanya dengan helaan nafas panjang. Sepertinya ia akan menunda dulu untuk pergi dan menemui istrinya. Rayyan juga berharap kalau Serena baik-baik saja di apartemen.


**


Ternyata meeting penting dengan pemegang saham, berlangsung cukup lama. Sudah hampir tiga jam, meeting tak kunjung selesai. sejak tadi Rayyan tidak fokus. Berulang kali papanya memberi kode agar tetap fokus. Entah apa yang sedang dipikirkan oleh anaknya, kali ini Papa Chan melihat Rayyan sangat tidak professional.


Meeting itu pun selesai. Rayyan bisa bernafas dengan lega. Dia segera pergi begitu saja setelah meeting ditutup. Untuk urusan selanjutnya, ia menyerahkan semuanya pada asistennya.

__ADS_1


“Rayyan, tunggu!” seru Papa Chan.


“Ada apa lagi, Pa?” Rayyan hampir frustasi saat mendengar panggilan dari papanya.


“Hari ini Papa lihat kamu sangat tidak fokus dengan pekerjaan. Papa harap kamu bisa bersikap professional. Apapun masalah pribadi kamu.”


“Baik, Pa. maaf. Ray pergi dulu.”


Rayyan segera melajukan mobilnya menuju apartemen. Dia tidak bisa memacu kendaraannya dengan kecepatan penuh. Mengingat jalanan yang dipenuhi dengan salju, jadi lebih baik berhati-hati, daripada celaka.


Sesampainya di unit apartemennya, Rayyan memanggil-manggil nama Serena. Namun sayangnya tidak ada sahutan dari wanita itu. di kamar, kamar mandi, dan ruangan lainnya pun Rayyan tidak menemukan istrinya di sana. Lalu dia membuka lemari pakaian Serena yang masih lengkap. Itu artinya Serena tidak pergi meninggalkannya.


Rayyan memutuskan untuk mencari keberadaan Serena. Ponsel wanita itu juga tidak aktif. Berharap tidak terjadi hal buruk dengannya. terlebih dengan kejadian seperti tempo hari.


Rayyan mengendarai mobilnya keliling kota yang dekat dengan apartemen. Namun tetap saja, dia tidak menemukan tanda-tanda keberadaan Serena. Hingga ia teringat dengan café yang tak jauh dari apartemen. Serena pernah datang ke café itu sebelum akhirnya kandungan wanita itu mengalami guncangan kecil akibat dikejar orang jahat.


Setibanya di café, pandangan Rayyan menelisik seisi café untuk mencari keberadaan Serena. Dan benar saja, di tempat paling ujung dan lumayan sepi dari pengunjung, Rayyan melihat sosok wanita dengan postur tubuh mirip dengan Serena. Tapi wanita itu tidak sendirian. Melainkan bersama seorang pria yang kemungkinan pria yang sama saat ia jumpai di rumah sakit.


Rayyan mengepalkan kuat tangannya. dia sudah meyakinkan dirinya kalau wanita yang ia lihat itu adalah Serena. Karena baju yang dikenakan, Rayyan sangat hafal.


Siapa yang tidak terbakar emosi saat melihat wanita yang berstatus istrinya sedang duduk berduaan dengan pria lain. Apalagi pria itu terlihat jelas sedang memperlakukan Serena dengan mesra.


“Oh, ternyata benar yang dikatakan Pasha. kalau kamu memang wanita murahan yang suka menggoda pria lain.” Ujar Rayyan tiba-tiba.


Alvin dan Serena sangat terkejut. Tatapan Rayyan begitu menusuk terhadap Serena. Dia tidak sudi melihat wajah pria yang sedang duduk berhadapan dengan istrinya. Karena setelah itu Rayyan langsung melayangkan bogemannya tepat ke arah rahang Alvin.


Bugh


Alvin langsung terhempas mengenai kursi dan meja yang ada di belakangnya. Rayyan yang sudah gelap mata, ia menarik Alvin dan kembali memberikan pukulan pada rahang dan juga perutnya.


Bugh


Bugh


“Ray, cukup!” teriak Serena ketakutan.


Rupanya Rayyan tidak mengindahkan ucapan istrinya. Dia masih terus memukuli Alvin. Dan beberapa pengunjung café juga ikut panik melihat perkelahian antara Rayyan dan Alvin.

__ADS_1


“Rayyan, cukup! Jangan pukuli adikku!” Seru Serena sekali lagi dengan tubuh bergetar. Karena wajah Alvin kini sudah babak belur.


Rayyan terdiam sejenak setelah mendengar ucapan Serena baru saja. ternyata pria yang ia pukuli adalah adik istrinya.


Bugh


Rayyan tiba-tiba tersungkur saat Alvin memberikan balasan. Bahkan Alvin mengabaikan rasa sakit di sekujur wajahnya. Dia sangat marah dan tidak terima dengan kalimat hinaan yang dilontarkan oleh Rayyan pada kakaknya.


Bugh


Bugh


Bugh


Serena kembali berteriak saat Alvin membabi buta memukuli Rayyan. Bahkan pukulan Alvin lebih kuat daripada yang dilakukan oleh Rayyan tadi.


Pemilik café yang panik dan kebingungan, sampai lupa untuk menghubungi pihak keamanan. Sedangkan pengunjung yang lain terlihat panik dan sebagian justru ada yang merekam perkelahian itu.


“Al, berhenti!” teriak Serena.


“Aku tidak terima kakakku dihina dan direndahkan oleh pria baj***ngan ini.” ucap Alvin dengan terus memukuli Rayyan.


Serena langsung membelalakkan matanya saat tiba-tiba Alvin mengambil pistol dari saku jaketnya yang sepertinya memang selalu pria itu bawa. Begitu juga dengan Rayyan yang ikut terkejut.


Alvin langsung mengarahkan pistol itu tepat ke arah kepala Rayyan yang sudah tidak bisa berkutik lagi.


“Pria baj***ngan seperti kamu, tidak pantas hidup dan tidak pantas menjadi suami kakakku.” Ucap Alvin dengan jari yang sudah siap menarik pelatuk pistolnya.


“Al, berhenti! Kalau kamu membunuh Rayyan, kamu bukan lagi adikku.” Ucap Serena dengan bibir bergetar ketakutan.


.


.


.


*TBC

__ADS_1


Happy Reading!!


__ADS_2